Minggu, 29 Juni 2025

Tahu dirilah

Tahu dirilah siapa kita, jangan sampai sombong di hadapan Allah!
Tahu dirilah siapa kita, kerjakan perintahNya, jauhi laranganNya!
Tahu dirilah siapa kita, jangan sombong di hadapan makhluk!
Tahu dirilah siapa kita, jangan tolak kebenaran, jangan remehkan orang lain!
.
.
.
#twitulama #nasehat #ulama #salaf #tauhid #sunnah #islam #muslim #muslimah #manhajsalaf #iman #akhirat #tahudiri #renungan #kehidupan

Berhaji dengan Harga Di Luar Wajar

[ Berhaji dengan Harga Di Luar Wajar ]

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu' menyebutkan, 

فإذا كان بينه وبين مكة مسافة تقصر فيها الصلاة، لم يلزمه الحج إلا إذا وجد راحلة تصلح لمثله، بثمن المثل، أو أجرة المثل. فإن لم يجدها، أو وجدها بأكثر من ثمن المثل، أو بأكثر من أجرة المثل، أو عجز عن ثمنها، أو أجرتها، لم يلزمه الحج

"Jika antara dirinya dengan Mekkah terdapat jarak yang menyebabkan shalatnya menjadi qasar, maka ia tidak wajib menunaikan haji kecuali jika ia mendapati kendaraan yang sesuai dengan keperluannya (ini sekaligus jawaban untuk yang berhaji dengan sepeda, jalan kaki, rakit, dsb -pen) dengan harga yang pantas dan dengan upah yang layak. Jika ia tidak menemukannya, atau menemukannya dengan harga lebih mahal dari harga wajar, atau menemukan sewaan tapi lebih mahal dari upah sewa yang wajar, atau ia tidak mampu membayar harganya atau upah sewanya, maka haji menjadi tidak wajib baginya."

Nukilan ini disebutkan oleh Islamweb untuk menjawab penanya dari Libya yang bertanya panjangnya antrian haji reguler di negerinya, dan ada tawaran haji khusus namun harganya berlipat-lipat. Di akhir jawaban disebutkan bahwa hal ini tetap diperbolehkan selama ia memang mampu dan tidak takalluf/memaksakan (mengada-adakan) uang untuk haji khusus tersebut. 

Sehingga termasuk bagian dari takalluf ini adalah mengalihkan anggaran untuk hal yang memang penting, misalnya beli rumah, pendidikan anak misalnya, dialihkan untuk memaksakan membeli paket haji khusus. Terlebih dengan embel-embel beli rumah tidak wajib vs haji wajib, dsb. Plis. Haji tetap wajib namun ada syarat istitho'ah di dalamnya. Wallahu a'lam.
Ustadz yhouga 

Ahli Fiqh Tapi Tidak Memahami Kenyataan Dan Tidak Berbaur Dengan Masyarakat

[Ahli Fiqh Tapi Tidak Memahami Kenyataan Dan Tidak Berbaur Dengan Masyarakat]

Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata dalam salah satu kajiannya tentang manhaj ilmu fiqh:

لا يمكن فهم المسائل الفقهية إلا بمعرفة أحوال الناس العملية. لذلك، الفقيه لا يصلح أن يكون مُعتزلاً عن الناس. والفقهاء الذين اعتزلوا الناس، كثرت أخطاؤهم، والذين خالطوا الناس، يسمعون أسئلتهم يوميًا، كثر صوابهم. 

"Tidak mungkin seseorang memahami permasalahan-permasalahan fikih kecuali dengan mengetahui kondisi dan realitas kehidupan manusia secara praktis (praktek amalan). Oleh karena itu, seorang faqīh (ahli fikih) tidak pantas untuk mengasingkan diri dari masyarakat.

Para fuqahā’ (ulama fikih) yang mengasingkan diri dari pergaulan dengan manusia, banyak kesalahan yang mereka terjatuh padanya. Adapun para fuqahā’ yang bergaul dengan manusia, mendengarkan pertanyaan mereka setiap hari, maka banyak pendapat mereka yang tepat (yakni: sesuai dengan realitas)."

Saya katakan: 

Hal ini sangat penting, karena dengan demikian seorang faqīh memahami keadaan umat, mengetahui kebutuhan mereka, dan dapat mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan maqāṣid al-syarī‘ah (tujuan-tujuan syariat) serta kondisi riil masyarakat.

Seorang dai juga belajar dari banyak pertanyaan yang hinggap di kajian atau kehidupan kesehariannya. Semakin banyak ia mendapat pertanyaan, hendaknya semakin belajar ia. Melazimi referensi (kitab-kitab fiqh) dan menyimak siaran-siaran fatwa ulama serta mempelajarinya adalah hal yang harus dilakukan di masa kini, mengingat hari demi hari banyak sekali kasus bertambah dan pertanyaan semakin variatif. 

Seorang dai 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗮𝗹𝗮𝘀 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿, 𝗺𝗮𝗹𝗮𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗮𝗸 𝗳𝗮𝗲𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮, 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗳𝗼𝗸𝘂𝘀 𝗱𝗶 𝗵𝗼𝗯𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮𝘄𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗶𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘀𝘆𝗮𝗿'𝗶.

Semoga menjadi nasehat bermanfaat.
Ustadz hasan al jaizy

شرح حديث ابن مسعود: (وإني أتخولكم بالموعظة كما كان رسول الله يتخولنا بها مخافة السآمة علينا

 https://share.google/DbLty5ZaFMTa4qlsS

شرح حديث ابن مسعود: (وإني أتخولكم بالموعظة كما كان رسول الله يتخولنا بها مخافة السآمة علينا)]

يوضح ابن مسعود رضي الله عنه ما كان يصنعه النبي صلى الله عليه وسلم في موعظته، فيقول أبو وائل واسمه شقيق بن سلمة وكان من التابعين ومن تلامذة ابن مسعود رضي الله عنه قال: كان ابن مسعود يذكرنا في كل خميس، يعني: كل خميس يخرج عليهم ويكلمهم ويعظهم، ويذكرهم بالله سبحانه، وابن مسعود كان من كبار فقهاء أصحاب النبي صلوات الله وسلامه عليه، فكان معلماً للناس، يعلمهم الفقه.

فكان رضي الله عنه يتخولهم بالموعظة، يعني: لا يأتي كل يوم يذكرهم بالجنة والنار؛ لأن الناس يملون من تذكيرهم بالجنة والنار كل يوم، ولكن ليكن ذلك مرة كل فترة، وليس كل يوم.

يقول هنا: كان يذكرنا في خميس، كل يوم خميس كان يذكرهم، فقال له رجل وقد أعجبته مواعظ ابن مسعود: يا أبا عبد الرحمن! لوددت أنك ذكرتنا كل يوم، يعني: ليتك تقول لنا كلامك الطيب وحديثك الجميل هذا كل يوم، فقال ابن مسعود رضي الله عنه: أما إنه يمنعني من ذلك أني أكره أن أملكم.

إذاً: ابن مسعود خائف عليهم إن هو ذكرهم ووعظهم وخوفهم من النار ورغبهم بالجنة كل يوم أن يملوا، فإذا مل الإنسان فإن الكلام لا يؤثر فيه ولا يعينه على العمل، ولا يتشجع للعمل بسماعه، فيقول هنا: إني أكره أن أملكم، وإني أتخولكم بالموعظة، يعني: أحياناً يأتيهم بالموعظة وليس كل يوم


عن شقيق بن سلمة رحمه الله قال: كان ابن مسعود رضي الله عنه يُذَكِّرُنا في كل خميس، فقال له رجل: يا أبا عبد الرحمن، لَوَدِدْتُ أنك ذَكَّرْتَنا كل يوم، فقال: أما إنه يمنعني من ذلك أني أكره أن أُمِلَّكُم، وإني أَتَخَوَّلُكُم بالمَوْعِظَةِ، كما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يَتَخَوَّلُنَا بها مَخَافَةَ السَّآمَةِ علينا

Dari Syaqīq bin Salamah –raḥimahullāhu-, ia berkata, dahulu Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menasehati kami setiap hari kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, "Wahai Abu Abdirrahman, sungguh aku sangat menginginkan engkau menasehati kami setiap hari." Dia pun berkata, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal tersebut adalah karena aku tidak ingin membuat kalian merasa bosan, sehingga aku menyampaikan nasehat kepada kalian secara berkala, sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikannya kepada kami dengan cara demikian karena khawatir kami merasa bosan." 
[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]


Syaqīq bin Salamah -raḥimahullāhu- mengabarkan bahwa Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menasehati mereka setiap hari kamis, lalu seorang lelaki berkata kepadanya, "Sesungguhnya kami sangat senang jika engkau menasehati kami setiap hari." Beliau menjawab, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal tersebut adalah karena aku tidak ingin membuat kalian merasa jenuh dan jemu. Aku berkomitmen untuk menasihati dan memantau kebutuhan kalian terhadap nasehat tersebut sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan hal itu terhadap kami, karena beliau khawatir akan membuat kami merasa bosan, karena nasehat yang disampaikan pada saat kondisi bosan tidak akan memberikan pengaruh

Ensiklopedia Terjemahan Hadis-hadis Nabi https://share.google/bawxUurLy6Xf2B1cq


Sifat Nabi ﷺ dalam Sebuah Ayat

📘 Sifat Nabi ﷺ dalam Sebuah Ayat
🔹 Penulis: Dr. Haitsam Sarhan –waffaqahullah-
🔹 Alih Bahasa: Abdul Aziz Firdaus bin Mubarak

📖 Sebuah tulisan singkat namun padat makna, membahas beragam sifat fungsional Nabi ﷺ yang digambarkan oleh Allah ﷻ dalam satu ayat mulia. Disajikan dengan penjelasan yang ringkas dan menarik, semoga dapat menambah rasa cinta dan pengagungan kita kepada beliau ﷺ.

📲 Download Pdf: 
https://t.me/Azeez_Bakhbazi/313

Sabtu, 28 Juni 2025

Permata Ahlussunnah Al-Aqidah al-Washitiyyah

Permata Ahlussunnah Al-Aqidah al-Washitiyyah

📝 Bagian Pertama:

📌 Kitab “Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H)

Risalah ini dikenal dengan judul “Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah”, dinisbatkan kepada sang penanya yaitu Radhiuddin Al-Wasithi. 

Syaikh al-Muhaqqiq Muhibbudin Al-Khatib rahimahullah berkata:

"Syaikhul Islam rahimahullah jarang menamai karya-karyanya; beliau menulis dengan kecepatan yang luar biasa, mengandalkan daya hafalnya yang tiada tanding dalam mengingat nash-nash dari sunnah, sumber-sumbernya, perkataan para imam, dan peristiwa-peristiwa sejarah. 

Kemudian para ulama dari murid-muridnya dan selain mereka mengambil karya-karya tersebut dan menyebarkannya ke seluruh negeri-negeri Islam. 

Lalu masyarakat menamai kitab-kitab itu dengan nama yang menunjukkan isinya. Oleh sebab itu, satu karya beliau bisa memiliki banyak nama.”

📌 Sebab Penulisan Kitab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Adapun sebab ditulisnya kitab ini adalah karena datang kepadaku seorang hakim yang bernama Radhiuddin Al-Wasithi, dia termasuk pengikut mazhab Syafi’i. 

Dia datang ke tempat kami untuk berhaji, dan dia termasuk orang yang baik dan religius. 

Dia mengeluhkan keadaan masyarakat di negerinya dan juga dalam pemerintahan Tatar yang didominasi kebodohan, kedzaliman, serta lenyapnya agama dan ilmu.

Dia meminta kepadaku untuk menuliskan sebuah akidah yang bisa menjadi pegangan bagi dia dan keluarganya. 

Aku awalnya menolak dan berkata: "Telah banyak orang menulis berbagai akidah, maka ambillah salah satu dari akidah para imam Ahlus Sunnah.’ 

Tapi dia terus mendesak dan berkata: "Aku tidak menginginkan selain akidah yang engkau tulis sendiri."

Maka aku pun menulis akidah ini untuknya, dalam keadaan duduk setelah salat Ashar. 

Salinannya telah menyebar luas di Mesir, Irak, dan negeri-negeri lainnya.”

📌 Tema Kitab

Di antara kitab penting yang menjelaskan dengan gamblang, akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah “Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. 

Meskipun ringkas, kitab ini sangat diperhatikan oleh para ulama karena memuat pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah secara padat dan lengkap.

Isi pembahasannya dapat dirangkum dalam tiga pokok berikut:

1. Akidah secara umum tentang Allah ‘azza wa jalla, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk.

2. Pembahasan tentang imamah (kepemimpinan), amar ma’ruf nahi munkar, serta hal-hal yang berkaitan dengannya seperti pembahasan tentang para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

3. Pembahasan tentang akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Inilah tiga perkara pokok yang dibangun oleh Syaikhul Islam rahimahullah dalam risalah agung ini.

Penjelasan terbaik terhadap akidah ini adalah apa yang ditulis oleh Syaikhul Islam sendiri dalam karya-karya beliau yang lain, berupa perincian dan penjabaran dari dasar-dasar keyakinan ini. Begitu pula dengan apa yang disebutkan oleh murid beliau, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah.

📌 Syarah (Penjelasan) Kitab Ini

Karena pentingnya risalah ini, banyak ulama baik terdahulu maupun sekarang memberikan perhatian besar terhadapnya. Berikut sebagian di antaranya:

1. “At-Tanbihāt Al-Laṭīfah fīmā Iḥtawat ‘Alayhil Wāsiṭiyyah min al-Mabāḥits an-Nafīfah” karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nāṣir As-Sa‘dī (w. 1376 H) rahimahullah. Disertai cuplikan catatan dari Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz rahimahullah. Dicetak dengan tahqiq dan takhrij oleh Syaikh ‘Ali Al-Halabī pada tahun 1409 H, diterbitkan oleh Dar Ibnul Qayyim, Dammam.

2. “Al-Minha al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh ‘Abdurraḥmān bin Muṣṭafā Al-Ghurābī. Dicetak oleh percetakan Muhammad ‘Ali Ṣubayḥ dan anak-anaknya di Al-Azhar pada tahun 1383 H.

3. “Al-Ajwibah al-Mufīdah ‘alā As’ilat al-‘Aqīdah” karya Syaikh ‘Abdurraḥmān bin Ḥamad Al-Juṭaylī (w. 1406 H) rahimahullah. Berisi syarah dalam bentuk tanya-jawab yang memudahkan pemahaman istilah dan makna bagi para penuntut ilmu pemula.

4. “At-Tanbihāt as-Saniyyah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Nāṣir Ar-Rasyīd (w. 1408 H) rahimahullah. Disusun atas permintaan sebagian santri Ma‘had ‘Ilmī. Banyak merujuk dari karya Syaikhul Islam dan muridnya, Ibnul Qayyim. Merupakan salah satu syarah terbaik. Dicetak di Mesir dan Riyadh.

5. “Aṡ-Ṡimār asy-Syahiyyah fī Syarḥ al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh Muḥammad Khalīl Harrās (w. 1415 H) rahimahullah, direview oleh Syaikh ‘Abdurrazzāq ‘Afīfī rahimahullah. Syarah ini ringkas dan jelas. Dicetak di Mesir dan juga diterbitkan oleh Universitas Islam Madinah. Pernah juga dicetak dengan takhrij dan catatan dari Syaikh Ismā‘īl bin Muḥammad Al-Anṣārī rahimahullah. Serta ada versi yang disertai komentar tambahan dari Syaikh Muḥammad bin Ṣhāliḥ Al-‘Uṡaimīn rahimahullah.

6. “Ar-Rauḍah an-Nadiyyah Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh Zayd bin ‘Abdul ‘Azīz bin Fayāḍ (w. 1416 H) rahimahullah. Merupakan syarah panjang dan syarah pertama yang dicetak, yaitu pada tahun 1377 H di Riyadh.

7. Komentar Syaikh Muḥammad bin ‘Abdul ‘Azīz bin Māni‘, telah dicetak beberapa kali, di antaranya pada tahun 1415 H oleh Asyraf bin ‘Abdul Maqṣūd. Disertai catatan dari Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz rahimahullah.

8. “Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah” karya Syaikh Muḥammad bin Ṣhāliḥ Al-‘Uṡaimīn rahimahullah, dengan takhrij dan perhatian dari Syaikh Sa‘d bin Fawwāz Aṣ-Ṣumayl. Diterbitkan oleh Dar Ibnul Jauzī, Dammam, tahun 1415 H. Edisi ini telah ditinjau oleh penulisnya sendiri dan dianggap sebagai versi standar.

9. “Mudzakkirah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh Muḥammad bin Ṣhāliḥ Al-‘Utsaimīn rahimahullah (w. 1421 H). Ini merupakan catatan untuk pelajaran tahun kedua di Ma‘had ‘Ilmī bagian tauhid. Diterbitkan oleh Dar Al-Waṭan, Riyadh, tahun 1412 H.

10. “Al-Kawāsyif al-Jaliyyah ‘an Ma‘ānī al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh ‘Abdul ‘Azīz Al-Muḥammad As-Salmān hafizhahullah. Syarah panjang yang awalnya berupa tanya-jawab usūli lalu dikembangkan menjadi syarah berdasarkan permintaan salah seorang ikhwan. Telah dicetak berkali-kali.

11. “Al-As’ilah wa al-Ajwibah al-Uṣūliyyah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh ‘Abdul ‘Azīz Al-Muḥammad As-Salmān hafizhahullah. Disusun untuk para santri saat beliau mengajar di Ma‘had Imām ad-Da‘wah, Riyadh. Telah dicetak berkali-kali.

12. “Mukhtashar al-As’ilah wa al-Ajwibah al-Uṣūliyyah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh ‘Abdul ‘Azīz Al-Muḥammad As-Salmān –semoga Allah menjaganya–. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab sebelumnya (al-As’ilah wa al-Ajwibah al-Uṣūliyyah) berdasarkan permintaan sebagian ikhwan. Telah dicetak berkali-kali.

13. “Al-As’ilah an-Najdiyyah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh Muḥammad bin ‘Alī bin Sulaimān Ar-Rūq, diedit dan diteliti oleh Sulaymān bin ‘Ajlān bin Ibrāhīm Al-‘Ajlān. Diterbitkan oleh Dar Ibn Khuzaimah di Riyadh pada tahun 1420 H.

14. “Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah li Syaikh al-Islām Aḥmad bin Taimiyyah” karya Syaikh Ṣhāliḥ bin Fauzān bin ‘Abdillah Al-Fauzān semoga Allah menjaganya. Merupakan syarah berukuran sedang, disusun oleh penulisnya dengan merujuk kepada beberapa syarah sebelumnya dan sumber lainnya. Telah dicetak berkali-kali.

15. “At-Ta‘liqāt Az-Zakiyyah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” karya Syaikh ‘Abdullāh bin ‘Abdurraḥmān Al-Jibrīn. Diedit dan diawasi oleh ‘Alī bin Ḥusayn Abū Lawz, diterbitkan oleh Dar Al-Waṭan, Riyadh, edisi pertama tahun 1419 H, dalam dua jilid.

16. “At-Ta‘liqāt al-Mufīdah ‘alā al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah” catatan dan takhrij oleh ‘Abdullāh bin ‘Abdurraḥmān ‘Alī Asy-Syarīf, diterbitkan oleh Dar Ṭayyibah, Riyadh, edisi pertama tahun 1404 H.

📌 Nadhom (Syair) Kitab Ini:

Kitab ini juga dinadhomkan (dibuat dalam bentuk syair) oleh Syaikh ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Abdurraḥmān bin ‘Adwān, salah satu ulama daerah Al-Wasyim (wafat 1179 H) semoga Allah merahmatinya. Nadhom tersebut disusun mengikuti pola rima dan qafiyah dari nadhom Ibn ‘Abd al-Qawiyy. Isinya membahas nama-nama dan sifat-sifat Allah berdasarkan manhaj Salafush Shalih.

Syair ini tergolong indah dan lathif, menggunakan baḥr ṭawīl (salah satu pola irama dalam syair Arab). Namun sayangnya, sang penyair merupakan salah satu orang yang tidak menyukai dakwah pembaruan yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhāb rahimahullah. Kalau bukan karena itu, nadhom ini pasti lebih dikenal dan tersebar luas. Semoga Allah mengampuni kita dan beliau.

📝 Bagian Kedua:

Syarah-Syarah Terbaik untuk Kitab Al-Wasithiyyah:

Ketika ditanyakan tentang syarah terbaik atau beberapa syarah yang paling direkomendasikan, mungkin kita akan menemukan adanya perbedaan pendapat di kalangan para masyaikh, tergantung pada gaya penjelasan dan metode masing-masing. 

Namun, ada beberapa syarah yang diutamakan dan direkomendasikan oleh para ulama atas yang lainnya. 

Berikut ini kami akan menyebutkan sebagian dariny- sesuai yang dimudahkan. Dan dalam hal ini lapang (tidak terbatas pada satu):

1. At-Tanbīhāt As-Saniyyah karya Syaikh Abdul Aziz bin Nāsir Ar-Rasyīd rahimahullah. 

Syaikh Shālih Ālu Syaikh berkata dalam syarahnya terhadap Al-Wasithiyyah:

"Risalah ini memiliki banyak syarah, sebagaimana telah diketahui. Dan di antara syarah yang paling bermanfaat dan paling cermat dalam redaksi adalah: syarah yang berjudul “At-Tanbīhāt As-Saniyyah ‘ala Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah” karya Syaikh Al-‘Allāmah Abdul ‘Azīz bin Rasyīd rahimahullah. Ini adalah salah satu syarah terbaik dari kitab Al-Wasithiyyah. 

Di dalamnya dijelaskan berbagai masalah dan redaksi yang cukup bagi penuntut ilmu dalam bab akidah. Karena dalam kitab itu terkandung ilmu yang luas dan kaya. Maka, bagi siapa saja yang ingin mendapatkan syarah atas kitab ini, hendaknya memperhatikan kitab ini: “At-Tanbīhāt As-Saniyyah”.

2. Syarah Syaikh Muhammad Khalil Harrās rahimahullah. 

Syarah ini direkomendasikan oleh banyak ulama, dan bahkan sebagian dari mereka membuat penjelasan tambahan terhadap syarah ini, seperti Syaikh ‘Ādil As-Sayyid dalam bentuk rekaman audio.

3. “Ar-Raudhah An-Nadiyyah fī Syarḥ Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah” karya Syaikh Zaid Al-Fayyādh rahimahullah. 

Kitab ini termasuk syarah yang baik dan bermanfaat, berdasarkan kutipan dari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim. 

Dikatakan pula:

"Kitab Al-Wasithiyyah memiliki banyak syarah. Di antaranya adalah syarah dari Syaikh Abdul ‘Azīz bin Nāshir Ar-Rasyīd rahimahullah yang termasuk syarah paling berharga dan paling awal. Juga syarah dari Syaikh Zaid Al-Fayyādh berjudul “Ar-Raudhah An-Nadiyyah”yang merupakan syarah baik dan diambil dari kutipan-kutipan ulama besar."

4. “Al-Lā’āli Al-Bahiyyah fī Syarḥ Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah” syarah dari Syaikh Shālih Ālu Syaikh hafidzahullah. 

Syarah ini sangat bernilai tinggi, dan di dalamnya terdapat penelitian serta pendalaman masalah-masalah akidah. Namun, membacanya perlu kehati-hatian dan ketekunan karena gaya penyampaiannya sangat ilmiah dan mendalam.

5. Syarah Syaikh Muhammad bin Shālih Al-‘Utsaimīn rahimahullah. 

Termasuk syarah terbaik yang memudahkan dan menyederhanakan ilmu, sebagaimana kebiasaan beliau dalam banyak karya dan ceramahnya.

6. “Al-Kawāsyif Al-Jaliyyah ‘an Ma‘āni Al-Wāsithiyyah” karya Syaikh Abdul ‘Azīz As-Salmān rahimahullah. 

Syarah ini juga masuk dalam jajaran penjelasan penting terhadap Al-Wasithiyyah.

📌 Saran dalam Menuntut Ilmu dengan Kitab Ini

Untuk mendapatkan pemahaman yang luas dan kaya terhadap kitab akidah yang agung ini, jadikan salah satu syarah cetakan sebagai rujukan utama yang Anda pelajari, misalnya: syarah “At-Tanbīhāt As-Saniyyah” atau syarah Syaikh Al-‘Utsaimīn.

Lalu, di pinggirannya (catatan pinggir), tambahkan berbagai faidah yang Anda temukan dari syarah-syarah lainnya. 

Dengan cara ini, Anda akan memiliki kumpulan faidah yang luas dan kokoh dalam masalah akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.

Wallahu alam. . 

ASW (Andre Satya Winatra) 

📥 Untuk pdf syuruhat Aqidah Washitiyyah silahkan klik:

🌐 Telegram:
https://t.me/catatanAndreSatyaWinatra

🌐 Saluran WhatsApp:
https://whatsapp.com/channel/0029VawEBXA5K3zVFQBwds0i

Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya, sungguh ia telah menyia-nyiakan kehidupannya. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan kehidupannya, sungguh ia akan menyesal dan tidak akan bermanfaat penyesalan tersebut baginya

Waktu Adalah Kehidupan

Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah berkata:
Waktu Adalah Kehidupan, 
"Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya, sungguh ia telah menyia-nyiakan kehidupannya. Dan barang siapa yang menyia-nyiakan kehidupannya, sungguh ia akan menyesal dan tidak akan bermanfaat penyesalan tersebut baginya."

(Kitab Majmu’ Fatawa 16/261)
ustadz abu fadlan