Khathib Al Bagdadiy menukil ucapan Al Imam Asy Syafi'i tentang syarat Mufti (orang yang berfatwa) :
لا يحل لأحد يفتي في دين الله إلا رجلا عارفا بكتاب الله : بناسخه ومنسوخه ، وبمحكمه ومتشابهه ، وتأويله وتنزيله ، ومكيه ومدنيه ، وما أريد به ، وفيما أنزل ، ثم يكون بعد ذلك بصيرا بحديث رسول الله – ﷺ – ، وبالناسخ والمنسوخ ، ويعرف من الحديث مثل ما عرف من القرآن ، ويكون بصيرا باللغة ، بصيرا بالشعر ، وما يحتاج إليه للعلم والقرآن ، ويستعمل مع هذا الإنصاف ، وقلة الكلام ، ويكون بعد هذا مشرفا على اختلاف أهل الأمصار ، ويكون له قريحة بعد هذا ، فإذا كان هذا هكذا فله أن يتكلم ويفتي في الحلال والحرام ، وإذا لم يكن هكذا فله أن يتكلم في العلم ولا يفتي “
"Tidak halal seorangpun untuk berfatwa kecuali orang yang mengetahui (Arif) tentang kitabullah:
-Nasikh dan manshukhnya
-Yang muhkam dan mutasyabbihnya
-Takwil dan tanzilnya
-Makiyah dan Madaniyahnya
-Apa yang dimaksud dengannya dan untuk perkara apa diturunkannya.
Kemudian setelah itu keberadaan dia adalah orang mengetahui (secara mendalam) dengan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan yang berkaitan dengan nasikh manshukh didalamnya.
Dia mengetahui hadits sebagaimana dia mengetahui Al Qur'an.
Keberadaannya juga mengetahui secara mendalam dengan bahasa arab, juga syair dan segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk ilmu dan Al Qur'an.
Dia mempergunakan bersamaan ini semua dengan sikap adil dan sedikitnya ucapan.
Setelah itu dia bisa mengelola (mengontrol) perbedaan pendapat penduduk di berbagai belahan bumi.
Dan setelah ini dia akan punya kejeniusan.
Apabila keberadaannya adalah seperti ini maka baginya untuk berbicara dan berfatwa tentang halal dan haram. Jika keberadaannya tidak seperti ini maka cukup untuk dia berbicara ilmu dan bukan berfatwa."
(Al Faqih wa mutafaqqih)
Nampak syarat yang sangat berat dalam berfatwa dan lebih ringannya berbicara ilmu dibandingkan berfatwa.
Ustadz enggar suprantara