APA ITU ISTISH-HA'?
Sebagaimana kemarau panjang bisa mencelakakan, begitupula curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan pun bisa mencelakakan.
Apabila bumi mengering karena kemarau kita disunnahkan untuk melakukan ISTISQA' (meminta hujan), maka tatkala hujan terus menerus turun hingga menyebabkan bencana kita pun disunnahkan untuk melakukan ISTISH-HA' (Meminta hujan dipindahkan).
Disunnahkan kaum muslimin apabila khawatir celaka karena curah hujan yang deras untuk berdoa dan meminta kepada Allah agar hujan dipindahkan dan agar langit kembali cerah. Dan disunnahkan juga bagi para khatib untuk berdoa diatas mimbar tatkala khutbah jum'at. Disyariatkan bagi khatib dan makmum untuk mengangkat kedua tangan ketika melakukan ISTISH-HA' sebagaimana mereka mengangkat tangan ketika melakukan ISTISQA'.
Di antara doa ISTISH-HA' yang ma'tsur dari Nabi adalah:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، ولَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ علَى الآكَامِ والجِبَالِ، والآجَامِ والظِّرَابِ، والأوْدِيَةِ ومَنَابِتِ الشَّجَرِ
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, bebukitan, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan." (HR.Bukhari no. 1013 dan Muslim no. 897)
Dari Anas bin Malik, bahwasanya pernah ada seseorang memasuki masjid pada hari Jumat dari pintu yang menghadap Darul Qadha (rumah 'Umar bin Al Khaththab). Saat itu Rasulullah ﷺ sedang berdiri menyampaikan khotbah, orang itu lalu berdiri menghampiri Rasulullah seraya berkata: "Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak mati, sementara ladang dan perairan pun kian terputus. Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kami!" Anas bin Malik berkata, "Lantas Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya seraya berdoa;
'ALLAAHUMMA AGHITSNAA, ALLAAHUMMA AGHITSNAA, ALLAAHUMMA AGHITSNAA
(Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan).
Anas bin Malik melanjutkan: "Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan yang tebal maupun yang tipis antara keberadaan kami dengan bukit Sala', bahkan dari rumah penduduk sekalipun. Tiba-tiba dari bukit itu muncul awan (berbentuk bulat) bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar, lalu turunlah hujan." Anas bin Malik melanjutkan: "Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari setelah itu. Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seseorang masuk kembali dari pintu masjid yang sama, sementara Rasulullah ﷺ tengah berdiri menyampaikan khotbahnya. Orang itu lalu berdiri menghampiri beliau seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, Hewan-hewan ternak kami hanyut, sementara ladang dan perairan terputus (karna luapan air). Mohonkanlah kepada Allah agar menghentikan hujan untuk kami!' Maka Rasulullah ﷺ pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa;
'ALLAAHUMMA HAULANAA WA LAA 'ALAINAA, ALLAAHUMMA 'ALAL AAKAAM, WADZ DZIRAB, WA BUTHUUNIL AUDIYAH, WA MANAABITISY SYAJAR
(Ya Allah, Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah, turunkanlah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan tempat-tempat yang menumbuhkan pepohonan).
Anas bin Malik berkata: "Maka hujan pun terhenti. Lalu kami keluar berjalan-jalan di bawah terik matahari."
🖋 Abu Ibrahim Yami Cahyanto, Lc.