Kamis, 01 Oktober 2026

KISAH KETEKUNAN SYAIKH AL-ALBANI DI PERPUSTAKAAN AZH-ZHAHIRIYAH

KISAH KETEKUNAN SYAIKH AL-ALBANI DI PERPUSTAKAAN AZH-ZHAHIRIYAH

Perpustakaan Azh-Zhahiriyah memiliki tempat yang sangat penting dalam perjalanan ilmiah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Beliau dikenal sangat tekun mendatangi perpustakaan tersebut. Berjam-jam beliau habiskan untuk membaca, meneliti, memeriksa manuskrip, dan menelusuri berbagai sumber ilmu.

Karena keseriusan dan ketekunannya, para pengelola perpustakaan akhirnya memberikan dua keistimewaan yang hampir tidak diberikan kepada orang lain:
1. Sebuah ruangan khusus untuk beliau.
2. Kunci perpustakaan.

Dengan kunci tersebut, beliau bisa datang sebelum para pegawai membuka perpustakaan dan pulang setelah mereka menutupnya.

Syaikh Muhammad Ash-Shabbagh pernah menggambarkan keadaan Al-Albani ketika berada di perpustakaan dengan ungkapan yang sangat indah:

كانت عين في الكتاب وعين في السائل

“Satu matanya tertuju kepada kitab dan satu matanya tertuju kepada orang yang bertanya.”

Ungkapan ini menggambarkan betapa kuatnya perhatian dan kecintaan beliau terhadap ilmu, kitab, penelitian, dan pencarian kebenaran.

KISAH LEMBARAN YANG HILANG

Suatu ketika, Syaikh Al-Albani mengalami gangguan pada matanya. Dokter menyarankan beliau untuk berhenti membaca dan beristirahat selama 6 bulan karena matanya terlalu banyak digunakan untuk membaca.

Namun, bagi seorang yang telah terbiasa dengan kitab dan penelitian, tentu hal itu bukan perkara mudah.

Beliau kemudian memberikan sebuah manuskrip kitab Dzam Al-Malahi karya Ibnu Abi Ad-Dunya kepada seorang penyalin untuk disalin.

Ketika penyalin tersebut sampai pada bagian tertentu, ia menemukan adanya satu lembar yang hilang. Ia tidak dapat menghubungkan pembahasan sebelum dan sesudah bagian tersebut.

Ia pun datang kepada Syaikh Al-Albani dan memberitahukan bahwa ada lembaran yang hilang.

Syaikh berkata kepadanya:

“Berhentilah sampai saya mencarikan lembaran itu untukmu.”

Awalnya beliau menganggap pencarian tersebut sebagai sesuatu yang ringan. Beliau hanya ingin mencari satu lembaran, tidak berniat banyak membaca dan meneliti agar tidak membebani matanya.

Di Perpustakaan Azh-Zhahiriyah terdapat kumpulan lembaran dan manuskrip yang belum diketahui judul, penulis, maupun penyalinnya. Tempat tersebut dikenal dengan nama ad-Dasyt.

Syaikh Al-Albani mulai mencari lembaran yang hilang.

Namun, ternyata pencarian satu lembaran tersebut membuka pintu ilmu yang sangat luas.

Beliau menemukan beberapa kitab yang sebelumnya belum dikenali oleh para pengelola perpustakaan maupun para peneliti. 

Di antaranya:
• Musnad As-Siraj
• Musnad Asy-Syihab
• Taudhih Al-Musytabih karya Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi

Lembaran yang dicari belum juga ditemukan.

Beliau kemudian berpikir:

“Barangkali lembaran itu terselip di kitab-kitab hadis.”

Beliau pun mulai memeriksa kitab-kitab hadis.

Setelah itu kitab-kitab biografi.

Kemudian kitab-kitab bahasa.

Kemudian kitab-kitab fikih.

Tanpa terasa, beliau telah menjelajahi berbagai bagian Perpustakaan Azh-Zhahiriyah.

Dan di sinilah muncul sebuah pelajaran yang sangat berharga.

Beliau menyadari bahwa selama mencari satu lembaran yang hilang, ternyata beliau telah menemukan begitu banyak faedah ilmiah.

Beliau pun berkata kepada dirinya:

“Kalau begitu, aku harus kembali dan mencatat semua faedah yang telah aku dapatkan selama pencarian ini.”

Beliau kembali menelusuri kitab-kitab hadis.

Setiap menemukan hadis beserta sanadnya, beliau mencatatnya pada selembar kertas.

Kertas-kertas tersebut sangat beragam. Ada yang besar, kecil, kertas koran, kertas kalender, dan berbagai kertas bekas lainnya.

Hal ini juga menggambarkan keadaan kehidupan beliau pada masa awal menuntut ilmu. Beliau tidak memiliki banyak uang untuk membeli kertas, sehingga berbagai lembaran yang tersedia beliau manfaatkan untuk mencatat ilmu.

Namun keterbatasan tersebut tidak menghalangi semangatnya.

Beliau terus membaca, mencari, meneliti, dan mencatat.

Bahkan beliau pernah berkata bahwa ketika sedang mencari hadis di rak-rak perpustakaan, beliau bisa berdiri di atas tangga selama satu, dua, bahkan tiga jam dan tidak terasa waktu berlalu. 

Akhirnya, terkumpullah catatan hadis dalam jumlah yang sangat besar, hingga sekitar 40 jilid.

Setiap jilid memuat sekitar 400 hadis beserta sumber-sumbernya.

Catatan tersebut berasal dari berbagai kitab dalam bidang hadis, biografi, ilmu rijal, tafsir, akidah, fikih, sejarah, dan berbagai cabang ilmu lainnya.

Syaikh Al-Albani kemudian menamakan hasil pekerjaan tersebut:

معجم الحديث

Mu'jam Al-Hadits.

Beliau mengatakan bahwa kitab tersebut bagaikan sebuah sungai yang menjadi sumber bagi karya-karya takhrij dan tulisan-tulisan beliau yang lainnya, serta menjadi rujukan untuk mengetahui kitab dan sumber yang beliau gunakan.

AKHIRNYA, LEMBARAN ITU DITEMUKAN

Bertahun-tahun kemudian, seseorang yang sedang berada di Arab Saudi menemukan sebuah salinan lengkap kitab Dzam Al-Malahi dalam sebuah surat kabar yang memuat kajian tentang manuskrip dan turats.

Di dalamnya terdapat foto lembaran yang selama ini dicari oleh Syaikh Al-Albani.

Lembaran yang hilang itu akhirnya ditemukan.

Orang tersebut kemudian membawa salinan foto lembaran tersebut kepada Syaikh Al-Albani dan bertanya:

“Apakah Syaikh masih ingat kisah lembaran yang hilang?”

Syaikh menjawab:

“Ya.”

Kemudian ia berkata:

“Inilah lembaran yang hilang itu.”

Syaikh Al-Albani pun tertawa dan merasa sangat gembira.

Subhanallah...

Satu lembaran yang hilang ternyata menjadi sebab lahirnya perjalanan panjang pencarian ilmu.

Dari mencari satu lembaran, beliau menemukan begitu banyak faedah dan kitab.

Dari keterbatasan kertas, lahir catatan-catatan ilmu yang berjumlah puluhan jilid.

Dari kesulitan, lahir karya.

Dan dari ketekunan yang terus dijaga, Allah memberikan hasil yang luar biasa.

Inilah salah satu gambaran kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu.

Ilmu tidak diraih hanya dengan keinginan, tetapi dengan kesabaran, ketekunan, waktu yang panjang, dan kesungguhan dalam mencari serta mencatatnya.

وَذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ

“Dan itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Semoga Allah merahmati Syaikh Al-Albani dan membalas beliau dengan kebaikan atas jasa beliau kepada kaum Muslimin.

اللهم بارك لنا في أوقاتنا، وارزقنا العلم النافع والعمل الصالح.
__
Andre Satya Winatra
Maktabah Riyadhushalihin