[Kisah Istisqa’ Nabi Musa dan Kaidah Asal Hukum Makanan]
Berdasarkan: Tafsir Surat al-Baqarah, Syaikh Ibn ‘Utsaimin, Juz 1 hlm. 217–218
Dalam firman Allah:
﴿وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ﴾ (البقرة: ٦٠)
Syaikh Ibn ‘Utsaimin menyebut beberapa faedah penting:
• Disyariatkannya istisqa’ (meminta hujan/air) ketika manusia membutuhkan air. Nabi Musa ‘alaihis-salām berdoa memohon air untuk kaumnya, dan syariat umat terdahulu adalah syariat bagi kita selama tidak ada dalil yang menghapusnya. Bahkan dalam Islam, Nabi ﷺ juga melakukan istisqā’ di mimbar Jum‘at dan di padang terbuka dengan tata cara khusus.
• Ayat ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah: batu keras dipukul dengan tongkat, lalu terpancarlah dua belas mata air. Ini bukan hukum alam biasa, tetapi mukjizat yang menegaskan bahwa segala sesuatu tunduk pada kehendak Allah, bukan sekadar “hukum alam” seperti klaim kaum naturalis. Jika semua murni “alami”, niscaya tidak akan ada perubahan luar biasa seperti ini.
• Syaikh juga menggariskan satu kaidah fiqih besar: apa yang Allah keluarkan untuk manusia dari bumi dan turunkan dari langit, asal hukumnya adalah halal dan mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Ayat “كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ” menunjukkan perintah yang mengandung makna kebolehan.
Beliau menegaskan:
• Ibadah: asal hukumnya terlarang sampai ada dalil yang memerintahkannya.
• Makanan, minuman, dan bentuk pemanfaatan dunia: asal hukumnya boleh sampai ada dalil yang melarangnya.
Ini adalah perbedaan pokok antara wilayah ibadah dan wilayah muamalat.