Selasa, 06 Januari 2026

KISAH PERPUSTAKAAN SYAIKH ALI AL-HALABI RAHIMAHULLAH

KISAH PERPUSTAKAAN SYAIKH ALI AL-HALABI RAHIMAHULLAH 

​Syaikh Ali al-Halabi—semoga Allah merahmatinya—wafat dalam keadaan menanggung utang antara 170 hingga 200 ribu dinar!

Fokus utama beliau selama hidupnya adalah mengenai perpustakaannya; bagaimana beliau bisa memberi manfaat kepada orang-orang melalui perpustakaan tersebut, dan bagaimana orang-orang tetap bisa mengambil manfaat darinya setelah beliau wafat.

​Beliau sangat ingin menjual perpustakaan tersebut agar dijadikan sebagai wakaf, sehingga para penuntut ilmu dapat mengambil manfaat darinya. Beliau pun selalu memilih cetakan-cetakan kualitas terbaik untuk koleksi perpustakaannya.

​Syaikh Sufyan 'Aisy menceritakan:
"Aku pernah melihat di kediaman beliau sebuah kitab yang sangat besar, jumlah jilidnya mencapai lebih dari 30 jilid dengan ukuran besar, dan kitab itu tidak berbahasa Arab!"

​Lalu aku bertanya kepada Syaikh tentang kitab tersebut.
Beliau menjawab: "Ini adalah kitab Sejarah Dunia dalam bahasa Latin (sedangkan Syaikh Ali sendiri tidak menguasai bahasa Latin)."

​Aku bertanya lagi: "Lalu apa yang membuatmu membelinya?"

Beliau menjawab: "Wahai Sufyan, barangkali nanti akan datang seseorang ke perpustakaanku yang dapat mengambil manfaat darinya!"

​Koleksi perpustakaan tersebut telah diindeks oleh staf perpustakaan bernama Ahmad al-Halabi, yang menyortirnya berdasarkan judul dan memasukkan daftar indeksnya ke dalam komputer.

​Syaikh Ali pernah berupaya menjual seluruh koleksi perpustakaan tersebut kepada Syaikh Shalih Alu Syaikh, sehingga para pakar pun datang untuk memeriksanya. Syaikh Shalih Alu Syaikh sendiri adalah seorang kolektor buku yang luar biasa (kelas kakap) ; di samping keilmuannya, beliau dikenal sebagai "ensiklopedia" dalam hal koleksi buku, dan beliau adalah orang nomor satu di Mesir tempat orang-orang menawarkan buku-buku berharga!

​Syaikh Shalih sangat mencintai guru kami, Ali al-Halabi. Beliau sering mengunjungi Syaikh Ali atau mengirimkan visa haji untuknya, serta pernah mengundang Syaikh Ali ke Riyadh untuk bertemu langsung.

​Namun, Syaikh Ali wafat secara mendadak. Beliau meninggalkan anak-anak yang tidak begitu mengerti tentang seluk-beluk buku dan kualitas cetakan, sehingga mereka tidak sanggup mewujudkan cita-cita ayah mereka untuk menjadikan perpustakaan tersebut sebagai wakaf.

​Maka datanglah Syaikh Ali al-Kurdi—semoga Allah menjaganya—yang sangat mencintai Syaikh Ali al-Halabi dan merupakan seorang yang berkecukupan (kaya). Beliau membeli seluruh perpustakaan tersebut, termasuk buku-buku karya Syaikh Ali, kaset-kaset rekamannya, seluruh hak cipta, dan segala hal yang berkaitan dengan Syaikh Ali al-Halabi. Beliau membayar harganya, di mana hasil penjualan tersebut digunakan untuk melunasi utang-utang Syaikh Ali, dan sisanya dibagikan kepada para ahli waris.

​Saat ini, beliau (Syaikh Ali al-Kurdi) sedang berupaya mencari tempat yang layak agar perpustakaan tersebut menjadi wakaf yang bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Beliau juga telah menugaskan orang untuk mentranskrip kaset-kaset dan pelajaran-pelajaran yang terekam agar dapat diterbitkan dalam bentuk cetak, insya Allah.

​(Disadur dari cuplikan ceramah Syaikh Sufyan 'Aisy)
Ustadz abu hilya asri

Pujian Ibnu Daqiq Al-'Ied Asy-Syafi'i kepada Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali

Pujian Ibnu Daqiq Al-'Ied Asy-Syafi'i kepada Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali

Tatkala Ibnu Daqiq Al-'led masuk menemui Ibnu Taimiyyah, beliau pun memuji Ibnu Taimiyyah. Dan di antara hal yang diucapkan oleh Ibnu Daqiq Al-'Ied kepada Ibnu Taimiyyah adalah ucapan, "Mā kuntu azhunnu annallāha baqiya yakhluqu mits-laka (Tidaklah aku punya pikiran bahwa Allah masih tetap menciptakan orang sepertimu)."

Maksud ucapan beliau itu adalah, "Tidaklah terbersit dalam pikiranku bahwa di kalangan manusia yang Allah ciptakan pada masa ini ada orang yang akan mencapai pencapaian yang kulihat pada dirimu)."

Dan bukanlah maksud ucapan beliau itu, "Dalam pikiranku, tidaklah Allah akan menciptakan orang sepertimu setelahmu -atau orang yang lebih besar darimu setelahmu." Barangsiapa yang memahami bahwa inilah yang dimaksud, maka ia telah keliru jauh.

(Syaikh Badr bin 'Ali Al-'Utaibi hafizhahullah) 

Al-Imām Ibnu Daqīq Al-'Ied Asy-Syafi'i (w. 702 H) rahimahullah mengungkapkan : 

لما اجْتمعت بِابْن تَيْمِية رَأَيْت رجلا الْعُلُوم كلهَا بَين عَيْنَيْهِ يَأْخُذ مِنْهَا مَا يُرِيد ويدع مَا يُرِيد

"Saat aku bersama dengan Ibnu Taimiyyah, aku melihat seorang yang seluruh ilmu seakan berada diantara kedua matanya, yang bisa ia ambil dan ia tinggalkan sesuai keinginannya."

(Ar-Raddul Al-Wāfir, Ibn Nashiriddin Ad-Dimasyqi, hal. 59)

ulama yg tawadhu


Ibnu Rasyiq adalah sosok yang sangat berjasa dalam menyalin dan merapikan karya-karya Ibnu Taimiyah sehingga bisa sampai ke tangan kita hari ini

Kata ibnu Katsir yang membuat tulisan gurunya susah dibaca adalah : itu menggambarkan betapa cepatnya Ibnu Taimiyah menulis. Saking cepatnya beliau menuangkan ide ke dalam kertas, bentuk huruf-hurufnya menjadi sangat rapat dan sulit dibaca oleh orang biasa.

Tulisan tangan Ibnu Taimiyah rahimahullah sangatlah menakjubkan (unik/sulit dibaca). Terkadang beliau sendiri merasa kesulitan membaca tulisannya, lalu muridnya yang bernama Ibnu Rasyiq al-Maliki membantunya membacakan tulisan tersebut untuknya. Ibnu Rasyiq adalah sahabat beliau yang paling mengenal (paling mahir membaca) tulisan tangan beliau.

Ibnu Rasyiq adalah sosok yang sangat berjasa dalam menyalin dan merapikan karya-karya Ibnu Taimiyah sehingga bisa sampai ke tangan kita hari ini.
Ustadz hilya asri
https://www.facebook.com/share/17LMH1cQcq/

Senin, 05 Januari 2026

Bab Udzur bil jahl adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah.

Bab Udzur bil jahl adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah.
___
Maka dari itu para imam justru membahasnya  di dalam kitab kitab kitab fiqih sebagai isyarat bahwa statusnya sama dengan masalah fiqih yang notabene ijtihadiyah.

___
Imam Ibnu Utsaimin
https://www.facebook.com/share/p/17s6irwghM/

kecelakaaan

Fatwa ulama tentang membuang air panas

Fatwa ulama tentang membuang air panas
___________________

1. Syaikh bin Baz ditanya : Wahai syaikh, apakah kita harus mengucapkan bismillah, tatkala menuang air panas, karena di khawatirkan ada jin di tempat air tersebut di tuang?

Jawaban : Ya, dia harus mengucapkan bismillah, yang seperti itu guna mengingatkan jika di sana ada jin. Kemudian Syaikh mengatakan : Pernah sesekali aku menghadiri majlis qiro'ah (ruqiyah) terhadap seseorang yang kesurupan. Maka yang meruqiyah bertanya kepada jin yang merasukinya : Mengapa engkau merasukinya? Maka ia pun menjawab : Dia telah menuangkan air panas kepada salah seorang dari anakku, sampai ia membunuhnya. Maka yang meruqiyah pun menimpalinya : Karena ia tidak tau, kalau anakmu ada di tempat itu. Maka jin itupun berkata : Mengapa tidak mengucapkan bismillah! sehingga ia bisa mengingatkannya.

*سئل شيخنا ابن باز;*

هل ياشيخ نقول بسم الله عند صبِّنا الماء الساخن وذلك خشية أن يكون هناك جني في المكان الذي صبَّ فيه الماء ؟

* الجواب :
قال الشيخ نعم يسمي الله وذلك ليُتنبه إن كان هناك  قال الشيخ : قد حضرت مرة جلسة قراءة على شخص مصاب بمس فقال الراقي مخاطباً الجني الملتبس بالإنسي لما تلبَّسْتَ به ، فقال: الجنِّي لقد صبَّ الماء الساخن على أحد أبنائي فقتله ، فقال :الراقي له لأنه لا يعرف أن أبنك في ذلك المكان ، فقال : الجنِّي لما لم يسمي الله فيَتَنبه له. انتهى ........ 
أو كما قال الشيخ حفظه الله.

*📚 وللمزيد الفائدة كلام الشيخ موجود في شرحه لرسالة الدعوة إلى الله وأخلاق الدعاة ( عشرة أشرطة) - لسماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز رحمه الله .*

2. Syaikh Zaid Al-Madkhali rahimahullah ta’ala ditanya :

ﻫﻞ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﻘﻮﻝ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺻﺐّ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺴﺎﺧﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻱ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻧﺤﺮﻕ ﺍﻟﺠﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻱ ؟

Apakah benar, sebaiknya kita membaca basmalah ketika hendak membuang air panas di selokan, sehingga kita tidak membakar jin di selokan?

Jawaban:

ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﻻﻳﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺭ ﻻﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻱ ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻻﻳﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺭ؛ ﻻﻥ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﻤﻠﻮﺀﺓ ﺑﺎﻟﺴﻜﺎﻥ ﻓﺮﺑﻤﺎ ﻳﻘﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﺠﻦ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺻﻐﺎﺭﻫﻢ ﻓﻴﺤﺼﻞ ﺍﻹﻧﺘﻘﺎﻡ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻴﺼﺮﻉ

Bagaimanapun, air panas tidak boleh dituangkan di selokan, tidak pula di tanah, tidak pula di air yang mengalir. Karena bumi ini penuh dengan penghuni, terkadang air panas tersebut mengenai alam jin atau anak-anak mereka, sehingga mereka membalas dendam lalu terjadi kesurupan.

ﻟﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻥ ﻳﺼﺐ ﺍﻻﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎﺀﺍً ﺣﺎﺭﺍً ﻓﻠﻴﺒﺮﺩﻩ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﺭﺩﺍً ﻻﻳﺆﺫﻯ ﻭﻳﺼﺒﻪ ﺳﻮﺍﺀﺍً ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻯ ﺃﻭ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻫﺎ .

Oleh karena itu jika seorang insan hendak menuangkan air panas, hendaknya ia mendinginkan dulu dengan (dicampur) air sampai dingin dan tidak menyakiti lalu ia membuangnya, apakah di selokan ataukah selainnya.

3. Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah ditanya : Sebagian orang berkata: jangan menuangkan air yang panas di atas tanah kecuali dengan tasmiyyah (mengucapkan Bismillah) karena khawatir dimasuki jin?

Jawaban : Tidak mengapa jika dia menuangkan air panas tanpa tasmiyyah.

Al Kanzu ats Tsamin Fii Sualat Ibni Sanid Libni 'Utsaimin (162)

 28_ صب الماء الساخن على الأرض بدون تسمية
سئل فضيلة الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :بعضهم يقول لا تصب الماء الحار على الأرض إلا بتسمية خشية دخول الجن؟

فأجاب بقوله:مافيه شيء لو صب الماء بدون تسمية.

الكنز الثمين في سؤلات ابن سنيد لابن عثيمين(162)

4. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: "Merasuknya jin ke dalam tubuh manusia memiliki tiga penyebab:

1⃣. Terkadang jin tersebut menyukai orang yang dirasukinya, maka ia merasukinya guna bersenang-senang dengannya. Dan kerasukan jenis ini lebih ringan dan lebih mudah ketimbang jenis yang lainnya.

2⃣. Terkadang ada manusia yang mengganggunya, seperti bila manusia tersebut mengencinginya atau menuangkan air panas kepadanya. Atau terkadang manusia tersebut sampai membunuh sebagian dari mereka, atau selain itu dari berbagai macam gangguan. Ini adalah jenis kerasukan yang paling berat, sering terjadi mereka sampai membunuh orang yang dirasukinya.

3⃣. Terkadang jin itu hanya iseng / usil sebagaimana usilnya orang-orang bodoh kepada orang-orang yang melintas di jalan."

📚 Majmu'ul Fatawa (13/82)
di upload oleh ustadz ekky pradana
di share oleh ustadz asmon nurijal