Rabu, 03 April 2024

Seorang wanita Kristen wafat, suaminya muslim, dalam perutnya ada janin usia 7 bulan.Di mana di makamkan, di pekuburan muslim atau Kristen ?

Saya takjub dengan fatwa ini

Bagaimana beliau di masa di mana tidak ada alat USG bisa mengetahui posisi wajah bayi yang dikenal dalam istilah medis sebagai anterior, yakni wajah bayi usia 33-36 Minggu menghadap punggung Ibunya.

Dalam fatwa ini, ditanyakan kepada Beliau:
Seorang wanita Kristen wafat, suaminya muslim, dalam perutnya ada janin usia 7 bulan.

Di mana di makamkan, di pekuburan muslim atau Kristen ?

Beliau menjawab:
Dikubur terpisah tidak di keduanya.

Dengan cara punggung Ibunya menghadap kiblat, karena wajah anaknya menghadap punggung ibunya, sehingga wajah anaknya akan menghadap kiblat.

Karena bayinya Muslim mengikuti Ayahnya yang muslim, meski ibunya non muslim.

Masyaallah..
Tidak habis pikir, bagaimana beliau bisa mengetahui ini semua, padahal beliau juga tidak sempat menikah sampai wafat sehingga tidak ada pengalaman dengan istrinya sendiri.

Dan bukan kebiasaan beliau percaya tanpa memverifikasi.
Ustadz aly rayhan
Pandangan yang disampaikan oleh Ibn Taimiyah itu adalah mazhab Hanbaliy dan Syafi''iy. Silakan dicek dalam al-Mughnī dan Fatawa an-Nawawiy (gambar terlampir di kolom komentar). Keduanya lebih dahulu dari Ibn Taimiyah rahimahumullah.

Jadi, tidak perlu kaget :) Dan jika ingin takjub, takjublah pada al-Imam Ahmad atau sekalian takjub pada Watsilah bin al-Asqa' seorang dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena asal-muasal pendapat ini diriwayatkan dari Beliau.
Catatan tambahan dari Ustadz alee masaid

Mendoakan Kebaikan dan Hidayah untuk Pemimpin

Mendoakan Kebaikan dan Hidayah untuk Pemimpin

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzahullah mengatakan (yang maknanya):

"Termasuk ciri manhaj Ahlussunnah wal Jamaah adalah bermuamalah dengan pemimpin kaum muslimin, yaitu dengan mendengar dan taat dalam perkara kebaikan.

Maksud perintah mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian seorang budak, adalah jangan merendahkan peimpin kalian, karena yang dilihat bukan pribadinya dan nasab keturunannya. Meskipun ia (pernah menjadi) budak, tetapi yang dilihat adalah kedudukannya sebagai pemimpin dan penguasa." 

Beliau melanjutkan:

"Ahlussunnah wal Jamaah tidak mencela pemimpin mereka di majelis-majelis, di kajian-kajian, atau saat khutbah. Akan tetapi Ahlussunnah mendoakan kebaikan dan hidayah untuk pemimpinnya baik di atas mimbar pada saat khutbah Jumat atau di tempat lain.

Karena dengan baiknya pemimpin maka akan baik pula rakyatnya. Berbeda dengan kaum Khawarij dan Mu'tazilah yang mereka tidak mau mendoakan kebaikan untuk pemimpin bahkan mengingkari hal ini. Maka enggan mendoakan pemimpin adalah bentuk kecondongan kepada Khawarij yang diingkari oleh Ahlussunnah wal Jamaah." 

(Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam "Mengenal Ahlussunnah dan Manhajnya", Pustaka El-Qibty, Penerjemah Ustadz Mohammad Alif, Lc., hal 102-113)
Di posting oleh ustadz muadz mukhadasin

Selasa, 02 April 2024

JADI IMAM ITU HARUS BIJAK

#FAWAID_RAMADHAN

JADI IMAM ITU HARUS BIJAK

Sesuatu yang sudah menjadi adah atau kebiasaan dalam sebuah masyarakat sepatutnya untuk dihargai, selama tidak menyelisihi aturan syariat. Ini berlaku dalam segala hal, begitu juga dalam masalah perimaman.

Karena di musim bulan Ramadhan seperti ini, banyak yang mendadak diangkat menjadi imam di tempat tertentu. 

Nah, ketika ditunjuk menjadi imam, maka perlu untuk mengetahui kondisi tempatnya, tentang bagaimana tata cara mereka shalat, berapa durasi bacaan rata-rata. Ketika punya pengetahuan seperti ini, maka akan meminimalisir kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.

Contohnya, dalam pelaksanaan shalat witir. Memang, bisa dilakukan secara fashl (dipisah jadi 2+1) bisa juga washl (langsung 3 rakaat). Ketika di sebuah tempat terbiasa fashl, maka otomatis setiap yang menjadi imam disitu akan disangka melakukan secara fashl.

Masalah terjadi ketika si imam ternyata melakukannya secara washl, masyarakat yang menjadi makmunya otomatis akan mengalami kebingungan. 

Ada mungkin yang bertasbih, karena berkeyakinan imamnya ketambahan satu rakaat. Ada mungkin yang tetep melanjutkan tasyahud, karena dia sedari awal berniat dua rakaat, dan ketika ganti niat, maka akan membatalkan shalatnya (menurut keyakinannya). Dan ada juga yang langsung merubah niat, terus ikut berdiri bersama imam. Mana yang benar dalam kondisi ini? Hal ini perlu jawaban dalam ilmu fikih.

Yang jelas, sikap imam tersebut tidak tepat. Ketika memang dia mau melakukan hal yang menyelisihi, seharusnya dia beritahu makmumnya tentang cara seperti apa yang akan dia kerjakan.

Saya pribadi pernah menyaksikan kejadian seperti ini, dan konon katanya, imam tadi, tidak pernah ditunjuk lagi oleh takmir masjid, dengan alasan menimbulkan kegaduhan.

Kejadian serupa ini kembali saya lihat di Masjid Syaikh Muhammad bin Ibrohim, di kampus Universitas Islam Madinah. Padahal imam2 sebelumnya selalu melakukan witir secara fashl.

Saya sedikit komentarin begini....
Memang dalam kitab-kitab fikih didapati ada anjuran untuk bervariasi dalam pelaksanaan ibadah, diantara tujuannya adalah untuk ta'liim (mengajari) manusia, bahwa pelaksanaan ibadah tidak hanya satu kaifiyyah. Dari sisi ini, iya benar. Tp ketika hal itu dilakukan tanpa ada pemberitahuan kepada orang-orang sekitar, itu namanya bukan ta'liim, tapi menabrak kebiasaan yang sudah berlaku.

Jadi bersikaplah bijak ketika menjadi imam. Tidak hanya dalam kasus shalat witir saja, tetapi dalam hal lainnya, seperti jahr nya basmalah dll. Ketika ingin bervariasi, tafadhdhol apabila masyarakat bisa menerimanya, tetapi sebelum memulai hendaknya ada pemberitahuan sebelumnya.

Ini sedikit komentar untuk sebagian imam-imam, terutama di bulan Ramadhan. Yang seharusnya disampaikan di awal-awal bulan, tetapi tidak mengapa bila telat, karena baru-baru ini kembali menyaksikan hal serupa. Semoga bisa memberikan pencerahan.

Madinah Munawwarah, 2 April 2024
Ustadz ahbib

Sedang ramai masalah niat puasa (menurut madzhab Syafiiyah yang melafadzkan). Soal apakah dibaca Romadhona atau Romadhoni.

Dona apa Doni?

Sedang ramai masalah niat puasa (menurut madzhab Syafiiyah yang melafadzkan). Soal apakah dibaca Romadhona atau Romadhoni.

Nawaitu shoum ghodin 'an ada'i fardhi syahri Romadhoni/Romadhona hadzihis sanati, lillahi rabbil alamin.

Bagi yang memilih dhoni, alasannya karena mudhof. Jadi Romadhona idhofah kepada syahri. Karena idhofah maka sifat aslinya sebagai mamnu minal sorfi hilang dan berlaku i'rab umumnya. Arti dalam bahasa Indonesia menjadi

Aku berniat puasa pada pagi hari, karena menunaikan kewajibannya puasanya bulan ramadhan pada tahun ini karena Allah ta'ala.

Sedangkan bagi yang memilih dhona, alasannya karena ia dhorof. Jadi, idhofah terhenti pada syahri kemudian setelahnya adalah dharaf, sehingga kira-kira artinya dalam bahan Indonesia menjadi

Aku berniat puasa pada pagi hari karena menunaikan wajibnya puasa pada Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala.

Hanya saja, untuk dhoni harusnya dibaca setiap malam, karena terjadi pembatasan waktu, yakni niatan hanya berlaku setiap hari, dan ini sesuai madzhab Syafiiyah.

Sedangkan untuk dhona bisa berlaku satu bulan penuh karena niatnya untuk satu bulan, hanya saja ini bukan madzhabnya syafiiyah yang populer dalam menjamak niat.

Allahu a'lam
Ustadz Prasetyo 

Seandainya shalat tarawehnya tetap di awal bersama Imam Dan tidak di ganti di tengah malam, insyallah tetap dapat lailatul Qadr . karena ada Mursal Ibnu Musayyab . Kata Imam Malik,

Seandainya shalat tarawehnya tetap di awal bersama Imam Dan tidak di ganti di tengah malam, insyallah tetap dapat lailatul Qadr . karena ada Mursal Ibnu Musayyab . Kata Imam Malik, 

“ telah sampai kepadaku bahwa Ibnul Musayyab berkata, “ barangsiapa yang shalat isya berjamaah di malam lailatul Qadar, maka sungguh ia telah mendapatkan bagian dari lailatul Qadar. ”  ( NB : maroosil Ibnul Musayyab adalah hujjah disisi Imam Syafi'i dan Imam Malik) 

Imam Syafi'i juga berkata, “siapa yang shalat isya dan subuh pada malam lailatul Qadr, maka sungguh ia telah mendapatkan bagian darinya. ”

å Zakariya Rizky Abu Zakiyyah

SEBAIK-BAIK DOA HAMBA KEPADA ALLAH

SEBAIK-BAIK DOA HAMBA KEPADA ALLAH

Doa yang paling Allah cintai dari seorang hamba adalah doa minta al-'Aafiyah.

Apa makna Afiyah/afiyat?

AL-'AAFIYAH (العافية) adalah keselamatan dan penjagaan dari segala keburukan, baik dari  segi harta, keluarga, kesehatan badan dan semua penjagaan dari kejelekan dan keburukan dunia dan Akhirat.

بيانُ فَضلِ العافيةِ وأنَّ فيها جِماعَ الخيرِ في الدُّنيا والآخرةِ.

Paman Nabi Abbas bin Abdul Mutthalib radhiyallahu 'anhu pernah mendatangi nabi dan berkata: ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu yg aku akan berdoa kepada Allah dengannya. Nabi menjawab: mintalah kepada Allah AL-'AAFIYAH, kemudian setelah beberapa hari Abbas datang dan berkata lagi: ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu yang aku akan memintanya kepada Allah. Maka nabi menjawab: " Wahai Abbas, wahai paman Nabi, mintalah kepada Allah Al-'Aafiyah di dunia dan akhirat. (HR. Tirmidzi).

 Ibnu Qayyim rahimahullah:

ما سُئل الربُ شيئاً أحبَّ إليه من العافية، لأنَّها كلمة جامعة للتخلص من الشر كله وأسبابه " - الإمام ابن القيم

Tidaklah Allah dimintai sesuatu yang lebih Dia cintai dari pada permohonan AL 'AAFIYAH, Karena al-'Aafiyah adlah kalimat yang mengumpulkan semua keselamatan dari seluruh keburukan dan sebab-sebabnya. (Ibn al-Qayyim, Syifa' al-'Alil: 111)

ما من دَعْوَةٍ أحبُّ إلى اللهِ أن يَدْعُوَ بِها عبدٌ من أنْ يقولَ : اللهمَّ إنِّي أسألُكَ المُعَافَاةَ أوْ ( العافيةَ ) في الدنيا والآخرةِ.

tidak ada doa hamba yang lebih dicintai Allah dari pada doa Allahumma inii as-aluka al-'Aafiyah fiddun-ya wal Aakhirah (ya Allah aku memohon kepadamu al-'Aafiyah di dunia dan di akhirat. (Fath Rabbani 11/5517)

Rasul bersabda:

ما من دعوةٍ يدعو بها العبدُ أفضلُ من اللَّهمَّ إنِّي أسألُك المعافاةَ في الدُّنيا والآخرةِ

tidak ada doa yng dipanjatkan seorang hamba yang lebih utama dari pada doa: " ya Allah aku memohon kepadamu al-Mu'afaah/al-'Aafiyah di dunia dan akhirat. (HR. Ibnu Majah).

Dr. Fadlan Fahamsyah hafizhahullah.

BAGAIMANA MERAIH AMPUNAN DAN KEBERKAHAN DI MALAM LAILATUL QADAR?

BAGAIMANA MERAIH AMPUNAN DAN KEBERKAHAN DI MALAM LAILATUL QADAR?

Syaikh Ali Abu Haniyah hafizhahullahu berkata: 
- Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang berdiri di malam laitul qadar dengan didasari oleh keimanan (kepada Allah) dan mengharapkan pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari Muslim)
- Sebagian orang keliru dalam memahami arti berdiri di dalam hadist di atas. Berdiri disitu tidak hanya berarti shalat. Tapi juga bisa dengan berdoa, berdzikir, membaca Al-Quran dan melaksanakan berbagai bentuk ketaatan.
- Aisyah Radhiyallahu 'Anha pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang (amalan/ucapan) di malam Lailatul Qadar, maka beliau memerintahkan nya untuk membaca doa: 
اللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan maka maafkan diriku. (HSR. Ibnu Majah)

(Diterjemahkan dari Twitter Syaikh Ali Abu Haniyah tanggal 3 Mei 2021)
Ustadz Abdurrahman toyib