Jidāl alias debat sebenarnya membuka ruang agar ilmu kembali bernafas; saking ia jarang digali dan diteliti. Ia bisa jadi sebab kemalasan ilmiah menjadi bangkit; kitab-kitab dibuka kembali, kalam-kalam ulama dirujuk lagi. Hanya saja ianya sering dikonotasikan negatif—bagi kita yang memiliki tradisi pakewuh dan anti konflik yang mengakar kuat.
Sependek pengetahuan saya, jidal itu tak memiliki syarat baku harus sekufu; siapapun dengan perbedaan strata bisa melakukannya. Kecuali diskusi—beberapa jurnal menyebut, inilah yang seolah dipersyaratkan seimbang antara kedua belah pihak.
Kita bisa lihat di pentas sejarah, jidāl tak selalu antar dua kubu yang sama. Para Aimmah terkadang debat dengan orang biasa; orang biasanya kadang debat dengan orang pandirnya; dan terkadang juga dengan lawan yang sepadan dengannya. Namun jika munāzharah, barulah kita dapati Ahli Ilmu dengan Ahli Ilmu lainnya berhadapan.
Sebagian malah terjatuh pada kekeliruan epistemologis, ketika menyamakan antara jidal dengan mirā'. Padahal keduanya berbeda. Jidāl itu jelas ujungnya, karena ada yang benar dan salah, menang dan kalah; dilakukan mencari yang benar dan dengan cara beradab. Sementara Mirā ini debat kusir. Kusir tak akan mau kalah dengan penumpangnya, dan penumpang juga tak mau kalah. Biasanya dengan nada emosional dan yang diperjuangkan bukan value yang dibawa, melainkan dirinya. Inilah yang terlarang—yaitu Mirā'. Inilah yang dimaksud oleh hadits-hadits.
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
"Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan al-Mirā' meskipun ia benar..." [Abu Dawud]
Adapun Jidāl itu justru salah satu cara determinasi dan intervensi pesan. Jika hikmah dan maw'izhah hasanah sudah tak bisa diandalkan, maka Jidāl bisa jadi ruang yang eligible dan diandalkan.
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِیلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ
[Surat An-Nahl: 125]
Hanya saja karena ia bagian dari metode menyampaikan pesan, maka tentu butuh keahlian padanya. Tidak semua Ahli Ilmu—sekalipun mumpuni, bisa dan terbiasa dengan jidāl. Tapi ada juga Ahli Ilmu sekaligus Ahli dalam Jidāl sebagai contoh asy-Syāfi'iy. Sering kita dapati riwayat-riwayat mengenainya tatkala berjidāl. Terkadang dengan muridnya, terkadang dengan yang sekufu dengannya, bahkan terkadang dengan seniornya.
Tulisan ini konteksnya mendudukkan jidāl agar tak disamakan dengan mirā'. Kita belum berbicara terkait person dan "syarat-syarat baku" yang perlu dipenuhi seseorang dalam tradisi jidāl ilmiah. Karena tentu jika dikaitkan dengan keilmiahan, meskipun jidāl dibolehkan walau tidak sekufu—tetap saja jangan sampai posisi seseorang memadharatkan terhadap Al-Haq dan merepotkan para Ahlul Haq nya, bersebab kesenjangan yang terlalu jauh dengan keilmuan lawan debatnya. Khawatir malah kena syubuhat atau Al-Haq malah jadi direndahkan dan dimaki oleh Ahlul Bathil—begitu juga terhadap Ahlul Haq nya malah menjadi bahan perendahan oleh Ahlul Bathil.
Jadi debat ilmiah itu boleh, yang bermasalah adalah al-Mirā'. Jika telah masuk ke ranah Ilmiah maka ia butuh pada skill dan adab, agar jangan sampai Value yang dibawa malah jadi bahan tertawaan. Disinilah seseorang butuh kesadaran, apakah ia layak atau tidak masuk ke ruang tersebut...
Wallahu Waliyyut Taufiiq
Mochamad Teguh Azhar Al-Atsariy
https://www.facebook.com/share/1Es8PvrY1n/