Minggu, 30 November 2025

Terlalu banyak tidur

“Terlalu banyak tidur
menguningkan wajah, membutakan hati,
menyebabkan mata menjadi lemah,
melemahkan diri daripada bekerja,
serta menghasilkan kelembapan (lendir) dalam badan.”

— Zad al-Ma‘ad oleh Ibn al-Qayyim رحمه الله, 4/610
ustadz ibnu salam 

Ternyata beliau ini seorang HABIB

Ternyata beliau ini seorang HABIB,
==========================
Beliau adalah Assyekh Alhabib Ahmad bin Isa Alhazimy, nasab beliau kembali kepada Alhasan bin Ali bin Abi Tholib.
Saat ini beliau menjabat sebagai Atase Agama Kedutaan Saudi Arabia di Jakarta.

Sebuah kehormatan besar bisa membersamai dalam Rihlah Da’awiyah beliau, memberi bimbingan kepada saudara-saudara beliau, kaum muslimiin.

Sebagaimana Allah mempertemukan kita di dunia, semoga Dia juga mempertemukan kita di syurga-Nya kelak, Allohumma Aamiiiin… 🤲🏻

————————————
Untuk lebih detail terkait nasab beliau, bisa dilihat di link berikut:

https://alhazmi.family/wp-content/uploads/2024/12/شجرة-الحوازمة-الشرف-السامي-6.pdf#:~:text=*%20ﺃﲪﺪ%20ﻣﺮﻋﻲ%20*%20ﺣﺎﺯﻡ%20ﺍﻷﻛﱪ%20*,ﻣﺮﻭﻋﻲ%20ﺃﺣﻤﺪ%20ﺃﻣﺠﺪ%20ﺃﻣﻴﻦ%20ﻋﻴﺴﻰ%20*%20ﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺣﻤﻦ

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑𝐋𝐀𝐇 𝐖𝐀𝐇𝐀𝐈 𝐀𝐇𝐋𝐔𝐋 𝐁𝐀𝐋𝐀

𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑𝐋𝐀𝐇 𝐖𝐀𝐇𝐀𝐈 𝐀𝐇𝐋𝐔𝐋 𝐁𝐀𝐋𝐀'

𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐩𝐚𝐡𝐚𝐥𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐡𝐥𝐮𝐥 𝐛𝐚𝐥𝐚' (𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐛𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐢𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚) 𝐧𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐝𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐢𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐭-𝐤𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐝𝐢𝐩𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐠𝐮𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚
𝐓𝐮𝐣𝐮𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐡𝐚𝐥𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐢𝐦𝐩𝐚 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐛𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚".

_________________
𝐷𝑖𝑟𝑖𝑤𝑎𝑦𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 ‘𝐴𝑖𝑠𝑦𝑎ℎ 𝑟𝑎𝑑ℎ𝑖𝑦𝑎𝑙𝑙𝑎ℎ𝑢 ’𝑎𝑛ℎ𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑎𝑡𝑎: 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑠ℎ𝑎𝑙𝑙𝑎𝑙𝑙𝑎ℎ𝑢 ‘𝑎𝑙𝑎𝑖ℎ𝑖 𝑤𝑎𝑠𝑎𝑙𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑏𝑑𝑎: “𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢 𝑚𝑢𝑠𝑖𝑏𝑎ℎ 𝑝𝑢𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑚𝑝𝑎 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖𝑝𝑢𝑛 𝑑𝑢𝑟𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑙𝑢𝑘𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑡𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑖 𝑑𝑜𝑠𝑎 𝑑𝑜𝑠𝑎𝑛𝑦𝑎”
 [𝐻𝑅. 𝑀𝑢𝑠𝑙𝑖𝑚]

𝐿𝑢𝑎𝑠𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎ℎ𝑚𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎-𝑁𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑗𝑖𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑢𝑠𝑖𝑏𝑎ℎ 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑏𝑢𝑠 𝑑𝑜𝑠𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑝𝑎ℎ𝑎𝑙𝑎.
𝑁𝑎𝑠𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑙𝑎𝑚𝑖 𝑚𝑢𝑠𝑖𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑛𝑢𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑢𝑡𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘 𝑚𝑢𝑠𝑖𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎 ℎ𝑎𝑑𝑎𝑝𝑖 𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑙𝑢ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑠𝑒𝑑𝑖ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ𝑎𝑛.
ustadz nurcholis 

waspada niatmu dalam beramal

Niat adalah perkara hati yang sangat halus dan mudah sekali berubah. Awalnya mungkin karena Allah, tapi di tengah jalan bisa terselip keinginan untuk dipuji, dianggap shaleh, atau motif duniawi lainnya.

​Lelah yang kita rasakan di dunia ini akan sia-sia jika tujuannya bukan Allah. Nasihat dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah ini patut kita jadikan bahan renungan yang mendalam:

​"Semua amal yang diamalkan untuk selain Allah tidak akan bermanfaat bagi pelakunya, bahkan bisa jadi justru membahayakannya."
(Dar'ut Ta'arudh Bainal Aqli wan Naql, jilid 9 hlm. 373)

​Pastikan hanya Allah satu-satunya tujuan.
​Semoga Allah menolong kita untuk senantiasa ikhlas dalam setiap langkah. Aamiin.

​_____

🌏 Web : sufyanbaswedan.com
🖥 Youtube : youtube.com/@SufyanBaswedan
🌐 Telegram : @sufyanbaswedan
📱 Instagram : instagram.com/sufyanbaswedan
💻 Facebook : facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA
#sufyanbaswedan #faedah #islam #nasihat #ikhlas #niat #selfreminder

al-ʿAllāmah Ibn al-Mibrad al-Ḥanbalī:

al-ʿAllāmah Ibn al-Mibrad al-Ḥanbalī:

“And I emphasize to you, and I say: Beware, beware, beware that any harm or injury should come from you [to anyone] in whom goodness is perceived, for perhaps from him may come against you a duʿāʾ [supplication] that is answered regarding you, and you would never succeed thereafter.”

From: 🗂️ Ṣabb al-Khumūl ʿalā man Waṣala Adhāhu ilā al-Ṣāliḥīn min Awliyāʾ Allāh.

“I have not seen anyone among the Ummah of Muḥammad ﷺ who had a more beautiful way of life than Abū Ḥanīfah رضي الله عنه.”

Bakr ibn Maʿrūf said:

“I have not seen anyone among the Ummah of Muḥammad ﷺ who had a more beautiful way of life than Abū Ḥanīfah رضي الله عنه.”

📚 al-Khayrāt al-Ḥisān by Ibn Ḥajar al-Haytamī.

Among the scholars are those who take a more lenient view regarding purification when there is fear of missing [the prayer], and for this reason Ibn Taymiyyah allows tayammum for the funeral prayer if one fears that the body will be taken away

Shaykh ʿAbd al-Karīm al-Khuḍayr states:

“Among the scholars are those who take a more lenient view regarding purification when there is fear of missing [the prayer], and for this reason Ibn Taymiyyah allows tayammum for the funeral prayer if one fears that the body will be taken away.”

Source: 📚 Sharḥ al-Muwaṭṭaʾ.

For benefit, these are four issues for which Taqī al-Dīn Ibn Taymiyyah al-Ḥanbalī chose the permissibility of tayammum:

1. When fearing the loss of Jumuʿah: one performs tayammum, and this is a narration from al-Imām Mālik, contrary to the majority.

2. Likewise, when fearing the loss of the funeral prayer: tayammum is permissible, and this is the view of al-Imām al-Aʿẓam Abū Ḥanīfah, contrary to the majority of scholars.

3. Likewise, when fearing the loss of the ʿĪd prayer: one performs tayammum according to al-Imām Abū Ḥanīfah, contrary to the vast majority of scholars.

4. Likewise, when fearing the passing of the time of an obligatory prayer, such as Fajr: tayammum is permissible according to al-Imām Mālik.

And Ibn Taymiyyah chose all four of these rulings.

Syaikh ʿAbd al-Karīm al-Khuḍayr menyatakan:
“Di antara para ulama ada yang mengambil pandangan yang lebih longgar terkait bersuci (thaharah) ketika dikhawatirkan luputnya [shalat], dan karena alasan inilah Ibnu Taimiyah membolehkan tayamum untuk shalat jenazah jika seseorang khawatir jenazah akan segera dibawa pergi.”
Sumber: 📚 Syarah al-Muwaṭṭaʾ.
Sebagai tambahan faedah, berikut adalah empat permasalahan di mana Taqī ad-Dīn Ibnu Taimiyah al-Ḥanbalī memilih pendapat diperbolehkannya tayamum:
Ketika khawatir luputnya shalat Jumat: seseorang melakukan tayamum, dan ini adalah sebuah riwayat dari al-Imam Malik, menyelisihi pendapat jumhur (mayoritas ulama).
Demikian pula, ketika khawatir luputnya shalat jenazah: tayamum diperbolehkan, dan ini adalah pendapat al-Imam al-Aʿzham Abu Hanifah, menyelisihi mayoritas ulama.
Demikian pula, ketika khawatir luputnya shalat Id: seseorang melakukan tayamum menurut al-Imam Abu Hanifah, menyelisihi mayoritas besar ulama.
Demikian pula, ketika khawatir habisnya waktu shalat wajib, seperti Subuh: tayamum diperbolehkan menurut al-Imam Malik.
Dan Ibnu Taimiyah memilih keempat pendapat hukum ini.

Who are the Ahl al-Ḥadīth?

Who are the Ahl al-Ḥadīth?


Al-Shahrastānī said:


“The Aṣḥāb al-Ḥadīth [the adherents of ḥadīth] are the people of al-Ḥijāz; they are: the companions of Mālik ibn Anas, the companions of Muḥammad ibn Idrīs al-Shāfiʿī, the companions of Sufyān al-Thawrī, the companions of Aḥmad ibn Ḥanbal, and the companions of Dāwūd ibn ʿAlī ibn Muḥammad al-Aṣfahānī. They were called Aṣḥāb al-Ḥadīth because their concern was in collecting aḥādīth, transmitting reports, and basing rulings upon the texts; and they do not turn to qiyās jalī or khafī [explicit or implicit analogy] so long as they find a report or an athar.”


Source: 📜 Al-Milal wa al-Niḥal | 2/11.

Siapakah Ahlul Hadis?

​Asy-Syahrastani berkata:

​“Ashabul Hadis (Ahli Hadis) adalah penduduk Hijaz; mereka adalah: para pengikut Malik bin Anas, pengikut Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, pengikut Sufyan ats-Tsauri, pengikut Ahmad bin Hanbal, dan pengikut Dawud bin Ali bin Muhammad al-Asfahani. Mereka dinamakan Ashabul Hadis karena perhatian utama mereka adalah mengumpulkan hadis-hadis, meriwayatkan khabar (berita/riwayat), dan membangun hukum berdasarkan nash (teks dalil); dan mereka tidak beralih kepada qiyas jali (analogi yang jelas) maupun khafi (analogi yang samar) selama mereka masih menemukan khabar atau atsar.”

​Sumber: 📜 Al-Milal wa al-Niḥal | 2/11.


Imām Ibn al-'Imād al-Ḥanbalī bercerita

Imām Ibn al-'Imād al-Ḥanbalī bercerita:

​"Dulu, Ibn Hubayrah sangat ingin Imām Abū Ḥanīfah menerima jabatan sebagai Hakim (Qāḍhī) di kota Kūfah pada masa pemerintahan Marwān al-Ja'dī.

​Tapi, Imām Abū Ḥanīfah menolak keras.
​Karena penolakan itu, beliau disiksa dengan cambukan sebanyak 110 kali, dilakukan bertahap, 10 kali cambukan setiap hari.

​Meskipun terus dicambuk, beliau tetap kukuh menolak jabatan tersebut.
​Akhirnya, beliau dibebaskan.

​Dan yang menarik, Imām Aḥmad bin Ḥanbal, setiap kali mengingat dan menceritakan kejadian ini, beliau selalu mendoakan rahmat untuk Imām Abū Ḥanīfah."

​📖 ​Syadzarāt adz-Dzahab | 2/231

Rahimahumullah
Ustadz reza 
al-Imām Ibn al-ʿImād al-Ḥanbalī stated: 

“Ibn Hubayrah had wanted him [i.e, al-Imām Abū Ḥanīfah] to take the position of judge in Kūfah during the days of Marwān al-Jaʿdī, but he refused. So he struck him one hundred lashes and ten lashes, ten each day, yet he persisted in refusing. Then he released him. And Imām Aḥmad, whenever he mentioned that [incident], would pray for mercy upon him [i.e, Abū Ḥanīfaḥ].” End quote

Source: 📖 Shadharāt al-Dhahab | 2/231.
https://www.facebook.com/share/p/1FvymyzNrm/

Hukum Mencuri Makanan Karena Terpaksa

Hukum Mencuri Makanan Karena Terpaksa

Beredar video yang menyayat hati seorang bapak korban bencana banjir yang terpaksa mencuri 3 bungkus mie instan di minimarket karena anak-anaknya kelaparan dan tak punya uang. Kondisi serba susah, tak mampu beraktifitas seperti biasa. Sang ayah mungkin masih bisa menahan lapar, tapi tentu tak tega melihat anak-anaknya yg kelaparan.

Lalu apakah perbuatan beliau keliru?

Berikut penjelasan Imam Ahmad rahimahullah, dan banyak sekali para ulama Islam lain yang sependapat dengan beliau.

Imam Ibnu Qudāmah berkata dalam kitab beliau Al-Mughnī,

Bab: Imam Ahmad berkata, "Tidak ada hukuman potong tangan pada masa kelaparan.
Maksudnya, orang yang membutuhkan lalu mencuri makanan yang ia makan, maka tidak dipotong tangannya; karena ia berada pada kondisi seperti orang yang terpaksa.
Hal ini dipahami berlaku bagi orang yang tidak menemukan sesuatu untuk dibeli, atau tidak menemukan uang untuk membeli (makanan). Maka ia memiliki syubhat (alasan yang dapat menggugurkan hukuman) dalam mengambil makanan yang ia makan.
Adapun orang yang memiliki makanan, atau yang mampu membeli makanan dan memiliki uang untuk membeli, maka ia tetap dikenai hukuman potong tangan, meskipun harga makanannya mahal.”

Selesai.
Ustadz abu razin taufiq 
https://www.facebook.com/share/1BRr1DVKvK/

Bahkan banyak ulama yg membolehkan mencuri dalam kondisi darurat & tak ada yg bisa dimakan kecuali dgn mencuri. Namun hanya sesuai dengan kebutuhan. Bisa dibaca di sini:

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/210238/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D8%B6%D8%B7%D8%B1-%D8%A5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D8%B1%D9%82%D8%A9-%D8%A8%D8%B3%D8%A8%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%88%D8%B9

Di antara sifat-sifat ahlul hawa yang serupa dengan sifat-sifat kaum Khawarij adalah

Di antara sifat-sifat ahlul hawa yang serupa dengan sifat-sifat kaum Khawarij adalah:
Tidak berdialog dengan cara yang baik, penuh celaan, makian, fitnah, dan mengklasifikasi manusia berdasarkan prasangka dusta.
Mereka tidak mencari kejelasan (tabayyun), tergesa-gesa dalam menuduh orang lain.
Semua ini bersumber dari kebodohan dan lemahnya akal.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang kaum Khawarij:
🌹 “Mereka membaca Al-Qur’an, namun tidak melewati tenggorokan mereka.”
Dan beliau juga bersabda:
🌹 “Mereka membunuh kaum Muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.”

Maha Suci Allah yang telah memperlihatkan kepada kita terwujudnya berita nubu'wah Muhammad ﷺ.

Ditulis oleh Dr. Abu al-Hasan ‘Ali bin Jadallah.
ustadz Dr abul hasan ali jadullah 

Sihir Tahyij (Sihir Pengobar Syahwat/Perasaan)

Sihir Tahyij (Sihir Pengobar Syahwat/Perasaan)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:

Seorang pemuda meninggal dunia, ia adalah orang yang saleh dan berbakti kepada ayahnya. Sebab kematiannya adalah karena seorang wanita mencintainya, lalu wanita itu mengirim pesan kepadanya, mengadukan rasa cintanya dan memintanya untuk berkunjung.

Wanita itu (padahal) bersuami. Ia terus mendesak pemuda itu, hingga pemuda itu menceritakan hal tersebut kepada temannya.

Temannya berkata: 'Seandainya engkau mengutus sebagian kerabat wanitamu kepadanya untuk menasihati dan mencegahnya, aku berharap dia akan berhenti mengganggumu.'

Maka ia menahan diri. Namun wanita itu kembali mengirim pesan: 'Entah engkau yang mengunjungiku, atau aku yang akan mengunjungimu,' tetapi pemuda itu tetap menolak.

Ketika wanita itu putus asa terhadapnya, ia pergi kepada seorang wanita tukang sihir dan menjanjikan bayaran yang besar untuk menyihirnya agar tergila-gila (tahyij).

Tukang sihir itu pun melakukannya. Maka, ketika pemuda itu sedang bersama ayahnya di suatu malam, tiba-tiba terlintas ingatan tentang wanita itu di hatinya, dan bergejolaklah sesuatu dalam dirinya yang tidak ia kenal sebelumnya, hingga akalnya terganggu.

Ia segera bangkit, lalu shalat dan memohon perlindungan (kepada Allah), namun keadaannya semakin parah. Ia pun berkata: 'Wahai Ayah, tolong ikat aku dengan rantai!!'

Ayahnya bertanya: 'Wahai anakku, ada apa gerangan?!'

Ia menceritakan kisahnya, maka ayahnya bangkit dan mengikatnya lalu memasukkannya ke dalam sebuah ruangan. Pemuda itu mulai meronta-ronta dan melenguh sebagaimana lembu melenguh.

Kemudian ia terdiam (tenang). Ternyata ia telah meninggal dunia dan darah mengalir dari hidungnya."

📖 Bab 28 dari: Kitab Raudhatul Muhibbin

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesehatan.

📝 Alih bahasa: Hamka Ridwan Jr. 

#سحر_التهييج
قال #ابن_القيم رحمه الله:
«توفي شاب كان صالحًا بارًا بأبيه؛ وسبب وفاته أن امرأة أحبَّته فأرسلت إليه تشكوا حُبَّهُ وتسأله الزيارة
وكان لها زوج، فَأَلَحَّت عليه فأفشى ذلك إلى صديق له
فقال له: «‏لو بعثتَ إليها بعض أهلك فوَعَظَتْهَا وزَجَرَتْهَا رجوت أن تَكُفَّ عنك»
فأمسك؛ وأرسلتْ إليه: «إمَّا أن تزورني وإما أن أزور»، فأبى.
فلمَّا يئِست منه ذهبتْ إلى امرأة كانت تعمل السِّحر فوعدتها العطاء الجزيل في تهيّجه
فعملت لها في ذلك؛ فبينما هو ذات ليلة مع أبيه إذ خطر ذِكرُهَا بقلبه ‏وهاج منه أمرٌ لم يكن يعرفه واختلط [فسد عقله]
فقام مسرعًا فصلَّى واستعاذ والأمر يشتدُّ فقال: «يا أبتِ أدركني بِقَيْدٍ!!».
فقال:« يا بني ما قصت؟!!».
فحدَّثه بالقصة فقام وقيَّده وأدخله بيتًا فجعل يضطرب ويخور كما يخور الثور، ثم هدأ فإذا هو ميِّتٌ والدم يسيل من منخره».
📗الباب 28من :كتاب روضة المحبين

نسال الله السلامه والعافية

Mengklaim vs Menuduh

Mengklaim vs Menuduh
==================

Nashrani mengklaim diri mengikuti agama Ibrahim.
Yahudi mengklaim diri mengikuti agama Ibrahim.
Bahkan musyrikin (para penyembah berhala) mengklaim diri mengikuti agama Ibrahim.

Namun Allah membantah klaiman mereka.

{مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [آل عمران : 67]
Artinya:
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. [QS. Ali Imron : 67]

Banyak orang mengklaim dirinya; ahlussunnah, salafi, namun apakah benar demikian??
Mengklaim itu mudah, namun apakah benar hakekatnya demikian??

Sebaliknya, banyak oknum menuduh orang lain sebagai kelompok sesat, wahabi, sururi, hizbi, bid’i dan i i i lainnya…namun apakah benar demikian?

Hati-hati jangan sampai salah tuduh. Semua tuduhan kita akan kita pertanggungjawabkan.

﴿ ۚ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ﴾ [ الزخرف: 19]
Artinya:
Kelak akan dituliskan persaksian (tuduhan) mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban. [QS. Zukhruf: 19]

Mari perbanyak mempelajati hakekat, jangan sibukkan diri dgn klaiman dan tuduhan

#slouw
ustadz abdulllah husni

Sebagian ulama menjelaskan dahulu para salaf biasa berdo'a, اللهم اشغل الظالمين بالظالمين وأخرجنا من بينهم سالمين"Ya Allah, sibukkanlah orang zhalim dengan sesama orang zhalim, dan bebaskanlah kami dari tengah-tengah mereka dengan selamat"

[ Do'a Asyghil ]

Sebagian ulama menjelaskan dahulu para salaf biasa berdo'a, 

اللهم اشغل الظالمين بالظالمين وأخرجنا من بينهم سالمين

"Ya Allah, sibukkanlah orang zhalim dengan sesama orang zhalim, dan bebaskanlah kami dari tengah-tengah mereka dengan selamat"

Malik ibn Dinar rahimahullah berkata, 

قرأت في الزبور إني أنتقم بالمنافق من المنافق، ثم أنتقم من المنافقين جميعا وذلك في كتاب الله تعالى وكذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون.إن الله ليملي للظالم حتى إذا أخذه لم يفلته " 

"Aku membaca dalam Kitab Zabur bahwa Allah akan membalas orang munafik melalui sesama orang munafik, lalu Allah akan membalas orang munafik seluruhnya. Hal itu ada dalam Al Qur'an, "Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu sekutu bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Al An'am : 129). Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada orang-orang yang zhalim, hingga ketika Dia menangkapnya, Dia tidak melepaskannya sedikitpun."

Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah, jika diri Anda, kelompok Anda, grup pengajian Anda, ormas Anda, dan sebagainya merasa pernah dizhalimi oleh sekelompok orang. Berdo'alah dengan do'a ini dengan sungguh-sungguh dengan ikhlas dan sepenuh hati terus menerus. Dan termasuk adab dalam berdo'a ialah mengawalinya dengan shalawat atas Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. 

Semoga Allah Ta'ala mengijabah. Aamiin.
Ustadz yhouga pratama

akhlak yg membuat orang lain malu tanpa merasa disalahkan

Al akh okta wirawan 
Ustadz Dr erwandi tarmizi 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari perang Uhud mendapat beberapa luka di tubuh beliau. Kemudian beliau berkata:

📝Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari perang Uhud mendapat beberapa luka di tubuh beliau. Kemudian beliau berkata:

كيف يفلح قوم شجوا نبيهم؟

"Bagaimana mungkin akan beruntung suatu kaum yang melukai wajah nabi mereka?"

Lalu Allah turunkan ayat:

ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون

"Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim." (Ali Imran: 128) 

📚Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan manusia terbaik beliau sendiri tidak dapat menangkal mudharat yang menimpa beliau. Beliau juga tidak mengetahui perkara ghaib yang akan menimpa siapapun termasuk diri beliau. Kemudian Allah menegur beliau ketika menghakimi kaumnya tidak akan beruntung, bahwa hidayah hanya milik Allah. Tugas beliau hanyalah menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah. Dan ini terbukti, banyak dari para sahabat seperti Khalid bin Walid yang saat itu berada di pasukan kaum musyrikin masuk IsIam setelahnya. 

📚Hadist ini merupakan tamparan keras bagi mereka-mereka yang meminta kepada selain Allah, baik itu wali, orang mati, jin dan sebagainya. Baik itu secara langsung maupun melalui ritual-ritual kesyirikan seperti sembelihan dan sebagainya. Bagaimana mungkin makhluk-makhluk tadi dapat mengabulkan permintaan para pendoa sedangkan mereka saja tidak dapat menolak mudharat untuk diri mereka sendiri? 

|| Faedah daurah syarah Kitab Tauhid oleh Syaikh Dr. Abdullah bin Abdurrahman ar-Ruhaili hafizhahullah, Jami' al-Balawi, Kota Madinah. Beliau adalah dosen firaq kami semester ini sekaligus pengajar tetap di Masjid Quba.
Ustadz muhammad taufiq

Saudi adalah Surga Bagi Pecinta Al Qur'an

Saudi adalah Surga Bagi Pecinta Al Qur'an 

Menghafal Al Qur'an bukanlah hal aneh di Saudi. Anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang-orang tua, banyak yang semangat menghafal kitabullah ini. 

Terutama kaum ibu-ibu. Sarana untuk belajar Al Qur'an amat terbuka lebar. 

Lembaga-lembaga swasta yang diakomodir oleh organisasi tahfidz Al Qur'an menjamur dimana-mana. 

Madrasah Nisa'iyah atau sekolah khusus ibu-ibu mudah di dapat hampir di setiap desa. 

Ada kelas pagi, juga tersedia kelas sore. Mereka belajar dengan penuh semangat. 

Tak heran jika di Saudi ada penghafal berusia lanjut. 

Seperti dilansir oleh Saudi News pada 25 November 2025 lalu. Seorang nenek di Provinsi Al Bahah, telah menyelesaikan hafalan Al Qur'annya setelah melalui perjalanan panjang selama 20 tahun. 

Banyaknya para penghafal Al Quran di Saudi, karena beberapa sebab: 

1) Lingkungan yang Mendukung 

Masyarakat Saudi berbudaya Islam yang kuat. Seorang penghafal Al Qur'an dianggap hebat dan punya keutamaan besar. Maka setiap orang berlomba untuk menghafalkan Al Qur'an. 

Setiap keluarga mendukung agar anak-anaknya menjadi penghafal Al Qur'an. Bahkan orang tuanya pun ikutan berlomba-lomba. 

2) Fasilitas yang Memadai 

Sarana untuk menghafal Al Qur'an di Saudi amat cukup. Ada masjid yang buka halaqah (untuk putra), dan tersedia sekolah tahfidz bagi anak kecil dan ibu-ibu yang sudah berumur. 

Pelajaran apapun, tentang Al Qur'an, tersedia kelasnya, mulai belajar baca, tajwid, tafsir, qira'at, hingga cari sanad. 

3) Belajar adalah Hobi 

Ya. Banyak ibu-ibu yang menjadikan belajar Al Qur'an adalah sebuah hobi. Mereka berbondong-bondong semangat datang ke sekolah sore, dengan membawa anak-anaknya yang masih kecil. 

Belajar sore hari ini mulai setelah Ashar hingga menjelang maghrib. 

Pelajaran ini biasanya dilakukan 4 hari dalam sepekan, yaitu Ahad hingga Rabu. Belajar sekitar 1,5 jam saja. 

Jika tidak sanggup ikut kelas 4 hari dalam sepekan, ada juga yang 2 hari, bahkan ada juga yang hanya 1 hari dalam sepekan. 

Kalau tidak sanggup ikut kelas reguler, tersedia juga lembaga yang membuka kelas online. 

Pokoknya, di Saudi, adalah surga bagi para pecinta Al Qur'an.  

---

Riyadh, 29 November 2025
ustadz budi marta 

Hendaknya kita beramal dengan penuh keyakinan bahwa setiap amal yang kita lakukan pasti memiliki pahala di sisi Allah.”

“Hendaknya kita beramal dengan penuh keyakinan bahwa setiap amal yang kita lakukan pasti memiliki pahala di sisi Allah.”

Amal seorang hamba tidak boleh dilakukan dengan keraguan, pesimisme, atau perasaan sia-sia, tetapi harus dilandasi oleh keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha Adil dan tidak akan menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan. Keyakinan ini merupakan bagian dari iman kepada janji Allah, yang mendorong seorang muslim untuk terus beramal dengan ikhlas, sabar, dan istiqamah, meskipun amal tersebut terlihat kecil di mata manusia.

Sikap ini juga melahirkan optimisme dalam ibadah, menguatkan keikhlasan, serta menjaga hati dari rasa putus asa. Seorang hamba yang yakin akan pahala di sisi Allah akan tetap berbuat baik meskipun tidak dihargai oleh manusia, karena ia bergantung sepenuhnya kepada balasan dari Rabb-nya.

Allah Ta'ala berfirman :

﴿ فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴾
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat ذرّة (zarrah), niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Kajian Selengkapnya :
https://youtu.be/blPU9ol3_d8
===================================
Mari jadi bagian dari penyebar kebaikan!
Dukung kami dengan follow akun-akun resmi berikut:
YouTube ▶ –
youtube.com/hasanAlJaizyNyantrend
Facebook 📘 –
Hasan al-Jaizy
Instagram 📷 & Threads - 
instagram.com/hasanaljaizynyantrend
http://threads.com/@hasanaljaizynyantrend
TikTok 🎥 –
http://tiktok.com/@hasanaljaizyofficial
Saluran WhatsApp 📲 –
bit.ly/44xC7rv\
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”
(HR. Muslim)

Umrah Menurut Kebiasaan Orang Saudi

Umrah Menurut Kebiasaan Orang Saudi 

Kemarin sore, tepatnya shalat Maghrib, Syaikh Shalih Al Fauzan ikut shalat di belakang Syaikh Yasir Ad Dausari yang bertugas sebagai imam. 

Kehadiran Syaikh Al Fauzan ke Mekkah adalah untuk menunaikan ibadah umrah. Hal ini nampak pada kain ihram yang beliau kenakan, dan juga dalam keadaan tanpa penutup kepala.

Pernah ada yang mengatakan: "Waah, enak ya. Tinggal di Saudi bisa melakukan umrah setiap hari." 

Iya sih. Bagi orang Saudi, khususnya yang tinggal di Mekkah, bisa melaksanakan umrah setiap hari. 

Perlu diingat, umrah itu butuh waktu, dan juga perlu tenaga yang kuat. Kalau dilakukan setiap hari, amat sangat memberatkan. 

Untuk jamaah asal Indonesia, bisa saja sekali safar dia melaksanakan umrah sampai berkali-kali. Bahkan ketika musim haji, ada yang sampai 20 kali. 

Orang Saudi tidak begitu mindsetnya. Mungkin karena Ka'bah ada di dekat mereka, jadi tidak terlalu ngoyo dalam umrah. 

Pikirnya, kapan saja bisa berangkat, gak perlu visa untuk mengurus. Jadi gak perlu berkali-kali umrah dalam setiap safar. 

Apalagi, fatwa sebagian ulama Saudi mengatakan bahwa umrah cukup 1 kali saja dalam sebuah perjalanan. 

Kapan Orang Saudi Berumrah? 

Umumnya, orang Saudi, yang tinggal jauh dari Mekkah, seperti si Riyadh, Dammam, Majma'ah, dll, melaksanakan umrah hanya pada momen tertentu seperti liburan sekolah. 

Hal ini, mengingat jarak yang cukup jauh dan mencari momen yang pas untuk melaksanakan umrah. 

Para masyayikh pun, tidak setiap bulan mereka melaksanakan umrah. Mereka hanya sesekali saja, pada momen tertentu. 

Seperti kisah yang dituturkan Syaikh Abdurrahman Al Barrak. Beliau ikut umrah pada saat kecil. Dan kembali safar ke Mekkah ketika memasuki usia remaja.
ustadz budi marta

Imam ad-Dārimī (wafat 280H) – rahimahullah – berkata

Imam ad-Dārimī (wafat 280H) – rahimahullah – berkata:

“Zahir al-Quran dan batinnya, keseluruhannya menunjukkan kepada perkara tersebut (iaitu tentang Allah), tanpa sebarang kekeliruan padanya dan tanpa perlu dita’wil. Melainkan orang yang mentakwilkan itu adalah seorang yang mengingkari dan membantah keterangan (yang jelas), sedangkan dia mengetahui bahawa hujah itu menentangnya.”

— ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah, hlm. 68, tahqiq: asy-Syawami
ustadz ibnu salam 

hukum memakan daging hyena (الضبع).

Dalam kajian kitab ar-Raudh al-Murbi’ sesi pertama kitab al-Ath’imah, Syaikh Sami ash-Shuqayr hafizhahullah  menjelaskan perbedaan pandangan ulama mengenai hukum memakan daging hyena (الضبع). Sebagian ulama berpendapat bahwa hyena bukan termasuk hewan buas bertaring (ذوات الأنياب من السباع) yang diharamkan, karena taringnya tidak digunakan untuk memangsa. Menurut mereka, hewan ini menggunakan taring hanya untuk bertahan diri, bukan menyerang. Maka mereka menganggap hyena bukan predator sejati, melainkan hewan yang relatif jinak.
Namun beliau menegaskan bahwa pendapat ini lemah. Menurut pengalaman para penduduk padang pasir, hyena sering menyerang keledai dan hewan ternak, bahkan membunuhnya. Dengan demikian, secara realitas hyena memang memangsa dan memiliki perilaku agresif.

Pendapat yang lebih kuat, lanjut beliau, adalah bahwa hyena termasuk hewan bertaring, namun dikecualikan (مستثنى) dari larangan. Alasannya, Rasulullah ﷺ menetapkan bahwa orang yang membunuh hyena saat ihram wajib membayar fidyah berupa seekor kambing, sebagaimana disebut dalam hadis shahih. Ini menunjukkan bahwa hyena termasuk hewan buruan yang halal dimakan, karena jika haram, tentu tidak ada ketentuan fidyah bagi yang membunuhnya.

Kesimpulannya: hyena memiliki taring dan bisa memangsa, namun dihalalkan secara khusus oleh Nabi ﷺ sebagai pengecualian dari kaidah umum larangan memakan hewan buas bertaring.

(Source: kajian Syaikh Sami ash-Shuqayr dengan bantuan teknologi AI)
ustadz hasan al jaizy

Ibn Khuzaimah (311H) – rahimahullah – berkata:

Ibn Khuzaimah (311H) – rahimahullah – berkata:

Bab penjelasan bahawa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit, sebagaimana Dia telah khabarkan kepada kita dalam al-Quran yang muhkām serta melalui lisan Nabi-Nya عليه الصلاة والسلام, dan sebagaimana ia difahami berdasarkan fitrah umat Islam — sama ada yang berilmu atau yang jahil, yang merdeka mahupun hamba, lelaki atau perempuan, yang dewasa atau kanak-kanak. Setiap orang yang berdoa kepada Allah Jalla wa ‘Ala, nescaya dia akan mengangkat kepalanya ke arah langit dan menghulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah tempat yang tinggi, bukan ke bawah.”

— Kitab at-Tawhid, jld. 1, hlm. 254, tahqiq: asy-Syahwan
ustadz ibnu salam 

Ketahuilah bahwa ujian itu ibarat tamu, dan jamuannya adalah sabar

Imam Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata:

“Ketahuilah bahwa ujian itu ibarat tamu, dan jamuannya adalah sabar.”

[Shaidul Khaathir, hlm. 781, cet. Madarul Wathan]
ustadz zainul arifin 

Segala sesuatu telah Allah takdirkan, dan apa yang Allah tetapkan pasti yang terbaik. Baik rezeki yang datang maupun sesuatu yang hilang, semuanya pilihan Allah. Maka tetaplah berhusnuzan kepada Allah ‘azza wa jalla.”

“Segala sesuatu telah Allah takdirkan, dan apa yang Allah tetapkan pasti yang terbaik. Baik rezeki yang datang maupun sesuatu yang hilang, semuanya pilihan Allah. Maka tetaplah berhusnuzan kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Prinsip dasar iman kepada takdir: bahwa setiap peristiwa yang terjadi—baik yang kita sukai maupun yang tidak—semuanya berada dalam ketetapan Allah dan pasti mengandung kebaikan. Seorang mukmin memandang setiap takdir dengan sikap ridha dan husnuzan (berbaik sangka), karena Allah Maha Bijaksana, Maha Penyayang, dan tidak mungkin menzalimi hamba-Nya.

Mendapatkan sesuatu adalah nikmat yang harus disyukuri. Kehilangan sesuatu pun adalah ujian yang mengandung kebaikan tersembunyi, berupa penghapusan dosa, peningkatan derajat, atau perlindungan dari bahaya. Karena itu seorang hamba tidak boleh su’uzan kepada Allah, sebab semua yang ditetapkan-Nya selalu dengan hikmah dan kasih sayang.

Allah Ta'ala berfirman : 

﴿ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ﴾

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Kajian Selengkapnya :
https://youtu.be/blPU9ol3_d8
===================================
Mari jadi bagian dari penyebar kebaikan!
Dukung kami dengan follow akun-akun resmi berikut:
YouTube ▶ –
youtube.com/hasanAlJaizyNyantrend
Facebook 📘 –
Hasan al-Jaizy
Instagram 📷 & Threads - 
instagram.com/hasanaljaizynyantrend
http://threads.com/@hasanaljaizynyantrend
TikTok 🎥 –
http://tiktok.com/@hasanaljaizyofficial
Saluran WhatsApp 📲 –
bit.ly/44xC7rv\
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”
(HR. Muslim)

Sabtu, 29 November 2025

Imam Abu Ja‘far at-Tabari – rahimahullah – berkata:

Imam Abu Ja‘far at-Tabari – rahimahullah – berkata:

“Telah menceritakan kepadaku Musa bin Harun, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Asbat, daripada as-Suddi dalam satu kisah yang beliau sebutkan, daripada Abu Malik, dan daripada Abu Salih, daripada Ibn ‘Abbas – dan daripada Murrah, daripada Ibn Mas‘ud, serta daripada sebahagian sahabat Nabi ﷺ:

Setelah Allah selesai mencipta apa yang Dia kehendaki, Dia beristiwa’ di atas ‘Arasy. Lalu Dia menjadikan Iblis sebagai penguasa langit dunia, dan Iblis itu adalah daripada satu kelompok malaikat yang dipanggil al-Jinn.”

— Tafsir at-Tabari (607)
ustadz ibnu salam 

Abdur Rahman bin Hasan Al-Syaikh – rahimahullah – berkata ketika berbicara mengenai golongan Asya‘irah:

Abdur Rahman bin Hasan Al-Syaikh – rahimahullah – berkata ketika berbicara mengenai golongan Asya‘irah:

“Dan Ibn al-Qayyim – rahimahullah – telah meriwayatkan daripada lima ratus orang imam daripada kalangan imam-imam Islam dan tokoh-tokoh besarnya, bahawa mereka mengkafirkan orang yang mengingkari istiwa’ (Allah di atas ‘Arasy) dan mendakwa bahawa istiwa’ itu bermaksud istīlā’ (menguasai). Termasuk dalam kalangan mereka adalah imam kamu, asy-Syafi‘i – rahimahullah – serta sebahagian guru-gurunya seperti Malik, Abdur Rahman bin Mahdi, kedua-dua Sufyan (Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin ‘Uyainah), dan dalam kalangan murid-muridnya: Abu Ya‘qub al-Buwaiti dan al-Muzani. Dan selepas mereka, Imam al-A’immah Ibn Khuzaimah asy-Syafi‘i, Ibn Surayj, dan ramai lagi. Dan ucapan kami: ‘imam kamu asy-Syafi‘i’ hanyalah sebagai pernyataan mengikut apa yang dinisbahkan dan sekadar dakwaan (semata), kerana kami mengetahui bahawa kamu sebenarnya jauh daripada manhaj beliau dalam usul (akidah), bahkan dalam banyak cabang (furu‘) juga — sebagaimana hal ini diketahui oleh para ulama dan ahli ilmu.”

— Majmū‘ah ar-Rasā’il wal-Masā’il, 1/221
ustadz ibnu salam 

Tiba-Tiba Datang

Tiba-Tiba Datang
Tanpa Notifikasi!

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله menasehatkan,

لا تقل :  أنا شاب سوف أتوب كم من شاب أخذه الموت قبل أن يشيب، وكم من زارع أصابه الهلاك قبل أن يحصد زرعه فالموت يأتي بغتة

“Jangan bilang: ‘Aku masih muda, nanti saja taubat.’
Berapa banyak anak muda meninggal sebelum sempat beruban.
Berapa banyak orang yang menanam, tapi dirinya wafat sebelum sempat memanen.
Kematian itu datangnya mendadak.”

(Majmu’ul Fataawa 24/304)

riba

tauhid

Kewajiban menikah kan anak bila sudah menginjak usia baligh

Kewajiban menikah kan anak bila sudah menginjak usia baligh

Qatadah rahimahullah berkata:

"Dahulu dikatakan: Apabila seorang anak laki-laki telah baligh lalu ayahnya tidak menikahkannya, kemudian sang anak terjatuh dalam perbuatan keji (zina), maka sang ayahlah (ikut) berdosa"

Kitab al-‘Iyāl 172/1

Sehingga merupakan hendaknya bagi seseorang yg telah baligh baik laki-laki maupun perempuan bila sdh memiliki kemampuan seharusnya ia segera menikah, apalagi bila ditakutkan jatuh dlm fitnah (pacaran, hubungan lawan jenis, bahkan perzinahan) maka wajib menikah 

Bila ia tdk mampu ortunya punya kewajiban membantu

Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata: 

"Apabila seorang laki-laki tidak mampu (menikah) sementara ayahnya mampu, maka wajib bagi sang ayah untuk menikahkannya. Sebab biaya pernikahan itu seperti nafkah makan, minum, dan pakaian. Seorang ayah wajib menafkahi anak-anaknya sesuai kebutuhan mereka berupa makanan dan pakaian, dan ia juga wajib menanggung biaya pernikahan mereka, karena setiap manusia membutuhkannya selama ia mampu melaksanakannya"

Fatawa syaikh bin baz

___________

Sangat disayangkan banyak muda mudi sekarang ini enggan atau takut menikah dikarenakan mengkhawatirkan masa depan, tdk mau menikah sampai benar2 mapan atau memiliki penghasilan diatas rata2

Padahal sdh janji Allah bagi yg menikah dengan tujuan IFFAH (menjaga diri) pasti ditolong, dimudahkan rizqinya, bahkan bisa menjadi kaya
Ustadz lutfi setiawan

Jumat, 28 November 2025

Keluar (memberontak) terhadap para penguasa termasuk perbuatan orang-orang rendahan, maka berhati-hatilah

Keluar (memberontak) terhadap para penguasa termasuk perbuatan orang-orang rendahan, maka berhati-hatilah.”

Qadhi ‘Iyadh dalam biografi Qar‘us bin al-‘Abbas ats-Tsaqafi (w. 220 H) berkata:

“Ia termasuk orang yang dituduh menghasut dan melakukan gerakan bangkit melawan penguasa. Maka ia pun diseret bersama orang-orang lainnya dalam keadaan terikat, dan didirikan di bawah tikar eksekusi. Lalu seorang pemuda berbicara kepadanya atas nama sang amir, al-Hakam, dan berkata kepadanya:

‘Orang sepertimu—dari kalangan ahli agama dan penjaga amanah ilmu—mengikuti orang-orang rendahan?
Jika urusan mereka terlaksana, berapa banyak tirai kehormatan yang akan disingkap?
Berapa banyak kehormatan wanita (kehormatan keluarga) yang akan dinodai?
Hingga muncul seorang imam yang memberi kenyamanan bagi manusia.’

Maka Qar‘us berkata:
‘Aku berlindung kepada Allah untuk melakukan atau mengikuti hal seperti itu, baik dengan tangan maupun lisan.
Karena aku telah mendengar Malik dan ats-Tsauri berkata:
“Penguasa zalim selama tujuh puluh tahun lebih baik daripada umat yang tidak memiliki penguasa walau hanya sejam pada siang hari.””

— Tartib al-Madarik
Dr Abul hasan ali bin jadullah 

berdzikir

Apabila hujan sangat lebat dan menyusahkan kaum muslimin untuk keluar, maka boleh bagi para lelaki kaum muslimin untuk meninggalkan shalat jum'at. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Nujaim al Hanafi, ad Dardir al Maliki, Zakariyya al Anshari asy Syafi'i, dan Ibnu Qudamah al Maqdisi al Hanbali. Dan sebagai gantinya mereka melaksanakan shalat zuhur 4 rakaat di rumah rumah mereka.

• Apabila hujan sangat lebat dan menyusahkan kaum muslimin untuk keluar, maka boleh bagi para lelaki kaum muslimin untuk meninggalkan shalat jum'at. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Nujaim al Hanafi, ad Dardir al Maliki, Zakariyya al Anshari asy Syafi'i, dan Ibnu Qudamah al Maqdisi al Hanbali. Dan sebagai gantinya mereka melaksanakan shalat zuhur 4 rakaat di rumah rumah mereka.

• Disyariatkan bagi para muazzin (tatkala hujan lebat) menambah lafal : صَلُّوا فِي رِحَالِكُم setelah azan atau mengganti lafazh 'Hayya 'alash Shalah' dengan lafazh diatas. Sebagaimana Hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dalam ash Shahihain. 

• Apabila banjir menerjang rumah rumah kaum muslimin dan membuat mereka kesusahan, diperbolehkan untuk menjama' shalat tanpa qashar (meringkas). Berdasarkan keumuman hadits Abdullah bin Abbas berkenaan tentang jama' shalat disaat hujan. 

Semoga Allah mengangkat bala' dan musibah atas kaum muslimin. 

🖋 Abu Ibrahim Yami Cahyanto, Lc.

Ibn Taymiyyah رحمه الله

Ibn Taymiyyah رحمه الله

“The reason why the religion of Allah and its rituals is vanishing, and kufr and sin are prevailing, is because of imitation of the kāfirīn. Just as the means of preserving all good lies in following the ways and laws of the Prophets.”
— al-Iqtiḍā’, 1/413

Ibn Taymiyyah رحمه الله highlights a timeless principle:
When Muslims begin to imitate the practices, customs, and value systems of non-Islamic cultures without discernment, the distinct identity of the Ummah weakens. The strength of Islam has always been found in holding firmly to revelation, prophetic guidance, and the unique character that Allah عز وجل has given this Ummah.

His message is not about rejecting the world, but about preserving the purity of faith—
• by grounding ourselves in the Sunnah,
• by aligning our lifestyles with the guidance of the Prophets,
• by resisting trends, ideologies, and behaviours that contradict Islamic principles.

The more we resemble the prophetic way, the more honour, stability, and goodness returns to our communities.
And the more we dissolve into imitation, the more we lose clarity, purpose, and spiritual strength.

Identity is preserved not by slogans, but by living Islam authentically.

May Allah keep us firm upon the straight path, protect our hearts from deviation, and grant us the ability to follow the guidance of Muhammad ﷺ with sincerity.
Jewel hambali mahdzab

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

"Sebab utama mengapa agama Allah dan ajarannya memudar, sementara kekafiran dan dosa merajalela, adalah karena meniru orang-orang kafir. Sebagaimana kunci untuk menjaga segala kebaikan terletak pada mengikuti jalan dan syariat para Nabi."

— Al-Iqtiḍā’, 1/413

Melalui pesan ini, Ibnu Taimiyyah menyoroti prinsip yang berlaku sepanjang masa:

Ketika umat Islam mulai meniru kebiasaan, adat istiadat, dan nilai dari budaya kaum kuffar tanpa adanya filter, identitas khas umat ini akan melemah. Kekuatan Islam selalu ada karena berpegang teguh pada wahyu, tuntunan Nabi, dan karakter yang telah Allah 'Azza wa Jall berikan kepada Umat ini.

Pesan beliau bukanlah tentang menolak dunia, melainkan tentang menjaga kemurnian iman. 

Caranya:
● Dengan memperkuat diri di atas Sunnah (tuntunan Nabi).
● Dengan menyesuaikan gaya hidup kita dengan petunjuk para Nabi.
● Dengan menolak tren, ideologi, dan perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Semakin kita menyerupai cara hidup Nabi, semakin besar kehormatan, kestabilan, dan kebaikan yang kembali pada umat ini.

Sebaliknya, semakin kita larut meniru kaum kuffar, semakin kita kehilangan kejelasan arah, tujuan hidup, dan kekuatan spiritual.
Identitas itu dipertahankan, bukan melalui slogan, melainkan dengan menghayati Islam secara otentik.

Semoga Allah menguatkan kita di atas jalan yang lurus, melindungi hati kita dari penyimpangan, dan memberi kita kemampuan untuk mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (semoga selawat dan salam tercurah padanya) dengan penuh ketulusan
Ustadz reza 

740 kosa kata bahasa indonesia yg sama atau sangat mirip dengan bahasa arab

Gak usah ke arab araban kata orang? 
Lah heran saja bahasa indonesia banyak yg katanya hasil serapan dari bahas arab 
di buku ini disebutkan ada 2000 kosa kata lebih yg mirip dengan bahasa arab 

Qadhi ‘Abdul ‘Aziz bin al-Muththalib dan Tradisi ‘Imamah (Sorban)]Berdasarkan: Akhbar al-Qudhat, al-Qhadhi Waki’, Juz 1 hlm. 202–203

[Qadhi ‘Abdul ‘Aziz bin al-Muththalib dan Tradisi ‘Imamah (Sorban)]
Berdasarkan: Akhbar al-Qudhat, al-Qhadhi Waki’, Juz 1 hlm. 202–203

Kitab Akhbar al-Qudhat karya al-Qhadhu Waki’ menyebut biografi ‘Abdul ‘Aziz bin al-Muththalib bin ‘Abdillah bin Hantab al-Makhzumy. Ia diangkat menjadi qāḍī (hakim) pada masa pemerintahan Abū Ja‘far al-Manshur, ketika Wali Madinah diganti dengan Muḥammad bin Khalid al-Qasry. ‘Abdul ‘Azkz digambarkan sebagai tokoh besar Quraisy dan termasuk orang yang berwibawa dan terhormat.

Imam Malik bin Anas berkata: “Tidak sepatutnya sorban (‘imāmah) ditinggalkan.” Ia menceritakan bahwa ia pernah memakai sorban ketika di wajahnya belum tumbuh satu helai rambut pun, dan beliau pernah melihat di majelis gurunya, Rabi'ah bin ‘Abdirrahman, ada lebih dari tiga puluh orang yang semuanya memakai sorban. Ini menunjukkan kedudukan sorban sebagai pakaian kehormatan dan adab di kalangan ulama dan penuntut ilmu saat itu.

‘Abdul ‘Azkz sendiri pernah menceritakan kepada Mālik bahwa ia suatu hari masuk masjid tanpa sorban, lalu ayahnya memarahinya dengan keras: “Apakah engkau masuk masjid dengan kepala terbuka, tanpa sorban?” Ini menunjukkan sensitivitas para salaf terhadap adab berpakaian saat memasuki masjid, terutama bagi orang-orang yang dikenal dan dihormati di masyarakat.

Al-Qadhi Waki’ menutup dengan catatan bahwa banyak perawi besar meriwayatkan dari ‘Abdul ‘Aziz, dan haditsnya diterima, serta ia pernah menjabat sebagai qadhi di Makkah. Dengan begitu, sosok ini menggabungkan antara kehormatan nasab, kedudukan ilmiah, dan jabatan kehakiman, serta menjadi contoh adab berpakaian di tengah masyarakat berilmu.
ustadz hasan al jaizy

Hukum Asal Menikah Adalah Poligami As-Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâh berkata

Hukum Asal Menikah Adalah Poligami

As-Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâh berkata:

"Hukum asal nikah itu adalah poligami, monogami itu di sisi orang yang lemah, dan orang-orang yang tidak berpoligami terutama para musuh Islâm mereka semisal dengan binatang ternak, mereka membatasi diri hanya satu sebatas namanya saja, tetapi hakekatnya tidaklah satu, mereka berbilang (banyak simpanan) seperti kambing yang ia ditawarkan kepada wanita yang ini dan ini, dan ia pun menumpahkan mani dan nutfahnya di semua tempat, dan mereka tidak peduli seperti binatang ternak, adapun orang yang berpoligami dalam syari'at maka ia menumpahkan maninya di tempat yang baik, di tempat yang Allâh bolehkan, di tempat yang dikhususkan, ia jauh dari menyerupai binatang ternak, tetapi mereka para musuh Allâh adalah manusia yang paling dekat kepada menyerupai binatang ternak, sebagaimana Allâh 'azza wa jalla berfirman:

{ أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلًا }
Ataukah engkau mengira bahwasanya kebanyakan mereka itu mendengar atau berakal? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya. [QS. Al-Furqân 25: 44]
Ustadz dihyah abdusalam 

Tauhid Murni, Dosa yang Banyak, dan Hadis “Dawawin

[Tauhid Murni, Dosa yang Banyak, dan Hadis “Dawawin”]
Berdasarkan: Madarij as-Salikin, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Juz 1 hlm. 504

Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa seorang yang tidak menyekutukan Allah sama sekali (muwahhid sejati), mustahil ia berjumpa dengan Allah dengan membawa sepenuh bumi dosa dalam keadaan masih terus-menerus bersikeras di atasnya, tanpa taubat, sementara tauhidnya benar-benar sempurna—yakni puncak dari cinta, khauf, raja’, dan ketundukan kepada Allah. Tauhid yang sempurna akan selalu menarik pemiliknya kepada taubat dan penyesalan, bukan bertebal muka dalam maksiat hingga mati.

Beliau kemudian menjelaskan makna hadis yang membahas “dawawin” (catatan-catatan dosa), bahwa hak-hak Allah itu tidak berat bagi-Nya untuk diampuni, dihapus, dan dihibahkan. Allah tidak “berat” memperlakukan hak-Nya dibanding hak hamba-hamba-Nya. Ini bukan berarti:

• bahwa Allah tidak akan pernah menghukum pelanggaran terhadap hak-hak-Nya, ❎️
• atau bahwa semua dosa terhadap hak Allah itu kecil dan remeh.❎️

Maknanya: dalam hak Allah terdapat ruang maaf, pemberian, penghapusan, dan kemurahan yang tidak terdapat pada hak sesama manusia. Hak-hak manusia sangat terkait dengan kezaliman di antara mereka, sehingga sering kali tidak diampuni kecuali dengan kerelaan pemilik hak atau qishash, sedangkan hak Allah berada dalam genggaman kemurahan-Nya, jika Dia menghendaki, Dia memaafkan.
Ustadz hasan al jaizy

_Faedah Terbaru_

🍂 *جديد الفوائد* 

🍂 *فوائد من لقاء العلّامة المحدّث، ريحانة المدينة، الشيخ عبد المحسن العباد، في بيته بمكتبته، مع الشيخ الدكتور مالك بن رضا المحمدي، وبعض طلبة العلم، عصر يوم الاثنين ٣/ ٦/ ١٤٤٧هـ. بالمدينة النبوية.* 
________________
١)  الشيخ يصلي في مسجده الصلوات الخمس مع الجماعة، مع أنه قد تجاوز عمره خمسةً وتسعين عاماً ٩٥، اللهم بارك.

٢)  *ويذكر الشيخ عن نفسه أنه قد درس صحيح البخاري مرتين.* 

٣) ويقول: *من أعظم شروح الصحيح شرح فتح الباري* ، بل أنا أسميه: كتاب العلم. وقد جمعتُ فوائد منتقاة من فتح الباري وغيره من الكتب، وجمعتها في مجلد جعلته الجزء الثامن، وأنا أقرأ فيه وأستعرضه من حين إلى آخر، وكتاب فتح الباري كتاب واسع العلم، كثير الفوائد، وهو يصلح للمتَمَكِّنين من أهل العلم، لا لصغار طلبته.

٤) وقال: جامعة الإمام جامعة مباركة، خرّجت أمماً، وخرّجت طلاب علم، وخرّجت علماء.

٥) *وشكر الحاضرون للجلسة وأثنوا على الشيخ وعلى ابنه الشيخ عبد الرزاق، وأن الشيخ عبد الرزاق البدر قد نفع الله به البلاد والعباد* ، وانتفع الناس بدروسه ومحاضراته، وهو خير خلف لمن سلف، وأنه قد خلفكم في المسجد النبوي، وقالوا للشيخ عبد المحسن: إن هذا من حسناتك، فدعا له بخير.

٦)  *وطلب بعض الحاضرين من الشيخ عبد المحسن أن كثيراً من طلاب العلم يتمنّون خروج شرحه على الكتب السبعة: الكتب الستة ومعها الموطأ،* وأن تُطبع شروحها، فقال الشيخ: إن العمل الآن على تفريغ كتاب أبي داود، فالعمل جارٍ عليه، ونسأل الله أن ييسّر الباقي.

٧) *ومن حسن أدب الشيخ أنه ذكر أنه في مرةٍ أراد شرح كتاب من كتب السنن* ، فلما علم أن هناك عالماً آخر في الحرم يشرح الكتاب نفسه، أعرض هو عنه، وشرح كتاباً آخر، حتى لا يقع التعارض، كما ذكر ذلك في الجلسة.

٨) وقال الشيخ – *بمناسبة تعيين الشيخ صالح الفوزان مفتياً للمملكة* – إن الشيخ صالح الفوزان له جهود عظيمة مباركة، ونسأل الله أن يوفقه، ويزيده توفيقاً، ويسدده ويعينه.

٩)  وقد أهدى الشيخ مالك المحمدي بعض مؤلفاته للشيخ عبد المحسن العباد، وقرأ عليه بعض المواضع منها، كما أُهدي لسماحة الشيخ عبد المحسن كتاب ترجمة الشيخ عبد الله القصير، فدعا له بالمغفرة والرحمة وكرر الدعاء.

١٠) *وكان الشيخ في هذه الجلسة – مع أنه تجاوز الخامسة والتسعين* – يتذكر شيئاً من علوم الرواية والدراية في كتب الستة، وكان منبسطاً، يضحك ويبتسم، ويتهلّل وجهه، ويتذكر بعض القصص القديمة من سنوات، بل يذكر بعض التواريخ التي التقى فيها هو والشيخ ابن باز، وبعض المواقف المتعلقة بذلك.

١١)  *يقول الشيخ: إن أول شروعه في شرح الكتب الستة كان عام ١٤٠٦هـ،* وقد بدأ بصحيح مسلم وقدّمه على صحيح البخاري؛ لأن أحاديثه مجموعة ولأمور أخرى رآها، فشرع فيه وأتمه في سنتين، *ثم شرح صحيح البخاري وختمه في سبع سنوات،* ثم بعد ذلك شرح كتب السنن، وأما سنن ابن ماجه فذكر أن فيه زوائد على الكتب الستة تقارب ١٣٠٠ حديث، وأنه شرح الكتب الستة لأنها هي المشهورة والمنشورة، وهي التي لقيت خدمة عظيمة.

١٢) ذكر الشيخ: إن شرح النووي على صحيح مسلم هو الشرح المعروف والمطبوع والمتداول بين أهل العلم، وكذلك عون المعبود على سنن أبي داود فهو من الشروح المعتمدة في بابه. وبيّن أن كتب الحديث لها مكانتها واعتناؤها عند العلماء، وأن تحفة الأحوذي على الترمذي هو الشرح المشهور على هذا الكتاب. وقال أيضاً إن الترمذي يُدرَس روايةً ودرايةً لما فيه من الفوائد الحديثية والفقهية.

١٣) الشيخ – حفظه الله – إلى اليوم وهو يقرأ ويبحث في مكتبته، متّعه الله بالصحة والعافية. ومن جميل ما كان في هذا المجلس أن الشيخ كان منبسطاً جداً، يبتسم ويضحك ويُعطي الفوائد، وقد أهدى الحاضرين عدداً من كتبه، فأعطى كل واحد منهم خمسة كتب من مؤلفاته.

١٤)  *يقول الشيخ: إن لي رسالة في الرد على الرفاعي والبوطي في كذبهما على أهل السنة ودعوتِهما إلى البدع والضلال، فقد تعرّضا لأهل السنة تعرّضاً شديداً* ، ولم يسلَم منهم أحد حتى سماحة الشيخ ابن باز رحمه الله.

١٥) *ووصيتي للناس كلهم كلمتان مختصرتان: تقوى الله،والاستقامة على أمر الله* ، وكل من طلب مني وصية أعطيته هاتين الكلمتين.

١٦)  *قدمتُ إلى المدينة أنا والشيخ ابن باز – رحمه الله – في شهر واحد* من عام ١٣٨١هـ، وكانت علاقتي بابن باز قوية جداً، امتدت لسنوات طويلة في المدينة أكثر من ١٥ سنة، ولي محاضرة مطبوعة عن الشيخ ابن باز والشيخ ابن عثيمين – رحمهما الله –.

١٧) ومن الكتب التي أهداها الشيخ – حفظه الله – للحاضرين: كتابه «آيات متشابهات الألفاظ في القرآن الكريم وكيفية التمييز بينها»، وكتابه «شرح مقدمة رسالة القيرواني»، وكتابه «فضل الصلاة على النبي ﷺ»، وكتابه «من أخلاق الرسول ﷺ»، وكتابه «الرد على الرفاعي والبوطي في كذبهما على أهل السنة ودعوتهما إلى البدع والضلال»، وكتابه «تبصير الناسك بأحكام المناسك». انتهى.
________________
✒️ وكتبه: *خالد بن مسعود آل فطيح* وكان من ضمن الحاضرين لهذه الجلسة المباركة التي امتدت لأكثر من نصف ساعة.
#الاخ_ابو_الاشبال
_Faedah Terbaru_

Faedah dari pertemuan dengan Al-'Allamah Al-Muhaddith, Rihanah Al-Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad, di rumahnya di perpustakaannya, bersama Syaikh Dr. Malik bin Ridha Al-Muhammadi dan beberapa penuntut ilmu, sore hari Senin 3/6/1447 H di Madinah Al-Nabawiyah.

1. Syaikh shalat di masjidnya dengan berjamaah, meskipun usianya sudah lebih dari 95 tahun. Semoga Allah memberkahi.
2. Syaikh menyebutkan bahwa dirinya telah mengajar Shahih Al-Bukhari dua kali.
3. Syaikh mengatakan bahwa salah satu penjelasan Shahih Al-Bukhari yang paling agung adalah Fath Al-Bari, bahkan saya menyebutnya kitab ilmu. Saya telah mengumpulkan faedah-faedah yang dipilih dari Fath Al-Bari dan kitab-kitab lainnya, dan mengkumpulkannya dalam satu jilid yang saya jadikan sebagai jilid kedelapan. Saya membacanya dan mengulanginya dari waktu ke waktu.
4. Syaikh mengatakan bahwa Universitas Imam adalah universitas yang diberkahi, telah melahirkan banyak generasi, melahirkan penuntut ilmu, dan melahirkan ulama.
5. Para hadirin mengucapkan terima kasih kepada Syaikh dan memuji beliau dan putranya, Syaikh Abdul Razzaq, bahwa Syaikh Abdul Razzaq Al-Badr telah memberikan manfaat kepada negara dan hamba-hamba Allah.
6. Salah satu hadirin meminta Syaikh Abdul Muhsin untuk menjelaskan kitab-kitab hadits yang enam (Al-Kutub Al-Sittah) dan Muwatta', dan agar penjelasan tersebut dicetak.
7. Syaikh memiliki akhlak yang baik, ketika beliau mengetahui bahwa ada ulama lain yang menjelaskan kitab yang sama, beliau tidak ingin bersaing dan menjelaskan kitab lainnya.
8. Syaikh mengatakan bahwa Syaikh Salih Al-Fawzan memiliki jasa yang besar dan diberkahi, semoga Allah memberinya taufik dan menambah kebaikannya.
9. Syaikh Malik Al-Muhammadi memberikan beberapa karyanya kepada Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad, dan membacakan beberapa bagian darinya.
10. Syaikh, meskipun usianya sudah lebih dari 95 tahun, masih mengingat ilmu-ilmu hadits dan penjelasannya, dan beliau sangat bahagia dan tersenyum.
11. Syaikh mengatakan bahwa awal penjelasannya terhadap Al-Kutub Al-Sittah adalah pada tahun 1406 H, dan beliau memulai dengan Shahih Muslim.
12. Syaikh menyebutkan bahwa penjelasan Al-Nawawi terhadap Shahih Muslim adalah penjelasan yang terkenal dan dipercaya.
13. Syaikh masih membaca dan meneliti di perpustakaannya, semoga Allah memberinya kesehatan dan kekuatan.
14. Syaikh memiliki risalah dalam membantah Al-Rifai dan Al-Buti dalam kebohongan mereka terhadap Ahlus Sunnah.
15. Syaikh mengatakan bahwa wasiatnya kepada manusia adalah dua kalimat yang singkat: Takwa kepada Allah dan istiqamah di atas perintah Allah.
16. Syaikh dan Syaikh Ibn Baz datang ke Madinah pada bulan yang sama pada tahun 1381 H, dan hubungan mereka sangat kuat.
17. Syaikh memberikan beberapa karyanya kepada hadirin, termasuk kitabnya tentang ayat-ayat yang serupa dalam Al-Qur'an, penjelasan Mukaddimah Risalah Al-Qairawani, dan lain-lain.

Ditulis oleh:
Kholid bin Mas'ud Al-Fatih
Salah satu hadirin dalam pertemuan yang diberkahi ini.
Ustadz arif fathul ulum 

Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Dr. Hayā’ memperoleh apresiasi luas dari para peneliti di bidang akidah dan pemikiran di antaranya Syaikh Abdullah al-Ghizziy dan Syaikh Abdullah as-Syehri (penulis Tsalātsu Rasā’il fil-Ilḥād, al-Makhraj al-Waḥīd, dan lainnya).

Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Dr. Hayā’ memperoleh apresiasi luas dari para peneliti di bidang akidah dan pemikiran di antaranya Syaikh Abdullah al-Ghizziy dan Syaikh Abdullah as-Syehri (penulis Tsalātsu Rasā’il fil-Ilḥād, al-Makhraj al-Waḥīd, dan lainnya).

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa jumlah referensi yang disebut secara eksplisit oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam pembahasan akidah pada karya-karyanya yang telah dicetak mencapai 585 rujukan. Adapun rujukan-rujukan yang tidak beliau sebutkan secara langsung jumlahnya jauh lebih besar.

Berdasarkan observasi peneliti terhadap berbagai pernyataan Ibnu Taimiyyah, ia menyimpulkan bahwa setiap pandangan yang dikemukakan Ibnu Taimiyyah senantiasa memiliki pendahulu (salaf).
ustadz natsier al anqory

musibah

Kisah Istisqa’ Nabi Musa dan Kaidah Asal Hukum Makanan]

[Kisah Istisqa’ Nabi Musa dan Kaidah Asal Hukum Makanan]
Berdasarkan: Tafsir Surat al-Baqarah, Syaikh Ibn ‘Utsaimin, Juz 1 hlm. 217–218

Dalam firman Allah:
﴿وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ﴾ (البقرة: ٦٠)

Syaikh Ibn ‘Utsaimin menyebut beberapa faedah penting:

• Disyariatkannya istisqa’ (meminta hujan/air) ketika manusia membutuhkan air. Nabi Musa ‘alaihis-salām berdoa memohon air untuk kaumnya, dan syariat umat terdahulu adalah syariat bagi kita selama tidak ada dalil yang menghapusnya. Bahkan dalam Islam, Nabi ﷺ juga melakukan istisqā’ di mimbar Jum‘at dan di padang terbuka dengan tata cara khusus.

• Ayat ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah: batu keras dipukul dengan tongkat, lalu terpancarlah dua belas mata air. Ini bukan hukum alam biasa, tetapi mukjizat yang menegaskan bahwa segala sesuatu tunduk pada kehendak Allah, bukan sekadar “hukum alam” seperti klaim kaum naturalis. Jika semua murni “alami”, niscaya tidak akan ada perubahan luar biasa seperti ini.

• Syaikh juga menggariskan satu kaidah fiqih besar: apa yang Allah keluarkan untuk manusia dari bumi dan turunkan dari langit, asal hukumnya adalah halal dan mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Ayat “كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ” menunjukkan perintah yang mengandung makna kebolehan.

Beliau menegaskan:
• Ibadah: asal hukumnya terlarang sampai ada dalil yang memerintahkannya.
• Makanan, minuman, dan bentuk pemanfaatan dunia: asal hukumnya boleh sampai ada dalil yang melarangnya.

Ini adalah perbedaan pokok antara wilayah ibadah dan wilayah muamalat.
ustadz hasan al jaizy

Jaga hatimu, karena hati yang sakit adalah sumber segala ketidaknyamanan.

Jaga hatimu, karena hati yang sakit adalah sumber segala ketidaknyamanan.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,
"Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan, minum, tidur dan istirahat tidak enak baginya. Begitu juga dengan HATI... apabila ia cenderung kepada DUNIA maka nasihat-nasihat tidak lagi berguna baginya."
(Shifatush Shafwah : 3/278)

Jika hati sudah terpaut pada dunia, ia akan menolak segala kebaikan. Sudahkah kita mengecek kondisi hati kita hari ini?

___________
.
🌏 Web : sufyanbaswedan.com
🖥 Youtube : youtube.com/@SufyanBaswedan
🌐 Telegram : @sufyanbaswedan
📱 Instagram : instagram.com/sufyanbaswedan
💻 Facebook : facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA
#sufyanbaswedan #faedah #islam

Apakah engkau mengira bahwa hukuman itu selalu berupa musibah yang menyakitkan?!

Faedah Harian

Syaikh Prof. Dr. Shalih Abdul Karim berkata:

أتظن أن العقوبة دومًا في البلاء ؟ بل قد تُسلَب لذة المناجاة، وتغلق أبواب الليل عن قيامك ويطوى وردك من القرآن وتشح عيناك عن دموع الوجل ويخيم الصمت على لسانك عن الذكر... فأي خسران أعظم من حرمان الوصل بالله ؟
ومن وجد الله، فماذا فقد ؟ ومن فقد الله، فماذا وجد ؟

"Apakah engkau mengira bahwa hukuman itu selalu berupa musibah yang menyakitkan?!

Tidak demikian!

Boleh jadi musibah itu dalam bentuk:

1. Tercabutnya darimu nikmat munajat (nikmat berdo'a) kepada Allah.

2. Tertutupnya pintu-pintu malam sehingga engkau tidak lagi shalat malam.

3. Wirid Al-Qur'anmu terhenti.

4. Keringnya matamu dari air mata takut kepada Allah.

5. Terbungkamnya lidahmu dari berdzikir kepada Allah.

Kerugian apa yang lebih besar daripada terhalangnya jalan menuju Allah?!

Siapa yang mendapatkan Allah, apa yang hilang darinya?

Siapa yang kehilangan Allah, apa yang bisa dia dapatkan?

Allahul Musta'an.
__
Semoga bermanfaat

🌐 Grup WhatsApp
Nasehat Harian:
https://chat.whatsapp.com/FUuVM5NAew9E5ivS1RRSwn

🌐 Saluran WhatsApp
Catatan Andre Satya Winatra official:
https://whatsapp.com/channel/0029VawEBXA5K3zVFQBwds0i

🌐 Telegram
Catatan Andre Satya Winatra:
https://t.me/catatanAndreSatyaWinatra

Bisyr bin Al Harits rahimahullah pernah berkata, "Sering bergaul dengan orang-orang buruk menyebabkan seseorang mudah berburuk sangka kepada orang-orang baik".

Ustadz boris tanesia

Kamis, 27 November 2025

Dua Macam Tawadhu’: Terpuji dan Tercela

[Dua Macam Tawadhu’: Terpuji dan Tercela]
Berdasarkan: Raudhah al-Uqala wa Nuzhah al-Fudhala, Ibnu Hibban, hlm. 59

Imam Ibn Hibban menjelaskan bahwa seorang yang berakal wajib menjaga sifat tawadhu’ dan menghindari kesombongan. Semakin seseorang merendahkan diri karena Allah, semakin Allah meninggikan derajatnya, selama ia tidak memakai pakaian yang bukan ukurannya – artinya tidak berpura-pura menjadi sosok yang tidak pantas atau tidak layak.

Beliau membagi tawadhu’ menjadi dua:
1. Tawadhu’ terpuji: meninggalkan sikap merendahkan orang lain, tidak merasa lebih tinggi, dan tidak menghinakan hamba-hamba Allah. Ini adalah tawadhu’ yang lahir dari pengagungan terhadap Allah dan kasih sayang kepada makhluk.
2. Tawadhu’ tercela: yaitu merendahkan diri di hadapan orang-orang yang hanya memiliki dunia, dengan motivasi mencari dunia mereka. Ini bukan tawadhu’, tetapi merendahkan martabat diri demi ambisi rendah.

Seorang mukmin yang cerdas akan menjauhi bentuk tawadhu’ yang tercela dalam segala keadaan – seperti menjilat penguasa zhalim demi harta atau kedudukan – dan menjaga tawadhu’ yang terpuji dalam semua sisi kehidupan, di hadapan Allah dan di hadapan sesama manusia.

Hanbali: Calling Adhan is better than leading prayer

[Hanbali: Calling Adhan is better than leading prayer]

~

Imam Al-Buhuti in his Sharh upon Al-Futuhi's Muntaha states:

{And} the adhan is also better than {the imamate} due to the Elevated Hadith of Abu Hurayrah which states: (That Rasullulah {ﷺ} said:)

"The Leader (Imam) is held responsible, and the 
Caller (Muaddhin) is a trustee, O Allah, guide the 
Leaders and forgive the Callers"

(Al-Buhuti continues:)This Hadith was related by Imam Ahmad, Abu Dawud and Tirmidhi.

As for the rationale:

Being a trustee is higher than being held responsible 
And Forgiveness is higher than Guidance.

~

[Ad-Dafanti:]

If a man is guided to Allah in this life, and meets Allah unforgiven in the next, he has only met his own destruction.

Yet, if a man spends his entire life misguided, but dies a believer, and meets Allah forgiven - what has he meet except {Ar-Rahman}

{؟}

{ سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ }

[Surah Al-Ḥadīd: 21]
Race toward forgiveness from your Lord and a Garden whose width is like the width of the heavens and earth, prepared for those who believed in Allāh and His messengers. That is the bounty of Allāh which He gives to whom He wills, and Allāh is the possessor of great bounty.

Madzhab Hanbali: Mengumandangkan Adzan Lebih Utama daripada Menjadi Imam

Imam Al-Buhuti dalam Syarh Muntaha Al-Irodat menyatakan :

Mengumandangkan adzan bahkan lebih utama daripada menjadi imam shalat. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurayrah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Imam (pemimpin shalat) akan dimintai pertanggungjawaban, sedangkan muadzin (yang mengumandangkan adzan) adalah seorang yang dipercaya. Ya Allah, tunjukkanlah para imam kepada jalan-Mu dan ampunilah para muadzin.”

Imam Al-Buhuti melanjutkan: hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi.

Logikanya :
Menjadi orang yang dipercaya (muadzin) lebih mulia daripada orang yang dimintai pertanggungjawaban (imam), dan mendapatkan ampunan tentunya lebih tinggi nilainya daripada sekadar mendapat petunjuk.

---

[Ad-Dafanti:]

Bayangkan ini: seorang manusia hidupnya dibimbing oleh petunjuk Allah di dunia, tapi ketika meninggal, ia tidak diampuni oleh Allah, maka yang ia temui hanyalah kehancurannya sendiri.

Sebaliknya, jika seseorang hidupnya banyak salah dan dosa di dunia, tapi meninggal sebagai seorang mukmin yang beriman, dan Allah mengampuninya, maka yang ia temui hanyalah Ar-Rahman yang Maha Penyayang.

Seperti firman Allah:

“Berlombalah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disiapkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki karunia yang amat besar.”
(QS. Al-Hadid: 21)
Ustadz reza 

Pembagian Tauhid Rubuubiyyah dan Tauhid Uluuhiyyah Menurut Taqiyyudiin Al-Maqriiziy Asy-Syaafi’iy

Pembagian Tauhid Rubuubiyyah dan Tauhid Uluuhiyyah Menurut Taqiyyudiin Al-Maqriiziy Asy-Syaafi’iy

Oleh : Ustadz Dony Arif Wibowo

Taqiyyuddiin Al-Maqriiziy namanya adalah Ahmad bin ‘Aliy bin ‘Abdil-Qaadir bin Muhammad bin Ibraahiim Al-Husainiy Al-‘Ubaidiy Al-Ba’liy Al-Qaahiriy, Abul-‘Abbaas. Ia seorang imam yang unggul ilmunya, mutqin, dhaabith, ahli sejarah, dan ahli hadits. Lahir tahun 766 H di Mesir, dan wafat tahun 845 H. Dalam kitabnya yang berjudul Tajriidut-Tauhiid Al-Mufiid, ia menjelaskan tentang tauhid dan syirik. Diantara yang beliau katakan adalah :

اعلم أن الله سبحانه رب كل شيء ومالكه وإلههُ.
فالرب مصدر ربُّ يرَبُّ ربّاً فهو رابٌّ : فمعنى قوله تعالى : {رَبِّ الْعَالَمِينَ} رابِّ العالمين ، فإن الرب سبحانه وتعالى هو الخالق الموجد لعباده ، القائم بتربيتهم وإصلاحهم من خَلقٍ ورزقٍ وعافية وإصلاح دين ودنيا .
والإلهية كون العباد يتخذونه سبحانه محبوباً مألوهاً ويفردونه بالحب والخوف والرجاء والإخبات والتوبة والنذر والطاعة والطلب والتوكل ، ونحو هذه الأشياء . فإن التوحيد حقيقته أن ترى الأمور كلها من الله تعالى رؤية تقطع الالتفات إلى الأسباب والوسائط.

“Ketahuilah, bahwasannya Allah subhaanahu wa ta’ala adalah Rabb segala sesuatu, Maalik dan Ilah-nya. Kata Rabb adalah mashdar dari (ربّ يرَبُّ ربّاً فهو رابٌّ) rabba, yarubbu rabban, fahuwa raabbun, artinya : ia memelihara sesuatu, pemelihara. Makna dari firman Allah ta’ala : ‘Rabbil-‘aalamiin’ : Pemelihara semesta alam, karena Rabb subhaanahu wa ta’ala adalah Pencipta hamba-Nya, memelihara dan memperbaiki (keadaan) mereka dengan baiknya penciptaan, rizki, dan kesehatan; serta memperbaiki dunia dan agamanya.
Dan Ilahiyyah merupakan keberadaan seorang hamba menjadikan-Nya subhaanahu sebagai Dzat yang dicintai dan disembah, menyendirikan (meng-Esa-kan)-Nya dengan rasa cinta, takut, harap, perendahan, taubat, nadzar, ketaatan, permintaan (doa), tawakkal, dan yang lainnya. Sesungguhnya hakekat tauhid adalah engkau memandang semua perkara berasal dari Allah ta’ala dengan pandangan yang memutus perhatian kepada sebab-sebab dan perantara-perantara” [hal. 18-19].

ولباب التوحيد أن يرى الأمور كلها لله تعالى ، ثم يقطع الالتفاف إلى الوسائط وأن يعبده سبحانه عبادة يفرده بها ولا يعبد غيره . ويخرج هذا التوحيد عن اتباع الهوى . فكل من اتبع هواه فقد اتخذ هواه معبوده قال الله تعالى : { أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ}" الجاثية :23 " .

“Dan inti dari tauhid adalah seseorang memandang semua perkara berasal dari Allah ta’ala, kemudian memutus perhatian kepada perantara-perantara, serta menyembah-Nya subhaanahu wa ta’ala dengan ibadah yang hanya dikhususkan untuk-Nya, dan tidak menyembah selain-Nya. Dan ketauhidan ini keluar dari mengikuti hawa nafsu. Setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya, maka ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Allah ta’ala berfirman : ‘Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya’ (QS. Al-Jaatsiyyah : 23)” [hal. 22-23].

ولا ريب أن توحيد الربوبية لم ينكره المشركون ، بل أقروا بأنه سبحانه وحده خالقهم وخالق السماوات والأرض ، والقائم بمصالح العالم كله ، وإنما أنكروا توحيد الإلهية والمحبة كما قد حكى الله تعالى عنهم في قوله : { وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ} " البقرة :165" . فلما سووا غيره به في هذا التوحيد كانوا مشركين كما قال الله تعالى : { الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ} "الأنعام :1 ". ، أي يسوون غيره به، وقال الله تعالى : { وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ }.

“Dan tidak diragukan lagi bahwa Tauhid Rubuubiyyah tidak diingkari oleh orang-orang musyrik, akan tetapi mereka menetapkannya bahwa hanya Allah subhaanahu wa ta’ala saja yang menciptakan mereka, menciptakan langit-langit dan bumi-bumi, serta mengatur seluruh alam semesta. Mereka hanyalah mengingkari Tauhid Al-Ilahiyyah dan Al-Mahabbah sebagaimana yang firmankan Allah ta’ala : ‘Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah’ (QS. Al-Baqarah : 165). Ketika mereka menyamakan selain-Nya dengan-Nya dalam tauhid ini, maka mereka adalah orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka’ (QS. Al-An’aam : 1); yaitu mereka menyamakan selain-Nya dengan-Nya. Dan Allah ta’ala berfirman : ‘sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka’ (QS. Al-An’aam : 150)” [hal. 24-25].

من عدل بالله غيره فقد أشركَ :
فلا وليَّ ولا حَكَمَ ولا رب إلا الله الذي من عَدَلَ به غيره فقد أشرك في ألوهيتهِ، ولو وحد ربوبيته ، فتوحيد الربوبية هو الذي اجتمعت فيه الخلائق ، مؤمنها وكافرها ، وتوحيد الألوهية مفرق الطرق بين المؤمنين والمشركين....

“Tidak ada Pelindung, tidak ada Yang menetapkan hukum, tidak ada Rabb kecuali Allah yang barangsiapa menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, sungguh ia telah berbuat syirik dalam Uluuhiyyah, meskipun ia mentauhidkan Rubuubiyyah-Nya. Tauhid Ar-Rubuubiyyah adalah tauhid yang disepakati seluruh makhluk, baik yang mukmin maupun kafir. Dan tauhid Al-Ilahiyyah-lah yang membedakan antara orang-orang mukmin dan orang-orang musyrik.....” [hal. 26].

وبهذا الاعتبار الذي قررنا به الإله ، وأنه المحبوب لاجتماع صفات االكمال فيه كان الله هو الاسم الجامع لجميع معاني الأسماء الحسنى والصفات العليا ، وهو الذي ينكره المشركون ويحتج الرب سبحانه وتعالى عليهم بتوحيدهم ربوبيته على توحيد ألوهيته ، كما قال الله تعالى : { قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ * أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ}"النمل :59-60".

"Dan berdasarkan pertimbangan yang telah kami tetapkan tentang makna al-ilah, bahwasannya Allah adalah Al-Mahbuub (Yang dicintai) dikarenakan berkumpulnya sifat-sifat kesempurnaan pada-Nya. Adapun Allah adalah nama yang mengumpulkan semua makna nama-nama (Allah yang) indah dan sifat-sifat yang tinggi (al-asmaaul-husnaa wash-shifaatul-‘ulyaa). Itulah yang diingkari orang-orang musyrik. Rabb subhaanahu wa ta’ala mendebat mereka atas penegasan tauhid Ar-Rubuubiyyah-nya dengan tauhid Al-Uluuhiyyah. Allah ta’ala berfirman: ‘Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?". Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)’ (QS. An-Naml : 59-60)” [hal. 26-27].

وبالجملة فهو تعالى يحتج على منكري الإلهية بإثباتهم الربوبية

“Dan kesimpulannya, Allah berhujjah kepada orang yang mengingkari al-ilahiyyah dengan menyebutkan penetapan mereka terhadap Rubuubiyyah......” [hal. 27].

Dari penjelasan Al-Maqriiziy hafizhahullah di atas didapatkan beberapa faedah :

1. Penetapan adanya tauhid Rubuubiyyah dan tauhid Ilahiyyah/Uluuhiyyah.

2. Tauhid Rubuubiyyah disepakati baik oleh orang mukmin maupun orang kafir.

3. Seseorang yang mentauhidkan Allah dalam Rubuubiyyah-Nya belum mencukupi tanpa mentauhidkan dalam Uluuhiyyah-Nya.

4. Syirik yang dimaksudkan oleh Allah dalam banyak ayatnya adalah syirik dalam hal Uluuhiyyah, bukan Rubuubiyyah.

Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.

[Tajriidut-Tauhiid Al-Mufiid oleh Taqiyyuddin Ahmad bin ‘Aliy Al-Maqriiziy, tahqiq & ta’liq : Yaasiin bin ‘Aliy bin Saalim Al-Huusyabiy Al-‘Adniy; Maktabah Al-Imaam Al-Waadi’iy, Cet. 1/1428]