Jumat, 27 Februari 2026

Lima Hukum Terkait Lawan Jenis Dalam Mazhab Syafii

Lima Hukum Terkait Lawan Jenis Dalam Mazhab Syafii

Berikut ini adalah terjemah dari sebuah “risalah”/tulisan singkat berbahasa Arab dari KH Muhibul Aman Ali hafizhahullahu ta’ala:

Beberapa hukum terkait interaksi antara laki-laki dengan perempuan ajnabiah (bukan isteri, bukan mahram) dalam Mazhab Syafii.

1. Jabat Tangan

Dalam al-Mughni al-Muhtaj, al-Khathib asy-Syirbini mengatakan, 

“Haram hukumnya menyentuh wajah dan dua telapak tangan perempuan ajnabiah (bukan isteri, bukan mahram) meski ada jaminan aman dari fitnah/godaan lawan jenis”.

2. Memandang lawan jenis

Dalam Tuhfah al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, 

“Jelas haram memandang dengan syahwat ke wajah dan dua telapak tangan perempuan. 

Jika tanpa syahwat hukumnya juga haram menurut pendapat yang shahih (benar dari dua pendapat yang terdapat dalam Mazhab Syafii)”.

3. Mengucapkan salam dan sapaan

As-Sayyid Abu Bakar Syatha dalam Ianah ath-Thalibin mengatakan,

 “Makruh hukumnya seorang laki-laki mengucapkan salam kepada perempuan ajnabiah (bukan mahram, bukan isteri) yang masih muda. 

Demikian pula sebaliknya, makruh hukumnya seorang perempuan mengucapkan salam kepada laki-laki Ajnabi (bukan suami, bukan mahram) yang masih mudah. 

Akan tetapi ada juga yang berpendapat hukum hal ini adalah haram”.

4. Takziyah

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan,

 “Dianjurkan laki-laki memberikan takziyah (kalimat menghibur dan menguatkan hati) kepada sesama laki-laki dan perempuan kepada sesama perempuan…. 

Laki-laki diperbolehkan untuk memberikan takziyah kepada perempuan ajnabiah dan sebaliknya jika ada jaminan aman dari fitnah/godaan lawan jenis”.

5. Mengucapkan doa bersin

Mengucapkan doa bersin kepada lawan jenis hukumnya boleh dengan tetap memperhatikan adab dalam bersikap kepada lawan jenis. 

Dalilnya adalah qiyas/analog dengan kebolehan takziyah kepada lawan jenis dengan syarat ada jaminan aman dari fitnah/godaan lawan jenis.

Kausa hukum dalam semua ketentuan di atas adalah kekhawatiran godaan lawan jenis. Oleh karena itu jika ada jaminan aman dari godaan lawan jenis ada kelonggaran hukum. Sebaliknya jika ada kekhawatiran godaan lawan jenis hukumnya jadi ketat.

Dalam budaya Indonesia yang bercirikhaskan penuh cinta dan toleransi, para ulama NU sangat mempertimbangkan aspek kebutuhan sosial kemasyarakatan dengan tetap memegangi erat-erat batasan syariat dan ada interaksi dengan lawan jenis

Sekian teks terjemahan.
Berikut ini teks aslinya dalam bahasa Arab:

أحكام التعامل بين الرجل والمرأة الأجنبية في المذهب الشافعي
١. المصافحة :
قال الإمام الخطيب الشربيني في المغني المحتاج:
وَيَحْرُمُ مَسُّ وَجْهِ الْأَجْنَبِيَّةِ وَكَفَّيْهَا وَإِنْ أُمِنَتِ الْفِتْنَةُ
٢. النظر إلى الأجنبية
قال الإمام ابن حجر الهيتمي في تحفة المحتاج:
وَيَحْرُمُ نَظَرٌ بِشَهْوَةٍ إِلَى وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا قَطْعًا، وَكَذَا بِلَا شَهْوَةٍ عَلَى الصَّحِيحِ.
٣. السلام على الأجنبية
قال السيد أبو بكر شطا في إعانة الطالبين:
وَيُكْرَهُ سَلَامُ أَجْنَبِيٍّ عَلَى أَجْنَبِيَّةٍ شَابَّةٍ وَعَكْسُهُ، وَقِيلَ يَحْرُمُ
٤. التعزية
قال الإمام النووي في المجموع:
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُعَزِّيَ الرَّجُلُ الرِّجَالَ وَالْمَرْأَةُ النِّسَاءَ... وَيَجُوزُ أَنْ يُعَزِّيَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ وَعَكْسُهُ إِذَا أُمِنَتِ الْفِتْنَةُ
٥. التشميت 
جائز مع مراعاة الأدب، قياسًا على جواز التعزية عند أمن الفتنة.
العلّة الجامعة في هذه المسائل هي خوف الفتنة. 
فما أُمنت فيه الفتنة وُسِّع فيه، وما خِيفت فيه الفتنة شُدِّد فيه.

وفي عُرف إندونيسيا الذي يتّسم بالوُدّ والتسامح، يُراعي علماء نهضة العلماء جانبَ الحاجة الاجتماعية مع التمسّك بحدود الشريعة والأدب.

Aris Munandar