Rabu, 07 Oktober 2026

Sunnah Lebih Berhak untuk Diberitakan

[Sunnah Lebih Berhak untuk Diberitakan]
Maka sunnah Rasulullah ﷺ adalah hal yang paling berhak untuk diberitakan kepada para hamba di setiap negeri. Sebab, hal itu telah disyariatkan oleh Rasulullah ﷺ. Mengikutinya adalah jalan yang ditempuh oleh para ulama terdahulu dari umat ini. Tidak ada dalam agama ini tindakan mengikut hawa nafsu, melainkan mengikut apa yang telah lalu, yaitu agama yang telah disepakati oleh orang-orang sebelummu.
Daud bin Abi Hind berkata: "Jika engkau dikabarkan tentang suatu agama yang telah disepakati oleh orang-orang sebelummu, lalu engkau meninggalkan apa yang mereka perselisihkan di dalamnya, maka sesungguhnya orang-orang yang berselisih itu hanya mengikuti hawa nafsu mereka."
Umar bin Abdul Aziz berkata: "Jika engkau melihat suatu kaum saling berbisik-bisik mengenai agama mereka tanpa melibatkan masyarakat umum, maka ketahuilah bahwa mereka sedang membangun pondasi kesesatan."
Ibnu 'Aun meriwayatkan bahwa Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Seandainya kalian duduk di atas mimbar-mimbar lalu meninggikan suara kalian menyampaikan kebenaran yang wajib disampaikan mengenai Sunnah, niscaya kewajiban atas kalian akan lebih besar daripada kewajiban atas mereka."
Ibnu Abbas berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hawa nafsumu sesuai dengan kebenaran." Beliau lalu berpaling darinya dan berkata: "Setiap hawa nafsu adalah kesesatan. Sesungguhnya setan mendatangi manusia dari pintu maksiat; jika ia tidak mampu, ia mendatangi dari pintu kebaikan untuk menyeretnya membuat bid'ah sehingga meninggalkan sunnah."
Ibnu Mas'ud berkata kepada sebagian pengikut hawa nafsu: "Sungguh kalian telah diberi petunjuk kepada apa yang belum diberi petunjuk oleh Nabi kalian, atau kalian benar-benar sedang memegang pintu kesesatan."
[Penyampaian Hadis dengan Sanadnya Adalah Bagian Agama]
Ibnu 'Aun berkata: Para ahli bid'ah bersepakat untuk membatalkan hadis dari Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya serta mendustakannya. Hal itu karena pengetahuan tentang Sunnah dan pembatalan bid'ah hanya ada pada hadis Rasulullah ﷺ. Hadis dan sanad adalah Sunnah; orang yang belakangan meriwayatkannya dari orang terdahulu, dan generasi pertama wajib menyampaikannya kepada generasi berikutnya. Umat dari awal hingga akhir telah sepakat atas hal ini. Mereka tidak ragu dalam merangkai sanad dan mengumpulkan hadis hingga teruji kepercayaannya. Mereka mengharapkan pahala dalam mengajarkan dan menyampaikannya. Dosa dan hukuman ada pada tindakan menyembunyikan serta meninggalkan penyampaiannya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk..." hingga akhir ayat dalam Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh mereka yang melaknat. Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Hendaknya yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir."
Umar bin Al-Khattab berkata: "Segala puji bagi Allah yang mengamankan para hamba dengan menjadikan di setiap zaman sisa-sisa dari ahli ilmu yang menyeru orang sesat kepada petunjuk, bersabar atas gangguan mereka, dan menghidupkan Kitab Allah bagi orang yang buta hatinya. Betapa banyak orang mati yang dibunuh Iblis lalu mereka hidupkan kembali, dan betapa banyak orang sesat yang bingung lalu mereka beri petunjuk. Mereka mengorbankan dunia dan harta demi menjaga manusia. Alangkah baiknya dampak mereka bagi manusia dan alangkah buruknya balasan manusia kepada mereka. Manusia melupakan mereka seiring berjalannya waktu, hingga hari ketika Tuhanmu bersabda: '...dan Tuhanmu tidak pernah lupa'—maka bagian balasan mereka adalah surga. Dikabarkan tentang indahnya perkataan mereka, tidak ada kekurangan pada diri mereka, dan kedudukan mereka tinggi meskipun musibah menimpa."
[Berpegang Teguh pada Sunnah Adalah Perlindungan]
Wajib bagimu berpegang teguh pada Sunnah, karena Sunnah adalah perlindungan bagimu dengan izin Allah. Ketahuilah bahwa manusia tidaklah membuat suatu bid'ah melainkan telah ada sebelumnya Sunnah yang menjadi petunjuk dan pelajaran. Sunnah adalah keselamatan dari kesalahan, penyimpangan, kebodohan, dan kelalaian bagi yang melanggarnya. Para generasi terdahulu ridha dengannya untuk diri mereka. Mereka berada di atas ilmu yang teguh dan kuat, serta melihat dengan pandangan yang tajam. Mereka memiliki pemahaman yang lebih kuat dan akal yang lebih unggul seandainya ada jalan yang lebih tepat.
[Antara Orang yang Meringkas dan Orang yang Bersungguh-sungguh]
Jika petunjuk adalah apa yang kalian jalani saat ini, maka sungguh generasi terdahulu telah mendahului kalian. Namun jika kalian berkata: "Hal ini baru terjadi setelah mereka", maka tidaklah lahir hal baru melainkan dari orang yang menyelisihi jalan mereka dan membenci diri mereka. Para pendahulu telah berbicara tentang hal itu dengan cukup dan menjelaskannya dengan tuntas. Orang yang berada di bawah mereka tidak perlu mengurangi, dan orang yang di atas mereka tidak perlu berlebihan. Ada kaum yang meremehkan hingga bertindak kasar, dan ada kaum lain yang melampaui batas hingga berlebih-lebihan. Sesungguhnya para pendahulu berada di antara kedua hal tersebut di atas petunjuk yang lurus.

Kitab Al-HujjahDari apa yang dicatat oleh Yahya bin 'Awn (radhiyallahu 'anhu)(Wafat 298 H / 910-911 M)

Kitab Al-Hujjah
Dari apa yang dicatat oleh Yahya bin 'Awn (radhiyallahu 'anhu)
(Wafat 298 H / 910-911 M)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
(Sunnah dan Bid'ah)
[Larangan Menakwilkan Al-Qur'an dengan Selain yang Dijelaskan oleh Nabi]
Amma ba'du, sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi-Nya Muhammad—shallallahu 'alaihi wa sallam—syariat-syariat petunjuk, serta menurunkan Kitab kepadanya yang tidak didatangi kebatilan dari depan maupun dari belakangnya, diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Tidak ada kebengkokan di dalamnya sehingga perlu diluruskan, dan tidak ada kesesatan sehingga perlu dicari pembenarannya. Siapa yang mencari petunjuk pada selainnya, niscaya Allah akan menyesatkannya. Maka orang-orang terdahulu dari para sahabatnya bersegera kepadanya dan mendahului menuju keberuntungan. Mereka adalah para pembela kehormatan Islam, penegak hukum-hukum Allah, dan penjelas bagi orang-orang setelah mereka mengenai penjelasan Kitab yang diturunkan, serta hal-hal yang dilarang bagi manusia untuk menakwilkannya.
Rasulullah—shallallahu 'alaihi wa sallam—adalah penjelas bagi apa yang diturunkan Allah kepadanya dari kalam Allah, penjelas bagi umatnya. Maka tidak ada takwil atas Kitab tersebut kecuali dengan pengetahuan yang terdahulu dari Nabi Al-Musthafa dan dari para sahabatnya yang diridhai-Nya. Adapun orang yang hendak menakwilkan Kitab Allah dengan takwil cerita-cerita dari berbagai pendapat yang berbeda serta hawa nafsu yang terpecah belah, hingga mereka mengembalikan Kitab Allah kepada ucapan orang-orang Arab Badui di pedalaman dan kaum awam, mereka mengklaim bahwa itu adalah takwil dan agama. Dengan ucapan tersebut, mereka menafsirkan Kitab Rabb semesta alam. Ini adalah ucapan orang-orang yang menyimpang dan terpisah dari kebenaran. Para ulama adalah menara petunjuk; jika suatu jalan tidak memiliki menara petunjuk, hampir saja orang yang melaluinya menyimpang ke kanan dan ke kiri tanpa mengetahui jalan yang jelas.
[Akal Adalah Nikmat yang Hampir Menjadi Penyesalan]
Ketahuilah bahwa akal adalah sebuah nikmat, dan bahwasanya ia hampir menjadi penyesalan. Betapa banyak orang berakal yang menyibukkan akalnya dengan mendalami hal-hal yang justru membawa kemudaratan baginya, terhalang dari mengambil manfaat dari apa yang diketahuinya, hingga ia menjadi lalai terhadap apa yang tidak diketahuinya. Dan barang siapa yang akalnya meninggalkan pemikiran, ditinggalkanlah penalarannya sehingga keutamaan akalnya tidak lagi tampak dan menjadi beban baginya dalam meninggalkan perdebatan dengan orang yang berada di bawahnya dalam amal-amal saleh.
[Keluar dari Warisan Ajaran Adalah Jalan Bid'ah]
Seorang lelaki yang hatinya disibukkan oleh bid'ah, maka berkuranglah agamanya dibanding orang-orang di luar para sahabat Muhammad—shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia mencukupkan diri dengan pendapatnya dalam hal-hal yang tidak memberikan petunjuk kecuali padanya, dan ia tidak melihat kesesatan kecuali dalam apa yang ditinggalkannya. Ia mengklaim telah mengambilnya dari Al-Qur'an, padahal ia sedang mengajak kepada perpisahan dengan Al-Qur'an. Apakah Al-Qur'an memiliki pemikul selain mereka?! Sesungguhnya Al-Qur'an adalah imam bagi Rasulullah, Rasulullah adalah imam bagi para sahabatnya, dan para sahabatnya adalah teladan bagi orang-orang setelah mereka dalam apa yang mereka ambil dari Nabi mereka. Maka warisan tersebut berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka adalah orang-orang yang dikenal, konsisten di berbagai negeri, dan sepakat dalam membantah pengikut hawa nafsu.
[Di Padang Belantara Kesesatan]
Setiap kelompok telah terpecah-belah oleh Iblis dalam kesesatannya, tanpa ada imam dalam agama dan tidak dikenal di kalangan kaum muslimin. Mereka saling berjatuhan dalam kesesatannya, bingung di jalan mereka, dan ragu-ragu dengan dipimpin oleh rasa kagum pada diri sendiri. Takjub dan rasa bangga mengintai di belakang mereka. Mereka tidak memiliki menara petunjuk yang dituju dan tidak ada ilmu yang menyeru mereka. Mereka menginginkan perselisihan dan keluar dalam keadaan bingung. Setiap kali setan membisikkan sesuatu dalam kesesatan mereka, mereka berpaling kepadanya. Mereka tidak paham saat berada di sisinya, tidak merenungkan apa yang dikatakan, serta tidak mencari jejak orang-orang terdahulu dan tidak meneladani kaum Muhajirin. Semoga Allah melindungi kami dan Anda dari kejahatan mereka.

Selasa, 06 Oktober 2026

Keunikan sudut pandang Syeikh Al Albani rahimahullah.Ditanya perihal menggunakan hak suara pada pemilu, beliau menjawab:

Keunikan sudut pandang Syeikh Al Albani rahimahullah.

Ditanya perihal menggunakan hak suara pada pemilu, beliau menjawab:
الشيخ : إذا كان هناك أحزاب مختلفة منها إسلامية ومنها ليس إسلامية حينئذٍ يجوز التصويت ليس لأن التصويت ولأن الانتخابات سبل شرعية ، وإنما يجوز التصويت من باب دفع الشر الأكبر بالشر الأصغر اسمع يا شيخ بنشوف أخانا فهم جوابي أم لا فهمت الجواب ؟
Kalau ada partai-partai yang berbeda beda, ada partai Islam dan ada pula partai yang bukan Islam, pada kondisi itu boleh menggunakan hak suara untuk memilih, bukan karena memilih atau karena pemilu itu cara yang sesuai syari'at, tapi boleh memilih sebagai cara mencegah keburukan yang lebih besar dengan keburukan yang lebih kecil. Dengar baik baik wahai Syaikh, kita lihat apakah saudara kita mengerti jawabanku atau tidak. Apakah engkau dapat mengerti jawaban pertanyaanmu?

Namun demikian pada saat yang sama beliau berkata:
وأزيد بيانا لا ننصح مسلمًا أن يرشح نفسه ليكون نائبًا في البرلمان لأنه من حيث العاقبة والخاتمة وإنما الأعمال بالخواتيم سيكون بدل أن يكون نائبًا أن يكون نائبة .
Saya ingin menambahkan penjelasan bahwa kami tidak menyarankan seorang muslim untuk mencalonkan diri sebagai anggota parlemen karena perteimbangan dampak dan akhir dari posisinya, karena nilai suatu pekerjaan ditentukan oleh kondisi pada akhirnya, alih-alih menjadi deputi/penentu kebijakan, yang terjadi dia sekedar menjadi pelaksana (tukang stempel saja).

Monggo didiskusikan bila berselera.
https://www.al-albany.com/audios/content/149552/%D9%87%D9%84-%D9%8A%D8%AC%D9%88%D8%B2-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%B5%D9%88%D9%8A%D8%AA-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%AA%D8%AE%D8%A7%D8%A8%D8%A7%D8%AA?fbclid=IwdGRjcAUycgljbGNrBTJyCGV4dG4DYWVtAjExAHBkb2YFc3J0YwZhcHBfaWQMMzUwNjg1NTMxNzI4AAEepkKB29E7et20nRcs6ri5tM901VT6q5ziFZU-NEoH6rO0gM9rETaTGDmLsHs_aem_hLQrBP2hLFkPyJE6J8Bcuw

Ahlus Sunnah memiliki dua cara dalam membagi tauhid.

Ahlus Sunnah memiliki dua cara dalam membagi tauhid.

Pertama, pembagian menjadi dua, yaitu:

1. Tauhid al-Ma‘rifah wal-Itsbat, yaitu mengesakan Allah dalam pengetahuan dan penetapan tentang-Nya.

2. Tauhid ath-Thalab wal-Qashd, yaitu mengesakan Allah dalam tuntutan ibadah dan tujuan penghambaan kepada-Nya.

Kedua, pembagian menjadi tiga, yaitu:

1. Tauhid Rububiyah, yaitu mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti mencipta, memiliki dan mengatur seluruh makhluk.

2. Tauhid Uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.

3. Tauhid al-Asma’ wash-Shifat, yaitu mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tidak ada pertentangan antara kedua pembagian tersebut, karena dasar atau sudut pandang pembagiannya berbeda.

Pembagian tauhid menjadi dua didasarkan pada apa yang wajib dilakukan oleh seorang hamba.

Sedangkan pembagian tauhid menjadi tiga didasarkan pada apa yang menjadi hak dan kesempurnaan yang wajib ditetapkan bagi Allah ta'ala.

Pada dasarnya, berbagai pembagian yang dinukil dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam pembahasan tauhid dan akidah tidaklah saling bertentangan. Perbedaannya hanya pada bentuk pembagian yang tampak, karena sudut pandang yang digunakan berbeda.

Orang yang tidak memahami hal ini bisa mengira bahwa pembagian tersebut merupakan pendapat-pendapat yang berbeda di kalangan Ahlus Sunnah. Padahal sebenarnya, keduanya dapat menjelaskan hakikat tauhid dari sudut pandang yang berbeda.

[Syarah al-Qashd as-Sadid ‘ala Kitabit Tauhid karya Syaikh Faisal Alu Mubarak, oleh Syaikh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushaimi]
Unn

Senin, 05 Oktober 2026

Untuk setiap pasangan suami istri, khususnya yang sudah berusia lanjut:

Untuk setiap pasangan suami istri, khususnya yang sudah berusia lanjut:

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kesusahan & pertengkaran. Yang terpenting adalah mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi kewajibanmu, sebelum menuntut hak pasanganmu. 

Hendaknya pula engkau berdua mengingat kembali masa lalu yang indah serta mengingat pahala bagi orang-orang yang bersabar.
===
Follow Chanel telegram & instagram Syaikh Prof.Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah dalam bahasa Indonesia: @alqaryuti_id

#SyaikhAshimAlQaryuti #twitulama #nasihat  #RenunganKeluarga #suamiistri #rumahtangga

Muhammad bin Jamil Zeno Al-Halabi lalu Al-Makki



[ 47 ] Syaikh, Pengajar, dan Da'i Muhammad bin Jamil Zeno Al-Halabi lalu Al-Makki, penyusun "Majmu'ah Rasail At-Tawjihat Al-Islamiyyah". Beliau menyebarkan akidah Salaf melalui risalah yang ringkas dan ungkapan yang mudah dipahami, sehingga risalah-risalahnya tersebar ke berbagai penjuru dunia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beliau wafat di Makkah pada tahun 1431 H.

▪︎ Nama, Nasab, dan Kelahirannya: Beliau adalah Muhammad bin Jamil Zeno, lahir dan tumbuh besar di Aleppo (Halab), menetap dan wafat di Makkah. Beliau lahir di kota Aleppo pada tahun 1925 M menurut paspornya (bertepatan dengan tahun 1344 H). Saya belum menemukan kunyah yang pasti bagi beliau maupun asal-usul keluarganya sebelum menetap di Aleppo. Ketika berusia sekitar sepuluh tahun, beliau masuk ke sekolah swasta untuk belajar membaca dan menulis, kemudian menimba ilmu di sekolah Darul Huffazh selama lima tahun dan berhasil menghafal Al-Qur'an secara tajwid.

▪︎ Menuntut Ilmu dan Guru-Gurunya: Beliau melanjutkan pendidikan ke Al-Kulliyyah Asy-Syar'iyyah At-Tajhiziyyah di Aleppo (yang kemudian menjadi SMA Syariah). Di sana beliau mempelajari tafsir, fikih Hanafi, nahwu, sharaf, hadis beserta ilmu-ilmunya, di samping ilmu-ilmu umum, dan meraih ijazahnya pada tahun 1948 M. Beliau sempat lulus seleksi beasiswa ke Al-Azhar, namun tidak berangkat karena alasan kesehatan. Kemudian beliau masuk Darul Mu'allimin di Aleppo dan mengajar selama kurang lebih 29 tahun. Di antara guru utama yang memberikan manfaat besar bagi beliau adalah:

  • Syaikh Ahmad Al-Qallasy: Disebutkan dalam berita duka beliau bahwa Syaikh Zeno termasuk muridnya, dan beliau turut menyusun dua buku bersamanya yang dicetak di Aleppo. Namun, saya belum menemukan rincian kitab apa saja yang dipelajarinya dari beliau.
  • Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani: Beliau menjalin hubungan dengan Syaikh Al-Albani dan sangat terpengaruh oleh manhajnya. Biografi Syaikh Zeno yang dipublikasikan dalam arsipnya menganggapnya sebagai salah satu murid paling menonjol dari Syaikh Al-Albani. Hubungan baik tersebut terus berlanjut hingga Syaikh Zeno menjenguk Syaikh Al-Albani pada masa sakit terakhirnya di Amman.

▪︎ Akidah dan Pujian Para Ulama Kepadanya: Beliau tumbuh dalam lingkungan tarekat-tarekat sufi; mengambil wirid Naqsyabandiyah sewaktu kecil, lalu berpindah ke Syadziliyah, Qadiriyah, hingga Mawlawiyah, serta pernah keluar bersama Jamaah Tabligh. Awal mula petunjuk (hidayah) baginya adalah ketika beliau membaca hadis "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah" dari kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah di hadapan gurunya. Beliau kagum dengan penjelasan Imam An-Nawawi mengenai istighatsah. Namun, ketika beliau berdiskusi dengan gurunya, sang guru mengatakan bahwa beliau memiliki pemikiran Wahabi. Maka beliau pun mencari tahu tentang pemikiran tersebut hingga menemukan sebuah halaqah yang diadakan setiap Kamis malam yang membahas tafsir, fikih, dan hadis. Sejak saat itu, beliau berpegang teguh pada jalan Salaf dan menjadikan dakwah tauhid sebagai fokus utamanya.

Ketika beliau datang untuk berumrah pada tahun 1399 H, Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz mengetahui kelurusan akidah Salaf beliau, sehingga menugaskannya sebagai pengajar di Masjidil Haram selama musim haji. Kemudian beliau diutus ke Yordania dan menetap di Ar-Ramtha sebagai imam, khatib, dan pengajar Al-Qur'an di Masjid Salahuddin. Beliau kembali pada bulan Ramadan tahun 1400 H dan mengajar tafsir, tauhid, serta Al-Qur'an di Darul Hadits Al-Khairiyyah di Makkah atas arahan dari Syaikh Bin Baz. Dengan demikian, beliau mendapatkan rekomendasi dari Syaikh Bin Baz sekaligus diakui oleh Syaikh Al-Albani sebagai muridnya.

▪︎ Karya Tulisnya: Karya-karyanya didominasi oleh risalah-risalah yang ringkas dan mudah dipahami. Karya-karya tersebut dihimpun dalam seri Silsilah At-Tawjihat Al-Islamiyyah hingga melebihi 20 risalah, yang mana ratusan ribu eksemplar telah dicetak dan sebagian besarnya dibagikan secara gratis. Di antaranya:

  • «مجموعة رسائل التوجيهات الإسلامية لإصلاح الفرد والمجتمع» (Majmu'ah Rasail At-Tawjihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama'): Himpunan risalah-risalah beliau, dicetak oleh Dar Ash-Shumai'i di Riyadh dalam tiga jilid.
  • «كيف اهتديت إلى التوحيد والصراط المستقيم؟» (Kayfa Ihtadaytu ilat Tauhid wash Shiratil Mustaqim?): Autobiografi tulisan beliau sendiri mengenai perjalanannya keluar dari tarekat-tarekat sufi menuju tauhid.
  • «منهاج الفرقة الناجية والطائفة المنصورة» (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wat Tha'ifah Al-Manshurah): Membahas akidah dan ciri-ciri Golongan yang Selamat (Ahlus Sunnah).
  • «عقيدة كل مسلم في سؤال وجواب» ('Aqidatu Kulli Muslim fi Su'al wa Jawab): Penjelasan akidah yang disederhanakan dalam bentuk tanya-jawab.
  • «تفسير وبيان لأعظم سورة في القرآن» (Tafsir wa Bayan li A'zhami Suratin fil Qur'an): Tafsir surah Al-Fatihah.
  • «التحذير الجديد من مختصرات الصابوني في التفسير» (At-Tahdzir Al-Jadid min Mukhtasharat Ash-Shabuni fit Tafsir): Kritik terhadap ringkasan-ringkasan tafsir karya Ash-Shabuni.

▪︎ Wafatnya: Beliau wafat di Makkah pada hari Jumat, 29 Syawal tahun 1431 H (bertepatan dengan 8 Oktober 2010 M) dalam usia lebih dari 80 tahun. Jenazahnya dishalatkan di Masjidil Haram setelah shalat Isya dan dimakamkan di pemakaman Makkah. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya.

Dihimpun dan disusun oleh: Faisal Al-Ali, semoga Allah mengampuninya.

Pada dasarnya, semua kaum Muslimin adalah Salafi



---

Bilal Bareer, jazakallahu khairan.



Pada dasarnya, semua kaum Muslimin adalah Salafi

Karena mereka semua meyakini wajibnya mengikuti Rasulullah ﷺ dan jalan para sahabat dalam hal itu. Inilah asalnya.

Oleh sebab itu, orang awam lebih dekat kepada Salafiyah daripada ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu.

Orang awam, tidaklah engkau sodorkan manhaj dan jalan ini kepadanya kecuali ia membenarkanmu dan mengikuti kebenaran, serta mengetahui bahwa inilah jalan yang lurus.

Orang awam, meskipun ia memendekkan jenggotnya, mencukurnya, atau memanjangkan pakaiannya (isbal), tetapi ia tetap berpegang pada prinsip dasar tersebut, dengan tetap ada pelanggaran yang ia lakukan. Maka ia adalah seorang Salafi yang lalai (kurang) dalam perkara-perkara ini.

Bisa jadi engkau mendapati seseorang yang memendekkan pakaiannya dan memanjangkan jenggotnya, namun ia telah keluar dari jalan yang lurus.

Adapun Rasulullah ﷺ telah menyebutkan suatu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melewati kerongkongan mereka; salah seorang di antara kalian akan meremehkan shalatnya dibandingkan shalat mereka, dan puasanya dibandingkan puasa mereka. Mereka adalah "Khawarij"

Meski begitu, beliau bersabda: "Jika aku menjumpai mereka, niscaya aku akan membunuh mereka seperti pembunuhan kaum 'Ad."

Wallahul muwaffiq (dan Allah-lah pemberi taufik).

**Muhammad Bazmul** ✍️

---