Senin, 25 Maret 2024

Hukum Menjadikan Hilal Bulan dan Bintang Sebagai Simbol Islam

Hukum Menjadikan Hilal Bulan dan Bintang Sebagai Simbol Islam

اتخّاذ الهلال شعارا

السؤال 1528
Pertanyaan no.1528 :

ما الذي يرمز إليه شعار الهلال والنجمة لدى المسلمين؟ لقد بحثت في موقعك على الإنترنت وكذلك في المراجع الموجودة في المكتبة لديَ ولم أعثر على شيء سوى إشارة إلى علم الإمبراطورية العثمانية. شكراً لك على اهتمامك.

Apa maksud dari simbol hilal bulan dan simbol bintang yang digunakan umat islam? saya pribadi sudah berusaha mencari di web  internet anda, begitu pula sudah saya cari-cari di setiap kitab-kitab rujukan yang ada, akan tetapi saya belum juga mendapatkan jawaban akan masalah ini kecuali hanya simbol kekaisaran Utsmaniyah, terimakasih atas perhatiannya. 

الجواب
Jawab :

الحمد لله.

Segala puji hanya milik Allah 

إن اتخاذ الأهلة أو النجوم شعاراً للمسلمين لا أصل له في الشرع ، ولم يكن معروفاً في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ولا عهد خلفائه الراشدين بل ولا في عهد بني أمية ، 

Sesungguhnya menjadikan hilal-hilal dan bintang-bintang sebagai simbol syi'ar umat islam adalah perbuatan yang tidak berasaskan sama sekali dari syariat dan tidak ada sumbernya dari syariat, tidak pula dikenal di zaman Nabi shallaallahu alaihi wa sallam, dan tidak pula di zaman para khalifah empat, bahkan sampai di zaman kekhalifahan Bani Umayyah pun tidak dikenal. 

وإنما حدث بعد ذلك واختلف بعض أصحاب التواريخ في أول حدوثه ، وفي أول من فعله فقيل الفرس ، وقيل الإغريق ثم انتقل إلى المسلمين في بعض الحوادث ، ( يُنظر التراتيب الإدارية للكتاني 1/320 ) ،

Kemudian penampakan ini terjadi setelah zaman-zaman mereka, dan mereka para ahli sejarah sendiri berbeda pendapat dalam masalah ini siapa yang pertama mengangkat simbol ini. 
Katanya pertama yang mengangkatnya adalah persia, dan katanya pertama yang mengangkatnya sebagai simbol adalah mereka orang-orang yunani kuno yg kemudian ajaran ini pindah ke umat islam di sebagian kejadian zaman. [Lihat kitab at-Tarotib al-Idariyyah karya al-Kattaniy 1/320]

 ويقال أن اتخاذ الهلال سببه هو أن المسلمين حين فتحوا بعض بلاد الغرب وفي كنائسهم يعلو فيها الصليب وضع المسلمون بدل الصليب هذا الهلال فانتشر لذلك ، وعلى كلٍّ فالشعارات والرايات لابد وأن تكون موافقة للشرع وحيث أنه ليس هناك دليل على مشروعيتها فالأحرى ترك ذلك

Dikatakan juga bahwa sesungguhnya asal muasal hilal dijadikan simbol dimulai ketika umat islam menaklukkan sebagian negeri-negeri barat, dan di saat itu mereka mendapati di atas gereja-gereja terdapat simbol salib. Maka umat islam menggantinya dengan hilal bulan, lantas kemudian tersebarlah perkara ini. 

Intinya seluruh syi'ar-syi'ar dan bendera-bendera harus sesuai dengan ajaran syariat islam dan selama tidak ada satupun dalil atas pensyariatannya maka lebih baik ditinggalkan. 

 ، وليس الهلال ولا النجمة شعاراً للمسلمين ، ولو اتخذه بعض المسلمين ، وأما من جهة - ما يعتقده المسلمون في القمر والنجوم فإنهم يعتقدون أنها من خلق الله عز وجل لا تنفع ولا تضر ولا تؤثر بذاتها في الأحداث الأرضية ، وإنما خلقها الله لفوائد البشر ، ومن ذلك قول الله عز وجل : ( يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ .. الآية (189) سورة البقرة . نقل ابن كثير رحمه الله في معنى قوله قل هي مواقيت للناس : يعلمون بها حل دينهم وعدة نسائهم ووقت حجهم .. جعلها الله مواقيت لصوم المسلمين وإفطارهم وعِدَّة نسائهم ومحل دَيْنهم . تفسير ابن كثير

Gambar hilal dan bintang hakekatnya bukanlah simbol kaum muslimin meskipun sebagian umat islam menjadikannya simbol. 
Adapun tinjauan dari sisi akidah umat islam terhadap bulan dan bintang-bintang, maka mereka semua meyakini bahwa bulan dan bintang termasuk dari makhluk-makhluk Allah yang tidak dapat memberikan manfaat ataupun madhorot serta tidak dapat memberikan pengaruh terhadap apa yg akan terjadi di bumi. 

Tujuan Allah menciptakan bulan dan bintang tak lain melainkan hanya untuk kebaikan dan manfaat manusia, diantaranya sebagaimana Firman Allah :

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal bulan, Katakanlah: "Hilal bulan itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.. ” (Al-Baqarah):189 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna dari kata-kata “Katakanlah: "Hilal bulan itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia....” yakni : Dengan hilal-hilal tersebut para manusia jadi mengetahui kapan jatuh tempo membayar hutang, tempo masa iddah dan waktu haji mereka... Allah menjadikan hilal-hilal tersebut sebagai penentu waktu-waktu umat islam kapan berpuasa dan berbuka, kapan habisnya masa iddah, dan kapan jatuhnya tempo membayar hutang. [Tafsir Ibnu Katsir]

وقال القرطبي رحمه الله في تفسير الآية : تبيين لوجه الحكمة في زيادة القمر ونقصانه, وهو زوال الإشكال في الآجال والمعاملات والأَيْمان والحج والعُدَد والصوم والفطر ومدة الحمل والإجارات .. إلى غير ذلك من مصالح العباد.
ونظيره قوله الحق: "وجعلنا الليل والنهار آيتين فمحونا آية الليل وجعلنا آية النهار مبصرة لتبتغوا فضلا من ربكم ولتعلموا عدد السنين والحساب" [الإسراء: 12] .. وقوله : "هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدَّره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب" [يونس: 5] وإحصاء الأهلة أيسر من إحصاء الأيام . أنظر تفسير القرطبي .

Al-Qurtubi rahimahullah mengatakan dalam tafsir ayatnya: Hikmah di balik naik turunnya bulan adalah untuk menghilangkan rasa keragu-raguan dalam hal kesepakatan tempo di dalam bertransaksi, persumpahan, dalam masa haji, perjumlahan, puasa, berbuka puasa, masa hamil, dan masa sewa-menyewa serta kepentingan hamba lainnya. 

Terdapat juga ayat yang sepadan yaitu firman Allah : “Dan Kami jadikan malam dan siang dua tanda, lalu Kami hapus tanda malam dan jadikan tanda siang itu tampak, agar kamu mencari karunia dari Robbmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungannya” {Al-Israa: 12}. 

Sebagaimana firman Allah lainnya : “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” {Yūnus :5}
Dan menghitung hilal lebih mudah daripada menghitung hari. 
[Lihat tafsir Al-Qurtubi.]

أمّا النّجوم فقد قال علماء الإسلام خَلَقَ ( الله ) هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاثٍ جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَعَلامَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا ، صحيح البخاري كتاب بدء الخلق كما قال تعالى : ( وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ .. ) الآية 97 سورة الأنعام ، وقال تعالى : ( وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِير ) سورة تبارك آية 5 ، والله تعالى أعلم

Adapun Bintang-bintang, maka para ulama telah mengatakan bahwa bintang-bintang tersebut tidak diciptakan melainkan untuk tiga tujuan : Menghiasi langit, batu untuk melempari setan-setan, dan sebagai tanda-tanda petunjuk(arah kiblat, mata angin dll) 
Sebagaimana hal ini disebutkan di Sahih Bukhari bab “Awal penciptaan”, Allah Sang Maha kuasa berfirman : 
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut” {Al-'An`ām:97} dan juga Allah azza wa jalla berfirman : 
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”
{al-Mulk : 5}

=============
Terjemah : Abu Musa al-Mizzy
Sumber : Web islamqa
https://islamqa.info/amp/ar/answers/1528

Baru-baru ini beredar video salah satu peserta dari negeri kita tercinta yg mengikuti program tilawah Alqur’an bersama sayyidi Asy-Syaikh Aiman Rusydi Suwaid Allahu yahfadz. Namun, disana Syaikh memberikan catatan untuknya hingga viral dimana-mana, disebabkan gaya bacaannya yg dilagu-lagukan. Subhaanallah..

Bismillahi walhamdulillah, amma ba’du.

Baru-baru ini beredar video salah satu peserta dari negeri kita tercinta yg mengikuti program tilawah Alqur’an bersama sayyidi Asy-Syaikh Aiman Rusydi Suwaid Allahu yahfadz. 
Namun, disana Syaikh memberikan catatan untuknya hingga viral dimana-mana, disebabkan gaya bacaannya yg dilagu-lagukan. Subhaanallah..

Izinkan kami berbagi faidah dari guru kami Al ustadz Saih hafidzahullah berkaitan hal ini..

Dalam istilah para ulama tajwid dan qiraat, permasalahan ini dinamakan dengan Qiraatul Qur’aan bil Alhaan. Permasalahan ini sangat masyhur dan jadi bahasan yang cukup panjang di antara mereka. Alhaan diambil dari kata Lahn, yang berarti Tathriib wal Ghinaa‘. Suara-suara tambahan yang dikeluarkan dalam bentuk irama lagu dan lekukan atau getaran saat membaca Alquran. Lahn di sini bukan berarti kesalahan, karena dalam bab lain, ia bisa diartikan demikian. Lahn di bab ini sering disebut juga dengan Nagham.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Qasthalani menamakan fann ini dengan Qaanun An-Naghm. Aturan mengiramakan suara atau nada ketika melantunkan bacaan Alquran. Sebagaimana sya’ir Arab punya Qanuun Asy-Syi’r yang dinamakan dengan Al-‘Aruudh.

Dalam Fathul Baari disebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas,

‎أن داود عليه السلام كان يقرأ الزبور بسبعين لحنا ويقرأ قراءة يطرب منها المحموم وكان إذا أراد أن يبكي نفسه لم تبق دابة في بر ولا بحر إلا أنصتت له واستمعت وبكت

Bahwa Nabi Dawud membaca kitab Zabur dengan tujuh puluh tangga lagu. Dan ia membaca dengan bacaan yang menggetarkan orang yang demam. Jika ia ingin membuat dirinya menangis ketika membaca Zabur, maka tidak akan ada satu pun binatang di daratan atau di lautan kecuali terdiam dan mendengarkan bacaannya lalu menangis.

Tujuh puluh Lahn atau lagu, bermakna tiap lagu punya tangga lagu atau nada dan aturannya masing-masing. Saling membedakan antara satu sama lain. Jika kita kaitkan dengan nada atau lagu yang kita temukan hari ini, maka kita dapatkan penamaan lagu-lagu tersebut seperti Rast, Nahawand, Sikkah, Shoba‘, Hijaaz, Bayyati, ‘Ajam, Kurdi, dan lain-lain.

Maka bagaimana hukum orang yang membaca Alquran dengan lagu-lagu dan irama semacam itu?

Dasar hadits dalam bab ini adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Al-Yamani bahwa Rasulullah bersabda,

‎اقرؤوا القرآن بلحون العرب وأصواتها ,وإياكم ولحون أهل الفسق ولحون أهل الكتابين وسيجيء بعدي أقوام يرجعون بالقرآن ترجيع الغناء والنوح لا يجاوز حناجرهم مفتونة قلوبهم وقلوب الذين يعجبهم شأنهم

“Bacalah Alquran dengan nada lagu orang Arab dan suara-suara mereka. Dan hindarilah nada lagu orang-orang fasik dan ahli kitab. Akan datang setelahku kelompok-kelompok yang men-tarji’ (mendengdangkan) Alquran dengan tarji’ (ketukan nada) nyanyian dan lagu sedih, dimana bacaan mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Hati mereka telah diliputi fitnah sebagaimana hati orang-orang yang takjub dengan bacaan mereka.“

Hadis ini meskipun statusnya secara riwayat diperselisihkan, (diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di Al-Awsath, lalu Al-Baihaqi di Syu’ab Al-Iman) namun secara matan menurut beberapa ulama dibenarkan karena ada banyak dalil-dalil lain yang mendukung. Maka hadis di atas membatasi Lahn atau nada lagu apa yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Yang diperbolehkan adalah nada lagu orang Arab. Dan yang tidak diperbolehkan nada lagu ahli kitab nasrani di gereja mereka atau rahib-rahib di sinagog mereka begitu juga orang-orang fasik seperti kalangan syi’ah rafidhah yang meraung-raung di hari ‘Asyura, atau nada lagu para penyanyi dan pemusik yang fasik.

Dari hadis di atas juga, kita memahami bahwa keharaman melagukan atau mendendangkan bacaan Alquran tidaklah mutlak haram. Tidak pula mutlak boleh. Ada perinciannya secara hukum fikih. Seperti ini kira-kira perinciannya:
Memperindah dan memperbagus bacaan Alquran dengan suara adalah boleh secara konsensus (ijma’) di kalangan ulama. Yang jadi perselisihan di antara mereka adalah jika suara yang indah tersebut mengandung kadar yang berlebihan, dengan meletakkannya pada pakem Lahn/Ghinaa’ yang punya aturannya tersendiri.

Beberapa ulama yang membolehkannya adalah Imam Abu Hanifah dan pengikutnya, Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya, Ibnul Mubarak, dan ‘Atha’ dari kalangan tabi’in. Muhammad bin Nashr berkata, Ibnu Juraij berkata: “Aku bertanya pada ‘Atha’ bolehkah membaca Alquran dengan Ghinaa’ (lagu) ia menjawab: “Ada apa dengan cara membaca demikan?” Beberapa ulama menghukuminya tidak boleh. Namun ketidakbolehannya terbatas pada makruh. Di antara yang berkata demikian adalah Imam Malik, Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, Al-Qasim bin Muhammad, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, An-Nakha’i dari Anas bin Malik. Begitu juga Ibnu Baththal dan Al-Qadhi ‘Iyadh dari kalangan Malikiyyah, Al-Mawardi, Al-Ghazali dari kalangan Syafi’iyyah, dan Abu Ya’la dan Ibnu ‘Aqil dari kalangan Hanabilah.

Sebagian lagi bahkan menghukumi haram mutlak. Seperti pendapat ‘Abdul Wahhab dari kalangan Malikiyyah dan Ibnu Hamdan dari kalangan Hanabilah.

Lantas bagaimana menengahi persoalan ini?
Menurut penulis kitab Sunan Al-Qurra’ wa Manahij Al-Mujawwidin, Dr. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Qari’, bahwa permasalahan ini bisa ditengahi dengan menyimpulkan bahwa memperindah suara saat membaca Alquran dengan Naghm/Lahn dan aturan-aturannya adalah boleh dengan 4 syarat.

Syarat pertama, jangan sampai keindahan lagu atau ayunan nadanya menutupi benarnya dan selamatnya bacaan Alquran dengan tajwid. Jika aturan-aturan lagu atau ayunan nada tersebut menyebabkan hukum tajwid berantakan, atau aturan ‘Adaa’ (bacaan) menjadi hilang, maka hukumnya haram.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengutip pendapat Imam An-Nawawi setelah menjelaskan perselisihan ulama dalam bab ini,

‎ومحل هذا الاختلاف إذا لم يختل شيء من الحروف عن مخرجه فلو تغير قال النووي في التبيان أجمعوا على تحريمه

“Titik permasalahan di bab ini adalah apabila ada huruf yang keluar dari makhrajnya maka jika ia berubah, Imam An-Nawawi mengatakan bahwa ulama sepakat yang demikian adalah haram.”

Ibarah Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan,

‎قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام وأما القراءة بالألحان فقد قال الشافعي في موضع أكرهها وقال في موضع لا أكرهها وقال أصحابنا ليس قولين بل فيه تفصيل إن أفرط في التمطيط فجاوز الحد فهو الذي كرهه وإن لم يجاوز فهو الذي لم يكرهه

Para ulama rahimahumullah berkata: “Dianjurkan untuk memperindah suara saat membaca Alquran sepanjang tidak keluar dari batasan bacaan yang benar disebabkan oleh Tamthith (mengaret-ngaretkan/memanjang-manjangkan bacaan). Maka jika ia berlebihan sampai menambah satu huruf atau menyembunyikannya maka hukumnya haram. Adapun membaca Alquran dengan Alhaan (tangga-tangga lagu) maka Imam Syafi’i berkata makruh di satu kesempatan, dan berkata tidak makruh di kesempatan lain. Para pengikut mazhabnya berkata: “Imam Syafi’i tidak berpendapat dengan keduanya secara bersamaan, melainkan ada perincian. Apabila berlebihan dalam memanjangkan bacaan hingga keluar batas maka itu yang dihukumi makruh, jika tidak keluar batas maka itu yang tidak dihukumi makruh.”

‎وقال أقضى القضاة الماوردي في كتاب الحاوي القراءة بالأاحان الموضوعة إن أخرجت لفظ القرآن عن صيغته بإدخال حركات فيه أو إخراج حركات منه أو قصر ممدود أو مد مقصور أو تمطيط يخفي به بعض اللفظ ويلتبس المعنى فهو حرام يفسق به القارئ ويأثم به المستمعون لأنه عدل به عن نهج القويم إلى الاعوجاج والله تعالى يقول : ((قرآنا عربيا غير ذي عوج)) وقال وإن لم يخرجه اللحن عن لفظه وقرائته على ترتيله كان مباحا لأنه زاد على ألحانه في تحسينه

Al-Imam Al-Qadhi Al-Mawardi Asy-Syafi’i berkata di kitabnya Al-Haawi: “Membaca Alquran dengan tangga-tangga lagu atau nada jika mengeluarkan lafaz Alquran dari bentuk asalnya dengan memasukkan harakat tambahan ke dalamnya atau mengeluarkan harakat-harakat darinya atau memendekkan yang panjang atau memanjangkan yang pendek atau mengaret-ngaretkan bacaan hingga menghilangkan sebagian lafaz dan mencampuradukkan makna maka ini adalah haram, pembacanya dihukumi fasik dan pendengarnya juga berdosa. Sebab dia telah belok dari metode yang lurus menuju kebengkokan, dan Allah ta’ala berfirman; “Inilah Alquran dalam bahasa Arab tidak mempunyai sedikitpun kebengkokan”. Akan tetapi jika lagu atau nada tersebut tidak mengeluarkan bacaannya dari lafaz asalnya dan tidak menghilangkan pondasi tartilnya maka ia boleh, sebab dia memperindah bacaan Alqurannya dengan lagu-lagu itu.“

Syarat kedua, adanya lagu, irama dan nada saat membaca Alquran tidak boleh menghilangkan keagungan dan kemuliaan Alquran, juga menghilangkan khusyu’ dan adab saat membacanya. Karena sebagian lagu atau aturan nada itu ada yang tidak layak untuk digunakan membaca Alquran. Lagu-lagu itu bersandar pada cengkok atau getaran yang tidak membangkitkan rasa khusyu’, rasa takut, dan rasa ingat kepada Allah. Ia hanya mainan dan kesia-siaan yang menimbulkan rasa senang dan dendang lagu pada hati pendengar yang tidak layak dengan posisi Alquran. Padahal ada tangga-tangga lagu atau aturan nada yang dengannya bisa menumbuhkan rasa sedih dan khusyu’ yang cocok dengan maqam dan derajat Alquran.

Allah berfirman,

‎أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ 

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Allah berfirman,

‎لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)

Allah berfirman,

‎اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS. Az-Zumar: 23)

‎عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن أحسن الناس قراءة الذي إذا قرأ رأيت أنه يخشى الله (رواه أبو نعيم والطبراني)

Dari Ummil Mukminin Aisyah bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling bagus bacaannya adalah yang jika ia membaca kamu lihat ia takut Allah” (HR. Abu Nu’aim dan Ath-Thabrani).

‎كان يقال أحسن الناس صوتا بالقرآن أخشاهم لله (رواه ابن ماجه عن أبي الزبير عن جابر مرفوعا)

Dikatakan bahwa orang yang paling indah suaranya saat membaca Alquran adalah yang paling takut pada Allah. (HR. Ibnu Majar dari Abu Zubair dari Jabir secara marfu’)
Bersandarkan ayat-ayat dan hadits di atas, hendaknya seorang pembaca Alquran memperindah tartilnya dengan tangga irama atau nada yang jauh dari cara orang-orang ‘ajam yang fasik, karena Alquran turun dengan bahasa Arab. Maka tidak mengapa pula jika seseorang memperindah bacaannya dengan aturan-aturan nada orang-orang Mesir, atau orang-orang Hijaz atau orang-orang Afrika yang berbahasa Arab fusha seperti Sudan, Al-Jazair, dan Maroko. Dan menghindari lagu atau nada yang melenakan dengan tambahan-tambahan madd atau melumat huruf-huruf hijaiyyah sehingga bacaannya menjadi buram dan tidak jelas.

Syarat ketiga, hendaknya nada atau irama yang digunakan untuk memperindah bacaan Alquran adalah yang condong pada nada atau irama Tahziin, yang membuat pembaca dan pendengar bersedih. Karena itu nada dan irama yang sesuai dengan maqam Alquran, yang akan mengajak pendengar dan pembacanya kepada khusyu’, khasyyah, dan tangisan. Itu pula mengapa sebagian ulama menafsirkan hadis anjuran melagukan bacaan Alquran dengan cara membuat pembaca dan pendengarnya sedih, seperti penafsiran Imam Asy-Syafi’i dan Imam Al-Laits.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, bahwa Rasulullah bersabda,

‎إن هذا القرآن نزل بحزن فإذا قرأتموه فابكوا فإن لم تبكوا فتباكوا وتغنوا به فمن لم يتغن به فليس منا

“Sesungguhnya Alquran turun membawa kesedihan, maka jika kalian membacanya menangislah jika belum bisa menangis maka berpura-puralah menangis. Perindahlah Alquran dengan nada dan irama, siapa yang tidak berupaya demikian maka dia bukan bagian dari kami.” (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Majah)
Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata, bahwa Rasulullah berkata,

‎اقرؤوا القرآن بحزن فإنه نزل بحزن

“Bacalah Alquran dengan cara bersedih, karena sungguh ia turun demikian.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim)

Dari Abdullah bin ‘Abbas bahwa Rasulullah berkata,

‎إن أحسن الناس قراءة من قرأ يتحزن به

“Sungguh orang yang paling bagus bacaannya adalah yang saat membacanya bersedih.” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Abu Hurairah bahwa,

‎أنه قرأ سورة فحزنها شبه الرثى

“Ia membaca sebuah surat Alquran lalu menyedih-nyedihkannya mirip dengan cara ritsaa’ (sedih ditinggal wafat). (HR. Ibnu Abid Daud dengan sanad yang hasan.)

Namun yang mesti jadi catatan, hendaknya perasaan sedih saat membaca Alquran tidak melewati batas, seperti Ahli Niyaahah (orang yang meraung-raung dalam tangisan sebab ditinggal wafat), karena hal ini terlarang. Dan untuk membatasinya dibutuhkan pengamatan orang-orang yang mutqin dan dhaabith, para pakar. Ada pun para pemula sangat susah.

Syarat keempat, hendaknya para pembaca Alquran menggunakan irama dan nada sesuai kebutuhannya untuk memperindah dan menghiasi Alquran dengan suaranya. Tidak boleh berlebihan (Takalluf) dan berpayah-payahan (Ta’assuf) untuk mencari mata pencahariannya dengannya, seperti yang dilakukan oleh qari’-qari’ pesta, radio dan siaran-siaran langsung. Di mana mereka membacanya dengan membebani dirinya sendiri dengan cara dibuat-buat, sampai nafasnya tersengal-sengal, nampak urat lehernya, terpejam-pejam matanya, mereka membacanya untuk memenuhi hawa nafsunya, atau untuk mencari kemasyhuran, atau karena tamak pada harta.
Orang-orang yang takjub pada mereka yang membaca dengan cara ini biasanya hanya takjub pada indahnya suara dan irama yang membuat mereka berteriak-teriak senang. Namun ayat-ayat Alqurannya sendiri, mereka amat tidak tahu tentang hukum dan kandungan isinya. Imam Al-Qurthubi meriwayatkan dalam muqaddimah tafsirnya,

‎روي عن القاسم بن محمد عن مالك أنه سئل عن الألحان في الصلاة فقال لا يعجبني وقال إنما هو غناء يتغننون به ليأخذوا عليه الدراهم

Diriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad dari Imam Malik bahwa ia ditanya tentang bacaan berirama dan berlagu dalam salat, maka ia menjawab, “Hal itu tidak aku sukai. Hal itu hanyalah lagu dan irama yang didendangkan agar orang-orang membayar mereka dengan beberapa dirham.”

Inilah kemudian syarat-syarat yang membatasi bacaan Alquran dengan irama, lagu, atau nada, atau nagham, maqamat, apapun sebutannya yang digunakan untuk memperindah bacaan. Dan ini merupakan pendapat yang tengah-tengah, tidak terlalu ketat juga tidak terlalu longgar. Bahwa memperindah bacaan Alquran merupakan hal yang dianjurkan oleh syari’at, bahkan buat mereka yang awalnya tidak punya kemampuan untuk memperindah bacaannya pun dianjurkan untuk melatih suaranya agar bisa memperindah bacaanya.

Adapun adanya sebagian ulama besar dari kalangan sahabat, tabi’in dan yang datang setelah mereka dari mulai Anas bin Malik, Sa’id bin Al-Musayyib, Imam Malik, Imam Ahmad, yang memakruhkan membaca Alquran dengan Alhaan, adalah jika irama dan nada tersebut menyebabkan bacaan mereka salah secara tajwid dan makhrajnya. Tidak makruh secara mutlak. Di antara atsar yang menguatkan hal tersebut adalah bahwa suatu ketika seorang lelaki bertanya pada Imam Ahmad, “Apa pendapatmu tentang orang yang membaca Alquran dengan Alhaan (nada dan irama)?” Imam Ahmad balik bertanya, “Siapa namamu wahai lelaki?” Ia menjawab, “Namaku Muhammad”. Lantas Imam Ahmad berkata, “Apakah kamu senang jika kamu dipanggil dengan ‘Muuuuhammad??'”

Atsar di atas menegaskan bahwa yang dimakruhkan adalah jika sampai menambah satu huruf baru atau memanjangkan yang pendek. Begitu juga mereka yang mengiramakan bacaan Alquran dengan tangga lagu-lagu satani (musik), di mana hal ini adalah batil, dan Lahwu (bermain-main).

Saat suatu ketika Al-Qasim bin Muhammad melewati orang yang sedang membaca Alquran di masjid Nabawi dengan melagukan dan memanjangkannya dengan cara bermusik. Al-Qasim bin Muhammad mengomentari dengan membaca surah Fusshilat ayat 42, “Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”

‎لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Terakhir, semua permasalahan ini disimpulkan oleh Asy-Syaikh Al-Muqri’ Al-‘Allamah Ibrahim As-Samannudi dalam beberapa bait nazhamnya:

‎وجازت الأنغام بالميزان # واضعه موسى أو الخاقاني

Dan boleh membaca Alquran dengan Nagham dengan ukuran dan timbangan (tajwid), yang diletakkan dasar-dasarnya oleh Musa atau Al-Khaqani

‎أركانه معرفة المخارج # كذا الصفات ثم أحكام تجي

Rukun-rukunnya adalah mengetahui makhraj huruf, kemudian sifat-sifatnya, lalu hukum-hukum tajwidnya membersamai.

‎وهكذا رياضة والأخذ عن # أفواه عارفه خمسة تعن

Begitu pula dengan latihan dan mengambil langsung dari mulut para ahli dan pakarnya. Itulah lima rukun yang membantu.

Wallahu a’lam bishshawab. 🌹
Ustadz andika putra 

Janganlah koreksi dirimu dengan standart perkataan orang, tetapi koreksilah dengan kitabullah dan sunnah rasullah sebagaimana yang dijalankan para shahabat..

Janganlah koreksi dirimu dengan standart perkataan orang, tetapi koreksilah dengan kitabullah dan sunnah rasullah sebagaimana yang dijalankan para shahabat..

#shahihfiqih #nasehatulama #muhasabah

Ahli Bid'ah tidak boleh di sebutkan kebaikan² mereka agar orang yg bodoh tidak tertipu dengan mereka

أهل البدع لا تذكر محاسنهم لكي لا يغتر الجاهل بهم

Ahli Bid'ah tidak boleh di sebutkan kebaikan² mereka agar orang yg bodoh tidak tertipu dengan mereka

قال رافع بن أشرس: "من عقوبة الفاسق المبتدع أن لا تذكر محاسنه"! .

Rafi' bin Asyras berkata: "Di antara hukuman bagi orang yg fasiq ahli bid'ah adalah agar tidak di sebutkan kebaikan²nya."

شرح علل الترمذي ١/٣٥٣
Ustadz abu yahya tomy

Suatu kali Asy Syaikh Al Ushuli Abdullah Al Ghudayyan diundang untuk mengisi ceramah umum di salah satu masjid di Jedah

Suatu kali Asy Syaikh Al Ushuli Abdullah Al Ghudayyan diundang untuk mengisi ceramah umum di salah satu masjid di Jedah. Ketika sudah dekat masji, beliau melihat parkiran mobil penuh dan panjang. Beliau keheranan " Ada apakah dengan mobil mobil ini ?" Tanya beliau. Maka sopir beliau menjawab " Mereka menghadiri ceramah anda wahai Syaikh !". Spontan beliau berkata " Mereka semua ?!! Yaa Allah jangan Engkau sesatkan kami dengan sifat ujub !!".
____
Asy Syaikh Shalih Al Ushaiyimi memberikan catatan penting atas kejadian diatas : " Syaikh Ibnu Ghudayyan kuatir dirinya tertipu oleh sifat ujub padahal usia beliau saat itu 80-an tahun. Demikianlah, barangsiapa yang memahami Tauhid maka tidak akan tertipu oleh banyaknya pendengar, tidak akan memperdulikan itu, bahkan mengharap saja tidak terlebih gembira dengan itu ... semoga Allah merahmati Syaikh Abdullah.
ustadz jabir

Adzân dan Iqâmah bagi wanita yang shalat sendirian

Adzân dan Iqâmah bagi wanita yang shalat sendirian

Al-'Allâmah Ibnu 'Utsaimîn rahimahullâh ditanya 

Pertanyaan tentang hukum iqâmah shalat pada hak wanita ? 

Jawab: 
"Tidak mengapa wanita menegakkan iqâmah shalat jika ia shalat di rumahnya, dan jika ia tidak menegakkan iqâmah shalat maka tidak mengapa pula atasnya, sebab iqâmah itu sungguh hanyalah diwajibkan atas jamâ'ah lelaki, sekalipun lelaki munfarid (sendirian) jika ia shalat munfarid, maka sungguh iqâmah tidak wajib atasnya, dan jika ia iqâmah maka itu afdhal, dan jika ia tidak iqâmah maka tidak mengapa atasnya."

[Majmû' Fatâwâ 12/159]

FBPenerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

seandainya seorang wanita menginginkan pahala lebih banyak dari itu semuanya maka hendaklah ia shalat di rumahnya berdasarkan sabda nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam: "Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka"."

Al-'Allâmah Al-Albâniy rahimahullâh berkata: 

"Pahala shalat wanita berjamâ'ah di masjid akan dilipatgandakan sebagaimana bagi laki-laki yang dilipatgandakan sebanyak dua puluh tujuh derajat, dan di masjid nabawi sebanyak seribu kali dari masjid lainnya, di masjidil harâm sebanyak seratus ribu kali, adapun seandainya seorang wanita menginginkan pahala lebih banyak dari itu semuanya maka hendaklah ia shalat di rumahnya berdasarkan sabda nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam: "Dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka"." 

[Silsilah Al-Hudâ Wan Nûr, rekaman no 270]

FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah