Jumat, 30 Januari 2026

MEMUTUS BUHUL SIHIR

MEMUTUS BUHUL SIHIR
Syaikh Abul Baro Usamah bin Yasin Al Ma’ani Hafidzahullah. 

“90% buhul sihir itu tidak pernah ketemu”, demikian jawaban syaikh Abul Baro hafidzahullah ketika ditanya bagaimana mencari buhul sihir. 

Ketika ditanya bagaimana memutuskan buhul (ikatan atau media) sihir yang tidak ketemu. Beliau menjawab dengan ayat ( Al Quran, Surah Yunus ayat 81):

  إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبْطِلُهُۥٓ ۖ
Innallāha sayubṭiluh,
Artinya: “Sesungguhnya Allah lah yang akan membatalkan sihir mereka"

Alhamdulillah, jawaban yang menentramkan. Jawaban singkat yang merupakan kristalisasi pengalamannya yang lebih dari 45 tahun dalam dunia ruqyah. 

Baca selengkapnya dalam karya beliau, volume 8 Ensiklopedi Ruqyah 800an halaman fokus tentang sihir juga 8000 halaman lain tentang jin, sihir dan ain secara ilmiah. Baarokallahufiikum

Ketika Kedalaman Ilmu Fikih Diterapkan dalam kehidupan

Ketika Kedalaman Ilmu Fikih Diterapkan dalam kehidupan...

Ustadz ‘Abdul Karim al-Muqrin rahimahullah, pembawa acara program fatwa “Nuur ‘ala ad-Darb” di Radio Al-Qur’an Al-Karim KSA menceritakan  bahwa suatu ketika beliau pernah merekam siaran di ruang khusus rekaman di rumah Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Ketika kami merekam beberapa episode, terdengar suara para pekerja yang sedang bekerja di rumah sebelah. Salah seorang pekerja, tampaknya, sedang memecah batako, sehingga suara pukulan itu mengganggu rekaman. Maka Syaikh rahimahullah pun berdiri untuk mendatangi mereka dan memberitahu agar menghentikan pekerjaan tersebut.

Namun ketika beliau sampai di pintu ruang tamu, beliau kembali seraya berkata, “Wahai ‘Abdul Karim! Siapa yang memulai lebih dulu?” Aku menjawab, “Mereka, wahai Fadhilatusy Syaikh.”

Maka karena sifat wara’ beliau rahimahullah, beliau membiarkan mereka dan berkata, “Kalau begitu, kita tunda saja rekaman ini beberapa saat sampai mereka selesai memecahnya.”

Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Momen dan kenangan bersama para ulama besar
‘Abdul Karim bin Shalih al-Muqrin

Guru dalam belenggu murid.

Guru dalam belenggu murid.

Kata nenek moyang dulu, guru itu maknanya adalah: digugu dan ditiru....alias dipercayai dan diikuti.

Kok demikian?

Ya, karena normalnya, guru itu lebih berilmu dan lebih dewasa, sehingga pendapat dan pertimbangannya lebih matang.

Namun demikian, betapa sering sebagian murid berusaha mempengaruhi gurunya....bila gurunya berkata atau bersikap yang kurang bisa mereka pahami, maka mereka segera komplain, memberikan tekanan psikologi agar gurunya mengikuti kemauan murid muridnya tersebut.

Dalam kondisi seperti inilah guru dituntut memiliki keberanian dan keteguhan prinsip.

Dikisahkan, suatu hari ada seorang lelaki datang menemui sahabat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma untuk bertanya: "Apakah taubat orang yang dengan sengaja membunuh orang beriman dapat diterima ??" 

Ibnu Abbas menjawab: "Tidak, ia hanya ada satu pilihan yaitu masuk neraka." 

Lelaki itu segera pergi, dan sepergi lelaki itu, para murid Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu mengutarakan keheranannya, dan berkata kepada sang guru yaitu Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma : "Selama ini, tidak demikian yang engkau ajarkan kepada kami? 

Selama ini engkau mengajarkaan kepada kami bahwa taubat pembunuh orang beriman dapat diterima, mengapa hari ini jawabanmu berbeda ?" 

Ibnu Abbas menjawab keheranan murid muridnya : "Aku memperkirakan orang tadi adalah orang yang sedang marah dan hendak membunuh orang beriman " 

Penasaran dengan prediksi sang guru, para murid beliaupun segera mencari tahu perihal penanya tersebut dan ternyata sesuai dengan prediksi guru mereka Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu. (Ibnu Abi Syaibah)

Bahkan sekelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak luput dari ulah audients atau sebut murid yang tidak tahu diri seperti di atas. Suatu hari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mebagi bagikan harta rampasan perang. Tiba tiba ada seorang lelaki yang tanpa tahu diri, bersuara keras:
اعدل يا محمد فأنك لم تعدل
Wahai Muhammad, berbuatlah yang adil karena tindakanmu membagi rampasan perang ini tidak adil. (Ahmad, Ibnu Majah dll)

Bila kejadian ini terjadi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bagaimana dengan para guru, ustadz kiyai di zaman sekarang.

Karena itu, guru harus memiliki nyali untuk memposisikan dirinya sebagai panutan, sehingga siap dan teguh berpegang pada prinsip tidak goyah dengan tekanan psikologi atau ekonomi yang dilakukan oleh murid-muridnya.

Lo, apa ada murid yang durhaka dengan mengendalikan gurunya?

Simak status selanjutnya….sambil nunggu, silahkan persiapkan diri anda untuk mendaftarkan diri esok pagi di sini: https://stdiis.ac.id/headline/brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/

Manhaj itu apa sih?

Manhaj itu apa sih?

Sebagian orang merasa paling kokoh manhajnya, dan selalu menjadikan kata "manhaj" menjadi senjata pamungkus dan paling ampuh untuk menjatuhkan orang lain?

Pernahkah anda bertanya : manhaj tuh apa sih?

Di mana bukunya? atau apa perinciannya?

Manhaj itu secara bahasa artinya adalah jalan, cara alias metodologi.

Jadi manhaj salaf artinya jalan atau metodologi kaum terdahulu. 

Dalam urusan apa? 
Ya dalam beragama secara kafah/menyeluruh; Memahami dalil dalil agama, mengamalkannya, mendakwahkan, menyikapi kawan dan juga lawan.

Anehnya, banyak orang yang sok merasa kokoh manhajnya, namun faktanya, merasa bahwa manhaj itu tidak ada kaitannya dengan  fiqih, atau fiqih bukan bagian dari manhaj, akidah berbeda dengan manhaj, tafsir tidak termasuk manhaj, maka ini namanya kebodohan. 

La kalau kaedah kaedah keilmuan, termasuk ilmu ushul fiqih, kaedah fiqih, ushul tafsir, musthalah hadits, dan  lainnya saja belum sempat belajar, namun mengaku paham manhaj, maka itu jelas jelas kesesatan.

Memang tidak diragukan bahwa unsur manhaj terbesar ialah manhaj alais metodologi dalam beriman kepada Allah, Rasul dan rukun iman lainnya, alias aqidah.

Demikian pula dengan manhaj mengamalkan rukun rukun iman dalam kehidupan sehari hari, serta dalam mendakwahkannya dan meyikapi orang lain yang menerima atau menolaknya.
 
Demikian secara global, dan bila dirinci maka dalam setiap urusan ada cara/manhaj yang telah diajarkan dan dicontohkan kaum salaf.
Diantaranya dengan menerapkan konsep keadilan, alias memposisikan segala urusan secara proporsional. Setiap orang muslim dicintai sesuai kadar imannya, dan dibenci sesuai kadar dosa dan penyimpangannya.

Dan salah satu perincian manhaj dalam beramal yang dicontohkan oleh para ulama; sedari dahulu ialah beramal secara proporsional, karena itu para ulama membagi amalan menjadi rukun, wajib, sunnah, syarat, pembatal dan lainnya. Dengan demikian, kita dapat beribadah secara benar. Tatkala ada orang sholeh yang tidak bersedekap atau menggerak gerakkan jari ketika tasyahhud, atau ketika khutbah tidak membaca khutbatul hajah, semua itu disikapi dengan woles saja, karena semua itu sunnah bukan wajib atau rukun.

Satu kesesatan nyata bila rukun shalat disikapi sama dengan sunnah sunnah shalat, akibatnya orang yang sengaja meninggalkan sunnah dianggap shalatnya bid'ah, atau sebaliknya meninggalkan rukun shalat dengan sengaja dianggap bagaikan meninggalkan sunnah shalat.

Dengan demikian, bisa jadi anda salah dalam satu permasalahan, bisa salah memahami, dalah mengamalkan, mengajarkan, salah menyikapi kawan atau lawan, termasuk salah dalam memprioritaskan sebagian hal, baik pada level pemahaman, praktek, dakwah, atau sikap.

Karenanya, bila ada yang mengatakan manhajnya benar atau salah, perlu ditanya lebih lanjut? Manhaj dalam urusan apa?

Khowarij misalnya sesat manhajnya karena salah metode dalam memahami dan mengaplikasikan dalil dalil yang bersifat ancaman (wa’iid), sedangkan murjiah sesat manhajnya dalam memahami dalil dalil yang membawa kabar gembira (wa’du).

Sekte Qadariyah dan Jabriyah sesat dalam memahami dan mengaplikasikan tentang qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla.
Sayang saat ini, kata manhaj sering diucapkan secara global alias “hantam kromo”, akibatnya terjadi kekacauan, bisa berupa penyempitan arti kata manhaj, atau pengaburan artinya.

Orang yang belum paham syarat, rukun, wajib, dan sunnah berbagai amalan, kok bisa bisanya ngaku paham manhaj!

Metode pendalilan dan mengkompromikan dalil saja masih rabun siang, kok merasa paling kokoh dalam hal manhaj!

Saat ini kata manhaj seakan hanya sebatas urusan menyikapi pihak yang berbeda atau bersebrangan, atau dalam urusan akidah saja, adapun urusan beramal/muamalah, ibadah personal, akhlaq kepada sesama, tazkiyatunnufus, dan lainnya tidak termasuk dari tema manhaj.

Jadi yang ngajinya dengan tema ushul fiqih, atau kaedah berdalil, kaedah fiqih, maka tidak diakui sebagai kajian tentang manhaj, yang diakui sebagai kajian tentang manhaj hanyalah kajian yang isinya bantah membantah, kritik mengkritik semata.

Sewaktu saya awal pulang dari Saudi, saya gencar mengadakan kajian fiqih mu'amalah. 

Eeeeh, ada seorang figur pendakwah senior yang berkata: dakwah itu harus mendahulukan akidah? dakwah kok tentang fiqih?

Saya cuma bisa tersenyum, kok bisa bisanya memisahkan akidah dari fiqih, padahal salah satu prinsip fiqih itu ya aqidah itu sendiri, meyakini riba itu haram, zina itu haram dan seterusnya adalah akidah, sehingga orang yang meyakini riba halal, mencuri halal, zina halal, menurut akidah salafy dianggap kafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فهو المسلم له ذمة الله ورسوله

“Siapa yang sholat seperti sholat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan binatang sembelihan kita, maka ia adalah orang muslim, ia memilik jaminan perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya.” (Al Bukhari dari hadits Anas bin Malik)

Makanya kalau anda ketemu dengan orang yang dikit dikit manhaj manhaj, manhaj, tanyakan saja, apa itu manhaj? dalilya apa? 

Nah, kalau anda tertarik belajar manhaj berdalil, termasuk manhaj berdakwah, segera bergabung di sini: https://stdiis.ac.id/headline/brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/

Ketika tangan itu amanah maka menjadi berharga, namun ketika tangan itu khianat maka jatuh harganya

Orang yang memotong tangan orang yang tak bersalah, diqishos atau membayar diyah sebesar 50 ekor onta.
Orang yang mencuri senilai 0,25 dinar atau lebih, dipotong tangannya.
Ketika ada yang mempertanyakan, kenapa harga tangan yang dipotong mahal sekali seharga 50 ekor onta, sementara yang mencuri hanya 0,25 dinar dipotong tangannya. Maka seorang ulama mengatakan:
لما كانت أمينة كانت ثمينة
فلما خانت هانت
Ketika tangan itu amanah maka menjadi berharga, namun ketika tangan itu khianat maka jatuh harganya.

Begitu juga nyawa. Semoga bisa dipahami.
ustadz asmon nurijal

Kamis, 29 Januari 2026

Hanbali Fiqh : Tidak sah shalat seorang laki-laki yang berdiri sendirian (fadz) di belakang imam atau di belakang barisan (shaf).

Hanbali Fiqh

​Tidak sah shalat seorang laki-laki yang berdiri sendirian (fadz) di belakang imam atau di belakang barisan (shaf). 

Dalil mengenai hal ini terdapat dalam dua nash sunnah:

● ​Sabda Nabi ﷺ: 'Tidak ada (tidak sah) shalat bagi orang yang shalat sendirian di belakang shaf.' (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

● ​Perintah Nabi ﷺ kepada seorang pria yang melakukan shalat sendirian di belakang shaf untuk mengulangi shalatnya. 
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, dan beliau menyatakannya sebagai hadis hasan).
​
📝 Al-Hawasyi As-Sabighat, Hal. 136

Daurah perbaiki kualitas hidupmu rangkuman dari catatan tersebut agar lebih rapi, terstruktur, dan mudah dibaca kembali. Catatan ini membahas tentang hidayah, bahaya syirik, dan hakikat Rukun Islam.

ini adalah rangkuman dari catatan tersebut agar lebih rapi, terstruktur, dan mudah dibaca kembali. Catatan ini membahas tentang hidayah, bahaya syirik, dan hakikat Rukun Islam.
1. Konsep Hidayah dan Respon Manusia
Hidayah datang dari Allah, namun respon manusia menentukan hasilnya:
 * Respon Baik: Menghasilkan amal \rightarrow Amal diterima \rightarrow Mendapatkan pahala.
 * Respon Buruk: Terhalang dari hidayah \rightarrow Bertahan dalam maksiat \rightarrow Keburukan dinilai sebagai kebaikan \rightarrow Tidak akan bertaubat.
Indikator Hati terhadap Kebenaran:
 * Gembira saat mendapat ilmu baru = Iman bertambah.
 * Hati berontak saat kebenaran datang = Kekotoran hati bertambah (Tafsir Hidayah).
2. Bahaya Syirik (Syirik Berbahaya)
Catatan ini menekankan betapa fatalnya perbuatan syirik berdasarkan dalil Al-Qur'an:
 * Haram masuk surga & kekal di neraka (QS. Al-Maidah: 72).
 * Amalnya hangus/sia-sia (QS. Az-Zumar: 65).
 * Tidak akan diampuni dosanya (QS. An-Nisa: 48/116).
 * Ruhnya ditolak naik ke langit dunia dan dicampakkan (QS. Al-Hajj: 32).
> Catatan Tambahan: Penting untuk menjaga "jarak aman" dari segala bentuk syirik. Termasuk peringatan mengenai Tabaruk (mencari berkah) di kuburan yang tidak sesuai syariat.
> 
3. Adab/Amalan di Kuburan
Alih-alih mencari berkah dari kuburan, amalan yang benar adalah:
 * Mendoakan mayit.
 * Mengingat kematian (Dzikrul Maut).
4. Filosofi 5 Rukun Islam
Setiap rukun Islam memiliki klasifikasi jenis amalan:
| Rukun Islam | Jenis Amal / Makna |
|---|---|
| 1. Syahadat | Gerbang masuk Islam. |
| 2. Shalat | Amal Badaniyah (fisik). |
| 3. Zakat | Amal Maliyah (harta). |
| 4. Haji | Amal Gabungan (Badan + Maliyah). |
| 5. Puasa | Amal tanpa amal (Imsak: menahan diri). |
Ketentuan Haji:
 * Hanya wajib bagi yang mampu secara fisik (Badan) dan materi (Mal). Jika salah satu tidak terpenuhi, maka tidak diwajibkan.
Kesimpulan Penutup:
Kajian Tauhid harus disertakan dalam pembahasan ilmu apa pun.


Bagian 1: Tauhid, Hidayah, dan Rukun Islam
A. Konsep Hidayah & Respon Hati
Hidayah datang dari Allah, namun ditentukan oleh respon manusia:
Respon Baik: Menghasilkan amal \rightarrow diterima \rightarrow pahala.
Respon Buruk: Terhalang dari hidayah \rightarrow bertahan dalam maksiat \rightarrow menganggap keburukan sebagai kebaikan \rightarrow tidak bertaubat.
Indikator Hati: * Gembira mendapat ilmu baru = iman bertambah.
Hati berontak saat kebenaran datang = kotoran hati bertambah (Tafsir Hidayah).
B. Bahaya Syirik & Adab Kubur
Syirik adalah dosa besar dengan konsekuensi fatal:
Haram masuk Surga & kekal di Neraka (QS. Al-Maidah: 72).
Amalan hangus (QS. Az-Zumar: 65).
Tidak diampuni (QS. An-Nisa: 48/116).
Ruh ditolak naik ke langit & dicampakkan (QS. Al-Hajj: 32).
Larangan: Melakukan Tabaruk (mencari berkah) di kuburan.
Anjuran di Kubur: Mendoakan mayit dan mengingat mati.
C. Filosofi Rukun Islam
Syahadat: Gerbang masuk Islam.
Shalat: Amal Badaniyah (fisik).
Zakat: Amal Maliyah (harta).
Haji: Amal gabungan (Badan + Harta). Ketentuan: Jika fisik mampu tapi harta tidak (atau sebaliknya), maka tidak wajib.
Puasa: Amal tanpa amal (Imsak: menahan diri).
Bagian 2: Adab Menuntut Ilmu dan Hakikat Hidup
A. Perjalanan Manusia & Niat
Manusia dalam perjalanan hidup (menuju kematian) memiliki 3 keadaan:
Berangkat bawa modal \rightarrow pulang utang.
Berangkat bawa modal \rightarrow pulang modal (habis).
Berangkat bawa modal \rightarrow pulang bawa untung.
Pesan: Jaga ikhlas dan rencana/keinginan Anda.
B. Piranti Ilmu (Belajar)
Ilmu masuk melalui 3 jalur utama:
Pendengaran.
Penglihatan.
Fuad (Hati): Berfungsi menerima dan menyimpan ilmu dalam waktu lama.
Tips Fuad Sehat: Dipaksa belajar, hindari sampah batin (sakit hati/iri), dan perbanyak memikirkan materi pelajaran daripada masalah hidup.
C. Adab Terhadap Ilmu & Guru
Sumber Aqidah: Bukan dari budaya atau logika semata, tapi harus berlandaskan wahyu.
Niat Belajar: 1. Menghilangkan kebodohan diri agar tambah wawasan.
2. Tawadhu' (rendah hati) di hadapan ilmu.
Tawadhu' vs Sombong: * Sombong: Menolak kebenaran & merendahkan orang lain.
Tawadhu': Menerima kebenaran & tidak merasa lebih tinggi.
D. Potensi Menjadi Prestasi
Potensi seperti Kaya, Pintar, dan Jabatan harus diubah menjadi prestasi berupa kemanfaatan bagi umat dengan landasan ikhlas.
Kesimpulan Penutup: Kajian tauhid harus disertakan dalam pembahasan ilmu apa pun