AKIDAH SYEKH MUHAMMAD AL-AMIN AL-SYINQITHI DALAM TAFSIR ADHWA' AL-BAYAN: MENETAPKAN SIFAT ALLAH TANPA TASYBIH DAN TANPA TA'THIL
Syekh Muhammad al-Amin al-Syinqithi (w. 1393 H), penulis tafsir Adhwa' al-Bayan fi Idhah al-Qur'an bil-Qur'an, merupakan salah seorang ulama tafsir yang memberikan pembahasan mendalam tentang akidah, khususnya masalah asma wa sifat.
Menariknya, beliau tidak sekadar menyatakan mengikuti manhaj salaf, tetapi membangun argumentasinya dengan dalil Al-Qur'an, kaidah bahasa, dan penalaran yang sistematis.
Berikut beberapa bukti langsung dari karya beliau.
1. Seluruh sifat Allah berada dalam satu kaidah
Beliau berkata:
أن جميع الصفات من باب واحد؛ لأن الموصوف بها واحد
"Sesungguhnya seluruh sifat berada dalam satu pembahasan karena yang disifati dengannya adalah satu."
Beliau melanjutkan:
فمن أثبت مثلا أنه سميع بصير، وسمعه وبصره مخالفان لأسماع الحوادث وأبصارهم، لزمه مثل ذلك في جميع الصفات؛ كالاستواء، واليد، ونحو ذلك من صفاته جل وعلا
"Barang siapa menetapkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, sedangkan pendengaran dan penglihatan-Nya berbeda dari pendengaran dan penglihatan makhluk, maka ia harus menerapkan prinsip yang sama terhadap seluruh sifat, seperti istiwa, tangan, dan sifat-sifat Allah lainnya."
📚 Adhwa' al-Bayan, 2/375.
https://shamela.ws/book/20766/917
Argumentasinya sangat kuat. Jika pendengaran dan penglihatan Allah dapat ditetapkan tanpa menyerupakannya dengan makhluk, mengapa prinsip yang sama tidak diterapkan pada sifat istiwa dan tangan?
2. Zat Allah dan sifat-Nya berada dalam satu kaidah
Beliau berkata:
أن الذات والصفات من باب واحد أيضا، فكما أنه جل وعلا له ذات مخالفة لجميع ذوات الخلق فله تعالى صفات مخالفة لجميع صفات الخلق
"Sesungguhnya zat dan sifat juga berada dalam satu pembahasan. Sebagaimana Allah memiliki Zat yang berbeda dari seluruh zat makhluk, demikian pula Allah memiliki sifat-sifat yang berbeda dari seluruh sifat makhluk."
📚 Adhwa' al-Bayan, 2/375.
https://shamela.ws/book/20766/917
Dengan demikian, menetapkan sifat bagi Allah tidak otomatis berarti melakukan tasybih. Sebagaimana menetapkan adanya Zat Allah tidak berarti menyerupakan Zat-Nya dengan zat makhluk.
3. Istiwa Allah ditetapkan sesuai keagungan-Nya
Al-Syinqithi berkata:
وأن للخالق جل وعلا استواء لائقا بكماله وجلاله، وللمخلوق أيضا استواء مناسبا لحاله
"Sesungguhnya Sang Pencipta memiliki istiwa yang sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, sedangkan makhluk memiliki istiwa yang sesuai dengan keadaannya."
📚 Adhwa' al-Bayan, 2/375.
https://shamela.ws/book/20766/917
Kesamaan istilah tidak mengharuskan kesamaan hakikat. Istiwa Allah adalah sifat yang layak bagi keagungan-Nya, bukan seperti istiwa makhluk.
4. Tidak mengetahui kaifiyah bukan berarti meniadakan sifat
Beliau mengajukan pertanyaan:
أعرفت كيفية الذات المقدسة المتصفة بتلك الصفات؟
"Apakah engkau mengetahui bagaimana hakikat Zat Yang Mahasuci yang memiliki sifat-sifat tersebut?"
Kemudian beliau menjelaskan:
معرفة كيفية الاتصاف بالصفات متوقفة على معرفة كيفية الذات
"Mengetahui kaifiyah suatu zat dalam memiliki sifat bergantung pada pengetahuan tentang kaifiyah zat tersebut."
📚 Adhwa' al-Bayan, 2/377.
https://shamela.ws/book/20766/919
Inilah perbedaan penting antara makna dan kaifiyah. Ketidaktahuan manusia mengenai bagaimana sifat Allah tidak mengharuskan penolakan terhadap sifat yang telah Allah tetapkan.
5. Makna zahir sifat Allah bukanlah penyerupaan dengan makhluk
Beliau menegaskan:
والحق الذي لا يشك فيه أدنى عاقل أن كل وصف وصف الله به نفسه، أو وصفه به رسوله صلى الله عليه وسلم فظاهره المتبادر منه السابق إلى فهم من في قلبه شيء من الإيمان، هو التنزيه التام عن مشابهة شيء من صفات الحوادث
"Kebenaran yang tidak diragukan oleh orang berakal adalah bahwa setiap sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya, maka makna zahir yang segera dipahami oleh orang yang memiliki keimanan adalah penyucian Allah secara sempurna dari keserupaan dengan sifat makhluk."
📚 Adhwa' al-Bayan, 2/376.
https://shamela.ws/book/20766/918
Ini merupakan bantahan terhadap anggapan bahwa memahami sifat Allah menurut zahirnya pasti berujung pada tasybih.
Menurut al-Syinqithi, kesalahan justru bermula ketika seseorang terlebih dahulu membayangkan sifat Allah seperti sifat makhluk, kemudian merasa harus menakwilnya untuk menghindari penyerupaan tersebut.
6. Membela manhaj salaf dan mengkritik takwil kalam
Dalam pembahasannya mengenai al-Juwayni, al-Ghazali, dan para tokoh ilmu kalam, al-Syinqithi menegaskan bahwa metode salaf merupakan metode yang benar.
Setelah mengutip argumentasi al-Ghazali, beliau berkata:
ولا شك أن استدلال الغزالي هذا لأن مذهب السلف هو الحق استدلال لا شك في صحته ووضوح وجه الدليل فيه
"Tidak diragukan bahwa argumentasi al-Ghazali ini, bahwa mazhab salaf adalah yang benar, merupakan argumentasi yang tidak diragukan ketepatan dan kejelasan dalilnya."
📚 Adhwa' al-Bayan, 7/506.
https://shamela.ws/book/20766/4872
Perlu dibedakan antara pendapat yang beliau nukil dari tokoh lain dan pendapat yang beliau tegaskan sendiri. Kutipan di atas merupakan penilaian langsung al-Syinqithi.
KESIMPULAN
Dari berbagai penjelasan tersebut, tampak jelas bahwa dalam masalah asma wa sifat, Syekh Muhammad al-Amin al-Syinqithi mengikuti pendekatan akidah salaf atau Atsari.
Prinsipnya adalah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk, serta tidak mengklaim mengetahui kaifiyah sifat-Nya.
Pendekatan ini memiliki kesamaan argumentasi yang sangat kuat dengan Ibnu Taimiyah, terutama dalam dua kaidah:
- القول في الصفات كالقول في الذات
Pembahasan sifat mengikuti kaidah pembahasan zat.
- القول في بعض الصفات كالقول في بعض
Kaidah yang diterapkan pada sebagian sifat juga diterapkan pada sifat-sifat lainnya.
Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa al-Syinqithi tidak membangun pembelaannya dengan meniadakan makna nash, tetapi dengan membedakan antara penetapan sifat, penyucian dari tasybih, dan ketidaktahuan tentang kaifiyah.
Dengan demikian, itsbat bukanlah tasybih, dan tanzih tidak harus berarti ta'thil.
Sebagaimana firman Allah:
ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)
Inilah prinsip yang berulang kali ditekankan al-Syinqithi dalam tafsirnya.
Ustadz noor akhmad setiawan