Senin, 12 Januari 2026

Berdoa (Meminta) kepada Orang Mati

Berdoa (Meminta) kepada Orang Mati

Di antara bentuk kesyirikan kaum kuburiyun adalah berdo’a dan memohon sesuatu kepada para wali yang sudah mati atau meminta kepada kuburan mereka. Mereka seringkali berkata: “Wahai Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, berikanlah perlindungan! Wahai Mbah Fulan, kabulkan hajat kami!” dan ucapan semisalnya.

Para tokoh mereka pun membela perbuatan mereka dengan alasan bahwa meskipun meminta kepada orang mati, yang penting hati mereka bergantung kepada Allah ta’ala, maka ini tidak termasuk syirik. Wallahul musta’an.

Tanggapan :

Justru Ulama Syafi’iyah mempunyai pemahaman yang berbeda 180 derajat dengan pemahaman para tokoh mereka dan kuburiyun. Mereka semua menjelaskan bahwa berdo’a, beribadah dan menyeru kepada segala sesuatu yang tidak bisa mendatangkan manfaat ataupun madharat -seperti berhala, kuburan, wali yang sudah mati dan sebagainya- adalah termasuk perbuatan syirik besar.

Al-'Allamah Muhammad bin 'Abdul Karim Asy-Syahrastani Asy-Syafi’i (w. 548 H) menandaskan bahwa memohon terkabulnya hajat kepada orang-orang shalih yang sudah mati merupakan bentuk penetapan uluhiyah kepada orang tersebut. Dan ini termasuk syirik besar. Beliau berkata :

وبالجملة وضع الأصنام حيث ما قدروه إنما هو على معبود غائب حتى يكون الصنم المعمول على صورته وشكله وهيأته نائبا منابه…. لكن القوم لما عكفوا على التوجه إليها كان عكوفهم ذلك عبادة وطلبهم الحوائج منها إثبات إلهية لها وعن هذا كانوا يقولون : ( ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى)

“Secara global membuat berhala (yang meliputi patung orang shalih, gambar dan kuburannya, pen) sesuai kemampuan mereka adalah untuk sesembahan yang ghaib (tidak tampak) sehingga berhala yang mereka buat sesuai dengan bentuk orang shalih itu merupakan pengganti dari orang-orang shalih yang sudah mati…. akan tetapi ketika kaum tersebut ber-i’tikaf menghadap berhala tersebut, maka perbuatan i’tikaf mereka itu termasuk perbuatan ibadah (kepada orang shalih tersebut, pen). Dan juga permintaan hajat mereka kepada berhala tersebut merupakan penetapan uluhiyah kepadanya. Dan atas demikian mereka menyatakan: “Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali agar mereka menjadikan perantara yang mendekatkan kami kepada Allah.” (QS. Az-Zumar: 3).” 
(Al-Milal wan Nihal, 2/258)

Di antara dalil tentang syiriknya meminta-minta kepada kuburan adalah firman Allah ta’ala :

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu berdoa (menyeru) apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Yunus : 106)

Kata “Apa-apa yang tidak memberikan manfaat ataupun madharat” meliputi orang shalih yang sudah mati, kuburan, patung, batu dan sebagainya.

Al-Imam Abul Muzhaffar As-Sam’ani Asy-Syafi’i (w. 489) rahimahullah berkata :

قَوْله تَعَالَى: {وَلَا تدع من دون الله مَا لَا ينفعك وَلَا يَضرك} الدُّعَاء يكون بمعنيين: أَحدهمَا: بِمَعْنى النداء، كَقَوْلِك: يَا زيد، وَيَا عَمْرو، وَالْآخر: بِمَعْنى الطّلب. وَقَوله: {مَا لَا ينفعك وَلَا يَضرك} مَعْنَاهُ: لَا ينفعك إِن دَعوته، وَلَا يَضرك إِن تركت دعاءه.

“Firman Allah ta’ala “Dan janganlah kamu berdoa (menyeru) apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah,” Doa disini mempunyai 2 makna; pertama: bermakna panggilan seperti ucapan: Ya Zaid! Ya Amr!, kedua: bermakna meminta.” Firman-Nya “apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu”, artinya adalah sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat kepadamu ketika kamu memohon kepadanya dan tidak mampu membahayakanmu ketika kamu tidak memohon kepadanya (seperti pohon, kuburan dan orang-orang shalih yang sudah mati, pen).” 
(Tafsir As-Sam’ani, 2/409)

Sehingga ucapan “Ya Abdul Qadir, lindungilah aku!, “Ya Sunan Bonang, cukupilah aku? dsb adalah termasuk kesyirikan.

Allah ta’ala juga menegaskan syiriknya orang-orang yang berdoa (meminta) kepada orang-orang yang dikubur seperti para nabi dan para wali. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ () إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan orang-orang yang kalian seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru (berdoa kepada) mereka, mereka tiada mendengar doa kalian; dan seandainya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepada kalian sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir : 13-14)

Tentang tafsir ayat di atas, Al-'Allamah Muhammad Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i (w. 977 H) rahimahullah berkata :

{إن تدعوهم: أي المعبودات من دونه دعاء عبادة أو استعانة {لا يسمعوا دعاءكم} أي: لأنهم جماد {ولو سمعوا} أي: على سبيل الفرض والتقدير {ما استجابوا لكم} أي: لعدم قدرتهم على الانتفاع ولما بين عدم النفع فيهم في الدنيا بين عدم النفع منهم في الآخرة ووجود الضرر منهم في الآخرة بقوله سبحانه {ويوم القيامة} أي: حين ينطقهم الله تعالى {يكفرون بشرككم} أي: بإشراككم فينكرونه ويتبرؤن منه بقولهم {ما كنتم إيّانا تعبدون} (يونس: 28)

“Firman Allah “Jika kalian menyeru (berdoa kepada) mereka”, maksudnya adalah berbagai sesembahan selain-Nya (seperti berhala, kuburan dan orang mati, pen) dengan doa ibadah atau doa permohonan. “Mereka tiada mendengar doa kalian”, maksudnya adalah karena mereka itu benda mati. “Seandainya mereka mendengar”, maksudnya jika mereka ditakdirkan bisa mendengar. “Mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian”, maksudnya karena mereka tidak mampu memberikan manfaat. Dan ketika Allah menjelaskan tidak bermanfaatnya mereka di dunia, maka Allah menjelaskan tidak bermanfaatnya mereka serta bahayanya mereka pada hari kiamat dengan firman-Nya “pada hari kiamat”, maksudnya ketika Allah menjadikan mereka mampu berbicara (yaitu hari kiamat, pen). “Mereka akan mengingkari kesyirikan kalian”, maksudnya dengan sebab perbuatan syirik kalian, mereka akan mengingkari kesyirikan kalian dan berlepas diri dari perbuatan kalian dengan ucapan mereka “Kalian tidaklah beribadah kepada kami.” (QS. Yunus: 28).” 
(As-Sirajul Munir fil I’anah 'ala Ma’rifati Ba’dli Ma’ani Kalami Rabbina Al-'Alim Al-Khabir: 3522)

Allahu a'lam