Kamis, 02 April 2026

Wajibkah belajar mantiq atau filsafat ?

Wajibkah belajar mantiq atau filsafat ?

kata ibnu taimiyah ndak wajib, karena mantiq hanya Salah satu alat untuk mengukur "kebenaran" bukan satu satunya. itupun didalamnya ada perbedaan pendapat seperti ilmu lain. Bahkan yang ada justru larangan para salaf untuk mempelajari ilmu ini.
Salah satu analogi beliau banyak cabang ilmu lain yang bisa mendapatkan "pencerahan" tanpa pakai mantiq misal kedokteran mereka pakai tajribah/ percobaan/ penelitian. Matematika pakai rumus rumusnya dan ilmu lainnya.

Beliau mencontohkan produk ilmu mantiq dalam ketuhanan yaitu konsep ketuhanan menurut aristoteles. ana cocokkan dengan Gemini hasilnya mirip.

Recommended untuk dibaca majmu fatwa ibnu taimiyah bagian mantiq. biar kita ndak silau dengan bahasa muter muternya orang filsafat. 

Cuma masyaikh kita kadang membolehkan belajar mantiq seperti Syaikh Sulaiman Ar-ruhaili klo ada keperluan misal untuk mendalami ushul fiqh atau membantah kelompok menyimpang.
ust febrian fahriansyah

Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)

 rekaman suara dari ulama ahli hadis ternama, **Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani** *rahimahullah*. 
##  Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)
**Penanya:**
"Pertama wahai Syaikh, mengenai masalah baiat. Banyak dari guru-guru kami berpendapat akan wajibnya baiat kepada penguasa yang ada di negeri-negeri kami. Namun, sebagian ikhwan mengadopsi pendapat ketidaksahan baiat tersebut. Tentu di balik pendapat ketidaksahan baiat ini, ada seruan untuk keluar dari ketaatan (*khuruj*) terhadap penguasa tersebut atau seruan untuk mengafirkan mereka. Mereka menganggap penguasa ini tidak layak dibaiat karena syarat-syaratnya tidak terpenuhi.
Sebagian guru kami menyimpulkan bahwa jika Anda tidak berbaiat kepada penguasa ini, berarti Anda setuju untuk memberontak (*khuruj*), sehingga orang tersebut dicap sebagai 'Khawarij'. Hal ini sangat tersebar di tempat kami. Apakah baiat kepada penguasa saat ini yang syarat-syaratnya belum terpenuhi itu jenisnya sama dengan baiat kepada jamaah-jamaah Islam yang ada di lapangan?"
**Syaikh al-Albani Menjawab:**
"Pendapat saya adalah: **Tidak ada baiat bagi penguasa mana pun kecuali jika ia dibaiat oleh jamaah kaum muslimin di seluruh dunia Islam**, bukan hanya di satu negara atau satu wilayah saja. Inilah baiat untuk Khalifah yang dipilih oleh *Ahlul 'Ilmi wal Fadhl* (orang-orang yang berilmu dan utama), kesalehan, dan ketakwaan. Bukan dipilih oleh rakyat jelata yang di dalamnya tercampur antara orang baik dan buruk, sebagaimana sistem yang sekarang disebut parlemen atau Majelis Ummah. Majelis Ummah seharusnya tidak diwakili oleh orang-orang bodoh dan fasik, melainkan oleh ahli ilmu dan kesalehan.
Majelis semacam ini, sangat disayangkan, tidak ada wujudnya saat ini di dunia Islam. **Oleh karena itu, tidak ada baiat.**
Namun, perlu ditambahkan pada peniadaan (baiat) ini: Bahwa konsekuensi yang mereka tetapkan—bahwa tidak adanya baiat berarti membolehkan keluar dari ketaatan (*khuruj*)—adalah kesimpulan yang salah. Kami katakan di sini: **Masalah keluar dari ketaatan (*khuruj*) kepada penguasa tidak ada kaitannya dan tidak terikat dengan ada atau tidak adanya baiat.**
Mengapa? Karena tidak ada keterkaitan antara ketiadaan baiat dengan pembolehan pemberontakan. Begini penjelasannya:
 1. Seseorang bisa saja sudah dibaiat dengan baiat yang sah secara syar'i, namun tetap boleh (bahkan wajib) dikeluarin dari ketaatannya. Kapan? Yaitu ketika kita melihat kekafiran yang nyata (*kufran bawahan*) sebagaimana disebutkan secara tegas dalam hadis. Jadi, adanya baiat tidak lantas menghalangi *khuruj* (jika syarat kafir nyata terpenuhi).
 2. Begitu juga sebaliknya, tidak adanya baiat tidak berarti boleh melakukan pemberontakan. Tidak ada hubungan antara keduanya, baik secara positif maupun negatif.
Saya katakan sekarang: Di dunia Islam saat ini, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun pemerintahan Arab yang dibaiat dengan baiat syar'i (kecuali di tempat kalian menurut sebagian ulama). Lalu, apakah boleh bagi rakyat di negara-negara Arab tersebut untuk memberontak kepada penguasa mereka dengan alasan mereka belum membaiatnya?
Jika mereka (orang-orang yang mewajibkan baiat) berkata bahwa 'tidak berbaiat berarti membolehkan pemberontakan', maka secara logika mereka harus membolehkan rakyat di seluruh negeri Arab untuk memberontak karena tidak adanya baiat syar'i tersebut. Dan saya yakin, mereka sendiri pun tidak akan membolehkan pemberontakan di negara-negara Arab lainnya.
Keyakinan saya adalah: **Masalah memberontak atau tidak, bukan didasari oleh ada atau tidak adanya baiat.** Seandainya ada seorang Khalifah yang dibaiat secara sah, namun kemudian ia menunjukkan kekafiran yang nyata, maka tidak ada ulama yang mengatakan tidak boleh keluar darinya. Sebaliknya, jika ada penguasa muslim yang menjalankan sebagian isi Al-Qur'an dan meninggalkan sebagian lainnya—bukan dalam konteks mengafirkan ayat tersebut, tapi sekadar tidak mengamalkannya—meskipun ia tidak dibaiat secara syar'i, hal itu tidak berarti boleh memberontak kepadanya.
Sebab, keluar dari ketaatan kepada penguasa—meskipun mereka itu pemberontak (*bughat*) yang merebut kekuasaan dari Khalifah sah dengan pedang dan senjata lalu mereka berkuasa di tengah manusia—**maka tetap tidak boleh memberontak kepada penguasa (yang sudah mapan) tersebut demi menjaga darah kaum muslimin.**
Jadi, mengaitkan kewajiban baiat dengan 'jika tidak baiat berarti boleh memberontak' adalah logika yang tidak nyambung (*la talazuma*). Saya katakan dengan sangat jelas: Selama para ulama belum berkumpul di negeri-negeri Islam untuk membaiat seseorang yang berhak, maka tidak ada baiat (syar'i universal).
Meskipun demikian, saya tegaskan: **Tidak boleh keluar dari ketaatan (memberontak) kepada para penguasa ini.** Karena dampaknya adalah apa yang kita lihat sekarang. Di Palestina, mereka dikuasai oleh Yahudi. Apakah ada yang lebih buruk dari Yahudi? Meskipun begitu, kami katakan (jangan gegabah), jangan sampai darah muslim tumpah sia-sia karena dorongan orang-orang yang lalai, atau saya sebut orang-orang bodoh. Mereka mendorong pemuda kita berjuang dengan batu dan sebagainya (tanpa persiapan), jika situasi ini terus berlanjut, rakyat Palestina akan habis dan negara Palestina akan menjadi santapan empuk bagi Yahudi. Ini bertolak belakang dengan keinginan orang-orang yang hanya bisa menyemangati tapi tidak membantu dengan perbaikan, personel, maupun harta.
Maka, wahai saudaraku, tidak boleh kita menghubungkan antara baiat dengan pemberontakan.
 * Bisa jadi baiatnya sah, tapi wajib keluar darinya jika ditemukan sebab syar'i (kekafiran nyata).
 * Bisa jadi tidak ada baiat, tapi tetap tidak boleh keluar darinya karena tidak ditemukan sebab syar'i.
Sebab syar'i itu adalah kekafiran yang nyata (*al-kufru al-bawah*). Bahkan saya katakan: Seandainya pun ditemukan kekafiran yang nyata (seperti contoh di Aljazair baru-baru ini), apakah boleh memberontak jika belum dipersiapkan kekuatannya (*i'dad*)? Jawabannya: **Tidak boleh.** Ini adalah perkara yang disepakati.
Jadi, argumen mereka itu tidak ilmiah. Saya sampaikan ini dengan jujur, semoga saya telah menjawab pertanyaanmu. Jazakallahu khair."
**Ringkasan Inti:**
 1. **Baiat Syar'i:** Saat ini tidak ada sistem kekhalifahan tunggal yang dibaiat oleh seluruh ulama dunia Islam, sehingga secara teknis "Baiat Kubra" itu tidak ada.
 2. **Larangan Memberontak:** Meski baiat syar'i tidak ada, bukan berarti rakyat boleh memberontak (*khuruj*). Menjaga keamanan dan darah kaum muslimin jauh lebih utama.
 3. **Syarat Khuruj:** Pemberontakan hanya dibahasakan dalam agama jika penguasa melakukan kekafiran yang nyata, itu pun harus dengan syarat memiliki kemampuan fisik dan persiapan yang matang agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

الاول يا شيخ في قضيه البيعه يعني كثير من مشايخنا يرى وجوب
0.11 للحاكم الموجود في بلادنا وبعض الاخوان تبنى راي عدم حقيه
0.20 للبيعه طبعا ما وراء هذا عدم احقيته للبيعه يعني وراها مثلا الدعوه للخروج على
0.29 الحاكم هذا او الدعوه الى تكفيره لكن هذا الحاكم ليس اهل للبيعه لان ما توفرت فيه
0.37 الشروط بعض مشايخنا يرتب على عدم بيعتك لهذا الحاكم انك ترى
0.46 الخروج عليه ومن ثم يطلق على هذا الشخص انه خارجي وهذا منتجر كثير جدا جدا
0.56 عندنا فهل بيعت الحكام الموجودين الان الذين لم تتوفر فيهم الشروط
1.03 ا لم تتوفر الشروط لبيعته من جنس البيعه للجماعات الاسلاميه الموجوده في
1.11 الساحه انا رايي ليس هناك
1.21 بيعه لاي حاكم الا اذا بيع من جماعه المسلمين
1.31 في العالم الاسلامي وليس في بلد
1.37 واحد او في اقليم واحد هذه هي البيعه للخليفه
1.46 الذي يختار من قبل اهل العلم والفضل والصلاه
1.53 والتقوى وليس من الله الحاد م الله الناس الذين فيهم
1.53 والتقوى وليس من عامه الناس الذين فيهم الص
2.01 والطالح كما هو الان طريق ما يسمون ببرلمان
2.07 او فسروا هذه الكلمه الاجنبيه الى مجلس الامه فمجلس
2.15 الامه لا يمثله الرعاء والجهله
2.20 والفسق وانما يمثله اهل العلم والفضل والصلاح
2.28 ومثل هذا المج مع الاسف الشديد لا وجود له اليوم في العالم
2.35 الاسلامي ولذلك فلا بيعه
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
المحظور الذي
2.51 رتبو او الالزام الذي الجموهريه
3.00 عدم البيعه أن معنى ذلك انه يجيز
3.06 الخروج على هذا او ذاك الحاكم الذي لم
3.16 يبايع فنحن نقولها هنا الخروج على
3.23 الحاكم ليس منوطا ولا مربوطا
3.32 بالبيعه او بعدمها ذلك
3.40 لانه لا تلازم بين السلب والايجاب
3.47 احد يكون رجل مبايع بيعه
3.47 ا قد يكون رجل مبايع بيعه
3.56 شرعيه ومع ذلك يجوز الخروج عليه
4.02 بويع بيعه شرعيه مع ذلك يجوز الخروج عليه متى
4.10 حينما نرى كفرا بواحا كما جاء في الحديث صراحه
4.15 اذا لا يلزم من البيعه عدم الخروج كذلك على العكس
4.22 تماما لا يلزم من عدم البيعه جواز الخروج فلا ارتباط بين الامرين سلبا او
4.32 ايجابا فانا اقول الآن ليس هناك في العالم
لا توجد بيعة لحكام هذا الزمان ولا يلزم من ذلك. ز الخروج عليهم
مز موجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة حكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الله زم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج ترم من ذلك جواز الخروج أم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج
4.32 ايجابا فانا اقول الان ليس هناك في العالم الاسلامي فيما
4.42 اعلم حكومه من الحكومات العربيه بيعت بیعه
4.50 شرعيه الا عندكم فيما يقول بعض أهل العلم كما
4.57 تنقل فهل يجوز على هذه الشعوب الخروج على هؤلاء
5.05 الحكام بحجه انهم لم يبايعوا أولئك الذين
5.13 يستلزم وجوب البيعه لانهم يقولون اذا لم يبايع معنى
5.20 ذلك انه يجيز الخروج اذا معنى كلامهم انه يجوز على هؤلاء
5.28 الشعوب الذي يعيشون في بلاد العربيه وفي
5.35 بحكومات لم تبايع الشعوب اذا يجوز الخروج على هذه الحكومات
5.43 واعتقد ان نفس اولئك الذين استلزم من عدم البيعه الخروج لا يجيزون
5.52 الخروج في البلاد العربيه الاخرى وانا هذا اعتقادي
6.01 الخروج وعدمه ليس منوط بالبيعه سلبا او
6.01 الخروج وعدمه ليس منوطا بالبيعه سلبا او ایجابا أي لا يعني انه
6.11 اذا وجد خليفه نقول بويع بيعا مبايعه شرعيه
6.19 لكنه اظهر الكفر الصريح انه لا يجوز الخروج عليه هذا ما يقول عالم كذلك العكس
6.27 تماما اذا كان هناك حاكم مسلم يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر لا اقول
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان الخروج على
6.54 الحكام مهما كان شانهم لنفترض انهم
7.01 بغاه وخرجوا على الخليفه الشرعي وبالقوه بالسيف بالبارود
7.10 بالسلاح وضع يده على الحكم وحكم بين الناس فلا يجوز الخروج على هذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.29 لم يب يبايع معنى ذلك انه يجيد الخروج لا تلازم انا اقول الان بكل صراحه ما لم
7.38 يجتمع علماء المسلمين في البلاد الاسلاميه لمبايعه انسان يستحق البيعه فلا بيعه مع
7.49 ذلك مع ذلك اقول لا يجوز الخروج على هؤلاء الحكام لان من وراء ذلك ما نراه الان في
7.59 فلسطين فلسطين يحكمون من اليهود وهل اخبث من اليهود مع ذلك نقول تذهب دماء المسلمين
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول احيانا اهل الجهل هدون
8.18 شبابنا ودون المجاهدين بالحجاره والى اخره واذا استمر الوضع على هذه الطريقه سيفنا الشعب
8.27 الفلسطيني وتبقى الدوله الفلسطينيه هي لليهود لقمه سائغه خلاف ما
8.36 يريد هؤلاء الناس الذين يشجعون ثم لا يمدون لا
8.43 بالصلاح ولا بالرجال ولا بالاموال ولا الى اخره
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي أن نربط بين البيعه
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي ان نربط بين البيعه وبين
8.55 الخروج قد تكون البيعه شرعيه ويجب الخروج حينما يوجد ايش سببه
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا هذا امر متفق عليه اذا ايش معنى هذا
9.35 الكلام هذا كلام غير علمي انا اقول بصراحه لعلي اجبتك عن سؤالك وجزاك الله خير وص
9.43 سجل صوتك بالموافقه نعم
https://youtu.be/xbmjk84dLIM?si=HlZAEEZVzNejlCW5
Syaikh albani

السؤال:بعض الفرق المعاصرة تعقد البيعة لأمرائها الذين يختارونهم من أنفسهم، ويرون وجوب السمع والطاعة لهم، وعدم نقض بيعتهم، وهم تحت ولاة الأمراء الشرعيين الذين بايعهم عموم المسلمين. هل يجوز ذلك؟ أي بمعنى أن يكون في عنق الفرد أكثر من بيعة، وما مدى صحة هذه البيعات؟/Sebagian kelompok kontemporer (masa kini) mengadakan baiat kepada pemimpin-pemimpin yang mereka pilih sendiri. Mereka berpendapat bahwa wajib hukumnya untuk mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut, serta tidak boleh membatalkan baiatnya, padahal mereka berada di bawah kekuasaan para penguasa syar'i yang telah dibaiat oleh kaum muslimin secara umum.​Apakah hal tersebut diperbolehkan? Dalam artian, apakah boleh bagi seseorang memiliki lebih dari satu baiat di lehernya? Dan sejauh mana keabsahan baiat-baiat semacam ini?

حكم من عقد بيعة لغير ولاة الأمور - موقع الشيخ ابن باز https://share.google/cMrGBsUXcKJhY6l3J

الجواب:
هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها؛ لأنها تفضي إلى شق العصا، ووجود الفتن الكثيرة، والخروج على ولاة الأمور بغير وجه شرعي، وقد صح عن النبي ﷺ أنه قال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافًا كثيرًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة[1].
وصح عنه ﷺ أنه قال: على المرء السمع والطاعة فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية الله، فإن أمر بمعصية الله فلا سمع ولا طاعة[2].
وقال ﷺ: إنما الطاعة في المعروف[3].
وقال ﷺ: من رأى من أميره شيئًا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدًا من طاعة[4].
والأحاديث في ذلك كثيرة جدًا، كلها دالة على وجوب السمع والطاعة لولاة الأمر في المعروف، وعدم جواز الخروج عليهم، إلا أن يأتوا كفرًا بواحًا عند الخارجين عليهم فيه من الله برهان.
ولا شك أن وجود البيعة لبعض الناس يفضي إلى شق العصا، والخروج على ولي الأمر العام فوجب تركه، وحرم فعله.
ثم إنه يجب على من رأى من أميره كفرًا بواحًا أن يناصحه حتى يدع ذلك، ولا يجوز الخروج عليه، إذا كان الخروج يترتب عليه شرًا أكثر؛ لأن المنكر لا يزال بأنكر منه، كما نص على ذلك أهل العلم رحمهم الله، كشيخ الإسلام ابن تيمية، والعلامة ابن القيم رحمة الله عليهما، والله ولي التوفيق[5].
 
أخرجه الترمذي في كتاب العلم، باب ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع برقم 2676، وابن ماجه في المقدمة، باب اتباع سنة الخلفاء الراشدين المهديين برقم 42، وأحمد في مسند الشاميين، حديث العرباض بن سارية عن النبي صلى الله عليه وسلم برقم 16694.
أخرجه مسلم في كتاب الإمارة؛ باب وجوب طاعة الأمراء في غير معصية الله برقم 1839.
أخرجه البخاري في كتاب المغازي، باب سرية عبدالله بن حذافة السهمي برقم 4340، ومسلم في كتاب الإمارة، باب وجوب طاعة الأمراء في غير معصية الله برقم 1840، واللفظ لمسلم.
أخرجه مسلم في كتاب الإمارة، باب خيار الأئمة وشرارهم برقم 1855.
من ضمن الأسئلة الموجهة لسماحته من (جريدة المسلمون). (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 28/250).


 **Jawaban:**
Baiat (janji setia) semacam ini **batil dan tidak boleh dilakukan**; karena hal itu dapat memicu perpecahan (memecah belah tongkat ketaatan), menimbulkan banyak fitnah, dan keluar dari ketaatan terhadap penguasa (*ulul amri*) tanpa alasan syar’i yang benar. Telah shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
> *"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup (lama), ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan."* [1]
Telah shahih pula dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda:
> *"Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Jika diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar maupun taat."* [2]
Beliau ﷺ juga bersabda:
> *"Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf (baik)."* [3]
Dan beliau ﷺ bersabda:
> *"Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang berupa maksiat kepada Allah, maka bencilah kemaksiatan yang ia lakukan tersebut, namun janganlah ia melepas tangan dari ketaatan (kepadanya)."* [4]
Hadis-hadis mengenai hal ini sangat banyak, semuanya menunjukkan **wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa dalam hal yang baik**, serta tidak bolehnya memberontak atau keluar dari ketaatan mereka, kecuali jika mereka melakukan kekufuran yang nyata (*kufrun bawwah*), yang di sisi kalian terdapat bukti yang nyata dari Allah atas kekufuran tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwa adanya baiat (rahasia/khusus) kepada sebagian orang dapat memicu perpecahan dan pembangkangan terhadap penguasa umum, maka wajib untuk meninggalkannya dan haram hukumnya dilakukan.
Selanjutnya, bagi siapa saja yang melihat kekufuran yang nyata dari pemimpinnya, wajib baginya untuk menasihatinya hingga ia meninggalkan hal tersebut. Namun, **tidak diperbolehkan memberontak jika tindakan tersebut justru mengakibatkan keburukan (kerusakan) yang lebih besar**; karena suatu kemungkaran tidak boleh dihilangkan dengan kemungkaran yang lebih parah, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama rahimahumullah, seperti Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan Al-Allamah Ibnul Qayyim *rahmatullahi 'alaihima*. Hanya Allah-lah pemberi taufik. [5]
### **Referensi:**
 1. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Ilmu (2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (42), dan Ahmad (16694).
 2. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1839).
 3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi (4340) dan Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1840).
 4. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1855).
 5. Diambil dari kumpulan pertanyaan yang diajukan kepada Syekh bin Baz oleh surat kabar *Al-Muslimun*. (*Majmu’ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibn Baz 28/250*).

Fardhu Kifayah Yang Kini Ditinggalkan

Fardhu Kifayah Yang Kini Ditinggalkan 

Syaikh Ahmad bin Nashir Al-Qu'aimi hafizhahullah mengatakan,

Di antara FARDHU KIFAYAH dalam j|had adalah: Bahwa waliyul amri WAJIB mengirimkan pasukan SETIAP TAHUNNYA untuk menyerang musuh di negeri mereka, setelah sebelumnya menyeru mereka untuk masuk Islam.

📚 Faidhul Jalil 'ala Matn Dalil, 2/5-6
UIn

Ketahuilah, melakukan adzan di kuburan bukan perbuatan sunnah

Murni faidah 
Pertanyaan kemarin:
Bismillah...
Assalamu'alaikum ustadz...
Ijin bertanya, tadi waktu penguburan ustadz feby, apakah ada adzan? Mengingat syaikh Labib bermadzhab syafii, syukran ustadz

Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Tidak ada adzan.
Ada Qaul yang mengatakan bukan Perbuatan Sunnah dan ada Qaul yang mengatakan itu perbuatan Sunnah.
dalam kitab I’anah Ath- Thalibin disebutkan:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يُسَنُّ الْأَذَانُ عِنْدَ دُخُوْلِ الْقَبْرِ خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ بِسُنِّيَتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوْجِهِ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى دُخُوْلِهِ فِيْهِ.(إعا نة الطالبين ج ١ص ٢٣٠)

“Ketahuilah, melakukan adzan di kuburan bukan perbuatan sunnah. Berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa perbuatan itu sunnah, karena keluarnya dari dunia diqiyaskan pada masuknya seseorang ke dunia (Ketika dilahirkan).”  (I’anah ath Thalibin, juz 1, hal 230)
Semoga Bermanfaat
Ulyt

Catatan Kelam Fanatisme Madzhab di Masa Lalu

Catatan Kelam Fanatisme Madzhab di Masa Lalu

​Ibnu Al-Mabrad Al-Hanbali menceritakan, setelah beliau memaparkan deretan hadis yang dicantumkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam bab [Bantahan terhadap Abu Hanifah] di kitab Al-Mushannaf-nya:

​Saya mendengar dari ayah saya, bahwa gara-gara masalah ini, Al-Hafiz Syamsuddin Ibnu Abdil Hadi (murid Ibnu Taimiyah) sampai terbunuh. 

Ceritanya, sekelompok orang dari kalangan Hanafi mendatangi beliau saat beliau sedang menyalin bab tersebut. Mereka menyangka beliau sedang menyusun bantahan itu sendiri, padahal beliau sedang menyalinnya.

​Hal itu memicu fitnah (keributan) yang hebat. Sempat terjadi perdamaian di antara mereka, namun mereka kemudian meracuni makanan yang ia makan hingga menyebabkan kematiannya. 

Saya juga mendengar ayah saya berkata: Begitu selesai memakan makanan tersebut, ia bahkan belum sampai ke rumah ketika tiba-tiba jatuh tersungkur dan wafat saat itu juga.

​(Al-Muntaqa min Tanwir Ash-Shahifah, hlm. 125)

___

*- من جرائم متعصبة المذاهب في حق مخالفيهم

قال ابن المبرد الحنبلي :  بعد أن سرد الأحاديث التي أوردها الإمام ابن أبي شيبة في كتاب [الرد على أبي حنيفة] من مصنّفه: " وقد سمعت من والدي أنه بسبب هذا قُتِل الحافظ شمس الدين ابن عبد الهادي ( صاحب ابن تيمية)، فإنه دخل عليه جماعة من الحنفية وهو يكتب في ذلك، فظنوه يصنفه، وأنه هو وضع ذلك، فعملوا له فتنة، ثم وقع الصلح بينهم، ثم سمّوه في طعامٍ أكله، فمات منه، وسمعته يقول: إنه لما أكله لم يصل إلى البيت حتى وقع ومات ".

[المنتقى من تنوير الصحيفة](ص: 125).

​أبو الوليد المغربي
Uin

Ketika suami mentalak istrinya yg sudah "didukhul", menurut madzhab Syafi'i, si suami berkewajiban memberikan istrinya "mut'ah", semacam hadiah untuk mengobati hatinya.

Ketika suami mentalak istrinya yg sudah "didukhul", menurut madzhab Syafi'i, si suami berkewajiban memberikan istrinya "mut'ah", semacam hadiah untuk mengobati hatinya.

Kata Imam Nawawi, hak mut'ah ini di antara yg sering dilupakan oleh para perempuan, maka hendaknya hal ini dikenalkan dan disosialisasikan pada mereka, agar mereka tau hak mereka ketika diceraikan.

Besar Mut'ah ini kembali ke 'urf, tidak ada ketentuan dari Syari'at mengenai nominalnya. Mut'ah ini boleh berupa apapun, selama masih dianggap sebagai harta, bisa dalam bentuk uang, pakaian, perhiasan, atau yg lain.

Dalam madzhab Syafi'i, ketika suami dan istri berselisih mengenai nominal mut'ah, maka masalah ini diangkat ke qodhi, nanti qodhi yg memutuskan nominal mut'ahnya.

Dalam Madzhab Syafi'i, memberi mut'ah kepada istri setelah diceraikan itu wajib di 3 keadaan, di antaranya adalah ketika istri sudah dijima', berdalil dengan keumuman firman Allah,

وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى ٱلْمُوسِعِ قَدَرُهُۥ وَعَلَى ٱلْمُقْتِرِ قَدَرُهُۥ مَتَٰعًۢا بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ.

وَلِلْمُطَلَّقَٰتِ مَتَٰعٌۢ بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُتَّقِينَ
__

Ini adalah bentuk bagaimana Islam memuliakan istri, selain diberikan mahar dan dijamin nafkahnya selama masa iddah, mereka juga diberikan mut'ah.
ust amru hamdany