Kamis, 27 November 2025

Tritauhid ala Asy'ariy

Tritauhid ala Asy'ariy

Sebagian orang memplesetkan pembagian tauhid menjadi tiga dengan istilah "tritauhid" (dimiripkan dengan trinitas kaum nasrani). Padahal, tauhid menurut ulama asyariah itu juga ada 3 (tiga), yaitu:
1. Tauhid Dzat.
2. Tauhid Sifat.
3. Tauhid Af'al (perbuatan).

Ini sebagaimana disebutkan Syaikh Kamal bin Abi Syarif bin Al-Hamam dalam Kitab Al-Musamarah (hal. 47) :

التوحيد هو اعتقاد الوحدانية في الذات والصفات والأفعا

"Tauhid adalah keyakinan tentang keesaan (Allah) dalam Dzat, Sifat, dan Af'al".

Al-'Allamah As-Sanusiy atau As-Sinusiy (salah satu ulama rujukan Asy'ariyah mutakhirin) dalam Syarah Ummul-Barahin juga membagi tauhid menjadi 3 jenis :

1- Tauhid Adz-Dzat (penetapan Allah hanya satu).
2- Tauhid Ash-Shifat (penetapan bahwa sifat Allah tidak disamai oleh makhluk).
3- Tauhid Al-Af'al (penetapan hak mutlak Allah dalam penciptaan, kodrat, dan pengurusan alam semesta).

Al-Bajuri rahimahullah juga menyatakan :
“Kesimpulannya bahwasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya…”
(Hasyiah Al-Bajuri ‘alaa Jauharot At-Tauhid, hal. 114)

Pembagian tauhid menjadi dua, tiga, atau empat itu berdasarkan istiqra (penelitian) dari nash-nash yang ada jadi bukan hasil mengarang bebas.

Berikut di antara ulama ahlussunnah yang membagi tauhid menjadi tiga yakni tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma wa shifat :

1. Al-Imam Abu Hanifah (w. 150 H) 
2. Al-Qadhi Abu Yusuf (w. 182 H) 
3. Al-Imam Ath-Thabari (w. 310 H)
4. Al-Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi (w. 321 H)
5. Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari (w. 387 H)
6. Al-Hafizh Ibnu Mandah (w. 395 H)
7. Al-Imam Ibnu Abdul Barr (w. 463 H)

Dan lainnya dari kalangan para ulama Ahlul Hadits wal Atsar rahimahumullah baik kalangan salaf maupun khalaf.

Ada juga para ulama yang membagi tauhid menjadi dua yakni tauhid Al-Ma'rifat wal Itsbat dan tauhid Al-Qashdu wa Ath-Thalab diantaranya :

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H)
2. Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H)

Lalu, jika kita membaca Al-Qaulul Mufid yang ditulis oleh ulama kontemporer dari Yaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushabi Al-Abadi, beliau membagi tauhid menjadi empat yakni :
1. Tauhid rububiyah
2. Tauhid uluhiyah
3. Tauhid asma wa shifat
4. Tauhid mutaba'ah

Jika kamu bertanya mana referensinya silakan baca Al-Qaulus Sadid fir Raddi 'ala Man Ankara Taqsimit Tauhid karya Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah dan tulisan-tulisan di internet yang banyak sekali.

Allahu a'lam

PEMBAGIAN TAUHID 3⃣

PEMBAGIAN TAUHID 3⃣

Ada yang menyatakan bahwa Konsep 3 Tauhid yang komprehensif adalah produknya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Menurut saya, pernyataan ini perlu ditinjau ulang, sebab konsep pembagian tersebut sudah ada jauh sebelum Syaikhul-Islam yang wafat pada 728 H. Berikut diantaranya :

1⃣ Al-Imam Al-‘Allamah Abu Bakr Ath-Thurthūsyī Al-Malikī (w. 520 H), ia bertutur dalam Sirājul-Mulūk :

 وأشهد له بالربوبيَّة والوحدانية، وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى والصفات العلى والنعوت الأوفى

“Dan aku bersaksi kepada Allah dengan Rubūbiyyah, Wahdaniyyah (Uluhiyyah), dan dengan segala sesuatu yang Allah persaksikan bagi diri-Nya dari nama-nama yang paling baik serta sifat-sifat yang tinggi lagi sempurna”.[]

2⃣ Syaikhul-Imam Ibn Baththah Al-‘Ukbarī Al-Hanbalī (w. 387 H), dalam kitabnya Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, ia bertutur :

وَذَلِكَ أَنَّ أَصْلَ الإِيمَانِ بِاللَّهِ الَّذِي يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اعْتِقَادُهُ فِي إِثْبَاتِ الإِيمَانِ بِهِ ثَلاثَةُ أَشْيَاءَ:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ الْعَبْدُ آنِيَّتَهُ لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُبَايِنًا لِمَذْهَبِ أَهْلِ التَّعْطِيلِ الَّذِينَ لا يُثْبِتُونَ صَانِعًا. (Rububiyyah)

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْتَقِدَ وَحْدَانِيَّتَهُ، لِيَكُونَ مُبَايِنًا بِذَلِكَ مَذَاهِبَ أَهْلِ الشِّرْكِ الَّذِينَ أَقَرُّوا بِالصَّانِعِ، وَأَشْرَكُوا مَعَهُ فِي الْعِبَادَةِ غَيْرَهُ. (Wahdaniyyah atau Uluhiyyah)

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَعْتَقِدَهُ مَوْصُوفًا بِالصِّفَاتِ الَّتِي لا يَحُوزُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَوْصُوفًا بِهَا مِنَ الْعِلْمِ، وَالْقُدْرَةِ، وَالْحِكْمَةِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ، إِذْ قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يُقَرِّبُهُ، وَيُوَحِّدُهُ بِالْقَوْلِ الْمُطْلَقِ قَدْ يُلْحِدُ فِي صِفَاتِهِ، فَيَكُونُ إِلْحَادُهُ فِي صِفَاتِهِ قَادِحًا فِي تَوْحِيدِهِ؛ (Al-Asma’ was-Shifat)

وَلأَنَّا نَجِدُ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ خَاطَبَ عِبَادَهُ بِدُعَائِهِمْ إِلَى اعْتِقَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ فِي هَذِهِ الثَّلاثِ وَالإِيمَانِ بِهَا،

“Demikian itu disebabkan karena pokok keimanan kepada Allah yang diwajibkan kepada makhluknya untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya mencakup tiga hal:...

1) Rububiyyah
2) Wahdaniyyah aka Uluhiyyah
3) Al-Asma’ was-Shifat

Selain itu kita juga mendapatkan bahwa Allah ta'ala telah berbicara kepada hamba-Nya dengan menyeru mereka untuk meyakini ketiga hal di atas dan sekaligus mengimaninya...”[]

3⃣ Imam Abū Manshūr Al-Māturīdī Al-Hanafī (w. 333 H), dalam Tafsirnya Ta‘wīlat Ahlis-Sunnah, ia bertutur :

ثم قوله: (لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ) - يحتمل: الشرك في الاعتقاد، وهو أن يشرك غيره في ربوبيته وألوهيته، وبين أن يشرك غيره في عبادته

“Kemudian firman-Nya: (Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar), -ini mungkin syirik dalam i'tiqad, yaitu dia menyekutukan Allah dalam Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, dan menyekutukan Allah dalam ibadah kepada-Nya”.[]

🔴 Perhatikan penuturan Abū Manshūr Al-Māturīdī, pengasas Madzhab Akidah Maturidiyyah, beliau secara jelas membagi Tauhid kepada Rububiyyah dan Uluhiyyah, bahkan menyatakan bahwa kesyirikan bisa terjadi, baik pada Rububiyyah atau Uluhiyyah. Bedanya dengan Atsariyyah adalah pada penjelasan rinci tentang Al-Asma’ wa Ash-Shifat.

Semoga berfaedah.

Salam Persahabatan
Alfan Edogawa

Pembagian Tauhid Menurut Para Asy'ari

Pembagian Tauhid Menurut Para Asy'ari

Oleh : Ustadz Naufal Al-Azhari

Akhir-akhir ini terjadi perdebatan yang sengit antara para Asy'ari dan para Atsari tentang pembagian tauhid, para Asy'ari mengatakan bahwasanya konsep pembagian tauhid tidak pernah dilakukan oleh para Salaf tetapi konsep tersebut disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), bahkan ada yang menyamakan pembagian tauhid seperti trinitas yang diyakini oleh orang-orang Kristen (Tuhan terdiri dari Bapak, Anak dan Roh Kudus) atau trimurti (Tiga kekuatan dewa: Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara) dan Siwa (Penghancur)) yang diyakini oleh orang-orang Hindu.

Tetapi, ternyata para Asy'ari juga membagi tauhid menjadi beberapa bagian dengan tujuan mempermudah pembelajaran juga, ada yang membagi tauhid menjadi dua, ada yang menjadi tiga dan ada yang membagi menjadi empat. Silakan perhatikan kutipan para ulama Asy'ari di bawah ini :

1) Imam Abul Qasim Al Qusyairi (w. 465 H) berkata dalam Ar Risalatul Qusyairiyah :

التوحيد ثلاثة: توحيد الحق للحق، وتوحيد الحق سبحانه وتعالى للخلق، وتوحيد الخلق للحق سبحانه وتعالى

"Tauhid dibagi menjadi tiga bagian: Tauhid Allah bagi Allah (Ilmu-Nya), Tauhid Allah bagi hamba-Nya (Ketentuan-Nya, bahwa hamba mentauhidkan dan menjadi ciptaan-Nya, atau disebut tauhidnya hamba) dan Tauhid makhluk kepada-Nya."

2) Syaikh Kamaluddin bn Abi Syarif (w. 906 H) berkata dalam Al Musamarah Syarah Al Musayarah :

التوحيد هو اعتقاد الوحدانية في الذات والصفات والأفعال، وذهب بعض المتأخرين إلى تقسيم التوحيد إلى قسمين
الأول: توحيد الربوبية :  الاعتقاد الجازم بأن الله رب كل شيئ ولا رب غيره
الثاني :  توحيد الألوهية: الاعتقاد بأن الله سبحانه وتعالى هو الإله الحق ولا إله غيره وإفراده سبحانه بالعبادة .

"Tauhid adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam Dzat, Sifat dan Af'al. Sebagian kalangan belakangan (Muta'akhirin) membagi tauhid menjadi dua: Rububiyyah dan Uluhiyyah. Tauhid Rububiyyah adalah meyakini bahwasanya Allah adalah Tuhan bagi segala sesuatu dan Tiada Tuhan selain-Nya. Tauhid Uluhiyyah adalah meyakini bahwasanya Allah adalah Tuhan yang Benar, tidak ada Tuhan selain-Nya dan mengesakan Allah dalam beribadah."

3) As Sayyid Al Murtadha Az Zabidi (w. 1205 H) berkata dalam Tajul Arus :

التوحيد توحيدان: توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية، فصاحب توحيد الربوبية يشهد قيومية الرب فوق عرشه يدبر أمر عباده وحده فلا خالق ولارازق ولا معطي ولا مانع ولا محيي ولا مميت ولا مدبر لأمر الملكة ظاهراً وباطناً غيره . وأما توحيد الإلهية فهو أن يجمع همته وقلبه وعزمه وإرادته وحركاته على أداء حقه والقيام بعبوديته 

"Tauhid terbagi menjadi dua: Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah. Orang yang mentauhidkan Allah dalam rububiyyah bersaksi atas sifat qayyumiyah Allah di atas Arsy-Nya, mengatur urusan hamba-Nya semata, tidak ada pencipta, pemberi rezeki, pemberi terhadap apa yang dicegah, pencegah apa yang diberi, menghidupkan, mematikan dan mengatur urusan kerajaan-Nya baik perkara yang zhahir maupun bathin selain-Nya.

Sedangkan Tauhid Uluhiyyah adalah menggabungkan antara keinginannya, hatinya, tekadnya, pergerakannya untuk menunaikan hak-Nya dan menyembah-Nya."

4) Syaikh Hisyam Al Kamil Musa Hamid berkata dalam Fathul Allam Syarhu Manzhumati Aqidatil Awwam :

فائدة: التوحيد على أربعة أقسام: توحيد الألوهية، وتوحيد الأفعال، وتوحيد الصفات، وتوحيد الذات

"Faedah: Tauhid terbagi menjadi empat macam: Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Af'al, Tauhid Shifat dan Tauhid Dzat."

5) Syaikh Nizar Hamadi, seorang pendekar ASWAJA Asy'ari asal Tunisia berkata dalam Aqsamu Tauhid wal Wahdaniyyah Inda Ahlissunnah Al Asya'irah (Sumber: https://archive.org/details/TawhidAchari/page/n2/mode/1up )

"Tauhid terbagi menjadi empat:

1) Tauhid Ibadah

Yaitu meyakini keesaan Allah dalam kerberhakan atas ibadah. Maksudnya, meyakini hanya Allah saja yang berhak disembah atau diibadahi. Ibadah sendiri artinya totalitas dalam ketundukan dan dalam kepatuhan kepada syariat yang telah digariskan oleh Allah.

2. Tauhid Uluhiyah

Yaitu meyakini keesaan Allah dalam sifat-sifat Uluhiyah, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan ketidakbutuhan Allah pada selain-Nya. Sifat-sifat ini andaikan hilang, maka akan hilang pula sifat ketidakbutuhan tersebut dan berubah menjadi butuh pada pihak lain. Sifat-sifat Uluhiyah adalah: Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafah lil Hawadis, Qiyam bin Nafs, Sama’, Bashar dan Kalam.

3. Tauhid Rububiyah

Yaitu meyakini keesaan Allah dalam sifat-sifat Rububiyah, yaitu sifat-sifat yang menunjukkan kebaharuan makhluk dan dependensi mereka kepada Allah. Sifat-sifat ini andaikan hilang, maka makhluk akan berubah menjadi independen atau tak butuh pada Allah. Sifat-sifat Rububiyah adalah Qudrah, Irodah, Ilmu, Hayat dan Wahdaniyah.

4. Tauhid Asmaul Husna

Yaitu meyakini keesaan Allah dalam keberhakan atas nama-nama dan sifat-sifat mulia yang telah Dia tetapkan secara azali (tanpa permulaan). Konsekuensinya, tak ada selain Allah yang berhak menyandang nama dan sifat tersebut secara hakiki."

Itulah pembagian tauhid menurut para ulama Asy'ari yang mungkin tidak diketahui oleh para Asy'ari sendiri, semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kekurangan.

Allahu A'lam

APA ITU ISTISH-HA'?

APA ITU ISTISH-HA'? 

Sebagaimana kemarau panjang bisa mencelakakan, begitupula curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan pun bisa mencelakakan. 

Apabila bumi mengering karena kemarau kita disunnahkan untuk melakukan ISTISQA' (meminta hujan), maka tatkala hujan terus menerus turun hingga menyebabkan bencana kita pun disunnahkan untuk melakukan ISTISH-HA' (Meminta hujan dipindahkan). 

Disunnahkan kaum muslimin apabila khawatir celaka karena curah hujan yang deras untuk berdoa dan meminta kepada Allah agar hujan dipindahkan dan agar langit kembali cerah. Dan disunnahkan juga bagi para khatib untuk berdoa diatas mimbar tatkala khutbah jum'at. Disyariatkan bagi khatib dan makmum untuk mengangkat kedua tangan ketika melakukan ISTISH-HA' sebagaimana mereka mengangkat tangan ketika melakukan ISTISQA'. 

Di antara doa ISTISH-HA' yang ma'tsur dari Nabi adalah:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، ولَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ علَى الآكَامِ والجِبَالِ، والآجَامِ والظِّرَابِ، والأوْدِيَةِ ومَنَابِتِ الشَّجَرِ
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, bebukitan, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan." (HR.Bukhari no. 1013 dan Muslim no. 897) 

Dari Anas bin Malik, bahwasanya pernah ada seseorang memasuki masjid pada hari Jumat dari pintu yang menghadap Darul Qadha (rumah 'Umar bin Al Khaththab). Saat itu Rasulullah ﷺ sedang berdiri menyampaikan khotbah, orang itu lalu berdiri menghampiri Rasulullah seraya berkata: "Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak mati, sementara ladang dan perairan pun kian terputus. Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kami!" Anas bin Malik berkata, "Lantas Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya seraya berdoa;

'ALLAAHUMMA AGHITSNAA, ALLAAHUMMA AGHITSNAA, ALLAAHUMMA AGHITSNAA
(Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan).

Anas bin Malik melanjutkan: "Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan yang tebal maupun yang tipis antara keberadaan kami dengan bukit Sala', bahkan dari rumah penduduk sekalipun. Tiba-tiba dari bukit itu muncul awan (berbentuk bulat) bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar, lalu turunlah hujan." Anas bin Malik melanjutkan: "Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari setelah itu. Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seseorang masuk kembali dari pintu masjid yang sama, sementara Rasulullah ﷺ tengah berdiri menyampaikan khotbahnya. Orang itu lalu berdiri menghampiri beliau seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, Hewan-hewan ternak kami hanyut, sementara ladang dan perairan terputus (karna luapan air). Mohonkanlah kepada Allah agar menghentikan hujan untuk kami!' Maka Rasulullah ﷺ pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa;

 'ALLAAHUMMA HAULANAA WA LAA 'ALAINAA, ALLAAHUMMA 'ALAL AAKAAM, WADZ DZIRAB, WA BUTHUUNIL AUDIYAH, WA MANAABITISY SYAJAR
(Ya Allah, Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah, turunkanlah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan tempat-tempat yang menumbuhkan pepohonan).

 Anas bin Malik berkata: "Maka hujan pun terhenti. Lalu kami keluar berjalan-jalan di bawah terik matahari."

🖋 Abu Ibrahim Yami Cahyanto, Lc.

Prof. Hasan Asy-Syafi'iy Al-Asy'ariy bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh Asy'ariy paling senior yang masih hidup. . Di dalam penelitiannya tentang pemikiran teologi Al-Amidiy, beliau ketika membahas masalah af'alul ibad beliau menyatakan

Prof. Hasan Asy-Syafi'iy Al-Asy'ariy bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh Asy'ariy paling senior yang masih hidup. . Di dalam penelitiannya tentang pemikiran teologi Al-Amidiy, beliau ketika membahas masalah af'alul ibad beliau menyatakan:

“Sebaik-baik sikap dalam persoalan ini adalah kembali kepada pandangan/sikap salafiy, yaitu bahwa tidak ada Pencipta selain Allah Ta'ala; namun pada saat yang sama hamba tetap merupakan pelaku bagi perbuatannya, dan kemampuannya memiliki pengaruh dalam (terjadinya) perbuatan itu.”

   — Al-Amidiy wa-Araauhu al-Kalamiyyah: 477.
ustadz natsier al anqory

Sebab Hanyalah Perantara, Bukan Pencipta Manfaat dan Bahaya]Berdasarkan: I‘anah al-Mustafid, Syaikh Shalih l-Fauzan, Jilid 1 hlm. 155

[Sebab Hanyalah Perantara, Bukan Pencipta Manfaat dan Bahaya]
Berdasarkan: I‘anah al-Mustafid, Syaikh Shalih l-Fauzan, Jilid 1 hlm. 155

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan kaidah penting dalam akidah: segala manfaat dan mudarat hakikatnya berasal dari Allah, sedangkan makhluk dan benda-benda di alam ini hanyalah sebab (perantara). Makan dan minum dari makanan yang baik memang memberi manfaat bagi tubuh, tetapi makanan itu sendiri tidak menciptakan manfaat. Sang pencipta manfaat hanyalah Allah سبحانه وتعالى.
 Demikian pula racun yang mematikan atau api yang membakar; keduanya tidak bertindak secara independen, melainkan hanya bekerja sebagai sebab yang Allah ciptakan.

Beliau mencontohkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām ketika dilemparkan ke dalam api. Allah berfirman dalam ayat lain:
﴿قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ﴾
"Kami berfirman: ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim’."

Saat itu, sifat membakar api dicabut oleh Allah, sehingga api menjadi dingin dan menyelamatkan. Hal ini membuktikan bahwa api tidak mandiri dalam memberi bahaya, tetapi tunduk kepada kehendak Allah. Demikian pula semua sebab, bisa diputus efeknya kapan saja oleh Allah.

Ketika Syaikh Shalih membahas bab “man tabarraka bi hajar aw syajar” – orang yang mencari barakah dari batu atau pohon – beliau menegaskan: barang siapa meyakini batu, pohon, atau benda lain sebagai sumber barakah tanpa dalil dari Allah, maka ia telah jatuh pada syirik. Barakah (keberkahan: banyaknya kebaikan, tetapnya, dan berkembangnya) hanya dari Allah, dan hanya ada pada sebab-sebab yang Allah tetapkan sebagai mubārak, seperti:
• Air Zamzam,
• Para nabi,
• Ka‘bah al-Musyrifah.

Allah berfirman:
﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ﴾
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam."

Namun Ka‘bah sendiri tidak menciptakan barakah; barakahnya ada pada ibadah-ibadah yang Allah syariatkan di sekitarnya: thawaf, shalat, haji, umrah, dan selainnya. Maka barakah bukan sifat mandiri benda, tetapi pemberian Allah melalui sebab-sebab yang Dia pilih.
ustadz hasan al jaizy

Saat Heraklius Tersentak: Mengapa Pasukan Besar Kalah dari Kaum Beriman?”

“Saat Heraklius Tersentak: Mengapa Pasukan Besar Kalah dari Kaum Beriman?”

Heraklius dilanda kegelisahan dan kesedihan karena kekalahannya dalam Perang Yarmuk. Padahal pasukannya berjumlah 240.000 tentara atau lebih, sedangkan pasukan kaum Muslimin hanya sekitar 38.000 tentara.

Ketika sisa-sisa pasukannya kembali kepadanya, ia berkata:

"Celakalah kalian, beritahu aku! Bukankah mereka (kaum Muslimin) manusia biasa seperti kalian?"
Mereka menjawab: "Benar!"

"Kalian lebih banyak atau mereka?"
Mereka menjawab: "Kami lebih banyak..."

Heraklius bertanya:
"Lalu mengapa kalian kalah?! Apa sebabnya kalian selalu mundur?"

Salah seorang dari mereka berkata:
"Aku akan memberitahumu, tapi berikan aku jaminan keselamatan."

Heraklius berkata:
"Katakanlah, engkau aman."

Laki-laki itu berkata:

"Mereka juga manusia seperti kami, tetapi mereka melaksanakan shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebaikan, melarang kemunkaran, dan berlaku adil di antara mereka.
Sedangkan kami: minum khamr, berzina, melakukan keharaman, mengingkari janji, mudah marah, berbuat zalim, memerintahkan hal-hal yang dimurkai, melarang hal-hal yang diridhai Tuhan, dan membuat kerusakan di bumi."

Dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

**"Kita mengalahkan mereka dengan ketaatan kita dan banyaknya dosa mereka.

Maka jika dosa kita dan dosa mereka sama, niscaya mereka akan mengalahkan kita."**

— Al-Bidāyah wa an-Nihāyah karya Ibnu Katsir

1. Kekuatan Sejati Bukan pada Jumlah, tetapi pada Ketaatan

Pasukan Romawi berjumlah lebih dari 240.000, sementara kaum Muslimin hanya sekitar 38.000. Namun kemenangan tetap berada di pihak Muslimin.
Pelajaran:

Kemenangan tidak diukur dari banyaknya jumlah pasukan atau kekuatan materi.

Allah menolong hamba-Nya ketika mereka taat, ikhlas, dan menjaga agama.

> “Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249)

2. Amalan Malam dan Disiplin Ibadah Menguatkan Hati

Prajurit Romawi berkata:

> “Mereka shalat malam, berpuasa, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah yang mungkar…”

Pelajaran:

Shalat malam membangunkan kekuatan ruhani dan keteguhan jiwa.

Puasa melatih kesabaran dan mengendalikan hawa nafsu.

Keteguhan dalam amar ma’ruf nahi munkar menegakkan moralitas dan kedisiplinan umat.

3. Maksiat Melemahkan Kekuatan

Prajurit Romawi melanjutkan:

> “Sedangkan kami minum khamar, berzina, melanggar janji, marah, zalim, dan merusak di bumi…”

Pelajaran:

Dosa meruntuhkan kekuatan dari dalam.

Maksiat membuat seseorang tidak fokus, lemah tekad, dan mudah dikalahkan.

Masyarakat yang rusak moralnya tidak dapat berdiri kokoh menghadapi musuh.

4. Perkataan Umar bin al-Khattab: Kunci Kemenangan Umat

Umar berkata:

> “Kita mengalahkan mereka dengan ketaatan kita dan banyaknya dosa mereka. Jika dosa kita sama dengan mereka, maka mereka akan mengalahkan kita.”

Pelajaran:

Umat ini tidak akan menang hanya dengan teknologi atau jumlah, tetapi dengan ketaatan kepada Allah.

Ketika umat mulai mengikuti gaya hidup maksiat, kehinaan akan datang.

Setiap dosa yang dilakukan individu memberi dampak pada kondisi umat secara keseluruhan.

5. Hubungan antara Kondisi Spiritual dan Kekalahan atau Kemenangan

Kisah ini mengajarkan bahwa kondisi ruhani suatu bangsa mempengaruhi hasil pertempuran atau tantangan hidup.

Pelajaran:

Hati yang bersih, taat, dan dekat dengan Allah menimbulkan keteguhan luar biasa.

Hati yang penuh maksiat menjadi rapuh dan mudah kalah, bahkan sebelum menghadapi musuh.

6. Pentingnya Menepati Janji dan Menjaga Integritas

Muslim memenangkan hati musuh karena kejujuran dan integritas mereka.

Pelajaran:

Keberkahan hidup datang dari sifat amanah.

Individu yang jujur lebih dihormati dan lebih kuat auranya.

Pengkhianatan adalah penyebab kehinaan.

7. Bangsa yang Bermoral adalah Bangsa yang Tangguh

Ketika kaum Muslimin kuat akidahnya, ibadahnya, dan akhlaknya—mereka menjadi kekuatan yang tidak bisa dikalahkan.

Pelajaran:

Pendidikan spiritual adalah fondasi kejayaan umat.

Rumah tangga, sekolah, dan masyarakat harus membangun moral sebelum membangun fisik.

8. Maksiat Mengundang Kemurkaan Allah dan Menghilangkan Pertolongan

Romawi bukan kalah karena strategi militer semata, tetapi karena Allah mencabut keberkahan mereka.

Pelajaran:

Jangan meremehkan dosa kecil; dosa kecil jika terus dilakukan menjadi penyebab hilangnya keberkahan hidup.

Pertolongan Allah adalah segalanya.
Ustadz ahmad laode