Jumat, 31 Juli 2026

Fiqih Mazhab Maliki -​ Tata Cara Salat Jenazah

Fiqih Mazhab Maliki -​ Tata Cara Salat Jenazah

​Posisi Berdiri Imam:
Imam berdiri sejajar dengan pinggang/tengah tubuh jenazah laki-laki, dan sejajar dengan kedua bahu jenazah perempuan, dengan posisi kepala jenazah berada di sebelah kanannya.

​Pengangkatan Tangan Saat Takbir:
Tangan diangkat hanya pada takbir pertama. Adapun pada takbir-takbir berikutnya, tangan tidak perlu diangkat kembali, menurut pendapat yang paling masyhur dalam mazhab Maliki.

​Batas Minimal Doa:
Doa minimal dalam salat jenazah setelah setiap takbir adalah membaca:
​"Allahummaghfir lahu warhamh"
(Ya Allah, ampunilah dia dan rahmutilah dia).

​Hukum Membaca Al-Fatihah:
Membaca Al-Fatihah dalam salat jenazah tidak disunnahkan menurut mazhab Maliki. Namun, jika ada yang membacanya demi menjaga/menghormati perbedaan pendapat (mura'atan lil-khilaf), hal itu tidak mengapa.
Al-'Allamah Zarruq mengatakan: (Dan ia boleh melakukannya, yakni membaca Al-Fatihah, sebagai bentuk kehati-hatian untuk keluar dari perselisihan ulama).

​Anjuran Setelah Takbir Pertama:
Sebagian ulama, seperti Ibn Abi Zayd rahimahullah dalam Al-Risalah-nya, menganjurkan agar pada takbir pertama, salat diawali dengan memuji Allah serta bersalawat kepada Rasulullah ﷺ.

​📚 Al-Risalah Al-Qayrawaniyyah dan At-Tawdih karya Imam Khalil

ada sejumlah kesalahan terjemahan dalam beberapa kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum

𝐔𝐬𝐭 𝐀𝐬𝐞𝐩 𝐒𝐨𝐛𝐚𝐫𝐢: 𝐓𝐞𝐫𝐣𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐊𝐢𝐭𝐚𝐛 𝐀𝐫-𝐑𝐚𝐡𝐢𝐪 𝐀𝐥-𝐌𝐚𝐤𝐡𝐭𝐮𝐦 𝐝𝐢 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 𝐁𝐢𝐬𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐝𝐢𝐬𝐭𝐨𝐫𝐬𝐢 𝐆𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐔𝐦𝐚𝐭 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦 𝐓𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐒𝐨𝐬𝐨𝐤 𝐍𝐚𝐛𝐢 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 𝐒𝐀𝐖

CIPUTAT – Pendiri Sirah Community Indonesia, Ust Asep Sobari, memperingatkan bahwa ada sejumlah kesalahan terjemahan dalam beberapa kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum edisi Indonesia yang dapat mendistorsi konstruksi mental dan gambaran umat Islam terhadap sosok Nabi Muhammad SAW. 

Pernyataan tegas ini disampaikan dalam Simposium Sejarah Islam bertema "Rewriting Islamic History, Sources, Networks and Social Changes" yang digelar di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah, Selasa (28/7/2026).

Dalam artikel penelitiannya yang berjudul “Missunderstanding Sirah Nabawiyah: Kesalahan  Penerjemahan dalam Buku Sirah Ar-Rahiq al-Makhtum pada Beberapa Edisi Cetakan  Indonesia Suatu Analisis Kritis Terhadap Kualitas Alih Wahana Teks Historiografi Islam”, Ust Asep Sobari melakukan komparasi terhadap lima (5) buku terjemahan ar-Rahiqul al-Makhtum yang popular beredar di Indonesia. Di antaranya dari Penerbit Al-Kautsar, Ummul Quro, Darul Haq, Qisthi Press dan Gema Insani.

Ust Asep menjelaskan bahwa kesalahan dalam alih bahasa bukan sekadar masalah teknis linguistik, melainkan masalah hilangnya ruh sejarah. Ia mencontohkan kesalahan penerjemahan istilah Syi’b Abi Thalib (lembah/celah bukit) menjadi "perkampungan" yang terdapat pada beberapa penerbit besar. 

"Jika penderitaan fisik para sahabat saat diboikot digambarkan terjadi di sebuah perkampungan yang terkesan nyaman, maka empati sejarah dan pemahaman pembaca terhadap beratnya perjuangan Rasulullah akan luntur," ungkapnya,.

Penelitian ini dilakukan dengan membedah naskah terjemahan dari lima penerbit besar di Indonesia melalui pendekatan analisis kontrastif dan kritik teks,. Ust Asep menemukan adanya kesalahan leksikal-semantis yang fatal, seperti istilah "jeroan unta" (sala jazurin) yang diterjemahkan menjadi "kotoran unta", hingga kesalahan identitas kabilah Bani Salimah yang dengan kompak ditulis oleh seluruh kitab terjemah edisi berbahasa Indonesia menjadi Bani Salamah. 

Ia menekankan bahwa tanpa akurasi filologis, wibawa ilmiah kitab sirah sebagai rujukan otoritatif akan menurun menjadi sekadar bacaan populer yang tidak presisi. (fajar)

Menjaga Wibawa Pemimpin

*Menjaga Wibawa Pemimpin*

Burhanuddin Al Biqa'i berkata: 

"Sesungguhnya kemaslahatan agama tidak mungkin terwujudkan tanpa menghormati pemimpin".

(Nadhmu Surat 9/302)

Bantahan Asy'ariyah kepada Mu'tazilah dalam masalah sifat adalah bantahan yg sama Atsariyah/salafiyah kepada asy'ariyah.

Bantahan Asy'ariyah kepada Mu'tazilah dalam masalah sifat adalah bantahan yg sama Atsariyah/salafiyah kepada asy'ariyah.

𝗔𝘀-𝗦𝘂𝘆𝘂𝘁𝗵𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗺𝗮𝗺 𝗸𝗮𝘂𝗺 𝗺𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺𝗶𝗻

[𝙆𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣]

Sekitar dua tahun setelah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal atas jasa beliau dalam melayani Islam, saya mengunjungi beliau di masjidnya di 'Unaizah. Saya bertanya kepada beliau tentang karya-karya Imam As-Suyuthi.

Beliau menjawab:

"𝗔𝘀-𝗦𝘂𝘆𝘂𝘁𝗵𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗺𝗮𝗺 𝗸𝗮𝘂𝗺 𝗺𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺𝗶𝗻. 𝗜𝗹𝗺𝘂𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗹𝘂𝗮𝘀. 𝗔𝗸𝘂 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗺𝗮𝗻𝗳𝗮𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗸𝗵𝘂𝘀𝘂𝘀𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝗻𝗮𝗵𝘄𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗻𝘆𝗮. 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶, 𝗯𝗲𝗹𝗶𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗯𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗶𝗶𝗸𝘂𝘁𝗶. 𝗞𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻-𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻, 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗹𝗮 𝗽𝗿𝗶𝗯𝗮𝗱𝗶 𝗯𝗲𝗹𝗶𝗮𝘂."

— Dr. Ahmad bin Musfir Al-'Utaibi

𝙁𝙖𝙚𝙙𝙖𝙝

Inilah manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi para ulama:

- Mengakui keutamaan dan jasa mereka.
- Mengambil manfaat dari ilmu mereka.
- Tidak mengikuti kesalahan mereka.
- Menjelaskan kekeliruan dengan dalil dan adab.
- Tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menjatuhkan kehormatan seorang alim.

Sebagaimana dikatakan:
يُرَدُّ الْخَطَأُ، وَيُحْفَظُ الْفَضْلُ
"Kesalahan ditolak, namun keutamaan tetap dijaga."

𝗜𝗻𝗶𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗸𝗮𝗽 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗱𝗶𝗹: 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂𝗹𝘁𝘂𝘀𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘂𝗰𝗮𝗽𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿, 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗯𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗸𝗲𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂𝗮𝗻.

📝 Kisah ini juga menunjukkan salah satu akhlak mulia Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah. Meskipun beliau telah meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal—sebuah penghargaan bergengsi di dunia Islam—hal itu tidak membuat beliau sombong, ujub, atau meremehkan ulama lain.

Beliau tetap mengakui keilmuan Imam As-Suyuthi, mengambil manfaat dari karya-karyanya, sekaligus menjelaskan bahwa beliau memiliki beberapa kekeliruan yang tidak boleh diikuti. Tanpa celaan, tanpa merendahkan kehormatan beliau.
ustadz abu ya'la hizbul majid

Bantah berbantah itu terus berkembang, dengan bahasa yang pedas atau bahasa yang lebih pendas lagi.

Bantah berbantah itu terus berkembang, dengan bahasa yang pedas atau bahasa yang lebih pendas lagi.

Silahkah simak, agar anda yang seperti saya kelas penonton dan tukang sorak tidak usah gatel lisan ikut masuk ke lapangan.

Syeikh Musyhur Hasan Al Salman menkritik Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhli.

https://youtu.be/XXIFus7gwj4?si=63vxrkScQRWOlsj

Kritik di atas dicounter oleh Syeikh Sholeh As Suhaimi.

https://youtu.be/Qa__CIcJq1c?si=TESccGnBcjqZZXMs

Di bawah ini juga contoh bagaimana komentar syeikh Sholeh As Suhaimi perihal Syiekh Utsman Al khumais.

https://youtu.be/ldy2W_o8mN4?si=YCXgGjUP9JsTtADj

Kawan! Menurut saya, sekali lagi menurut saya nih ya, tema seperti ini membingungkan anda bukan? 

Saya yakin banyak dari anda yang bingung duduk masalahnya antara para syeikh itu sebenarnya apa sih.

Akan lebih membingungkan lagi, bila anda mengikuti jejak mereka dengan menggunakan isu yang sama untuk menilai orang lain sesama penuntut ilmu di negri kita, sedangkan syeikh syeikh panutan anda saja saling lempar tuduhan.

So?

Nantikan seri selanjutnya

https://www.facebook.com/share/18xisLuQs5/

Tidak Semua Orang Mampu Menghadapi Ujian Kekayaan

Tidak Semua Orang Mampu Menghadapi Ujian Kekayaan

Ibnu Taimiyah rahimahullah:

“Kemiskinan lebih cocok bagi kebanyakan orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi sedikit orang saja. Karena itu, orang-orang miskin lebih banyak masuk surga, sebab ujian kemiskinan pada umumnya lebih ringan daripada ujian kekayaan. Baik orang miskin maupun orang kaya sama-sama menghadapi ujian; yang satu dituntut untuk bersabar, sedangkan yang lain dituntut untuk bersyukur. Akan tetapi, karena keadaan kaya identik dengan kenikmatan, sedangkan keadaan miskin identik dengan kesulitan dan penderitaan, maka syukur lebih sering disebut dalam konteks kenikmatan, sedangkan sabar lebih sering disebut dalam konteks kesulitan.”
ustadz didik suyadi