Jumat, 09 Oktober 2026

Saya tetap berpendapat bahwa sikap keras sebagian kalangan Salafi terhadap Asy'ari, dan begitu pula sebaliknya sikap keras sebagian Asy'ari terhadap Salafi, pada dasarnya lahir dari lemahnya wawasan sejarah serta ketidakjelasan dalam membedakan antara perkara fundamental dan perkara partikular.

Dr. ‘Abd al-Karim Bakkar:

Saya tetap berpendapat bahwa sikap keras sebagian kalangan Salafi terhadap Asy'ari, dan begitu pula sebaliknya sikap keras sebagian Asy'ari terhadap Salafi, pada dasarnya lahir dari lemahnya wawasan sejarah serta ketidakjelasan dalam membedakan antara perkara fundamental dan perkara partikular. 

Persoalan-persoalan akidah yang muncul pada abad ketiga dan keempat Hijriah, sekiranya itu diajukan kepada para sahabat—semoga Allah meridhai mereka—niscaya mereka pun akan berbeda dalam memberikan jawabannya, sebagaimana generasi setelah mereka juga berbeda pendapat. 

Hal itu disebabkan karena nash-nash yang berkaitan dengan persoalan akidah mengandung kemungkinan untuk dipahami secara beragam. 

Kemampuan akal tidak cukup untuk menyelesaikan perbedaan dalam persoalan-persoalan partikular dan cabang, betapa pun tinggi tingkatan wawasannya.

Mereka semua pada dasarnya telah bersepakat pada dua perkara yang sangat fundamental: bahwa (1) Allah Ta‘ala tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya, dan bahwa (2) Dia disucikan dari segala sesuatu yang tidak layak untuk disematkan kepada-Nya. 

Dua perkara ini semestinya sudah cukup untuk membentuk sebuah kerangka acuan bersama yang komprehensif. Adapun apa yang berada di baliknya, hendaknya dipandang sebagai wilayah ijtihad yang masih dapat ditampung oleh nash, jiwa manusia, dan akal. 

Hanya saja, semoga Allah menghilangkan fanatisme, sikap taklid, dan sempitnya wawasan.

[Kutipan selesai.] 

☆☆☆☆☆ 

Komentar: 

Sebetulnya yang menjadi sumber masalah utama adalah buruknya sikap (cacian, hinaan, dst) yang kerap mengiringi pembahasan—sekiranya pun sejumlah ikhtilaf dinilai substansial oleh masing-masing kalangan. Padahal terhadap Ahli Kitab pun kita diperintahkan untuk berdiskusi dengan cara yang paling baik (QS al-'Ankabut: 45)—apalagi terhadap sesama muslim yang sama-sama bernisbat kepada Ahli Sunnah. 

Ada mindset yang keliru bahwa seolah-olah semangat nahi munkar itu perlu dibarengi dengan sikap yang kasar. Padahal penjelasan yang baik juga termasuk nahi munkar—yang biasanya justru lebih efektif. 

Wallahu a'lam. 

— adniku 261002