[Dua Macam Tawadhu’: Terpuji dan Tercela]
Berdasarkan: Raudhah al-Uqala wa Nuzhah al-Fudhala, Ibnu Hibban, hlm. 59
Imam Ibn Hibban menjelaskan bahwa seorang yang berakal wajib menjaga sifat tawadhu’ dan menghindari kesombongan. Semakin seseorang merendahkan diri karena Allah, semakin Allah meninggikan derajatnya, selama ia tidak memakai pakaian yang bukan ukurannya – artinya tidak berpura-pura menjadi sosok yang tidak pantas atau tidak layak.
Beliau membagi tawadhu’ menjadi dua:
1. Tawadhu’ terpuji: meninggalkan sikap merendahkan orang lain, tidak merasa lebih tinggi, dan tidak menghinakan hamba-hamba Allah. Ini adalah tawadhu’ yang lahir dari pengagungan terhadap Allah dan kasih sayang kepada makhluk.
2. Tawadhu’ tercela: yaitu merendahkan diri di hadapan orang-orang yang hanya memiliki dunia, dengan motivasi mencari dunia mereka. Ini bukan tawadhu’, tetapi merendahkan martabat diri demi ambisi rendah.
Seorang mukmin yang cerdas akan menjauhi bentuk tawadhu’ yang tercela dalam segala keadaan – seperti menjilat penguasa zhalim demi harta atau kedudukan – dan menjaga tawadhu’ yang terpuji dalam semua sisi kehidupan, di hadapan Allah dan di hadapan sesama manusia.