KISAH PERPUSTAKAAN SYAIKH ALI AL-HALABI RAHIMAHULLAH
Syaikh Ali al-Halabi—semoga Allah merahmatinya—wafat dalam keadaan menanggung utang antara 170 hingga 200 ribu dinar!
Fokus utama beliau selama hidupnya adalah mengenai perpustakaannya; bagaimana beliau bisa memberi manfaat kepada orang-orang melalui perpustakaan tersebut, dan bagaimana orang-orang tetap bisa mengambil manfaat darinya setelah beliau wafat.
Beliau sangat ingin menjual perpustakaan tersebut agar dijadikan sebagai wakaf, sehingga para penuntut ilmu dapat mengambil manfaat darinya. Beliau pun selalu memilih cetakan-cetakan kualitas terbaik untuk koleksi perpustakaannya.
Syaikh Sufyan 'Aisy menceritakan:
"Aku pernah melihat di kediaman beliau sebuah kitab yang sangat besar, jumlah jilidnya mencapai lebih dari 30 jilid dengan ukuran besar, dan kitab itu tidak berbahasa Arab!"
Lalu aku bertanya kepada Syaikh tentang kitab tersebut.
Beliau menjawab: "Ini adalah kitab Sejarah Dunia dalam bahasa Latin (sedangkan Syaikh Ali sendiri tidak menguasai bahasa Latin)."
Aku bertanya lagi: "Lalu apa yang membuatmu membelinya?"
Beliau menjawab: "Wahai Sufyan, barangkali nanti akan datang seseorang ke perpustakaanku yang dapat mengambil manfaat darinya!"
Koleksi perpustakaan tersebut telah diindeks oleh staf perpustakaan bernama Ahmad al-Halabi, yang menyortirnya berdasarkan judul dan memasukkan daftar indeksnya ke dalam komputer.
Syaikh Ali pernah berupaya menjual seluruh koleksi perpustakaan tersebut kepada Syaikh Shalih Alu Syaikh, sehingga para pakar pun datang untuk memeriksanya. Syaikh Shalih Alu Syaikh sendiri adalah seorang kolektor buku yang luar biasa (kelas kakap) ; di samping keilmuannya, beliau dikenal sebagai "ensiklopedia" dalam hal koleksi buku, dan beliau adalah orang nomor satu di Mesir tempat orang-orang menawarkan buku-buku berharga!
Syaikh Shalih sangat mencintai guru kami, Ali al-Halabi. Beliau sering mengunjungi Syaikh Ali atau mengirimkan visa haji untuknya, serta pernah mengundang Syaikh Ali ke Riyadh untuk bertemu langsung.
Namun, Syaikh Ali wafat secara mendadak. Beliau meninggalkan anak-anak yang tidak begitu mengerti tentang seluk-beluk buku dan kualitas cetakan, sehingga mereka tidak sanggup mewujudkan cita-cita ayah mereka untuk menjadikan perpustakaan tersebut sebagai wakaf.
Maka datanglah Syaikh Ali al-Kurdi—semoga Allah menjaganya—yang sangat mencintai Syaikh Ali al-Halabi dan merupakan seorang yang berkecukupan (kaya). Beliau membeli seluruh perpustakaan tersebut, termasuk buku-buku karya Syaikh Ali, kaset-kaset rekamannya, seluruh hak cipta, dan segala hal yang berkaitan dengan Syaikh Ali al-Halabi. Beliau membayar harganya, di mana hasil penjualan tersebut digunakan untuk melunasi utang-utang Syaikh Ali, dan sisanya dibagikan kepada para ahli waris.
Saat ini, beliau (Syaikh Ali al-Kurdi) sedang berupaya mencari tempat yang layak agar perpustakaan tersebut menjadi wakaf yang bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Beliau juga telah menugaskan orang untuk mentranskrip kaset-kaset dan pelajaran-pelajaran yang terekam agar dapat diterbitkan dalam bentuk cetak, insya Allah.
(Disadur dari cuplikan ceramah Syaikh Sufyan 'Aisy)
Ustadz abu hilya asri