Kamis, 27 November 2025

PEMBAGIAN TAUHID 3⃣

PEMBAGIAN TAUHID 3⃣

Ada yang menyatakan bahwa Konsep 3 Tauhid yang komprehensif adalah produknya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Menurut saya, pernyataan ini perlu ditinjau ulang, sebab konsep pembagian tersebut sudah ada jauh sebelum Syaikhul-Islam yang wafat pada 728 H. Berikut diantaranya :

1⃣ Al-Imam Al-‘Allamah Abu Bakr Ath-Thurthūsyī Al-Malikī (w. 520 H), ia bertutur dalam Sirājul-Mulūk :

 وأشهد له بالربوبيَّة والوحدانية، وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى والصفات العلى والنعوت الأوفى

“Dan aku bersaksi kepada Allah dengan Rubūbiyyah, Wahdaniyyah (Uluhiyyah), dan dengan segala sesuatu yang Allah persaksikan bagi diri-Nya dari nama-nama yang paling baik serta sifat-sifat yang tinggi lagi sempurna”.[]

2⃣ Syaikhul-Imam Ibn Baththah Al-‘Ukbarī Al-Hanbalī (w. 387 H), dalam kitabnya Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, ia bertutur :

وَذَلِكَ أَنَّ أَصْلَ الإِيمَانِ بِاللَّهِ الَّذِي يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اعْتِقَادُهُ فِي إِثْبَاتِ الإِيمَانِ بِهِ ثَلاثَةُ أَشْيَاءَ:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ الْعَبْدُ آنِيَّتَهُ لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُبَايِنًا لِمَذْهَبِ أَهْلِ التَّعْطِيلِ الَّذِينَ لا يُثْبِتُونَ صَانِعًا. (Rububiyyah)

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْتَقِدَ وَحْدَانِيَّتَهُ، لِيَكُونَ مُبَايِنًا بِذَلِكَ مَذَاهِبَ أَهْلِ الشِّرْكِ الَّذِينَ أَقَرُّوا بِالصَّانِعِ، وَأَشْرَكُوا مَعَهُ فِي الْعِبَادَةِ غَيْرَهُ. (Wahdaniyyah atau Uluhiyyah)

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَعْتَقِدَهُ مَوْصُوفًا بِالصِّفَاتِ الَّتِي لا يَحُوزُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَوْصُوفًا بِهَا مِنَ الْعِلْمِ، وَالْقُدْرَةِ، وَالْحِكْمَةِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ، إِذْ قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يُقَرِّبُهُ، وَيُوَحِّدُهُ بِالْقَوْلِ الْمُطْلَقِ قَدْ يُلْحِدُ فِي صِفَاتِهِ، فَيَكُونُ إِلْحَادُهُ فِي صِفَاتِهِ قَادِحًا فِي تَوْحِيدِهِ؛ (Al-Asma’ was-Shifat)

وَلأَنَّا نَجِدُ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ خَاطَبَ عِبَادَهُ بِدُعَائِهِمْ إِلَى اعْتِقَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ فِي هَذِهِ الثَّلاثِ وَالإِيمَانِ بِهَا،

“Demikian itu disebabkan karena pokok keimanan kepada Allah yang diwajibkan kepada makhluknya untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya mencakup tiga hal:...

1) Rububiyyah
2) Wahdaniyyah aka Uluhiyyah
3) Al-Asma’ was-Shifat

Selain itu kita juga mendapatkan bahwa Allah ta'ala telah berbicara kepada hamba-Nya dengan menyeru mereka untuk meyakini ketiga hal di atas dan sekaligus mengimaninya...”[]

3⃣ Imam Abū Manshūr Al-Māturīdī Al-Hanafī (w. 333 H), dalam Tafsirnya Ta‘wīlat Ahlis-Sunnah, ia bertutur :

ثم قوله: (لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ) - يحتمل: الشرك في الاعتقاد، وهو أن يشرك غيره في ربوبيته وألوهيته، وبين أن يشرك غيره في عبادته

“Kemudian firman-Nya: (Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar), -ini mungkin syirik dalam i'tiqad, yaitu dia menyekutukan Allah dalam Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, dan menyekutukan Allah dalam ibadah kepada-Nya”.[]

🔴 Perhatikan penuturan Abū Manshūr Al-Māturīdī, pengasas Madzhab Akidah Maturidiyyah, beliau secara jelas membagi Tauhid kepada Rububiyyah dan Uluhiyyah, bahkan menyatakan bahwa kesyirikan bisa terjadi, baik pada Rububiyyah atau Uluhiyyah. Bedanya dengan Atsariyyah adalah pada penjelasan rinci tentang Al-Asma’ wa Ash-Shifat.

Semoga berfaedah.

Salam Persahabatan
Alfan Edogawa