Di bawah ini, tangkapan layar postingan seseorang yang entah kenapa muncul di beranda saya. Mari kita bedah:
1. Bolehkah menikah dengan kemampuan menafkahi 'hanya' 3 juta/bulan? Jawabannya, boleh-boleh saja. Lebih-lebih, jika ada tujuan mulia dari pernikahan tersebut, misalnya demi menghindari perbuatan 'fahisyah', melahirkan keturunan yang bertakwa, dst.
Namun, perlu dicatat, 3 juta/bulan itu, di masa sekarang, terutama di kota-kota besar, tidak cukup untuk hidup secara layak dan normal. Terus? Ya, tidak apa-apa, sekadar anda tahu saja. Artinya, dengan nafkah (entah berapa gajinya...) sebesar itu, anda dan pasangan anda harus siap hidup dengan sederhana, dan mengontrol pengeluaran hanya untuk hal-hal yang sangat dibutuhkan saja.
Bagi seorang pelajar ilmu syar'i misalnya, dengan gaji segitu, jangan ikut-ikutan fomo beli kitab-kitab mahal cetakan Timteng. Cukup beli kitab cetakan lokal dengan harga miring (dengan kesadaran penuh: ada kualitas, ada harga). Atau, cukup dengan kitab-kitab pdf saja. Jangan ikuti gaya para pelajar yang anak orang kaya, atau para ustadz yang "penghasilan ceramahnya" puluhan bahkan ratusan juta per bulan itu. Ingat, SADAR DIRI !!!
2. Cari calon istri yang berasal dari latar belakang keluarga sederhana. Jangan bermimpi menikahi Tuan Putri atau anak CEO perusahaan besar. Dalam fiqih Islam, ada konsep 'kafaah' (kesetaraan latar belakang) dalam pernikahan. Jika ingin pernikahan anda langgeng dan harmonis, pilihlah calon istri dengan strata sosial yang setara dengan anda.
3. Masalah yang disebutkan dalam ss di bawah ini adalah, si fulan yang disebutkan dalam cerita itu, entah oversharing atau caper, wajar kemudian dikomentari oleh para perempuan sosialita nan feminis.
Prinsip di media sosial, jangan oversharing atau caper. Mungkin ada yang 'kegocek' oleh aksi anda itu, lalu simpati dengan anda. Tapi, tanpa anda sadari, banyak juga yang muak dan ingin muntah melihat kelakuan konyol anda tersebut.
Kalau serius mau cari istri dengan kriteria tertentu, carilah sendiri, atau minta bantuan keluarga, senior, kolega, atau teman anda untuk mencarikan. Tidak perlu mengumumkannya di media sosial, kecuali anda merasa diri anda selebriti.
Tidak perlu menceritakan kondisi anda yang memprihatinkan di media sosial secara berlebihan, padahal tidak ada yang nanya, kecuali anda punya niat terselubung untuk minta donasi, atau minta diumrahkan oleh teman medsos anda yang kebetulan punya travel umrah itu. Ceritakanlah pada orang-orang terdekat anda, yang tulus peduli dengan anda, dan anda pun tulus peduli dengan mereka, tanpa modus apa pun.
Gunakan media sosial untuk berbagi ilmu, menyuarakan opini bernas, dan berbagai hal bermanfaat lainnya. Jika ingin mencari peluang kerja dan usaha, silakan juga, tapi lakukan secara elegan, bukan dengan mengemis simpati. Kalau ingin cari calon istri, hmm...
[M4N]