Selasa, 25 November 2025

Terasa Menetes Dari Kelamin Setelah Buang Air

Terasa Menetes Dari Kelamin Setelah Buang Air

Beberapa hari terakhir, ada beberapa orang yang kembali menanyakan hal ini. Sebelumnya sudah pernah saya posting beberapa kali, kali ini saya posting lagi agar yang belum tau bisa mendapatkan manfaat, dan yang pernah membaca supaya kembali mengingat.

1- Tata cara yang saya tuliskan ini adalah yang dilakukan sejak masa Sahabat dan Salafus salih. 

2- Terasa menetes sesuatu dari kelamin setelah buang air dialami sangat banyak orang. Dari Rasulullah, kita diajari kesunahan untuk istibro' (menuntaskan), diantaranya adalah dengan natr (mengurut) dan nadh (menciprati).

3- Caranya : setelah kencing, kelamin diurut dari pangkal ke ujung, kemudian kelamin dan pakaian yang menempel dikelamin di cipratin sedikit air. Sehabis itu kalau ada rasa keluar, cuek saja, dan sama sekali jangan di cek. Karena adanya natr dan nadh sudah mencukupi bagi kita, kalaupun nantinya masih keluar, sudah dimaafkan. 

4- Sebagian ulama bahkan menilai walaupun sampai mengalir ke kaki, juga tetap dimaafkan, gapapa. Saat shalat pun shalatnya tetap sah. Wudhunya juga ga batal.

5- Lakukan seperti ini, insya Allah akan segera sembuh. Saya sendiri pernah terkena, dan Alhamdulillah sudah sembuh. 

Ini juga fatwa dari Syekh Syawqi Ibrahim Allam ketika ada orang dengan kondisi yang sama bertanya ke beliau.

Referensi selengkapnya di komentar yang saya pin. Sudah saya terjemahkan. 

Wallahu ta'ala a'lam bis shawab

أما "النَّضْحُ": فهو رش الفرج أو الثياب بالماء بعد الاستنجاء لدفع الوسواس؛ بحيث لو أحسَّ بعد ذلك في ثيابه بللًا أحاله على الماء ولم يلتفت إليه، ونصُّوا على أنَّ هذا من أنفع ما تندفع به الوسوسة، وأنه ليس شرطًا لصحة الطهارة. 

Nadh adalah memercikkan air ke kemaluan atau pakaian setelah istinja' (cebok) untuk menghilangkan was-was, sehingga jika seseorang merasa ada sesuatu yang basah pada pakaiannya setelah itu, ia dapat menganggapnya sebagai air percikan dan tidak memperhatikannya.

Para ulama sepakat bahwa hal ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan was-was dan bukan merupakan syarat sahnya bersuci.

فأخرج عبد الرزاق في "المُصنف"، والإمام أحمد في "المسند": من حديث سفيان بن الحكم، أو الحكم بن سفيان الثقفي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كان إذا بال وتوضأ نضح فرجه.

Abd Al-Razzaq meriwayatkan dalam kitab "Al-Musannaf" dan Imam Ahmad dalam kitab "Al-Musnad" dari hadits Sufyan bin Al-Hakam atau Al-Hakam bin Sufyan Ats-Tsaqafi RA bahwa: 

“Rasulullah SAW jika buang air kecil dan berwudhu, beliau memercikkan air ke kemaluannya.”

وصح عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه كان إذا توضأ نضح فرجه بالماء؛ كما نص عليه الإمام الحافظ أبو الفتح بن سيد الناس اليعمري، ونقله عنه الأمير الصنعاني في "التنوير" (5/ 256، ط. دار السلام).

Telah sahih dari Nabi SAW bahwa beliau memercikkan air ke kemaluannya setelah berwudhu, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Al-Hafizh Abu Al-Fath Ibnu Sayyid Al-Nas Al-Ya'muri dan dikutip oleh Al-Amir Al-Shan'ani dalam kitab "Al-Tanwir" (5/256).

وعقد لذلك أصحاب السنن أبوابًا في (النضح بعد الوضوء)؛ كما صنع ابن ماجه والترمذي، وكذلك فعل الإمامُ الحافظ البيهقي في كتاب "السنن الكبرى" حيث عقد بابًا سمَّاه: (باب الانتضاح بعد الوضوء لرد الوسواس).

Para ulama penulis kitab Sunan, seperti Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, serta Imam Al-Hafizh Al-Baihaqi dalam kitab "Al-Sunan Al-Kubra", telah menulis bab khusus tentang “Percikan air setelah wudhu untuk menghilangkan was-was.”
Ustadz M syihabudin