Ustadz Dr musyaffa ad dariny
Orang-orang yg menafikan udzur karena kejahilan secara mutlak, main pukul rata, banyak dari mereka yang berhujjah dengan perkataan Syeikh Shalih Al-Fawzan -hafizhahullah-... padahal beliau sendiri memberikan perincian:
a. Melihat keadaan dia, apakah dia hidup di tempat yg jauh dari ulama tauhid? apakah dia sudah berusaha untuk belajar tauhid? Jika iya, maka ada udzur bagi dia. Jika tidak, maka tidak ada udzur bagi dia.
b. Melihat masalahnya, apakah masalah itu masih samar bagi dia, ataukah sudah jelas? Jika masih samar bagi dia, maka ada udzur. Jika sudah jelas, maka tidak ada udzur.
Berikut pertanyaan yg dijawab oleh beliau:
Apakah ada "udzur karena kejahilan" dalam masalah tauhid, dan bagaimana menjawab orang yg berhujjah bahwa ada udzur dalam masalah tauhid dengan kisah orang yg menyuruh anaknya untuk membakarnya (agar Allah tidak kuasa menemukan jasadnya utk disiksa), karena dia telah menafikan qudrah (kuasa) dari Allah, tapi Allah memberikan udzur kepadanya. Mereka juga berhujjah dengan perkataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab: "aku tidak mengkafirkan orang yg thawaf di kuburan kawwaz".
Jawab:
Ya akhi, Udzur karena kejahilan itu apabila hilangnya kejahilan tidak dimungkinkan, misalnya: tidak ada orang yg mengajarimu, terputus dari para ulama, di bumi yg jauh tidak sampai kepadanya sesuatu (ilmu tentang itu), ini orang yg diberi udzur karena kajahilan.
Adapun orang yg bisa belajar, bisa bertanya kepada para ulama, tapi dia mengatakan saya punya udzur karena kejahilan?!, (maka kita katakan): kamulah yg salah, karena kamu tidak menuntut ilmu, tidak bertanya. Maka, bagaimana orang ini diberi udzur karena kejahilan.
Jadi, di sana ada kejahilan yg tidak mungkin hilang, yaitu pada orang yg hidup terpisah, tidak menemukan orang (yg mengajarinya). Adapun orang yg hidup bersama banyak orang, bersama para ulama, dia mendengar Alquran, dia mendengar Sunnah, tapi tetap mengatakan: saya punya udzur karena kajahilan, (maka kita katakan): tidak, kamulah yg salah.
Adapun orang tadi yg hidup terpisah, dia ini tidak salah, karena dia tidak menemukan orang (yg mengajarinya), dia ini diberi udzur karena kejahilan.
Intinya: kejahilan yg tidak mungkin dihilangkan, maka diberi udzur. Adapun kejahilan yg mungkin dihilangkan dengan belajar dan bertanya kepada para ulama, maka tidak diberi udzur, perhatikanlah hal ini dg baik.
Karena ada sebagian orang yg mengambil masalah ini, kemudian menyebar-nyebarkannya, ada udzur karena kejahilan, ada udzur karena kejahilan, secara langsung, secara mutlak. seperti ini tidak benar, tapi harusnya diperinci.
Kemudian, masalah-masalah yg ada tidaklah satu (keadaan).
Masalah-masalah yg samar, yg membutuhkan ulama, membutuhkan penjelasan: maka ini ada udzur karena kejahilan, sampai dia menemukan orang yg mengajarinya.
Adapun masalah-masalah yg jelas, yg tidak membutuhkan penjelasan, seperti syirik dan tauhid, ini tidak ada udzur karena kejahilan, karena itu sudah jelas.
Allah jalla wa'ala berfirman (yg artinya): "beribadahlah kalian kepada Allah, dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun" [Annisa: 36]. "Sungguh orang yg menyekutukan Allah, maka surga diharamkan baginya". [Al-Maidah: 72]. "Apabila kamu melakukan kesyirikan, maka terhapuslah semua amalanmu". [Azzumar: 65]. Apakah ini samar, ataukah jelas, tentu ini jelas, jelas bahwa itu tauhid, jelas bahwa itu syirik.
Intinya, dalam masalah-masalah yg sudah jelas: tidak ada udzur, adapun dalam masalah-masalah yg masih samar, yg membutuhkan penjelasan dari para ulama, maka pada masalah seperti ini ada udzur.
Masalah-masalah itu tidaklah satu (keadaan), maka harus ada perincian seperti ini dalam masalah udzur karena kejahilan.
Adapun Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: "aku tidak mengkafirkan orang-orang yg menyembah berhala yang ada di kubah kuburan kawwaz", maksudnya adalah karena tidak orang yang mengajari mereka. Beliau tidak mengatakan mereka diberi udzur dan diam, tapi mengatakan bahwa mereka tidak ada yg mengajari.
Adapun mereka yg di sisinya ada orang yg mengajari mereka, di sisinya ada orang yg menjelaskan kepada mereka, tapi mereka tidak bertanya, dan tidak menuntut ilmu, bagaimana orang yg seperti ini diberi udzur karena kejahilannya?!
https://www.youtube.com/watch?v=ZOekyD8QFBg
Berikut transkrip aslinya:
هل هناك عذر بالجهل في مسائل التوحيد، وكيف نجيب عمن يحتج بأن هناك عذر في مسائل التوحيد بالرجل الذي أمر أبناءه بإحراقه فنفى القدرة عن الله فعذره الله، وبقول الشيخ محمد بن عبد الوهاب: أنا لا أكفر من يطوف بقبر الكواز.
الجواب:
يا أخي، العذر بالجهل إذا لم يمكن زوال الجهل، ما عندك أحد يعلمك، منقطع عن العلماء، في أرض بعيدة ما لم يبلغها شيء: هذا يعذر بالجهل.
أما الإنسان المتمكن من العلم ومن سؤال العلماء، ويقول: أنا أعذر بالجهل، أنت المفرط، لأنك لم تطلب العلم، لم تسأل، فكيف يعذر بالجهل يا أخي.
فهناك جهل لا يمكن زواله، وهو من يعيش منقطعا لا يجد أحدا، ومن يعيش مع الناس ومع العلماء، يسمع القرآن ويسمع السنة، ويقول أنا أعذر بالجهل، لا، أنت المفرط.
أما ذاك، الذي يعيش منقطع، هذا ما فرط لأنه ما وجد أحد، يعذر بالجهل.
فالجهل الذي لا يمكن زواله: يعذر به، أما الجهل الذي يمكن زواله بالتعلم وسؤال العلماء فهذا لا يعذر به، فتنبهوا لهذا.
لأن فيه من الناس من أخذوا هذه المسألة، وصار يرددونها يعذر بالجهل يعذر بالجهل على طول، بالإطلاق، لا، لابد من التفصيل.
ثم أيضًا المسائل ما هي واحدة، المسائل الخفية التي تحتاج إلى علماء، وتحتاج إلى شرح، هذه نعم يعذر بالجهل حتى يجد من يعلمه، أما المسائل الواضحة التي لا تحتاج إلى شرح، مثل الشرك والتوحيد هذه ما يعذر بالجهل، لأنها واضحة. الله جل وعلا قال: واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا، إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة، لئن أشركت ليحبطن عملك، هذا غامض ولا واضح، واضح أنه توحيد، واضح أنه شرك، فالمسائل الظاهرة لا يعذر أحد بجهله، أما المسائل الخفية التي تحتاج إلى بيان من العلماء هذه يعذر بالجهل فيها، المسائل ما هي واحدة نعم، فلا بد من هذا التفصيل في العذر بالجهل. نعم.
والشيخ محمد بن عبد الوهاب يقول: لا أكفر الذين يعبدون الصنم الذي على قبة الكواز يعني ما عندهم أحد يعلمهم، ما قال: يعذرون وسكت، قال: ما عندهم أحد يعلمهم.
أما هؤلاء عندهم أحد يعلمهم وعندهم من يبين لهم لكن
ما سألوا ولا طلبوا العلم، فكيف يعذرون بالجهل؟! نعم
https://www.facebook.com/share/p/16oYb1oxps/
iya, ini memang bantahan bagi orang yg memberi udzur secara mutlak, dan itu memang pendapat yg tidak benar.
Sebaliknya ini juga bantahan untuk mereka yg TIDAK memberikan udzur secara mutlak.. dan inilah tujuan ana menuliskan pesan.. agar tidak ada yg serampangan mengafirkan saudara seiman.
Ini juga agar takfir tidak kembali kepada dirinya sendiri.
"Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya "Ya Kafir", maka kata-kata itu akan menimpa salah satunya. Jika benar apa yang diucapkan (berarti orang yang dituduh memang kafir); jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada orang yang menuduh. [HR. Muslim: 60].
Intinya: jangan mudah-mudah mengafirkan saudara kita, konsekuensinya sangat banyak dan sangat berat.
Tambahan catatan ustadz Dr musyaffa ad dariny Ma