Kamis, 28 Januari 2021

MENDENGAR KAJIAN ILMU SAMBIL BERAKTIVITAS

MENDENGAR KAJIAN ILMU SAMBIL BERAKTIVITAS

Ahmad bin Sulaiman Al Bulkasi (bukan Bekasi) ketika sedang makan, beliau meminta ada yang membacakan buku kepadanya. Beliau tak ingin kehilangan waktu begitu saja tanpa ada faidah ilmu yang masuk.

Ibnu Taimiyyah Al Jadd (Majduddin Abul Barakat) bila beliau masuk WC, beliau meminta seseorang untuk membacakan kitab kepada beliau dari luar WC. "Bacakan kitab ini, dan keraskan suaramu!"

Sumber: Ta'zhimul Ilm, poin ke-20.
Ust Wira bachrun

Dijawab oleh syaikh ibnu Baz : Tidaklah hal itu akan menjadi baik, karena pada dirinya tidak memiliki kelembutan dan hikmah dalam berdakwah.

Diantara guru-guruku di Hijaz pernah bercerita kepadaku, guruku berkata : 

Syaikh ibnu Baz pernah meminta kepadaku agar aku menuliskan untuknya nama-nama ulama atau da'i yang dari mereka bisa diambil ilmunya dan dijadikan da'i rujukan. 

Maka guruku berkata kepada asy Syaikh (ibnu Baz) : Aku telah menulis sepuluh nama ulama dan da'i tersebut, yang ada diantara mereka adalah orang yang memiliki kecemburuan terhadap permasalahan tauhid dan sunnah. 

Maka Syaikh ibnu Baz berkata : Hapus orang ini dari daftar nama-nama tersebut! 

Akupun berkata kepadanya : Wahai syaikh, dia adalah orang yang memiliki kecemburuan kepada agama. 

Dijawab oleh syaikh ibnu Baz : Tidaklah hal itu akan menjadi baik, karena pada dirinya tidak memiliki kelembutan dan hikmah dalam berdakwah.
Ust Muhammad nasuha 

Taqlid, Ijtihad dan Mazhab

📝 Taqlid, Ijtihad dan Mazhab

➡️ Ijtihad adalah mengerahkan ilmu dan pikiran untuk mengetahui hukum syar'iy, yang tentu saja didasari bekal ilmu untuk istinbath hukum. 

➡️Taqlid adalah mengikuti pendapat Ulama Mujtahid walaupun anda tidak mengetahui dalilnya. 

➡️Mazhab adalah kompilasi ilmu dan ijtihad dalam Ushul Fiqh dan Furu' nya seorang Imam mazhab plus murid-muridnya beserta para ulama yang mengikuti Ushul imam mazhab tsb. 

➡️Mengetahui semua hukum syar'iy dengan dalil-dalilnya adalah ilmu fardhu kifayah bukan fardhu 'ain atas setiap muslim.

➡️ Hukum asal manusia itu bodoh bukan berilmu berdasarkan ayat An-Nahl: 78.
 والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا
"Dan Allah yang mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui ilmu sama sekali...".

➡️ Muslim awam bodoh hukum asal mereka adalah taqlid kepada ulamanya, para Ulama membolehkan hal tsb di kutub Ushul Fiqh bahkan Imam Ibnu Abdil Barr Al-Malikiy menukilkan ijma' akan hal ini di "Jami' Bayanil- Ilmi".

➡️Mewajibkan awam untuk mengetahui SELURUH masalah Fiqh dengan dalilnya adalah pendapat amat lemah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Fatawa nya karena awam tidak mampu untuk itu, bahkan merupakan pendapat ahli bid'ah Qadariyyah, sebagian Ahli Kalam dll menurut Imam Ibnu Qudamah di Rawdhatun-Nazhir.

➡️ Hukum asal ulama mujtahid adalah ijtihad karena ia telah diizinkan untuk hal tsb bahkan menjadi fardhu baginya.

➡️ Awam bisa belajar dan tafaqquh fid-din sehingga naik derajat dalam keawamannya dan mencapai "ijtihad parsial" dalam sebagian kecil masalah yang ia kuasai betul ilmunya.

➡️Tafaqquh fid-din melalui dirasah mazhab adalah metode pembelajaran Fiqh yang telah teruji ribuan tahun dapat menghasilkan para Ulama Fuqaha, barangsiapa yang mengingkari hal ini kelazimannya ia tidak menganggap para Fuqaha Mazahib sebagai ulama. 

➡️ Awam yang belajar tsb bisa naik derajat menjadi mujtahid jika memenuhi syarat-syarat ilmu dalam ijtihad berupa Ushul Fiqh dan Furu' nya walau dalam 1 mazhab, ayat ahkam dalam Qur'an beserta tafsir nya, Hadits ahkam beserta syarahnya, Bahasa Arab untuk memahami Qur'an dan Sunah, Imam An-Nawawiy dan Ar-Rafi'iy mensyaratkan qiyas secara khusus, bagi yang cacat salah satu syaratnya maka belum sampai derajat ijtihad, terlebih lagi jika cacat lebih dari satu syarat. 

➡️ Ulama mujtahid adakalanya tidak mengetahui dan memahami suatu masalah syar'iy maka para Ulama khilaf tentang ini, ada yang berpendapat tetap wajib ijtihad, ada yang mengatakan boleh taqlid kepada ulama lain, ada yang mengatakan maka tawaqquf.

➡️ Apakah boleh bagi yang bermazhab dengan suatu mazhab ia keluar dari pendapat Imam mazhab nya kepada pendapat Imam lainnya karena mengikuti hadits shahih atau dirasa dalilnya lebih kuat? Imam Ibnu Shalah Asy-Syafi'iy membolehkan hal tsb dalam fatwanya, demikian pula amalan Imam An-Nawawiy dalam kutubnya, terlebih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam banyak fatwanya. Dan hal ini bukanlah inkonsistensi dalam bermazhab.

➡️ Tarjih antara pendapat para Imam Fuqaha adalah jenis ijtihad, demikian kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam fatwanya. Mewajibkan ilmu jenis ini atas setiap muslim, alim, thalib dan awamnya adalah keliru karena hakikatnya ia adalah ilmu fardhu kifayah sebagaimana ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya.
Ust varian Ghani harima

Sekilas Tentang Taklid

Sekilas Tentang Taklid 

Secara bahasa, taklid berasal dari ‘al-Qiladah”, yang artinya sesuatu yang digantungkan dilehernya[1]. Adapun secara istilah, Imam al-Haramain mendefinisikan, “Mengambil perkataan/pendapat orang lain tanpa hujjah” maksudnya adalah tanpa penyebutan dalil untuk hukum tersebut. Atau, “Menerima perkataan orang lain sementara engkau tidak tahu dari mana ia mengatakannya.”[2]

Orang yang diperbolehkan taklid dan meminta fatwa adalah orang yang tidak terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad. Ia boleh taklid terhadap seorang mufti dalam fatwanya. Darinya disimpulkan dua hal:

Pertama, seorang yang jahil tidak diperbolehkan mentaklid siapa saja, akan tetapi taklid kepada seorang mufti yang terkumpul padanya syarat-syarat ijtihad.

Kedua, ia hanya boleh taklid dalam fatwanya saja, tidak boleh taklid dalam amal si mufti. Maka, jika seorang jahil melihat seorang alim mengamalkan sesuatu, tidak boleh baginya taklid kepada alim tersebut hanya karena ia mengerjakannya.[3]

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa taklid yang haram untuk diikuti dan berfatwa dengannya ada tiga:

Pertama, berpaling dari apa yang diturunkan Allah, tidak memperhatikannya, sebab mencukupkan diri dengan taklid kepada para pendahulu.

Kedua, mentaklid orang yang tidak diketahui oleh si mukallid bahwa orang tersebut layak diambil perkataannya.

Ketiga, taklid setelah tegaknya hujjah dan nampaknya bukti atas perkataan yang menyelisihi pendapat yang diambil oleh si mukallid.

Ia adalah taklid yang disepakati para salaf dan para imam yang empat –rahimahumullah– atas ketercelaan dan keharamannya. Adapun taklidnya seorang yang mengerahkan kemampuan untuk mengikuti wahyu yang diturunkan Allah, kemudian tersembunyi atasnya sebagian dari wahyu Allah itu, lalu dengan sebab itu ia taklid kepada orang yang lebih berilmu darinya, maka ia terpuji dan tidak tercela.[4]

[1] Al-Mu’jam al-Wasith, hal. 754

[2] Syarh al-Waraqat, Ibnu al-Firkah, hal. 369

[3] Idem, hal. 365

[4] Muqaddimah Muhaqqiq Kitab Zad al-Ma’aad, vol. 1, hal. 18, cet. Muassasah al-Risalah

www.sabilulilmi.wordpress.com
Ust resa gunarsa

penjelasan Syaikh shaleh Al Fauzan tentang taqlid

Penjelasan Syaikh Shaleh Al Fauzan tentang taqlid, 

1. Diharamkan taqlid bagi orang yang mengetahui dalil dan mengusai cara berisitdlal.

2. Diperbolehkan taqlid bagi orang yang tidak mengetahui dalil; dengan taqlid kepada para ahli ilmu yang dipercayai keilmuan dan agamanya.
ust Resa gunarsa

IBNU TAIMIYYAH, KAKEK DAN CUCU

IBNU TAIMIYYAH, KAKEK DAN CUCU

Di antara kebiasaan Syaikh Shalih Al Ushaimi yang sering kami dengar, beliau selalu membedakan antar Ibnu Taimiyyah kakek dengan Ibnu Taimiyyah cucu. 

Banyak orang yang tidak tahu kalau ulama yang masyhur dengan nama Ibnu Taimiyyah ada dua. Keduanya adalah Imam Besar madzhab Hambali.

Yang pertama Abul Barakat Majduddiin Abdussalam Ibnu Taimiyyah, beliau penulis kitab Al Muntaqa fi Ahaditsil Ahkam yang kemudian disyarah oleh Asy Syaukani menjadi Nailul Author. Beliau ini Ibnu Taimiyyah Al Jadd (Sang Kakek)

Adapun yang kedua adalah Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdil Halim bin Abdissalaam Ibnu Taimiyyah. Beliau ini yang masyhur dengan gelar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Guru dari imam imam besar macam Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, Ibnul Qayyim dll. Beliau inilah Ibnu Taimiyyah Al Hafid (sang cucu).
Ust Wira bachrun

Ar Rafi’i mengatakan: ketahuilah, bahwa menyembelih kepada suatu sesembahan itu semakna dengan sujud kepadanya

Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:

قَالَ الرَّافِعِيُّ وَاعْلَمْ أَنَّ الذَّبْحَ لِلْمَعْبُودِ وَبِاسْمِهِ نَازِلٌ مَنْزِلَةَ السُّجُودِ وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ أَنْوَاعِ التَّعْظِيمِ وَالْعِبَادَةِ الْمَخْصُوصَةِ بِاَللَّهِ تَعَالَى الَّذِي هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ فَمَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِهِ مِنْ حَيَوَانٍ أَوْ جَمَادٍ كَالصَّنَمِ عَلَى وَجْهِ التَّعْظِيمِ وَالْعِبَادَةِ لَمْ تَحِلَّ ذَبِيحَتُهُ وَكَانَ فِعْلُهُ كُفْرًا كَمَنْ يَسْجُدُ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى سَجْدَةَ عِبَادَةٍ

“Ar Rafi’i mengatakan: ketahuilah, bahwa menyembelih kepada suatu sesembahan itu semakna dengan sujud kepadanya. Keduanya merupakan bentuk pengagungan dan ibadah yang khusus bagi Allah Ta’ala semata. Allah lah yang semata-mata berhak ditujukan kepada-Nya semua ibadah. Maka barangsiapa yang menyembelih untuk selain Allah semisal untuk hewan atau untuk benda mati seperti berhala dalam rangka pengagungan dan ibadah, maka tidak halal daging sembelihannya tersebut dan perbuatannya merupakan kekufuran, sebagaimana orang yang bersujud kepada Allah Ta’ala dengan sujud ibadah” (Al Majmu’ Syarhul Muhadzab, 8/409).
Ustadz Yulia purnama dalam tanya jawab via wag muslim or id