Kisah Imam Malik bersama Imam Syafii muda.
Dikisahkan bahwa Imam Syafii tatkala hendak berguru kepada Imam Malik, beliau meminta surat pengantar kepada Gubernur kota Makkah agar Gubernur kota Madinah berkenan menghantarkan beliau menghadap Imam Malik bin Anas.
Sesampainya di Madinah Imam Syafii segera menyampaikan surat itu kepada Gubernur Kota Madinah. Ketika Gubernur Madinah membaca surat pengantar itu, ia berkata, 'Demi Allah, wahai anak muda, berjalan kaki tanpa alas kaki dari tengah kota Madinah ke tengah Makkah lebih mudah bagiku daripada berjalan ke pintu rumah Malik bin Anas, karena aku tidak akan pernah kehilangan kehormatanku kecuali ketika aku berdiri di depan pintu rumahnya.
Walau demikian, Gubernur Madinah tetap berkenan mendampingi Imam Syafii muda menghadap kepada Imam Malik. Setiba di rumah Imam Malik, salah satu pengawal Gubernur segera mengetuk pintu rumah Imam Malik.
Tak selang berapa lama, muncul seorang budak perempuan berkulit hitam menemui rombongan gubernur, lalu Gubernur Madinah berkata kepada budak itu: Sampaikan kepada tuanmu bahwa aku berada di depan pintu.'
Segera budak itu masuk dan dalam waktu singkat segera kembali keluar, kemudian berkata: Tuanku menyampaikan salam dan berkata: Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis di secarik kertas, dan jawabannya akan segera ditulis dan diserahkan kepadamu. Jika tujuanmu ingin mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka engkau sudah mengetahui jadwal rutinnya.'
Sang gubernur Kembali berkata kepada budak itu: 'Katakan kepadanya, bahwa aku mengantarkan surat dari Gubernur Makkah mengenai urusan penting.'
Segera budak itu masuk Kembali dan kemudian keluar, dan menyiapkan kursi . Tak selang berapa lama Imam Malik keluar menemui rombongan gubernur Madinah Bersama Imam Syafii muda.
Membaca surat pengantar tersebut, Imam Malik tercengang dan berkata: Subhanallah, ilmu Rasulullah (ﷺ) mulai dipelajari dengan cara bersurat seperti ini!.
Karena sang Gebernur segan dan tidak bernai merespon ucapan Imam Malik, maka segera Imam Syafii muda memberanikan diri untuk menjawab dengan berkata: Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebaikan dalam semua urusanmu, aku adalah seorang pria dari suku Mutthalib, dan keadaanku demikian dan demikian.
Ketika Imam Malik mendengar kata-kata Imam Syafii muda, Imam Malik segera menatap wajah Imam Syafii dengan seksama; dengan ketajaman firasat/ intuitif, beliau kepada: Siapa namamu? Imam Syafiim dua menjawab: Muhammad.
Kemudian Imam Malik berkata: Wahai Muhammad, bertaqwalah selalu kepada Allah dan jauhilah dosa, karena aku menduga bahwa engkau akan memiliki kedudukan tinggi kelak.
Kemudian Imam Malik berkata, 'Ya, ini Adalah sebuah kehormatan, silahkan ekau datang Kembali besok dengan mengajak orang yang bisa membacakan kitabku Al-Muwatta di hadapanmu.
Keesokan harinya Imam Syafiim muda berkata: Aku membaca Al Muwatha' dari hafalanku, sedangkan kitab Al Muwattha’ ada di tanganku dalam kondisi tertutup. Setiap kali aku merasa segan dan ingin berhenti, Imam Malik justru menunjukkan ekspresi senang dengan bacaanku dan tata bahasa yang aku gunakan, dia berkata, 'Demi Allah, wahai pemuda, teruskan bacaanmu, hingga akhirnya aku membaca Al Muwattha hingga selesai, dalam beberapa hari.
Selanjutnya Imam Syafii muda diterima sebagai salah satu murid Imam Malik hingga akhir hayat sang guru Imam Malik bin Anas rahimahumullah.
Subhanallah, ternyata untuk berjumpa dengan Imam Malik untuk bertanya kepanya tidak semudah yang kita bayangkan…..mana yang disuruh menemui tamu danmenyampaikan pesannya seorang budak Wanita lagi…..heeem ya itulah Sejarah, kini semua telah berubah….ndak usah mengandai andailah, nanti malah dianggap gimanaaa gitu.
Lebih baik, anda segera persiapkan diri untuk gabung di sini saja:
https://stdiis.ac.id/headline/brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/