Rabu, 24 September 2025

Sabarkanlah dirimu di atas Sunnah, berhentilah di tempat mereka (para sahabat dan salaf) berhenti, ucapkanlah apa yang mereka ucapkan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan, dan ikutilah jalan para salafmu yang soleh. Sesungguhnya apa yang mencukupi mereka, akan mencukupimu juga

Imam al-Auza‘i رحمه الله berkata:
“Sabarkanlah dirimu di atas Sunnah, berhentilah di tempat mereka (para sahabat dan salaf) berhenti, ucapkanlah apa yang mereka ucapkan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan, dan ikutilah jalan para salafmu yang soleh. Sesungguhnya apa yang mencukupi mereka, akan mencukupimu juga.”

📚 al-Syariah, al-Ajurri (2/673)
ustadz ibnu salam 

IBADAH PALING UTAMA DAN KEINGINAN PALING BURUK

IBADAH PALING UTAMA DAN KEINGINAN PALING BURUK
 
Ibnu Sammak menulis surat untuk saudaranya:
“Ibadah yang paling utama adalah menahan diri dari dosa dan tidak menuruti syahwat. Sedangkan keinginan yang paling buruk adalah menginginkan keuntungan dunia melalui amalan Akhirat.” [Al-Adab As-Syar'iyyah 1:178]
ustadz miftah indy

DALAM MENDIDIK PELAJARAN AKIDAH HARUS DIUTAMAKAN

DALAM MENDIDIK PELAJARAN AKIDAH HARUS DIUTAMAKAN 

Asy Syaikh Al-Fauzan-حفظه الله berkata: "Seseorang harus memulai dengan mempelajari Aqidah terlebih dahulu, Aqidah adalah pondasi, maka ia harus memulai dengan mempelajari, dan mengajarkannya, dan terus mengajarkan, serta menjelaskannya kepada orang lain, karena ini adalah perkara yang paling besar yang diperintahkan oleh ALLAH ﷻ, maka tidak sepatutnya menjadikannya sebagai perkara yang terakhir atau tidak peduli terhadapnya, karena sekarang ini ada para da'i yang zuhud (tidak perhatian) dalam mengajarkan Tauhid dan Aqidah, ada orang-orang yang diuji oleh perkara ini, karena kerusakan terhadap perkara tersebut merupakan kerusakan terhadap Agama seluruhnya, maka harus ada perhatian terhadapnya". [Syarh Tsalatsah Al-Ushul (81)]
ustad miftah indy

Konversi Dinar Dan Dirham Di Zaman Nabi

Konversi Dinar Dan Dirham Di Zaman Nabi 

Agak sulit untuk memastikan berapa nilai dinar dan dirham di zaman Nabi dengan nilai mata uang zaman sekarang. Karena beberapa faktor:
* Terpautnya zaman itu dengan zaman ini oleh masa yang sangat jauh
* Nilai mata uang modern yang tidak stabil dan sudah mengalami berkali-kali inflasi
* Dinar dan dirham berbasis pada emas dan perak, sedangkan uang modern tidak demikian

Namun yang cukup mendekatkan pemahaman adalah hadits Urwah bin Abi Ja’d Al-Bariqi radhiallahu'anhu, beliau berkata,

أَعْطَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم دِينَاراً يَشْتَرِي بِهِ أُضْحِيَةً – أَوْ شَاةً – فَاشْتَرَى شَاتَيْنِ ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ ، فَأَتَاهُ بِشَاةٍ وَدِينَارٍ ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ ، فَكَانَ لَوِ اشْتَرَى تُرَابًا لَرَبِحَ فِيهِ .

“Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam memberinya satu dinar untuk dibelikan hewan kurban (atau seekor kambing. Lalu dengan 1 dinar tersebut dia dapat membeli dua ekor kambing. Salah satunya dijual dengan seharga satu dinar, lalu dia memberi Nabi seekor kambing dan satu dinar. Maka Nabi mendoakannya agar mendapatkan keberkahan dalam jual belinya. Maka sejak saat itu, seandainya dia membeli debu sekalipun, maka dia mendapatkan keuntungan” (HR. at-Tirmizi no. 1258, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmizi).

Berdasarkan hadits ini, 1 dinar di zaman Nabi cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Namun karena kepandaian Urwah dalam berjual-beli, ia bisa gunakan 1 dinar tersebut untuk membeli 2 ekor kambing. Dari sini, 1 dinar itu kurang lebih setara dengan 3 juta rupiah di masa ini. Karena 3 juta rupiah adalah harga standar untuk seekor kambing, namun masih mungkin untuk membeli 2 ekor kambing jika membeli dari peternak kambing di pelosok desa.

Namun ini hanya kisaran saja dan belum pasti. 

Padahal nilai dinar dan dirham digunakan dalam agama dalam beberapa hukum fikih. Seperti nishab pencurian adalah seperempat dinar, kafarah berjimak dengan istri yang haid adalah 1 dinar atau setengah dinar, diyat pembunuhan 1000 dinar, dan lainnya. Sehingga membutuhkan nilai konversi yang pasti.

Oleh karena itu para ulama mengkonversi dinar dan dirham di zaman Nabi dengan nilai emas dan perak, bukan nilai uang. Berpatokan pada hadits tentang nishab emas dan perak.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma, beliau berkata:

كانَ يأخذُ من كلِّ عشرينَ دينارًا فصاعدًا نِصفَ دينارٍ ومنَ الأربعينَ دينارًا دينارًا

“Nabi Shallallahu'alahi Wasallam mengambil zakat emas dari setiap 20 dinar atau lebih, diambil setengah dinar. Dan dari setiap 40 dinar, diambil 1 dinar” (HR. Ibnu Majah dishahihkan Al Albani).

Hadits ini menunjukkan nishab emas adalah 20 dinar.

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, beliau berkata:

وفي الرِّقَةِ ربعُ العشرِ ، فإنْ لم يكنِ المالُ إلَّا تسعينَ ومائَةَ درْهَمٍ فليس فيها شيءٌ ، إلَّا أن يشاءَ ربُّها

“Zakat pada perak adalah 2,5%. Jika seseorang hanya memiliki perak sebanyak 190 dirham, maka ia tidak wajib zakat kecuali ia ingin bersedekah” (HR. An Nasa'i dishahihkan Al Albani).

Hadits ini menunjukkan nishab perak adalah 200 dirham.

Lalu para ulama mengkonversikan 20 dinar emas = 85gr dan 200 dirham perak = 595 gram. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

وأمَّا مقدارُ النِّصابِ ففي الذَّهَبِ خمسةٌ وثمانون جرامًا (85)، وفي الفضَّة خمسُمئةٍ وخمسةٌ وتسعون جرامًا (595)

“Adapun kadar nishab emas adalah 85 gram dan kadar nishab perak adalah 595 gram” (Majmu Fatawa war Rasail, 18/138).

Dengan demikian bisa kita ambil nilai 1 dinar dan 1 dirham sebagai berikut:

Jika 20 dinar = 85 gr, maka:
1 dinar = 85 gr / 20 = 4,25 gr emas

Jika 200 dirham = 595 gr, maka
1 dirham = 595 gr / 200 = 2,975 gr perak

Inilah perkiraan nilai 1 dinar dan 1 dirham yang ada di zaman Nabi. Nilai ini juga yang menjadi acuan untuk beberapa hukum fikih yang terkait dengan dinar dan dirham. Misalnya orang yang berjimak dengan istrinya yang haid maka ia harus membayar kafarah sebesar 1 dinar yaitu 4,25 gr emas.

Jika kita konversikan dengan nilai emas dan perak hari ini (2 Rabi'ul Akhir 1447), maka didapatkan:
1 dinar = 4,25 gr emas = 4,25 x 2.174.000 = Rp 10.326.500,-
1 dirham = 2,975 gr perak = 2,975 x 23.516 = Rp 69.960,-

Wallahu a'lam, semoga Allah memberi taufik.

Fawaid Kangaswad | Umroh bersama kami: https://bit.ly/fawaid-umroh

Dari sekian tumpukkan pertanyaan ada satu yang sangat menarik !

Dari sekian tumpukkan pertanyaan ada satu yang sangat menarik !

✍️ Bagaimana sikap kita bila cinta bertepuk sebelah tangan, salahkah bila saya mencintai orang yang tidak pernah mencintai saya ?!

Imam al-Baihaqi dalam al-Manaqib, menukilkan pernyataan dari Imam Syafi'i berikut :

أظلم الناس لنفسه من رغب في مودة من لا يراعي حقه

Orang yang paling dzalim terhadap dirinya adalah mereka yang mengemis cinta dari orang yang tidak pernah peduli tentang keberadaan nya.

Hati memang bukan sesuatu yang kita miliki, perasaan cinta bukan sesuatu yang bisa kita tolak dan tepis, kepada siapa kita jatuh cinta bukan sesuatu yang bisa kita pilih, hingga anda tidak dicela karena perasaan cinta itu sendiri.

Seorang pemuda pernah bertanya tentang perasaan cinta yang dirasakan kepada Said bin al-Musayyib :

سألت سعيد بن الــمسيب مفتي الــ
مدينة : هل في حب ظمياء من وزر
فقـــال ســـعيد بن الــمسـيب : إنـما
تـــلام على ما تســتطيـع من الأمــر

Aku bertanya kepada Said bin al-Musayyib mufti kota Madinah, apakah dosa bila aku cinta mati ?, maka  Said bin al-Musayyib berkata, orang layak dicela atas sesuatu yang dia mampu.

Tapi harga diri adalah hal yang bisa kita miliki, pepatah arab mengatakan : (عز النفس تجدها).

Jangan pernah mengemis cinta, karena orang tidak akan pernah melirik mereka yang tidak memiliki harga diri apalagi untuk dicintai !

Jangan pernah memaksakan diri mengetuk pintu yang terkonci untukmu, karena itu hanya akan membuatmu tampak konyol dan menjadi tertawaan !

Selalu ukur orang lain dengan cara yang sama mereka mengukurmu, tidak lebih tidak kurang.

الود بالود، والزهد بالزهد 

Cinta dibales dengan cinta, keengganan juga semestinya dibales dengan keengganan agar balance !
Ustadz ibnu majah

Doa mustajab dari ibu Syaikh Abdul Aziz alu Syaikh rahimahullah, mufti kerajaan Saudi yang baru wafat kemarin

Doa mustajab dari ibu Syaikh Abdul Aziz alu Syaikh rahimahullah, mufti kerajaan Saudi yang baru wafat kemarin 

Syaikh Dr. Hisyam bin Abdul Malik Alu Syaikh, yang merupakan keponakan dari Syaikh Abdul Aziz Al-Syaikh rahimahullah, dalam kitabnya Mulahul ‘Ilm menyebutkan sebuah kisah yang menakjubkan.

Yaitu bahwa ketika Samahatusy Syaikh masih kecil, belum lebih dari tujuh tahun, beliau keluar bersama teman-temannya bermain menuju masjid jami’, lalu naik mimbar dan berkhutbah

Maka salah seorang bapak2 menurunkannya dari mimbar dengan marah, kemudian membawanya kepada ibunya dan berkata kepadanya bahwa anak itu bermain-main di atas mimbar.

Lalu sang ibu yang merupakan wanita shalihah dan ahli ibadah pun berkata kepada orang ini : “Aku berdoa  kepada Allah Yang Maha Agung agar memanjangkan umurmu hingga engkau akan shalat di belakangnya nanti di masjid jami’

Maka terjadilah sebagaimana yang ibu beliau doakan, bahkan sang anak menjadi seorang mufti agung kerajaan saudi.

Kitab nya bisa didownload disini :
https://archive.org/details/20240228_20240228_0858
Ustadz lutfi setiawan

Luar biasa, dalam sahih Bukhari disebutkan suatu hari sahabat Umar membagikan pakaian kepada wanita penduduk Madinah, hingga tersisa satu baju yang paling bagus.

Luar biasa, dalam sahih Bukhari disebutkan suatu hari sahabat Umar membagikan pakaian kepada wanita penduduk Madinah, hingga tersisa satu baju yang paling bagus.

Maka Umar bertanya kepada sahabat yang lain, kira kira untuk siapa satu baju yang tersisa ini ?!

Mereka menyarankan untuk diberikan kepada cucu Rasulullah yang kini menjadi istri beliau yaitu Ummu Kultsum, tapi jawaban sahabat Umar :

أم سليط أحق به، فإنها كانت تزفر لنا القرب يوم أحد

Ummu Salith lebih berhak mendapatkan baju ini, karena Ummu Salith berjasa membawakan kami kantong-kontong air pada saat perang Uhud.

Ingat !!!

النبل لا تنسى في مواطن الجزاء مواطن التضحية

Orang yang berkarekter tidak akan pernah lupa pengorbanan orang lain disaat dia mampu untuk membalasnya.

Ketika telah sampai pada puncak kesuksesan, dia tidak lupa dengan orang yang menyertainya sepanjang jalan.

Karena pendukung sejati bukanlah orang yang bersorak bertepuk tangan hanya ketika anda sampai garis finish.

Tapi mereka adalah orang yang benar-benar hadir dan peduli pada prosesnya, bukan hanya merayakan hasil akhirnya, tapi menyertai setiap langkah, memberikan support walau harus bercucur peluh bahkan darah.

Satu tangan yang membantu anda saat dalam kesulitan jauh lebih berharga daripada seribu tangan yang bertepuk saat anda berhasil.

Satu orang yang membantu anda di saat dibutuhkan lebih berharga daripada seribu teman yang hanya datang di saat senang. 

Jadi, hargai mereka yang selalu ada untuk kita dalam suka dan duka.  Nilai mereka jauh melampaui tepuk tangan dan pujian.
Ustad ibnu majah