Minggu, 06 Juli 2025

NASEHAT UNTUK PENUNTUT ILMU

NASEHAT UNTUK PENUNTUT ILMU

Oleh:
Asy-Syaikh Prof. Dr. Asyraf Al-Kinaniy حفظه الله

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾[التوبة: ١٢٢]

"Maka hendaklah ada segolongan dari setiap kelompok di antara mereka yang berangkat untuk memperdalam ilmu agama, dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya ketika mereka kembali kepadanya, agar mereka dapat menjaga diri". [At-Taubah: 122]

Allah menyebutkan bahwa sebagian kelompok berangkat untuk belajar agama dan mengajarkannya kepada manusia. Karena memang tidak mungkin seluruh manusia berangkat untuk mengajarkan agama kepada seluruh umat, hal itu tidak akan terjadi. Maka pasti harus ada sebagian yang belajar untuk mengajarkan sebagian lainnya, di setiap sisi kehidupan.

Dan firman-Nya pula:
﴿وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ لَفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ﴾ [البقرة: ٢٥١]
“Sekiranya Allah tidak menolak (keburukan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” [Al-Baqarah: 251]
Artinya, setiap orang memiliki peran: kamu melakukan sesuatu, saya melakukan sesuatu, orang lain melakukan sesuatu, dan kita semua saling melengkapi. Ini berlaku dalam semua aspek agama dan kehidupan kita.

Kalau tidak ada tukang, siapa yang akan memenuhi kebutuhan kita dalam bidang produksi dan pembuatan?
Kalau tidak ada pedagang, siapa yang akan memenuhi kebutuhan kita dalam membeli barang-barang seperti pakaian dan lainnya?

Demikian pula dalam ilmu agama. Harus ada saling dorong dan saling melengkapi antara penuntut ilmu. Mereka yang keluar untuk memperdalam ilmu agama tidaklah semua memiliki kemampuan yang sama. Mereka berbeda-beda kemampuannya.

Ada yang unggul dalam hadits, di antara mereka ada yang menguasai ilmu mushthalah (istilah-istilah hadits), ada yang menguasai jarh wa ta‘dīl, ada yang fokus pada hadits tematik.

Begitu juga dalam fikih: ada yang unggul dalam mengaitkan cabang dengan kaidah usul, ada yang ahli dalam memahami mazhab dan pendapat para ulama, ada yang menguasai metode istinbath (penggalian hukum), ada pula yang ahli dalam kaidah fikih dan usul fikih.

Setiap orang melengkapi yang lain.

Sebagaimana pernah ditanyakan kepada Imam Malik, “Mengapa Anda tidak membahas ini dan itu?” Beliau menjawab (secara makna):
“Allah membuka bagi para hamba-Nya berbagai bidang: ada yang diberikan pemahaman dalam bab shalat, ada yang dalam bab zakat, dan seterusnya. Maka aku berharap bahwa apa yang Allah bukakan untukku adalah bagian dari kebaikan seperti yang Allah bukakan untukmu. Kita semua berada di atas kebaikan.”

Penuntut ilmu seharusnya menjadi orang yang paling jauh dari hasad (iri), saling membenci, dan merasa paling benar sendiri.
Sebagaimana dikatakan:
"Jika kamu merasa dirimu lebih tinggi dari orang lain, maka itulah kesombongan."
Jika kamu merasa kamu paling bisa dan yang lain tidak bisa, itulah kesombongan.
Namun, jika kamu rendah hati dan merasa bahwa kamu di atas kebaikan dan orang lain juga di atas kebaikan, dan bahwa kamu menutup satu celah dan orang lain menutup celah lain, maka kita semua berada di atas kebaikan.

Inilah yang seharusnya menyebar di antara para penuntut ilmu dan para da‘i.

Di antara tahapan penting bagi penuntut ilmu adalah mengembangkan diri dan terus bertumbuh dalam ilmu. Ini adalah langkah-langkah menuju kematangan ilmiah:

1. Tahap pertama: Menerima ilmu dengan cara talaqqī (mendengar dari guru), yaitu mendengar apa yang disampaikan tanpa banyak berpikir sendiri. Ini penting, tapi hanya permulaan. Jika seseorang hanya berhenti di tahap ini, maka dia tidak akan berkembang.

2. Tahap kedua: Mudzākara, yaitu berdiskusi dan bertukar pikiran dengan sesama teman. Dalam tahap ini, mereka saling menasihati, bertanya, bahkan mengoreksi. Ini akan memperluas pemahaman dan menguatkan hafalan.

3. Tahap ketiga: Munāzharah dan munāqasyah (perdebatan ilmiah), dengan tujuan mencari kebenaran, bukan menang-menangan atau menunjukkan kelebihan diri. Bahkan jika lawan debat yang membawa kebenaran, kita harus menerima. Ini adalah bentuk jidal maḥmūd (perdebatan terpuji).

4. Tahap keempat: Ta‘allum dzātī (belajar mandiri). Ini dilakukan setelah fase menuntut ilmu secara langsung selesai. Seseorang mulai membaca sendiri, meneliti sendiri, menyusun catatan, dan menggali faidah dari buku maupun rekaman kajian. Ini sangat penting untuk pengembangan pribadi dan pendalaman ilmu.

5. Tahap kelima: Mengajar.
Bukan sekadar menyampaikan, tapi kamu sedang memperkuat dan meneguhkan ilmumu sendiri. Dalam proses mengajar, kamu sebenarnya sedang belajar ulang dan memperdalam ilmu.
---
Dan semua tahap itu seharusnya bermuara pada tahap tertinggi: Menulis dan melakukan penelitian ilmiah.
Setiap penuntut ilmu, untuk menyempurnakan proses belajarnya, harus menulis.

✅ Jika ia sudah layak menjadi peneliti dan penulis, maka ia menulis untuk dirinya dan untuk orang lain.
✅ Jika belum, maka ia menulis untuk dirinya sendiri.

Menulis itu bisa dimulai dari pertanyaan, dari kebingungan terhadap satu masalah. Itulah awal dari riset ilmiah.
Apa yang menjadi sumber perbedaan? Apakah kaidah usuliyah? Kaidah fikih? Haditsnya? Tafsir ayatnya? Apa titik masalahnya?

Kamu mungkin cenderung pada satu pendapat, tapi belum yakin. Maka, tulislah!
Tulis dulu untuk dirimu. Jangan langsung diterbitkan.
Tulis agar kamu tahu mana yang benar.
Kemudian, setelah menulis dan meneliti, berikan tulisan itu kepada para guru dan senior ilmumu. Kalau mereka anggap layak untuk disebarkan, maka silakan. Kalau belum, tahan dulu.

Saya menasihati para penuntut ilmu tingkat lanjut:
Luangkan waktu setiap hari untuk membaca ilmu dan menulis ilmu.
Meskipun hanya satu kalimat.
Satu halaman sebelum tidur.
Satu masalah yang kamu pikirkan.
Satu tulisan tentang masalah ilmiah yang kamu teliti.
Konsisten menulis dan membaca akan membentukmu menjadi penuntut ilmu sejati yang bermanfaat bagi diri sendiri dan umat.
---
Saya hanya ingin mengingatkan diriku dan kalian semua.
Dan saya yakin, kalian bisa jadi lebih baik dari saya dalam banyak hal yang saya sampaikan.

✍️ Diringkas dari Nasehat beliau kepada para Asatidzah Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya saat Liqo Maftuh 1 Juli 2025 di Dauroh Syariyyah ke-24 Batu.
Ustadz dagi abu usamah