SENGSARANYA PUNYA DUA ISTRI
Sekh Muhammad shaghir almaqthari berkata:
Ketika Syaikh kami (muqbil bin Hadi Al wadi'iy) رحمه الله menikah dengan istri yang kedua, pada malam kedua beliau datang dan menyampaikan pelajaran antara Magrib dan Isya—sebagaimana kebiasaan beliau. Setelah itu beliau berkata, “Siapa yang bisa membacakan kepada kami sebuah potongan syair?”
Maka salah seorang murid berdiri dan membacakan beberapa bait syair. Kemudian seorang murid lain mengangkat tangannya dan berkata, “Saya punya, wahai Syaikh.”
Syaikh pun berkata, “Silakan.”
Ia lalu membacakan bait-bait syair seorang Arab Badui. Syaikh kami tertawa, demikian pula para murid.
Setelah ia selesai membacakannya, Syaikh berkata sambil tertawa, “Engkau terlalu terburu-buru terhadapku, wahai saudaraku fulan.
Inilah bait-bait syair yang dibaca oleh si murid tadi:
Dikatakan kepada seorang Arab Badui: ‘Siapa yang tidak menikah dengan dua orang istri, maka ia belum merasakan manisnya hidup.’
Maka ia pun menikahi dua orang istri, lalu menyesal, dan ia pun menggubah syair sambil berkata: …”
Aku menikahi dua perempuan karena kebodohanku yang berlebihan,
tanpa memahami betapa sengsaranya suami yang memiliki dua istri.
Aku berkata, “Aku akan menjadi seekor domba di antara keduanya,
hidup nyaman di tengah dua induk domba yang paling mulia.”
Namun aku justru menjadi seperti domba yang pagi dan petang diseret,
bolak-balik di antara dua ekor yang paling buruk.
Keridaan yang satu membangkitkan kemurkaan yang lain,
maka aku tak mampu menghindari salah satu dari dua kemurkaan itu.
Dalam kehidupan, aku menemui setiap bentuk kesengsaraan;
begitulah derita yang selalu ada di antara dua madu.
Yang ini satu malam, yang itu malam berikutnya,
celaan pun terus-menerus hadir pada dua malam itu.
Maka jika engkau ingin tetap mulia,
dan hidup dengan tangan penuh kebaikan,
serta meraih kerajaan Dzi Yazan dan ‘Amr,
Dzi Jadan, kerajaan timur dan barat,
kerajaan para Mundzir, Dzi Nuwas, Tubba‘ al-‘Arim, dan Dzi Ru‘ain,
maka hiduplah membujang!
Jika engkau tak sanggup,
bersiaplah menghadapi dua pasukan besar yang saling berhadap-hadapan.