Selasa, 13 Januari 2026

4 Alasan Mengapa Aku Mencintai Imam Abu Hanifah Rahimahullah

4 Alasan Mengapa Aku Mencintai Imam Abu Hanifah Rahimahullah

1. Ketika Imam Abu Hanifah Membungkam Kaum Ateis tentang Keberadaan Allah

Dikisahkan bahwa sekelompok zindiq (ateis) menantang Imam Abu Hanifah untuk berdebat mengenai keberadaan Sang Pencipta. Sang Imam menyepakati waktu pertemuan, namun dengan sengaja beliau datang terlambat.

Ketika mereka mempertanyakan keterlambatan itu, beliau menjawab dengan tenang:

“Tadi, ketika hendak menyeberangi sungai, aku menyaksikan pemandangan yang menakjubkan. Potongan-potongan kayu datang sendiri, lalu tersusun menjadi sebuah perahu tanpa ada seorang tukang pun yang merakitnya. Setelah itu, perahu tersebut berlayar sendiri dan membawaku kemari.”

Mendengar itu, mereka tertawa dan mengejek: “Mustahil! Mana mungkin perahu ada tanpa pembuat?”

Imam Abu Hanifah pun menjawab dengan hujjah yang mematikan:
“Jika menurut akal kalian sebuah perahu saja mustahil ada tanpa pembuat, lalu bagaimana mungkin alam semesta yang begitu agung, teratur, dan penuh keteraturan ini ada tanpa Sang Pencipta?”

Dan mereka pun akhirnya terdiam, tak mampu menjawab.

2. Akhlak Agung dalam Menghadapi Caci Maki

Keteguhan jiwa dan kemuliaan akhlak Imam Abu Hanifah adalah teladan nyata. Pernah suatu ketika, seorang lelaki mengikuti beliau sambil terus mencaci, menghujat, dan melontarkan kata-kata kasar, hingga mereka tiba di depan rumah sang Imam.

Alih-alih marah atau membalas, Imam Abu Hanifah justru berhenti, menoleh dengan penuh ketenangan, lalu berkata:

“Wahai anak muda, ini adalah pintu rumahku. Jika masih ada sisa makian yang ingin engkau sampaikan, silakan tuntaskan sekarang sebelum aku masuk, agar tidak tersisa ganjalan di hatimu.”

Mendengar kelembutan dan keluhuran akhlak tersebut, lelaki itu pun tersipu malu, hatinya luluh, dan ia segera meminta maaf.

3. Keteguhan Imam Abu Hanifah dalam Mengikuti Hadis Sahih

Banyak orang keliru memahami Imam Abu Hanifah, seolah-olah beliau hanya mengandalkan logika (ra’yu). Padahal, prinsip beliau dalam beragama sangatlah jelas dan tegas.

Di antara perkataan masyhur beliau:
“Jika hadis itu sahih, maka itulah madzhabku.”
(Dinukil oleh Hafizh Al-‘Iraqi dan Ibnu ‘Abidin)

Kepada muridnya, Abu Yusuf, beliau berpesan dengan penuh tawadhu‘:
“Jangan engkau tulis semua yang kau dengar dariku. Bisa jadi hari ini aku berpendapat dengan suatu pendapat, lalu esok hari aku meninggalkannya karena menemukan dalil yang lebih kuat.”

Metodologi istinbath beliau pun sangat rapi dan berlapis: Al-Qur’an, lalu Sunnah Nabi ﷺ, kemudian pendapat para Sahabat. Jika telah sampai pada level Tabi‘in, barulah beliau berijtihad.

Bahkan beliau pernah berkata dengan penuh adab:
“Jika datang kepadaku hadis dari Rasulullah ﷺ, maka aku menerimanya di atas kepala dan mataku.”

4. Bagaimana Imam Abu Hanifah Menyelamatkan Seorang Pemabuk

Diriwayatkan oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Nashr al-Humaidi (w. 488 H):

Imam Abu Hanifah memiliki seorang tetangga di Kufah, seorang tukang sol sepatu. Ia bekerja keras sepanjang hari. 

Namun setiap malam, ia pulang, memasak daging atau ikan, lalu menenggak khamar hingga mabuk. Dalam keadaan mabuk, ia selalu melantunkan syair dengan suara keras:

“Mereka telah menyia-nyiakanku,
alangkah hebatnya pemuda yang telah mereka sia-siakan.

Padahal akulah andalan di hari genting dan penjaga perbatasan.”

Ia mengulang syair itu hingga tertidur. Imam Abu Hanifah, yang menghabiskan malamnya dengan shalat dan ibadah, mendengar suara itu hampir setiap malam.

Suatu malam, suara tersebut tak lagi terdengar. Imam Abu Hanifah pun bertanya, dan beliau diberi tahu bahwa tetangganya itu ditangkap aparat dan dipenjara.

Keesokan paginya, setelah menunaikan shalat Subuh, Imam Abu Hanifah segera mendatangi penguasa. Sang penguasa, yang sangat memuliakan beliau, memerintahkan agar Imam Abu Hanifah tetap berada di atas tunggangannya hingga masuk ke majelis, dan berkata dengan penuh hormat:
“Apa keperluan Anda?”

Imam Abu Hanifah menjawab:
“Tetanggaku, seorang tukang sepatu, ditangkap beberapa malam lalu. Aku memohon agar ia dibebaskan.”

Penguasa itu pun berkata:
“Bebaskan dia. Bahkan, semua orang yang ditangkap sejak malam itu pun aku bebaskan demi Anda.”

Dalam perjalanan pulang, tukang sepatu itu berjalan di belakang Imam Abu Hanifah. 

Sang Imam lalu menoleh kepadanya dan bertanya dengan lembut:
“Wahai anak muda, apakah kami benar-benar telah menyia-nyiakanmu?”

Dengan mata berkaca-kaca, pemuda itu menjawab:
“Tidak. Justru engkau telah menjagaku dan memuliakanku. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan karena telah menjaga hak seorang tetangga.”

Sejak hari itu, ia bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah kembali pada kebiasaan lamanya.

(Diriwayatkan dalam Jadzwat al-Muqtabis fi Dzikri Wulat al-Andalus, hlm. 16; dan juga oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 15/497)

__________

4 وجوہات کہ میں امام ابو حنیفہ رحمتہ اللہ علیہ سے محبت کرتا ہوں:

1. جب ابو حنیفہ نے اللہ کے وجود کے بارے میں الحاد کرنے والوں کو خاموش کیا

2. امام ابو حنیفہ نے گالیوں اور بدسلوکیوں پر کیسا ردعمل ظاہر کیا

3. امام ابو حنیفہ مستند روایات کے پابند مخلص پیروکار تھے

4. امام  ابو حنیفہ نے ایک نشے میں ڈوبے شخص کی جان کیسے بچائی

پہلے تین نکات کے لیے کمنٹس دیکھیں:

ابو عبد اللہ محمد بن ابی نصر الحمیدی (وفات 488ھ) روایت کرتے ہیں:

امام ابو حنیفہ کا ایک پڑوسی کوفہ میں تھا، ایک جوتا بنانے والا، جو سارا دن کام کرتا تھا۔ جب رات آتی، وہ گھر واپس آتا، کچھ گوشت پکاتا یا مچھلی بھونتا، اور پھر پینا جاری رکھتا۔ جب شراب اس پر اثر ڈالتی، وہ زور سے گا کر یہ شعر کہتا:

"أضاعوني واي فتى أضاعوا … ليوم كريهة وسداد ثغر"
لوگوں نے مجھے تنہا چھوڑ دیا اور اُنہوں نے کیسا ہی نوجوان ضائع کر دیا ۔

وہ یہ شعر دہرائے بغیر نہیں رکتا جب تک کہ نیند اسے نہ لے لے۔ ابو حنیفہ ہر روز اس کی آواز سنتے۔ امام ابو حنیفہ خود پوری رات عبادت کرتے، اور ایک دن انہوں نے دیکھا کہ جوتا بنانے والے کی آواز غائب ہے، تو اس کے بارے میں پوچھا۔ بتایا گیا: "چند راتیں پہلے اسے سپاہیوں نے گرفتار کر لیا؛ وہ قید میں ہے۔"

اگلی صبح، ابو حنیفہ نے فجر کی نماز ادا کی، اپنی خچر پر سوار ہوئے، اور حکمران سے اجازت طلب کی۔ حکمران نے فرمایا: "اسے اجازت دو، اور اسے سوار لاو۔ اسے قالین پر قدم رکھنے تک اترنے نہ دو۔" ابو حنیفہ نے ایسا کیا، اور حکمران نے پورے مجلس میں ان کے لیے عزت کا سلسلہ جاری رکھا، اور پوچھا: "آپ کی کیا حاجت ہے؟"

ابو حنیفہ نے کہا: "میرا ایک پڑوسی، جوتا بنانے والا، جسے سپاہیوں نے چند راتیں پہلے گرفتار کیا تھا، میں درخواست کرتا ہوں کہ آپ اسے رہا کریں۔"

حکمران نے کہا: "جی ہاں، اسے رہا کریں، اور اس رات سے آج تک جو بھی پکڑا گیا تھا، سب کو رہا کرو۔" ابو حنیفہ سوار ہوئے، اور جوتا بنانے والا پیچھے چلتا رہا۔ جب ابو حنیفہ اترے، وہ اس کے پاس گئے اور کہا: "اے جوان، کیا ہم نے تمہیں کھو دیا؟"

جوتا بنانے والے نے کہا: "نہیں، بلکہ مجھے محفوظ رکھا گیا اور خیال رکھا گیا۔ اللہ آپ کو جزائے خیر دے۔ پڑوسیوں کی حرمت اور حق کی حفاظت کے لیے۔" مرد نے توبہ کی اور اپنے پرانے طریقے پر واپس نہ گیا۔

(کتاب جذوة المقتبس في ذكر ولاة الأندلس صفحہ 16، اور اس کی روایت خطیب بغداد نے بھی دی ہے: تاریخ بغداد 15/497)

Asim Ul Haq