Selasa, 24 Februari 2026

Sebagian orang ada yang tabiatnya seperti tabiat babi; ketika melewati makanan-makanan yang baik, dia tidak tertarik. Namun, ketika seseorang selesai buang air besar, babi tersebut segera memakannya habis.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

وَمِنِ النَّاسِ مِنْ طَبْعِهِ طَبْعَ خِنْزِيرٍ، يَمُرْ بِالطَّيِّبَاتِ فَلَا يَلْوِي عَلَيْهَا، فَإِذَا قَامَ الْإِنْسَانُ عَنْ رَجِيعِهِ قُمْهُ، وَهَذَا كَثِيرُ مِنَ النَّاسِ يَسْمَعُ مِنْكَ وَيَرَى مِنَ الْمَحَاسِنِ أَضِعَافَ أَضْعَافِ الْمَسَاوِئِ، فَلَا يَحْفَظُهَا وَلَا يَنْقُلُهَا وَلَا تَنَاسُبُهُ، فَإِذَا رَأَى سَقْطَةً أَوْ كَلِمَةُ عَوْرَاءُ وَجِدُّ بُغْيَتِهِ وَمَا يُنَاسِبُهَا، فَجُعَلَهَا فَاكِهَتَهُ وَنَقْلَهُ.

“Sebagian orang ada yang tabiatnya seperti tabiat babi; ketika melewati makanan-makanan yang baik, dia tidak tertarik. Namun, ketika seseorang selesai buang air besar, babi tersebut segera memakannya habis. Sifat seperti ini banyak dijumpai pada manusia. Ketika dia mendengar darimu berbagai kebaikan yang berkali lipat dari keburukan, dia tidak mengingatnya, tidak menceritakannya. Semua itu tidak sesuai dengan seleranya. Namun, ketika dia melihat ketergelinciran atau ucapan yang keliru, dia merasa mendapatkan keinginannya dan yang sesuai dengan seleranya. Lalu dia menjadikannya sebagai buah hidangannya dan menceritakannya ke sana kemari.”

1. Makna Perumpamaan “Tabiat Babi”
Ibnu Qayyim menggunakan tamtsil/analogi:

- Babi melewati makanan yang baik dan bersih → tidak tertarik
- Namun ketika menemukan kotoran, ia bergegas memakannya

Ini bukan membahas fisik babi, tapi sifat selektif yang rusak:
> hanya tertarik pada hal yang buruk dan menjijikkan, bukan yang baik dan bermanfaat.

2. Aplikasinya pada Manusia
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa sifat ini "banyak terdapat pada manusia", yaitu:

a. Buta terhadap kebaikan dan kebenaran 
- Mendengar banyak kebaikan
- Melihat akhlak dan keutamaan
- Namun:
  - ❌ tidak diingat  
  - ❌ tidak diceritakan  
  - ❌ tidak dianggap penting  

Karena tidak sesuai dengan hawa nafsu dan seleranya.

b. Rakus terhadap kesalahan
Ketika melihat:
- satu kesalahan kecil  
- satu ucapan keliru  
- satu ketergelinciran  

Maka:
- ✅ itulah yang diingat
- ✅ itulah yang disebarkan
- ✅ itulah yang “dinikmati”

> Kesalahan orang lain dijadikan “buah hidangan” dan bahan obrolan.

3. Penyakit Hati yang Disindir Ibnu Qayyim
Ucapan ini mengkritik beberapa penyakit besar:

1️⃣ Hasad (dengki)
Tidak suka melihat orang lain dipuji atau benar.

2️⃣ Su’uzh-zhann (buruk sangka)
Selalu mencari celah, bukan kebaikan.

3️⃣ Hawa nafsu dalam menilai
Bukan kebenaran yang dicari, tapi:
“Apa yang cocok dengan keinginanku?”

4️⃣ Ghibah dan namimah terselubung
Menyebarkan kesalahan orang lain dengan dalih:
- “Sekadar cerita”
- “Biar jadi pelajaran”
- “Fakta kok”

4. Kaidah Penting dalam Menilai Manusia
Ucapan ini sejalan dengan prinsip Ahlus Sunnah:

“العِبْرَةُ بِكَثْرَةِ الحَسَنَاتِ لَا بِوُجُودِ السَّيِّئَاتِ.”  
Yang dinilai adalah dominasi kebaikan, bukan keberadaan kesalahan.

Tidak ada manusia tanpa salah, bahkan:
- ulama
- dai
- guru
- orang shalih

5. Cermin untuk Diri Sendiri
Perkataan Ibnu Qayyim ini lebih layak dijadikan cermin, bukan senjata.

Tanya diri sendiri:
- Apakah aku lebih cepat menyebarkan kebaikan atau kesalahan?
- Apakah aku menikmati aib orang lain?
- Apakah aku adil dalam menilai?

6. Penutup
Ucapan tersebut keras, tetapi jujur dan menyembuhkan bagi yang mau merenung.

Orang yang sehat hatinya:
- bergembira dengan kebaikan
- menutup aib
- menasihati dengan adab

Orang yang sakit hatinya:
 - lapar pada kesalahan
 - kenyang dengan ghibah
 - alergi terhadap pujian yang bukan untuk dirinya

Demikian
Ustadz la ode abu hanifa