Rabu, 14 Januari 2026

Dalam ijazah Shahih Bukhori yang dibagikan di Maghrib, Syam, Hijaz, India dan lainnya terkadang akan didapati sanad sebagai berikut:

Dalam ijazah Shahih Bukhori yang dibagikan di Maghrib, Syam, Hijaz, India dan lainnya terkadang akan didapati sanad sebagai berikut:

".... Dari Nuruddin Abi al-Futuh at-Thawusi, dari Baba Yusuf al-Harawi, usia 350 tahun, dari Muhammad bin Syadh Bakht al-Farisi al-Farghani, usia 130 tahun, dari Abi Luqman al-Khatalani, usia 143 tahun, dari Muhammad bin Yusuf al-Firabri, dari Imam al-Bukhari".

Sanad ini tinggalkan saja, tidak usah dihiraukan walaupun 'aliy. 
alasannya :

1. Tafarud ath-Thawusi, walaupun banyak pujian kepadanya, sebenarnya biografinya sedikit yang diketahui. Dalam riwayat ini hanya dia yang meriwayatkan dari Baba Yusuf. 

2. Baba Yusuf majhul, pengakuan akan usianya yang panjang keluar dari kebiasaan umat Muhammad  ﷺ. Ini cukup mencurigakan. Gelar "Baba" menunjukan dia bukan seorang ahli hadits melainkan orang-orang yang di-tua-kan diantara orang-orang sufi. 

3. Riwayat Baba Yusuf kepada al-Farghani melalui jalan ijazah ahli ashr, ini periwayatan rendah yang tidak diterima.

4. Perowi mu'ammar setelah Baba Yusuf yaitu al-Farghani dan al-Khatalani juga majhul, walaupun klaim usianya masih mungkin.

5. Para imam ahli hadits seperti Ibn Hajar, Suyuthi dll tidak menyebutkan sanad ini padahal perhatian mereka sangat tinggi akan sanad-sanad Shahih Bukhori. Hal ini menunjukan bermasalah atau tidak dikenalnya sanad ini. 

Imam as-Suyuthi (w. 911 H) mengatakan dalam Tadrib ar-Rawi (2/607) bahwa al-Uluww (tingginya sanad) terdiri dari 5 macam. Yang pertama dan yang paling mulia di antaranya adalah kedekatan dengan Rasulullah ﷺ dari sisi jumlah dengan sanad yang shahih lagi bersih, berbeda halnya apabila disertai dengan kelemahan, maka tidak ada perhatian terhadap ‘uluww semacam ini, terlebih lagi bila di dalamnya terdapat orang-orang majhul dan para pendusta dari kalangan muta’akhkhirin. Lalu beliau mengutip dari Imam Adz-Dzahabi (w. 748 H) : 

مَتَى رَأَيْتَ الْمُحَدِّثِ يَفْرَحُ بِعَوَالِي هَؤُلَاءِ ‌فَاعْلَمْ ‌أَنَّهُ ‌عَامِّيٌّ بَعْدُ.

“Apabila engkau melihat seorang ahli hadits bergembira dengan sanad-sanad tinggi dari orang-orang semacam ini, maka ketahuilah bahwa ia hanyalah orang awam belaka.”
Urar