Rabu, 02 Agustus 2023

KUATNYA SIHIR KAUM WANITA

KUATNYA SIHIR KAUM WANITA

Sebagian kita mungkin bertanya, kenapa di dalam surat Al Falaq itu disebutkan 

{وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ}

Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup buhul-buhul sihir. (Al-Falaq: 4)

Kenapa harus wanita, bukan lelaki?

Al Imam Arrozi menyebutkan dalam tafsirnya,

أن هذه الصناعة إنما تعرف بالنساء لأنهن يعقدن وينفثن، وذلك لأن الأصل الأعظم فيه ربط القلب بذلك الأمر وإحكام الهمة والوهم فيه، وذلك إنما يتأتى من النساء لقلة علمهن وشدة شهوتهن، فلا جرم كان هذا العمل منهن أقوى

Pekerjaan ini dikenal sebagai pekerjaan penyihir wanita karena biasanya cuma para wanita lah yang biasa membuat ikatan sihir dan meniup²nya.

Hal ini karena modal utama untuk menyihir adalah ikatan hati yang kuat dengan tiupan yang disertai dengan kuatnya ambisi dan optimisme akan terwujudnya apa yang dia bayangkan dalam benak.

Ini semua hanya ada pada wanita karena kurangnya ilmu mereka dan dahsyatnya syahwat pada diri mereka. Bukan suatu hal yang mengherankan bila sihir dilakukan oleh para wanita itu lebih kuat.
Ustadz Wira bachrun

Orang Syiah mengagungkan Kuburan Abu Lulu Al majusi di Kassan Iran, mereka menjadikannya sebagai pahlawan karena dia yang membunuh Umrah Bin Khattab Radhiallahu 'anhu

Orang Syiah mengagungkan Kuburan Abu Lulu Al majusi di Kassan Iran, mereka menjadikannya sebagai pahlawan karena dia yang membunuh Umrah Bin Khattab Radhiallahu 'anhu.

Semua syiah indonesia mereka adalah Syiah imamiyah dasarnya mereka kalau tidak dari Iran atau iraq, berbeda dengan di Yaman, masih ada Syiah Zaidiyah (Faedah Kajian Ustadz Dr.Firanda Andirja MA dari kitab Usulus Sittah di Masjid Abdurrahman bin Auf Yogyakarta)

Yogyakarta, 15 Muharram 1445 H/ 2 Agustus 2023
Ustadz abu Yusuf Al maidani

Suami lalapan paling lezat di saat istri istri berkumpul.

Suami lalapan paling lezat di saat istri istri berkumpul.

Bukan hal baru, sudah menjadi budaya sedari dahulu kala.

Ada sebelas wanita duduk berkumpul sembari bercerita. Mereka bersepakat untuk tidak menutupi dan merahasiakan satupun tentang suami mereka. 
Wanita pertama berkata, “Sesungguhnya suamiku bagaikan daging onta kurus, berada di puncak gunung terjal, tidak mudah untuk didaki dan kurus sehingga tidak diminati.”

Wanita kedua berkata: “Suamiku, aku tidak bisa menceritakan apapun tentangnya, karena aku kawatir tidak bisa berhenti menceritakan keburukannya, sehingga aku menyebutkan seluruh keburukannya yang lahir maupun yang tersembunyi.” 

Wanita ketiga berkata, “Suamiku seorang yang berleher panjang (egois) tidak pernah mau mendengarkan ucapanku. Bbila aku berbicara bisa saja ia menceraikanku dan bila aku diam maka aku bagaikan wanita yang tidak bersuami.” 

Wanita keempat berkata: “Suamiku seperti malam di negri Tihamah,  tidak panas tidak pula dingin, tidak ada rasa takut bila aku berada di sisinya dan tidak pula ada rasa bosan.” 

Wanita kelima berkata: “Suamiku bila masuk ke rumah bagaikan macam tutul, bila keluar dari rumah bagaikan singa, dan ia tidak pernah menanyakan harta yang ia berikan.” (dermawan kepada istri dan tidak suka mencari cari kesalahan istrinya, dan bila keluar dari rumahnya dia pemberani bak singa..)

Wanita keenam berkata: “Suamiku sangat lahap ketika makan hingga tak menyisakan sedikitpun, ketika minum, ia minum hingga tetes terakhir, ketika tidur dia berselimut rapat-rapat, dan dia tidak pernah menjulurkan tangannya untuk menyentuhku.” (Rakus bila makan dan minum, lemah syahwat).

Wanita ketujuh berkata: “Suamiku seorang yang pandir, semua keburukan orang lain ada padanya. Dia suka memukul hingga melukai badanku. Bila marah ia memukul hingga melukai kepala, atau badan dan kepalaku. 

Wanita kedelapan berkata: “Suamiku lembut kulitnya dan harum bau badannya .

Wanita kesembilan berkata: “Suamiku, tiang rumahnya tinggi (menjadi tempat persinggahan tamu), sarung pedangnya panjang (pemberani), banyak abu dapurnya (suka menjamu tamu alias dermawan), dan rumahnya dekat dengan tempat pertemuan (pemuka di masyarakatnya).”

Wanita kesepuluh berkata: “Suamiku bernama Malik, Tahukah kalian siapa gerangan Malik? Ia seorang yang melebihi semua pujian yang disampaikan orang lain kepadanya. Ia memiliki banyak onta. Kandangnya lebih besar dibandingkan dengan tempat penggembalaannya (setiap saat ia siap sedia onta untuk menjamu tamu) . Bila onta ontanya mendengar suara musik penyambut tamu, onta ontanya menyadari bahwa dirinya akan segera disembelih.” 

Wanita kesebelas berkata: “Suamiku adalah Abu Zar’in. Apakah kalian tahu siapa gerangan Abu Zar’in? 

Dia suami yang memenuhi telingaku dengan anting (perhiasan), membuat lenganku penuh dengan lemak (banyak memberi makanan yang menyebabkan istrinya gemuk), ia telah menanamkan kebahagiaan dalam diriku sehingga aku benar benar bahagia.” 

“Abu Zar’in menikahiku seorang wanita dari keluarga penggembala kambing  yang hanya memiliki beberapa ekor kambing (keluarga miskin) tinggal di salah satu lembah pegunungan. 

Ia membawaku ke dalam keluarga yang banyak memiliki kuda, onta, juga memiliki banyak hasil panen dan makanan yang enak. 

Aku dihormati, bila aku berbicara, aku dibiarkan tidur di pagi hari (karena ada pembantu yang melayani) dan aku minum susu hingga puas.”

Ibu kandung Abu Zar’in (mertua perempuanku), apakah kalian tahu siapa gerangan Ibu kandung Abu Zar’in? Ia memiliki almari yang sangat lapang untuk menyimpan perabot dan rumahnya lapang (kaya raya dan dermawan) ” 

“Putra Abu Zar’in. Tahukah kalian siapa gerangan putra Abu Zar’in? Tempat tidurnya kecil (gambarang ia adalah seorang pemuda yang ramping nan tampan rupawan). Ia bisa kenyang hanya dengan memakan lengan anak kambing betina.” (alias senantiasa menjaga penampilan agar tetap tampan rupawan) 

“Putri Abu Zar’in. Tahukah kalian siapa putri Abu Zar’in? Dia adalah wanita yang sangat patuh kepada ayah dan ibunya. Tubuhnya gemuk mempesona hingga membuat gadis gadis sebayanya senantiasa cemburu kepadanya.”

“Budak wanita Abu Zar’in. Tahukah kalian siapakah budak wanita Abu Zar’in? Ia seorang yang menjaga dengan baik pembicaraan (rahasia – rahasia) kami dan tidak menyebarkannya kepada siapapun. Dia tidak pernah mencuri makanan kami, dan Dia juga tidak pernah membiarkan sampah ada di rumah .”  

“Suatu hari Abu Zar’in keluar rumah ketika susu kami sedang diproses untuk diambil yogurtnya (maksudnya di musim subur/semi). Ia berjumpa dengan seorang janda dengan dua anak laki laki. Kedua anaknya tampan dan berbadan sehat bagaikan dua ekor macam tutul. Keduanya bermain di pangkuan ibunya yang memiliki payudara bagaikan dua buah delima. Abu Zar’in tergoda dengan janda tersebut, dan menceraikanku lantas menikahi wanita tersebut.”

“Setelah itu aku menikah dengan seorang pria terpandang, piawai menunggangi kuda perang. Suatu hari ia membawa tombaknya untuk berperang dan kemudian dia kembali membawa harta rampasan perang berupa onta - onta yang sangat banyak. 

Ia memberiku banyak onta dan sepasang dari setiap hewan ternak, untuk aku makan bersama keluargaku. 

Namun demikian, semua yang ia berikan kepadaku tidak bisa menyamai pemberian terkecil yang pernah diberikan oleh Abu Zar’in kepadaku.”

Setelah menceritakan kisah panjang tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh aku bagaikan Abu Zar’in dan engkau bagaikan Ummu Zar’in.  (Muttafaqun ‘alaih)

Pada riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَا عَائِشَةُ كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ، إِلَّا أَنَّ أَبَا زَرْعٍ طَلَّقَ، وَأَنَا لَا أُطَلِّقُ
Wahai ‘Aisyah, Sungguh aku bagaikan Abu Zar’in dan engkau bagaikan Ummu Zar’in, hanya saja Abu Zar’in menceraikan istrinya, sedangkan aku tidak menceraikanmu.( Al Thabraniy Sulaiman bin Ahmad, al Mu’jam al Kabir)

Kisah Abu Zar'in, figur suami yang sangat baik itu ternyata tak kuasa menahan asamaranya. Padnangan pertama kepada janda tersabut ternyata tak kuasa ia bendung....dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi.

Makanya wahai kaum lelaki; TUNDUKKAN PANDANGANMU.

Dan wahai kaum wanita: jaga baik baik hati suamimu.

Terus apa dong? ya silahkan tafsiri sendiri sendiri kan hadits di atas sekedar cerita tentang fenomena istri dan suami.
Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri Ma

Mana yang lebih baik: Bergaul dengan masyarakat dan bersabar menghadapi mereka, ataukah uzlah (memisahkan diri) dalam rangka menyelamatkan agama?

Mana yang lebih baik: Bergaul dengan masyarakat dan bersabar menghadapi mereka, ataukah uzlah (memisahkan diri) dalam rangka menyelamatkan agama?

Karena kedua pilihan tersebut sama-sama ada anjurannya dalam hadits.

Maka jawabannya, hukum asalnya yang lebih afdhal adalah bergaul dengan masyarakat dan bersabar. Jika kemudian tidak mampu dan malah menimbulkan madharat ke agama seseorang, maka yang lebih afdhal adalah uzlah.

Faidah kajian Syarah Bulughul Maram oleh Syaikh Abdul Aziz Ash Sha'idi ba'da maghrib di Masjid Nabawi, lurusan pintu 18.
Ustadz ristiyan Ragil 

Ibnu Tumart..

Ibnu Tumart..

Ibnu Shahib al-Shalah menceritakan dari Abdullah bin Abdirrahman al-Iraqi, seorang syekh yang pernah belajar di madrasah Nizhamiyah dimana al-Ghazali mengajar. Suatu hari, datang seorang laki-laki berjenggot tebal dan memakai imamah dari wol (shuf), masuk dan menghadap al-Ghazali. Laki-laki itu memberi salam.

Al-Ghazali lalu bertanya, dia berasal dari mana. Dijawab, ahli Maghrib al-Aqsa. Magrib sendiri terbagi 3: al-Aqsa (barat, kini Maroko), al-Awsat (tengah, kini Aljazair), dan al-Adna' (timur, kini Tunisi). Al-Ghazali lalu bertanya, "Kamu sudah pernah ke Cordova?" Dijawab, "Iya". "Bagaimana fukoha-nya?", kata al-Ghazali. "Bikhair", katanya.

Al-Ghazali bertanya lagi, "Apakah sudah sampai kpd mrk kitab al-Ihya'?". Dia menjawab, "Sudah". "Bagaimana tanggapan mereka?", tanya al-Ghazali. Laki-laki itu diam karena malu. Dia lalu menceritakan apa yang terjadi, bahwa kitab al-Ihya' karya al-Ghazali dibakar didepan publik. Maka berubahlah raut wajah al-Ghazali.

Ya, kitab Ihya' yg merupakan masterpiece al-Ghazali membangkitkan amarah para ulama di Cordova. Kitab itu dipandang zindik, klaim dusta atas Rasulullah dan sahabatnya, isinya hadits² dusta dan batil. Mulai dari imam at-Turtusyi al-Maliki, imam al-Maziri al-Maliki, hinga Ibnul Jawzi al-Hanbali mengecam kitab tsb sbgmana dikutip adz-Dzahabi dlm as-Siyar.

Qadhi Iyadh al-Maliki, juga Ibnu Rusyd, mengeluarkan fatwa pembakaran kitab tsb. Maka atas desakan ulama Maliki yg dipimpin Ibnu Hamdin, penguasa Murabithun Ali bin Yusuf bin Tasyfin, memerintahkan pembakaran kitab Ihya'. Tahun 503H, didepan ribuan umat Islam, di masjid Jami'  Bab Gharb Cordova, kitab itu dibakar hingga tak tersisa satu pun di kota  itu.

Berita ini membuat al-Ghazali murka. Al-Ghazali lalu mengangkat tangan berdoa dan murid2nya pun demikian. Al-Ghazali berdoa, "Ya Allah, cabik-cabilahlah kerajaan mrk sbg mana mrk mencabik-cabiknya. Habisi kerajaan mereka sbgm mrk membakarnya...". Maka berkatalah Ibnu Tumart, "Wahai Imam, berdoalah kpd Allah agar mengabulkannya melalui tanganku". Al-Ghazali tidak menggubrisnya.

Setelah berlalu bbrp hari, ketika al-Ghazali kembali mengajar, lagi-lagi Ibnu Tumart meminta hal yang sama. Maka al-Ghazali pun berkata, "Aku restui insya Allah. Ya Allah, jadikanlah hal itu melalui tanganmu...". Maka Allah pun mengabulkannya, kata sang penutur.

Kisah di atas disebut oleh Ibnul Khatib dlm al-Hulal al-Mawsyiyyah, juga bbrp penulis sejarah yg dekat dgn masa gerakan al-Muwahhidun yg diawali Ibnu Tumart yaitu Ibnul Qattan (w.608), juga al-Marrakesy. Al-Iraqi, al-Ruyani, jg al-Zarqasyi menyebutnya.  Ibnu Khaldun menyebut kisah ini dan menutupnya dengan "ini spt yg klaim mrk" (fi ma za'amu).

Namun kisah pertemuan al-Ghazali dan ibnu Tumart ini diragukan oleh Ibnul Atsir (w.630). Peneliti modern juga ada yg٦ mengkritisi kisah ini berdasarkan informasi dari Abdulghafur al-Farisi (w. 529) dlm bukunya al-Siyaq fi Tarikh Nisabur. Menurut al-Farisi, al-Ghazali meninggalkan Irak sekitar 492H dan menghabiskan sisa umurnya di Khurasan. Adapun Ibnu Tumart, tiba di kawasan Masyriq setelah 500H, dan tdk ada catatan bhw dia ke Khurasan utk belajar kpd al-Ghazali. Berdasarkan hal ini, ada yg menduga bhw pengkaitan Ibnu Tumart dan al-Ghazali bertujuan utk mengangkat posisi teologis dan politis Ibnu Tumart.

Namun fakta bhw Ibnu Tumart belajar di kampus Asyairah masa itu juga tdk bs dibantah. Para penulis biografi menyebut guru2 Ibnu Tumart dari Nizhamiyah diantaranya Abu Bakar al-Sasi (w.507), Mubarak al-Sayrafi (w.500), al-Harrasi (w.504), juga al-Ghazali sendiri. Lalu bgm dgn dispute yg disebut al-Farisi? Ada yg kemudian menyebut bhw al-Ghazali tersebut bukan Abu Hamid al-Ghazali, tapi Ahmad al-Ghazali, adik bungsi Abu Hamid al-Ghazali. Ahmad al-Ghazali menggantikan posisi kakaknya ketika meninggalkan Nizhamiyyah di thn 488 H.

Ibnu Tumart adl alumni Nizhamiyah, dia byk menulis buku, dan bukunya tsb jadi rujukan ulama besar setelahnya spt Ibnu Asakir. Jg diakui Ibnu Khaldun. Jadi jelas, dia adalah ulama besar Asyairah. Apakah dia politisi? Ya, dia berpolitik dan berperang. Tapi untuk apa? Tentu utk penyebaran aliran Asyairah, spt halnya Ibnu Furak yang mendekati para penguasa dan menawarkan aqidahnya, seratus tahun sebelumnya.

Buku:
- Dr. Abd Majid an-Najjar, al-Mahdi ibn Tumart. 1983 (disertasi al-Azhar). Beliau menetapkan bhw Abu Hamid al-Ghazali adl guru dari Ibnu Tumart dgn bbrp alasan.
Artikel:
- Frank Griffel, Ibn Tumart's Rational Proof of God's Existence and Unity, and His Connection to The Nizamiyya Madrasa in Baghdad. Yale University.
- dll
Ustadz Ibnu Rojab

Selasa, 01 Agustus 2023

sabar dari mulut para istri

SIAPA ORANG DUNGU?

SIAPA ORANG DUNGU? 

Kata-kata dungu menjadi viral dan sangat populer akhir-akhir ini. Orang begitu mudah melontarkan kata-kata dungu kepada orang lain. Bahkan kepada pemimpin negara.

Seorang non muslim, ahli filsafat dan seorang intelektual katanya, mendengungkan kata-kata KEDUNGUAN ini dalam setiap kesempatan. Yang sungguh sangat  mengherankan, ada sebagian kaum muslimin, para harokiyyun atau hizbiyyun, merasa senang, bangga dan menggandrunginya, bahkan membelanya.

Dalam tulisan kali ini saya akan memaparkan siapa sebenarnya orang DUNGU menurut para ulama salaf.

Pertama, orang yang marah terhadap kebenaran.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:

{ الأحمق يغضب من الحق، والعاقل يغضب من الباطل. }

Orang yang DUNGU marah terhadap kebenaran, sedangkan orang yang berakal marah terhadap kebatilan.” [Bahjatul Majalis, hlm. 584]

Kedua, orang yang tidak pernah merasa salah.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata:

{ ‏الذي يعجب بنفسه ويظن أنه لا يخطئ فهو مغفل، الخطأ يحدث من الكل. }

“Orang yang merasa kagum terhadap dirinya sendiri (ujub) dan menyangka bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia adalah orang yang DUNGU, kesalahan bisa muncul dari semua orang.” [As-Sima' al-Mubasyir, hlm. 50]

Ketiga, ragu terhadap kebenaran setelah mengetahui kebenaran karena pengaruh syubhat.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimy rahimahullah berkata:

{ ومن شكّٙكٙتٔه الشُبهات فيما قد عٙلِمٙه يقينا يعد عند العقلاء أحمق! }

“Siapa yang dibuat ragu oleh berbagai syubhat (kerancuan) pada perkara-perkara yang telah dia ketahui kebenarannya dengan yakin, maka orang seperti ini menurut orang-orang yang berakal adalah seorang yang DUNGU.” [Haqiqatut Ta'wil, hlm. 69].

Keempat, penuntut ilmu yang menyimpang dan tidak memberi contoh yang baik.

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhaly rahimahullah berkata:

وإن انحرف طالب العلم وجَهِل كما يجهل الجاهلون وسفه نفسه كما يصنع السفهاء، فقد أساء إلى العلم وأساء إلى نفسه وأساء إلى الناس، لأنّ طلاَّب العلم قدوة، فليكونوا خير قدوة في العقيدة والشريعة. 

“Jika seorang penuntut ilmu menyimpang, bertindak bodoh seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan berbuat dungu seperti yang diperbuat oleh orang-orang yang dungu, maka dia telah bersikap buruk terhadap ilmu, terhadap dirinya, dan terhadap manusia.

Karena para penuntut ilmu adalah teladan, maka hendaknya mereka menjadi sebaik-baik teladan dalam aqidah dan syari'at.” [Audhahul Ma'any, hal. 8].

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang DUNGU seperti yang dikatakan ulama.

AFM 

Copas dari berbagai sumber