Senin, 24 November 2025

Perbanyak Dzikir di Segala Tempat agar Saksimu Banyak pada Hari Kiamat

🔰 Perbanyak Dzikir di Segala Tempat agar Saksimu Banyak pada Hari Kiamat 

Setiap tempat yang dilewati seorang hamba -baik jalan yang bising, maupun rumah yang tenang- adalah ibarat lembaran kosong yang menunggu untuk diisi dengan amal. 

Ada orang yang melewati hidupnya seperti angin yang melintas tanpa meninggalkan jejak, tetapi ada pula yang menjadikan setiap langkahnya sebagai catatan kebaikan yang kelak akan tampil menjadi saksi. 

Begitu pula dzikir; ia laksana tetesan air yang jatuh terus-menerus di atas batu. Sekilas tampak sederhana, namun lama-kelamaan ia membentuk lekukan yang dalam, dan meninggalkan bekas yang tidak dapat dihapus.

Ketika seorang mukmin mengisi waktunya dengan dzikir -baik dalam perjalanan, di rumah, saat menetap ataupun bersafar -, maka setiap tempat yang ia singgahi menjadi seperti saksi bisu.

Bagaikan seseorang yang menyalakan pelita di setiap sudut yang ia lalui, dzikir itu menerangi bukan hanya hatinya, tetapi juga ruang-ruang di sekitarnya yang kelak akan memberi kesaksian. 

Dengan memahami hal ini, seorang hamba tak lagi memandang dzikir sebagai rutinitas, tetapi sebagai penanaman "cahaya" pada setiap tempat dalam perjalanan hidupnya.

🟪 Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata,

"إن في دوام الذِّكر في الطَّريق، والبيت، والحضر، والسَّفر، والبقاع، تكثيرًا لشُهود العبد يوم القيامة، فإنَّ البقعة والدَّار، والجبل والأرض، تشهدُ للذَّاكر يوم القيامة"
الوابل الصيب (ص: ٨١)

“Sesungguhnya dalam terus-menerus berdzikir - di jalan, di rumah, ketika menetap, ketika bepergian, dan di setiap tempat - terdapat penambahan bagi saksi-saksi bagi seorang hamba pada hari Kiamat. Karena, sesungguhnya tempat, rumah, gunung, dan tanah itu akan bersaksi bagi orang yang berdzikir pada hari Kiamat.” 
📙 ~ Al-Wabilush Ash-Shoyyib (hlm. 81)

Akhirnya, seorang mukmin memahami bahwa dzikir yang ia ucapkan bukan hanya memenuhi hatinya dengan ketenangan, tetapi juga menjadikan setiap tempat yang diinjaknya sebagai saksi yang berbicara pada hari ketika tidak ada satu pun amal yang tersembunyi. 

Laksana lingkaran cahaya yang tersisa di tempat seseorang pernah menyalakan lampu, demikian pula dzikir meninggalkan bekas yang kelak akan memuliakan pemiliknya. 

Betapa rugi orang yang melewati hidup tanpa membawa nama Allah di lisannya, dan betapa bahagianya mereka yang menjadikan dzikir sebagai iringan langkah di setiap waktu.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga lisan agar selalu terhubung dengan dzikir, kapanpun dan di manapun kita berada. Biarkan jalan yang kita tempuh, rumah yang kita huni, dan tempat yang kita singgahi menjadi saksi kebaikan, bukan saksi kelalaian. 

Bila seorang hamba menanam dzikirnya di setiap sudut bumi yang ia pijak, maka Allah -Azza wa jalla- akan menumbuhkannya sebagai kesaksian yang menguatkan dirinya pada hari perhitungan. 

Inilah makna mendalam dari nasihat Ibnul Qoyyim -rahimahullah-, sebuah ajakan untuk menjadikan dzikir sebagai teman hidup, peneduh hati, dan bekal menuju akhirat.

🟪 Faedah-Faedah dari Nasihat Ibnul Qoyyim -rahimahullah-:

Berikut beberapa faedah yang dapat dipetik dari nasihat Ibnul Qoyyim رحمه الله ini:

1) Dzikir memperbanyak saksi kebaikan pada hari Kiamat.
Setiap tempat yang kita gunakan untuk berdzikir akan memberikan kesaksian yang menguntungkan kita di hadapan Allah kelak.

2) Dzikir menyertai seorang hamba dalam setiap keadaan.
Nasihat ini menegaskan pentingnya berdzikir di berbagai situasi -di jalan, di rumah, saat safar, dan ketika menetap - sehingga dzikir menjadi bagian dari hidup kita, bukan hanya ibadah sesaat.

3) Tempat dan lingkungan dapat menjadi saksi bagi amal dan perbuatan manusia.
Ini mengingatkan kita bahwa seluruh alam akan berbicara pada hari Kiamat, sehingga amal dan perbuatan manusia tidak akan pernah benar-benar tersembunyi.

4.) Dzikir memberikan nilai pada waktu dan tempat.
Tempat-tempat yang biasa kita lewati bisa menjadi mulia karena di sana terucap nama Allah.

5. Menghidupkan dzikir akan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Konsistensi dalam berdzikir akan melahirkan kedekatan hati, keteguhan iman, dan rasa selalu diawasi oleh Allah.

6) Dzikir menanamkan kesadaran ihsan (seakan-akan dia melihat Allah atau Allah yang melihatnya.
Seorang yang berdzikir di setiap keadaan merasa diawasi Allah sehingga perbuatannya menjadi lebih terkontrol dan terjaga.

7) Dzikir mengubah perjalanan hidup menjadi ibadah.
Aktivitas duniawi -seperti berjalan, menunggu, atau bepergian- dapat bernilai ibadah bila diiringi dzikir.

8) Dzikir menghidupkan hati yang lalai.
Hati yang sering lupa akan kembali hidup dan jernih melalui dzikir yang berulang dan berkelanjutan.

9) Dzikir adalah amal ringan, tetapi memiliki pengaruh besar.
Walau dzikir adalah amalan ringan, ia meninggalkan jejak abadi dan menjadi pertolongan besar pada hari pembalasan.

Gowa, 26 Jumadal Ula 1447 Hijriyah 
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-