Senin, 01 Desember 2025

كان أحمد بن حنبل إذا ضاق به الأمر آجر نفسه من الحاكة

كان أحمد بن حنبل إذا ضاق به الأمر آجر نفسه من الحاكة 
Ahmad bin Hanbal, apabila ia berada dalam kesulitan (hidup/keuangan), ia menyewakan dirinya (sebagai pekerja) kepada para penenun, lalu ia mengerjakan (pekerjaan) untuk mereka.

ILMU SESUNGGUHNYA

ILMU SESUNGGUHNYA
--------------------------

الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُوْلُهُ

 قَالَ الصَّحَابَةُ لَيْسَ بِالتَّمْوِيْهِ

مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلاَفِ سَفَاهَةً

 بَيْنَ  الرَّسُوْلِ وَبَيْنَ رَأْيِ فَقِيْهِ

Ilmu itu adalah firman Allah, sabda rasulNya

Ucapan sahabat tiada kerancuan

Bukanlah ilmu jika mempertentangkan dengan bodoh

Antara ucapan rasul dengan pendapat seorang alim. 

(Al-Fawaid hlm. 111 oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah)
Ustadz abu abdurahman khattab

MENDUDUKKAN ISRÂÎLIYYÂT

MENDUDUKKAN ISRÂÎLIYYÂT

Isrâîliyyât itu ada yang isinya sesuai dengan Alquran dan Hadits, ada yang bertentangan, dan yang tidak diketahui benar-salahnya.

Kalau Perspektif Ibn Taimiyyah, yang shahih darinya boleh diterima, yang dusta ditolak, yang tak diketahui benar-salahnya didiamkan; tak didustakan, tak pula dibenarkan. Tak mengimaninya, tak pula membohonginya.

Namun perspektif al-Biqa'i menunjukkan bolehnya mengutip jenis Isrâîliyyât yang tak didustakan dan tak dibenarkan tadi. Karenabtujuannya hanya untuk mengetahui saja, bukan dijadikan pegangan.

Kalau Jumhûr, tentu senada dengan Ibn Taimiyyah. Hanya saja istilah mereka untuk jenis ketiga dengan istilah umum Tawaqquf [Abstain]. Berdasarkan riwayat Abu Hurairah radhiyallâhu 'anhu,

لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا

"Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab, jangan pula mendustakannya! Ucapkanlah: Kami beriman pada Allah dan kepada kitab yang diturunkan padamu." [Al-Bukhâriy]

Demikian jika ditinjau dari segi kandungan.

Adapun dari segi diakui atau tidaknya, maka setidaknya terbagi menjadi 2 pendapat; yang mengharamkan dan membolehkan.

Argumentasi pihak yang mengharamkan adalah hadits di atas tadi juga. Kemudian karena Ahlul Kitab telah mengubah-ubah isi kitab mereka, sehingga periwayatan mereka tak tsiqah lagi. Sementara riwayat yang lemah tak bisa dijadikan hujjah.

Adapun pihak yang membolehkan menyandarkan pendapatnya pada Alqurân surat Yunus ayat 94,

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَسْئَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ...

"Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum engkau..." [Yunus: 94]

Serta hadits berikut,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak mengapa. Dan barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” [Al-Bukhâriy]

Waktu Dhuha di Markaz Telaah Kitab Ulama, Ma'had Daar El 'Ilmi Beusi.

✒️ Mochamad Teguh Azhar

Usia 60 Tahun Batas Udzur Dari Allah

# Usia 60 Tahun Batas Udzur Dari Allah

[Rubrik: Faidah Ringkas]

Ibarat kapal yang sedang menyusuri samudera, seorang manusia tidak selamanya akan berhadapan dengan kehidupan yang tenang. Terkadang dia akan diberi kenikmatan, terkadang diberi cobaan, bahkan terkadang terjatuh ke dalam maksiat. Orang yang beriman akan menyikapi perjalanan hidupnya tersebut dengan sebaik-baik sikap. Dia akan bersyukur ketika diberi nikmat, akan bersabar ketika diberi cobaan, dan akan bertaubat ketika terjatuh ke dalam maksiat.

Di sisi lain, ada orang yang pada berbagai keadaan tersebut tidak bisa bersikap seperti itu, bahkan tidak bisa mengambil sedikit pun pelajaran dari itu semua. Ketika Allah memberinya kesempitan, dia berkeluh kesah, dan menyalahkan takdir. Ketika Allah memberinya kenikmatan melebihi orang pada umumnya, dia masih merasa kurang, masih tamak dengan yang belum dia miliki. Keadaan sempit, keadaan lapang, tak ada yang bisa membuatnya kembali kepada Allah.

Namun Allah betul-betul Maha Baik dan Maha Pemurah, yang selalu memberi maaf dan udzur kepada para hamba-Nya. Allah masih memberi kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya agar bisa kembali kepada Allah. 

Hanya saja tidak selamanya Allah akan memberi udzur, setelah usia seseorang mencapai angka 60 tahun, maka tidak ada argumen lagi baginya untuk tidak beriman atau enggan beramal. Selama bertahun-tahun dia telah mengetahui ayat-ayat Allah, sering mendengarkan hadits-hadits Nabi, sering diberi peringatan dalam hidupnya, maka tidak ada lagi alasan baginya ketika bertemu dengan Allah kelak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

“Allah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun.” (HR. Bukhari 6419)

Maknanya, Allah masih memberikan udzur kepada seseorang di bawah 60 tahun jika ia masih tertipu dengan dunia, tamak dengan harta. Tetapi ketika ia mencapai 60 tahun maka Allah tidak memberikannya udzur lagi. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لَهُ اعْتِذَارٌ كَأَنْ يَقُولَ لَوْ مُدَّ لِي فِي الْأَجَلِ لَفَعَلْتُ مَا أُمِرْتُ بِهِ ….

Makna hadis di atas adalah bahwa udzur dan alasan sudah tidak ada lagi, seperti mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.” (Fathul Bari, 11/240)

Ketika seseorang terus menerus terjatuh dalam kubangan maksiat, lama kelamaan hati itu akan menghitam. Shalat sering ditinggalkan, aurat terus diumbar, syariat Islam banyak diluputkan, saudara muslim selalu menjadi incaran ghibah, bahkan jimat dan penglaris juga menghiasi dirinya demi mendapatkan dunia. Dia tidak sadar, setiap hari, setiap detik, noktah-noktah hitam akan dititikkan pada hatinya. Itulah Ar-Raan yang disebutkan Allah di dalam Al-Quran,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Waspadalah jika dia terus hidup dalam kebiasaan buruk tersebut, bahkan hingga mencapai 60 tahun. Hendaknya dia benar-benar berhati-hati akan keadaan hatinya, dikhawatirkan hati itu terlanjur tertutup karena noktah hitam yang tidak henti-hentinya dititikkan, sedangkan Allah sudah tidak memberikan udzur yang banyak lagi kepadanya. Maka saat itulah kebenaran dan hidayah akan sulit untuk merasuk ke dalam hatinya. 

Artikel www.muslimafiyah.com 
(Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma'had Al Ilmi Yogyakarta)

Sungguh, dakwah ini demi Allah membutuhkan orang-orang (laki-laki) yang menimbang ucapan, dan tidak mengucapkan satu kata pun kecuali jika ia meyakini bahwa kata itu adalah kebenaran (hak)."

https://www.facebook.com/share/17XFxL5jBk/
Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali - rahimahullah - berkata:
"Sungguh, dakwah ini demi Allah membutuhkan orang-orang (laki-laki) yang menimbang ucapan, dan tidak mengucapkan satu kata pun kecuali jika ia meyakini bahwa kata itu adalah kebenaran (hak)."
(Sumber: Al-Majmu' Ar-Ra'iq)

Keistimewaan Akhlak Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

🌟 Keistimewaan Akhlak Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

​Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, semoga Allah merahmatinya, menunjukkan akhlak yang luar biasa dan hati yang bersih dalam sebuah peristiwa yang diceritakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, rahimahullah.

​Dikisahkan bahwa ketika Syaikhul Islam selesai menulis kitabnya, "Al-Istighatsah," seorang sufi bernama Ibnu Al-Bakri bersama beberapa pengikutnya sudah menunggu beliau di jalan.

​Mereka langsung menyerang Syaikhul Islam dengan pukulan yang sangat keras hingga beliau terjatuh ke tanah, lalu mereka melarikan diri.

​Setelah kejadian itu, orang-orang berkumpul, termasuk para tentara. Mereka meminta izin kepada Syaikhul Islam untuk membalas perlakuan Ibnu Al-Bakri.

​Tetapi, Syaikhul Islam menolak dengan tegas, sambil menegaskan:

​"Dalam masalah ini hanya ada tiga kemungkinan: hak itu milikku, milik kalian, atau milik Allah. Jika itu hakku, maka dia telah kumaafkan (aku bebaskan dari tuntutan). Jika itu hak kalian, namun kalian tidak mendengarkan ucapanku, maka jangan meminta nasihat dariku, dan lakukan saja apa yang kalian mau. Dan jika itu hak Allah, maka Allah akan mengambil hak-Nya sendiri kapan pun dan bagaimana pun yang Dia kehendaki."

​Meskipun sudah mendengar ucapan beliau, orang-orang tidak mengindahkan dan tetap mencari Ibnu Al-Bakri ke mana-mana.

​Karena merasa terdesak dan tidak menemukan tempat bersembunyi yang aman, Ibnu Al-Bakri akhirnya tidak punya pilihan lain selain pergi dan bersembunyi di rumah Syaikhul Islam sendiri!

​Syaikhul Islam pun menerimanya, menyembunyikannya, dan bahkan membelanya (memberikan syafaat) di hadapan Sultan hingga akhirnya Ibnu Al-Bakri diampuni. Dan memang, Syaikhul Islam melakukannya.

​Tindakan yang sungguh menakjubkan ini membuat sebagian ulama Asya'irah (yang sering berseberangan dengan beliau) mengatakan tentang Syaikhul Islam:

​"Beliau berakhlak dengan akhlak yang sulit ditemukan, kecuali pada diri para Nabi Allah ta'ala dan segelintir manusia pilihan."

​Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

​Al-Bidayah wa An-Nihayah (14/76), Dzayl Thabaqat Al-Hanabilah (2/400), Al-'Uqud Ad-Durriyyah (hlm. 286), Al-Kawakib Ad-Durriyyah (hlm. 139).
ustadz reza 

POSISI DUNIA DIHADAPAN HAMBA YANG SHOLEH

POSISI DUNIA DIHADAPAN HAMBA YANG SHOLEH

Seorang yang memprioritaskan akhirat dengan beramal sholeh maka Allah jadikan dunia bertekuk lutut dihadapanya, yang kemudian dia mengaturnya sesuka hati. Namun seorang yang memprioritaskan dunianya maka Allah akan cerai beraikan urusannya.

(Dr. Sofyan bin Fuad Baswedan, Lc. MA)

Perbaiki orientasi → Allah yang rapikan urusan.
Bukan kita yang memaksa dunia tunduk, tapi Allah yang menundukkannya.

#akhiratdahulu #motivasiislam #tausiyah #renunganharian #selfreminder