Rabu, 01 April 2020

KECANDUAN DOSA BISA BERUJUNG SUUL KHATIMAH

✳KECANDUAN DOSA BISA BERUJUNG SUUL KHATIMAH✳

Al Imam Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata : 

قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي رَوَّادٍ : حَضَرْتُ رَجُلًا عِنْدَ الْمَوْتِ يُلَقَّنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَالَ فِي آخِرِ مَا قَالَ: هُوَ كَافِرٌ بِمَا تَقُولُ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ، قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ، فَإِذَا هُوَ مُدْمِنُ خَمْرٍ. 

Abdul Aziz bin Abu Rowad berkata, “Aku telah menghadiri seseorang saat sekaratul mautnya, lalu ditalqin dengan kalimat Laa Ilaha Illallah, maka akhir yang diucapkannya, ia kufur terhadap apa yang engkau ucapkan tersebut dan ia pun mati diatas keadaan  itu. Maka aku bertanya tentangnya, dan ternyata dia adalah orang yang kecanduan minuman keras”

فَكَانَ عَبْدُ الْعَزِيزِ يَقُولُ: اتَّقُوا الذُّنُوبَ، فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي أَوْقَعَتْهُ. وَفِي الْجُمْلَةِ: فَالْخَوَاتِيمُ مِيرَاثُ السَّوَابِقِ، فَكُلُّ ذَلِكَ سَبَقَ فِي الْكِتَابِ السَّابِقِ، وَمِنْ هُنَا كَانَ يَشْتَدُّ خَوْفُ السَّلَفِ مِنْ سُوءِ الْخَوَاتِيمِ، وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَقْلَقُ مِنْ ذِكْرِ السَّوَابِقِ.
 
Abdul Aziz (juga) berkata, 'Takutlah akan dosa karena dialah yang telah menjatuhkan mu (dalam kebinasaan), Secara umum penutup penutup amal pastilah merupakan akibat dari amal amal perbuatan yang telah lalu, dan semua itu telah didahului oleh ketetapan didalam catatan lauhul mahfudz, dan karena itulah para Salafus shalih sangat takut kepada penutup penutup amal yang buruk, sehingga diantara mereka ada yang gundah dengan amal amal yang telah mereka lakukan sebelumnya.

وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ قُلُوبَ الْأَبْرَارِ مُعَلَّقَةٌ بِالْخَوَاتِيمِ، يَقُولُونَ: بِمَاذَا يُخْتَمُ لَنَا؟ وَقُلُوبُ الْمُقَرَّبِينَ مُعَلَّقَةٌ بِالسَّوَابِقِ، يَقُولُونَ: مَاذَا سَبَقَ لَنَا.

Dikatakan hati orang orang yang baik tertambat pada amal amal penutup. Mereka biasa mengatakan, “Dengan apa amalan amalan kita akan ditutup?”, lalu hati hati orang yang didekatkan kepada Allah tertambat kepada amal amal yang telah lalu, mereka berkata, “amal apa saja yang telah kita lakukan?”

KETAKUTAN PARA SALAF AKAN SUUL KHATIMAH 

وَكَانَ سُفْيَانُ يَشْتَدُّ قَلَقُهُ مِنَ السَّوَابِقِ وَالْخَوَاتِيمِ، فَكَانَ يَبْكِي وَيَقُولُ: أَخَافُ أَنْ أَكُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا، وَيَبْكِي، وَيَقُولُ: أَخَافُ أَنْ أُسْلَبَ الْإِيمَانَ عِنْدَ الْمَوْتِ.

Sufyan As Tsauri senantiasa gundah dengan amal amal perbutan yang telah beliau lakukan dan juga gundah dengan penutup penutup amal, maka beliau kadang menangis dan berkata, 'Aku khawatir kalau aku tercatat di lauhul mahfudz sebagai orang yang celaka'. Dan beliau juga kadang menangis dan berkata, 'Aku khawatir iman akan dicabut dari diriku ketika kematian menjelang'

وَمِنْ هُنَا كَانَ الصَّحَابَةُ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ يَخَافُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمُ النِّفَاقَ وَيَشْتَدُّ قَلَقُهُمْ وَجَزَعُهُمْ مِنْهُ، فَالْمُؤْمِنُ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاقَ الْأَصْغَرَ، وَيَخَافُ أَنْ يَغْلِبَ ذَلِكَ عَلَيْهِ عِنْدَ الْخَاتِمَةِ، فَيُخْرِجُهُ إِلَى النِّفَاقِ الْأَكْبَرِ، كَمَا تَقَدَّمَ أَنَّ دَسَائِسَ السُّوءِ الْخَفِيَّةِ تُوجِبُ سُوءَ الْخَاتِمَةِ، 

Inilah sebabnya para Sahabat dan As Salafus Shalih yang datang setelah mereka, takut kemunafikan mendera diri mereka, sehingga mereka sangat gundah dan takut karenanya. Karena itu, orang mu’min khawatir sekali bila kemunafikan yang kecil menghinggapi dirinya, lalu kemunafikan yang kecil itu akan mendominasi dirinya ketika kematian menjelang, sebagai mana yang telah disinggung bahwa keburukan keburukan yang tersembunyi dapat menyebabkan penutup hidup yang buruk. 

DO'A AGAR DI TEGUHKAN DIATAS HIDAYAH 

وَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي دُعَائِهِ: " «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ " فَقِيلَ لَهُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ، فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ فَقَالَ: " نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ شَاءَ» وَفِي هَذَا الْمَعْنَى أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ.

Nabi shalallahu alaihi wasallam sendiri sering kali mengucapkan dalam doanya, “Wahai Dzat yang membolak balikan hati, teguhkan hatiku diatas agama Mu. Hingga pernah ditanyakan kepada beliau, wahai nabiyullah kami beriman kepada engkau dan kepada ajaran yang engkau bawa, maka apakah engkau khawatir kepada kami ? maka beliau bersabda, “Iya karena sesungguhnya hati manusia itu berada diantara dua jari Allah ‘Azza wajalla yang Dia bolak balikan sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan hadits yang semakna dengan ini sangatlah banyak. (Dinukil dari Jaami'ul 'Ulum Wal Hikam, karya ibnu Rojab al Hanbali -rahimahullah-)

✍ Abu Ghozie As Sundawie

IA PUN SEPERTI SHALAT DALAM JAMA'AH

IA PUN SEPERTI SHALAT DALAM JAMA'AH

_Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafizhahullahu ta'ala berkata,_

*"Di dalam hadits [ _Barangsiapa yang membaca 2 ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah pada malam hari maka itu akan mencukupinya_ ], diantara makna [ _mencukupinya_ ] adalah 2 ayat terakhir Surat Al-Baqarah tersebut menjaga seseorang yang membacanya dari keburukan dari setiap hal yang menyebabkan keburukan, dan diantaranya adalah dari kejelekan dan penyakit-penyakit.*

*Dan dalam hadits [ _Barangsiapa yang shalat Shubuh (dalam jama'ah) maka ia mendapat jaminan Allah_ ], yaitu seseorang yang shalat Shubuh dalam jama'ah maka ia akan berada dalam penjagaan Allah dan keamanan dari-Nya. Dan barangsiapa yang shalat Shubuh di dalam rumahnya karena ada udzur (diantara udzur adalah adanya hal mengkhawatirkan yang dapat membahayakannya seperti adanya wabah), maka ia pun seperti seseorang yang shalat shubuh dalam jama'ah (di masjid)*.

*Maka tetaplah kalian menjaga hal tersebut (menjaga shalat) dan janganlah melalaikan sebab-sebab indrawi/ilmiah (untuk pencegahan dari wabah)*"

_(Faedah diambil dari twitter beliau Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili: @solyman14)_

*Disusun pada hari Rabu, 7 Sya'ban 1441 H*
Al akh Abdurahman Triadi Putro 

Rumah Itu Nikmat, Kamu Di Rumah Aja"

"Rumah Itu Nikmat,  Kamu Di Rumah Aja"

Abu Ubaidah As Sidawi

Saat ini Pemerintah dan Ahli Medis sering menghimbau kepada kita untuk melakukan "Social Distancing" yaitu menjaga jarak sosial, dengan lebih banyak beraktifitas di rumah: bekerja di rumah,  belajar di rumah,  dan beribadah di rumah. 

Maka hendaknya bagi kita mentaati himbauan ini agar kita selamat dari wabah,  tidak tertular dan tidak menularkan virus kepada orang lain. 

Himbauan ini selaras dengan beberapa hadits Nabi yang menganjurkan kepada kita untuk sabar berdiam di rumah saat terjadi wabah dan fitnah. 

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertutur,
 
_“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tha’un (wabah)”. Beliau_ shallallahu alayhi wassalam menjawab,

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ.

_*"Sesungguhnya wabah adalah azab yang ditimpakan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Namun Dia menjadikan wabah sebagai rahmat untuk kaum mukminin.*_
_*Saat terjadi wabah, siapapun yang berdiam di rumahnya. Dengan penuh kesabaran dan berharap pahala. Sambil meyakini bahwa dia tidak akan terkena sesuatu, kecuali yang telah ditakdirkan Allah. Orang yang seperti itu, pasti akan mendapatkan pahala orang yang syahid”.*_(HR. Ahmad dan _sanad_ nya dinilai sahih oleh al-Arna’uth).

Dalam hadits yang lain,  Nabi pernah ditanya: Apa kunci keselamatan?  Maka beliau menjawab:
*١- أمسك عليك لسانك*⁣
*٢- وليسعك بيتك*⁣
*٣- وابْكِ على خطيئتك*⁣
حديث حسن رواه الترمذي ⁣
⁣
1. Jaga lisanmu⁣
2. Tinggallah di rumahmu⁣
3. Tangisilah dosamu. (HR at-Tirmidzi, dihasankan Al Albani)⁣
⁣
Rumah adalah nikmat Allah, karena banyak sekali manfaatnya:
• Rumah adalah tempat bernaung dari terik panas dan berteduh dari hujan.
• Rumah adalah tempat untuk istirahat menghilangkan lelah dan penat.
• Rumah adalah tempat untuk bercengkrama dengan keluarga dan memadu cinta dengan mereka.
• Rumah adalah tempat untuk ibadah dan aktifitas dunia lainnya. 

Allah ingatkan nikmat rumah ini dalam Al Quran:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا 

"Dan Allah menjadikan untuk kalian rumah sebagai tempat tinggal".(QS.  An-Nahl: 80)

Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang tafsir ayat ini:
"Allah menyebutkan kesempurnaan nikmatNya kepada hambaNya dengan menjadikan untuk mereka rumah sebagai tempat tinggal untuk berlindung dan melakukan aktifitas yang bermanfaat".

Demikian juga Rasulullah menyebutkan rumah sebagai salah satu kebahagian dunia:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ : الْجَارُ السُّوْءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ

"Empat perkara termasuk kebahagiaan; isteri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih, dan kendaraan yang tenang. Dan empat perkara yang termasuk kebinasaan; tetangga yang jelek, isteri yang tidak bagus, tempat tinggal yang sempit dan kendaraan yang jelek". (HR.  Ibnu Hibban: 1232, dishahihkan al Albani dalam Silsilah As-Shohihah: 282)

Selama ini kita seringkali melupakan nikmatnya rumah dan kurang mensyukurinya,  padahal di luar sana banyak orang yang mendambakan dan memimpikan untuk memiliki rumah.
* Masih banyak orang yang mengungsi tinggal di tenda-tenda.
* Masih banyak yang tidur di kolong jembatan.
*  Masih banyak yang rumahnya masih kontrakan dan cicilan.
*  Masih banyak pula orang yang memiliki rumah namun tak memiliki waktu untuk nyaman di rumahnya. 

Sekarang,  dengan adanya wabah ini,  Allah mengajarkan kepada kita untuk betah di rumah,  agar kita lebih mensyukuri nikmat rumah,  dan menjadikan rumah sebagai surga dunia.  Bagaimana caranya? Ikuti artikel berikutnya...he.. 

📙 Channel Telegram @Yusuf As Sidawi
Join: 
Ustadz abu Ubaidah as sidawi

Beda Ulama' dan Nglama'

Beda Ulama' dan Nglama' *
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu berkata ketika menjelaskan tentang adab penuntut ilmu agama:
"Hendaknya dia lapang dada dalam permasalahan-permasalahan khilaf yang bersumber dari ijtihad. Karena masalah khilaf diantara para ulama ada yang memang tidak terbuka pintu ijtihad di dalamnya sebab sudah jelas (dalil-dalilnya) dan tidak ada udzur (toleransi) bagi orang yang menyelisihinya. Dan ada juga yang pintu ijtihad masih terbuka dan bagi orang yang menyelisihi ada udzur (ditoleransi). Dan ucapan anda dalam masalah ijtihad bukan hujjah atas orang yang menyelisihi. Jika ucapan anda hujjah dalam masalah ini, maka demikian pula ucapan orang yang menyelisihi anda juga hujjah atas anda. Dan yang aku maksudkan disini (yang pintu ijtihad terbuka) adalah masalah (fiqih) yang memang masih ada ruang untuk berpendapat dan ada kelonggaran untuk adanya khilaf.
Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam masalah aqidah, maka ini tidak bisa diterima (ditoleransi) dari siapapun yang menyelisihi aqidah salafush shalih. Akan tetapi dalam masalah lain (fiqih ijtihadi) yang ada ruang bagi akal di dalamnya maka tidak selayaknya untuk dijadikan bahan caci makian bagi yang menyelisihi atau sebab permusuhan dan kebencian." (Kitab Al-'Ilmi hal. 30)
Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Baik Sangka dengan Orang Lain

*🍃Baik Sangka dengan Orang Lain🍃*
Imam Asy-Syafi'i mengatakan,
من أراد أن يقضي الله له بالخير فليحسن الظن بالناس
_*"Siapa saja yang ingin Allah takdirkan dengan takdir yang baik hendaknya berbaik sangka kepada orang lain"*_
(Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 116).
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
🔑 *Kunci nasib baik dan keberuntungan* adalah baik sangka dengan orang lain, positif thinking dan memandang orang dengan cara pandang positif.
🎀 *Orang yang berbaik sangka kepada orang lain akan bersikap baik kepada orang lain.*
🎀Siapa yang bersikap baik kepada orang lain akan menjadi orang yang suka menolong.
🎀Allah menolong orang yang suka menolong.
Sehingga nasib baik akan selalu membersamai orang tersebut.
🎀Baik sangka bukan berarti tidak waspada.
Waspada ditujukan kepada orang yang memiliki gelagat yang "aneh".
🎀Baik sangka itu ditujukan kepada orang yang tidak memiliki gelagat yang aneh.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
*✍️by Aris Munandar, SS, MPI*
_-hafizhahullahu ta'ala-_
*🏘️Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Kasihan Bantul Yogyakarta🏘️*

Jama'ah Tabligh adalah kelompok bid'ah

Jama'ah Tabligh adalah kelompok bid'ah yang dirintis oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi, seorang panganut tarekat Sufi yang berasal dari India. Dia menjalankan misi tablighnya setelah pergi ke makam Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Muhammad Ilyas wafat tahun 1363 H.
(Jama'ah Tabligh Mafahim Yajib An Thushohhah hal. 2 – 3)
Jama'ah Tabligh memiliki manhaj dan pokok pemahaman yang mereka sebut dengan "Ushulus Sittah" di antaranya adalah :
(1) Mengamalkan kalimat thayyibah "Laa Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah",
(2) Shalat khusyu',
(3) Ilmu dan dzikir,
(4) Menghormati kaum Muslimin,
(5) Mengikhlaskan niat,
(6) Keluar (khuruj) di jalan Allah.
Keenam pokok ini bila dibaca sepintas lintas tidak ada penyelisihannya terhadap syari'at. Tetapi setelah disaksikan prakteknya secara nyata mereka amalkan dengan pemahaman yang batil.
Diantara ciri khas cara berdakwah jamaah tabligh adalah menghindari kajian dan soal jawab tentang ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai biang pemecah belah ummat.
Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A'mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid'ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah :
1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini).
(Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).
2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib.
(Lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini.
(Lihat Fadhail A'mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni
(lihat Fadhail A'mal, bab Fadhail Qur'an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin.
(Lihat Fadhail A'mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).
6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi.
(lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190).
Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai'atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut.
(Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).
7. Saling berbai'at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah.
(Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya Asy-Syaikh Sa'ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).
8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i.
(Fadhail A'mal, bab Fadhail Ash-Shalati 'alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).
9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah.
(Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa'rifuha, hal. 10).
10. Keharusan untuk bertaqlid
(lihat Dzikir Wa I'tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta'rifuha, hal. 70).
11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A'mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah.
Wallahul Musta'an.

di share ulang oleh ustadz hafzan el hadi
salah satu kontributor konsultasi syariah 

Pelajar Fiqh Hanbali Harus Melalui 5 Matan Ilmiyah

Pelajar Fiqh Hanbali Harus Melalui 5 Matan Ilmiyah :
1. Akhsor al-Mukhtasorot (Ibnu bilban 1083 H)
2. Dalil ath-Tholib ( Mar'i al-Karmiy 1033 H)
3. Umdatu ath-Tholib (Manshur al-Buhuti (1051 H)
4. Kafi al-Mubtadi (Ibnu bilban 1083 H)
5. Zaad al-Mustaqni' (Musa al-Hajjaawiy 968 H)
Bagi mutakhossis alias spesialis fiqh hanbali, wajib mempelajari matan-matan di atas semua minimal 3 matan, dan tidak boleh meninggalkan matan az-Zaad.
Bagi yang tidak mutakhossis silahkan pilih satu matan saja minimal, dan setelahnya mengkaji Roudh al-Murbi' dan harus mengkajinya secara detail, merinci, secara hasyiyah dan komentar-komentar ulama terhadap kitab ar-Roudh.
Kenapa saya tidak ambil kitab Ibnu Qudamah saja misal al-Kaafiy atau al-Mughni?
Mazhab hanbali ditahrir dan ditanqih oleh 5 syaikh, al-Qodhi Abu Ya'la, Ibnu Muflih, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qudamah, dan arus terakhir berpuasat di Imam al-Mardaawiy. Zaman mereka sekitar tahun 400-885 H..
Akan tetapi mazhab hanbali menjadi kokoh dan istiqror itu berada di tangan hanabilah mutaakkhirin, Musa al-Hajjaawiy, Ibnu Najjar, Mar'iy al-Karmiy, Manshur al-Buhuti.
Sehingga untuk pengkaji fiqh hanbali tidak seharusnya loncat ke kitab al-Kafiy atau al-Mughni tanpa mengikuti jalur bertahap ulama hanabilah. Ditakutkan menyelisihi pendapat yang mu'tamad di kalangan hanabilah.
(Lihat Madarij Tafaqquh Hanbali karya Syaikh Ahmad al-Qu'aimi dan Madkhol ilaa al-Fiqh al-Islamiy karya Syaikh Amir bahjat)
status fb al ustadz Abo Musa Al-mizzi