Rabu, 17 Juni 2020

INI SEBAB KENAPA PELAKU BID'AH DAN KESYIRIKAN SANGAT MEMBENCI SYAIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB HINGGA SAAT INI.

INI SEBAB KENAPA PELAKU BID'AH DAN KESYIRIKAN SANGAT MEMBENCI SYAIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB HINGGA SAAT INI.
.
*Gambar: Pemandangan maqam baqi' kuburan dibangun seperti masjid, sebelum kota suci Madinah dikuasai oleh pemerintahan raja Su'ud
.
Dalam sejarahnya sebelum ada gerakan pemurnian ajaran Islam di tanah Haramain yang dipelopori Syaikh Muhammad Abdul Wahab, di kedua kota suci Madinah dan Makkah tumbuh subur amalan bid'ah dan syirik. Saat itu sudah biasanya mereka ngalap berkah pada kuburan Nabi dan para sahabatnya, bahkan dalam beberapa kisah sebelum datangnya gerakan pemurnian aqidah mereka biasa melakukan thawaf di makam Bilal Bin Rabbah Radhliyaa Anhuu seakan itu masuk rukun haji.

Tampak pada foto ini kubah megah dan bangunan-bangunan di atas makam. .
Barulah ketika Raja Su'ud menguasai negeri hijaz, dengan bimbingan seorang ulama besar Syaikh Muhammad bin Abdulwahab -rahimahumallah- kubah-kubah di pemakaman baqi' dihancurkan. .
Untuk menjalankan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika berpesan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu,
.
أَنْ لاَ تَدَعْ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرَفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
.
“Jangan kamu membiarkan ada gambar kecuali kamu hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.” (HR. Muslim no. 969)
.
Kesyirikan dan kebid'ahanpun redam. Cahaya tauhid dan sunah bersinar terang di negeri hijaz dan wilayah kerajaan Saudi Arabia lainnya..
.
Kemudian tibalah masa kemakmuran dan kesejahteraan untuk penduduk kerajaan Saudi Arabia sampai saat ini..
.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A'rof 96).
.
Semoga Allah menjaga negeri tauhid ini, dan juga tanah air kita Indonesia, serta seluruh negeri kaum muslimin.
Al akh Muhammad Iqbal Al Makassary

BIOGRAFI RINGKAS AL-IMAM IBNU ABI ZAID AL-QAIRAWÂNIY

BIOGRAFI RINGKAS AL-IMAM IBNU ABI ZAID AL-QAIRAWÂNIY

Beliau adalah Imam dan panutan dalam mazhab Malikiyyah pada zamannya. Beliau mengumpulkan pendapat-pendapatnya al-Imam Malik bin Anas rahimahullah, lalu menjelaskan mazhab beliau.

Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid. Nama asli bapak beliau yaitu Abu Zaid Abdur Rahman. Beliau tinggal di Qairawân, sekarang masuk wilayah negara Tunisia, di benua Afrika. Beliau dilahirkan pada tahun 310 H dan wafat pada tahun 386 H.

Beliau sangat pakar dengan mazhabnya Imam Malik, sehingga beliau sampai dijuluki Malik Shaghîr (Imam Malik junior). Selain dalam masalah fiqih beliau mengikuti Imam Malik, dalam masalah akidah atau ushuluddin beliau juga mengikutinya. Al-Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya "as-Siyar" berkata tentang akidahnya :
وَكَانَ -رَحِمَهُ اللهُ- عَلَى طَريقَةِ السَّلَفِ فِي الأُصُوْلِ، لاَ يَدْرِي الكَلاَمَ، وَلاَ يتَأَوَّلُ، فَنسأَلُ اللهَ التوفيق
"Al-Imam rahimahullah diatas jalannya para salaf dalam masalah pokok agama, beliau tidak mengetahui ilmu Kalam, kami memohon kepada Allah taufiq."

Salah satu yang menunjukkan aqidah salaf yang beliau pegangi adalah beliau menulis sebuah kitab yang dikenal dengan nama "ar-Risâlah" yang isinya adalah fiqih berdasarkan mazhab Maliki, kemudian didalam mukadimahnya, beliau menyebutkan secara ringkas pokok-pokok akidah yang beliau yakini dan isinya sesuai dengan akidahnya Salafunâ Shâlih.

Al-'Allâmah Abdul Muhsin al-'Abbad hafizhahullah tatkala mensifati kitab ar-Risâlahnya, beliau berkata :
"Mukadimah risalahnya berdasarkan metode Salaf yang sangat ringkas namun berfaedah, mengumpulkan antara pembahasan ushul dan furu' dalam satu kitab dan ini jarang sekali ulama yang melakukan seperti ini. Hal ini membuat orang yang berkonsentrasi dalam fiqih ibadah dan muamalah tidak lupa juga untuk konsen dalam masalah fiqih akbar, yaitu akidah diatas jalannya as-Salaf."

Asy-Syaikh Abdul Muhsin telah menulis penjelasan secara khusus mukadimah Risalahnya Ibnu Abi Zaid al-Qairawâniy dalam sebuah kitab yang berjudul "Qathf al-Janâ ad-Dâniy Syarh Muqaddimah Risâlah Ibni Abi Zaid al-Qairawâniy".

Alhamdulillah, kami sempat mendengarkan kajian syarah beliau diatas yang diterangkan oleh sebagian ustadz kami, yang hal ini menunjukkan bahwa akidah Salaf senantiasa diajarkan dari generasi ke generasi, sekalipun mereka berbeda aliran fiqihnya dan berjauhan tempat tinggalnya. Wa Fadhlu minallah.

Abu Sa'id Neno Triyono

Engkau akan senantiasa menjadi orang yang berilmu selama engkau terus belajar

Al Hafidz Alim Al Muhaddist Ubaid Al Kiswariy As Son’aniy berkata, “Abiku berkata kepadaku, 

‘Engkau akan senantiasa menjadi orang yang berilmu selama engkau terus belajar, namun bila engkau merasa cukup dengan ilmumu, maka sungguh engkau telah menjadi bodoh’.”

Jami’ Bayan Al-ilmi wa Fadhlihi hal.408
Ustadz Indra zulfi mushoddaq 

AQIDAH AL-HAFIDZ AL-KHOTHIIB AL-BAGHDADI

AQIDAH AL-HAFIDZ AL-KHOTHIIB AL-BAGHDADI

Bagi penuntut ilmu hadits maka nama Imam al-Khothiib al-Baghdadiy (w.463 H)  adalah sebuah nama yang tidak asing baginya, bagaimana tidak beliau orang yang layak dijuluki "bapaknya ilmu ushul hadits". Dikarenakan para ulama yang berkecimpung dalam ilmu mustholah hadits butuh merujuk kepada karya-karya beliau. Seolah-olah memang al-Hafidz al-Khothib al-baghdadi hidupnya didedikasikan untuk mengembangkan ilmu ushul hadits. 

Selain pakar dalam ilmu hadits beliau juga merupakan pakar sejarah, terbukti dengan lahirnya karya beliau dalam bidang sejarah yang berjudul "Tariikh Baghdad". 

Adapun dari sisi akidahnya, sempat terjadi kontroversi apakah beliau menempuh akidah salaf terutama dalam bidang asma wa shifat atau tidak. Namun dengan dirilisnya sebuah risalah yang dinisbatkan kepada beliau yang tadinya hanya sebagai manuskrip yang tersimpan di perpustakaan Dhohiriyyah, Suriah, sebagaimana diinformasikan oleh Imam al-albani, maka kami tidak ragu lagi untuk mentaqriir bahwa beliau diatas akidah salaful ummah. 

Risalah beliau berjudul "al-Kalaam fii ash-Shifaat". Sebagaimana yang pernah disampaikan bahwa untuk meng-itsbat sebuah kitab atau karya tulis kepada ulama tertentu, adalah melalui jalur sanad atau disebutkannya bahwa karya tersebut adalah memang sebagai karya ulama tersebut. 

Adapun jalur sanad, maka diantara ulama yang memiliki sanad kepada risalah diatas, yaitu Imam adz-dzahabi. Beliau menyebutkan sanadnya dalam kitab sejarah beliau yang monumental "Siyar a'lamin Nubalaa" (18/283-284) :
" ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻼﻝ ، ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﺍﻟﻬﻤﺪﺍﻧﻲ ، ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻫﺮ ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ ، ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺮﺯﻭﻕ ﺍﻟﺰﻋﻔﺮﺍﻧﻲ ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻗﺎﻝ :
ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ، ﻓﺈﻥ ﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺡ ، ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺇﺛﺒﺎﺗﻬﺎ ﻭﺇﺟﺮﺍﺅﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﻇﻮﺍﻫﺮﻫﺎ 
"Telah mengabarkan kepada kami Abu Ali bin al-Kholaal, telah mengabarkan kepada kami Abul Fadhl al-Hamdaaniy, telah mengabarkan kepada kami Abu Thoohir as-Silafiy, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Marzuuq az-Za'farooniy, telah menceritakan kepada kami al-Hafidz Abu Bakr al-Khothiib (al-baghdadi) beliau berkata : "adapun tentang pembahasan sifat-sifat (Allah Subhana wa ta'ala), maka telah diriwayatkan dari hadits-hadits yang shahih,  (sesuai dengan madzhab Salaf), untuk menetapkannya dan memberlakukan sesuai dengan dhohirnya.... ".

Kemudian kita akan semakin yakin beliau diatas madzhab salaf dalam akidah, ketika beliau mencontohkan dalam risalahnya diatas beberapa sifat Allah, persis sebagaimana yang diajarkan oleh guru-guru kami terkait bab asma wa shifat diatas jalan madzhab salaf. Beliau berkata :
ﻓﺈﺫﺍ ﻗﻠﻨﺎ : ﻟﻠﻪ ﻳﺪ ﻭﺳﻤﻊ ﻭﺑﺼﺮ ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺃﺛﺒﺘﻬﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻨﻔﺴﻪ ، ﻭﻻ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻴﺪ ﺍﻟﻘﺪﺭﺓ ، ﻭﻻ ﺇﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﺒﺼﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ، ﻭﻻ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻧﻬﺎ ﺟﻮﺍﺭﺡ ، ﻭﻻ ﻧﺸﺒﻬﻬﺎ ﺑﺎﻻﻳﺪﻱ ﻭﺍﻻﺳﻤﺎﻉ ﻭﺍﻻﺑﺼﺎﺭ ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﺟﻮﺍﺭﺡ ﻭﺃﺩﻭﺍﺕ ﻟﻠﻔﻌﻞ ، ﻭﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻧﻤﺎ ﻭﺟﺐ ﺇﺛﺒﺎﺗﻬﺎ ﻻﻥ ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻭﺭﺩ ﺑﻬﺎ ، ﻭﻭﺟﺐ ﻧﻔﻲ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻘﻮﻟﻪ : ‏[ ﻟﻴﺲ ﻛﻤﺜﻠﻪ ﺷﺊ ‏] . ﻭ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏[ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻛﻔﻮﺍ ﺃﺣﺪ ‏] 
"Jika kami katakan bahwa Allah memiliki Tangan, Pendengaran dan Penglihatan, maka semua ini adalah sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk dirinya sendiri. Kami tidak mengatakan bahwa makna Tangan adalah kekuatan, tidak pula makna mendengar dan melihat adalah ilmu. Namun kami juga tidak mengatakan bahwa semua itu adalah anggota badan, kami tidak menyerupakan Tangan, Pendengaran dan Penglihatan sebagai anggota tubuh untuk melakukan suatu hal. 
Kami hanya menegaskan wajibnya menetapkannya karena nash menetapkannya, namun wajib juga menolak tasybih (penyerupaan)  kepada Allah, karena Dia : {tidak ada yang serupa dengan-Nya} dan {tidak ada yang sebanding dengan-Nya}.

Silakan bagi yang ingin memiliki risalah beliau dapat mengunduhnya di link berikut, dengan tambahan syarah ringan dari asy-syaikh DR. Sholih bin Abdullah al-'Ushoimiy :
http://www.al-tawhed.net/Books/Show.aspx?ID=1080

Abu Sa'id Neno Triyono

kondisi orang-orang bodoh diantara kalian yang tidak mengenali kebenaran".

Malik bin Dinar rahimahullahu berkata:

يا هؤلاء، إن الكلب إذا طرح إليه الذهب والفضة لم يعرفهما، وإذا طرح إليه العظم أكب عليه، 

كذلك سفهاؤكم لا يعرفون الحق

"Duhai seandainya manusia tahu, sesungguhnya anjing apabila dilemparkan kepadanya emas dan perak maka dia tidak akan mengenali keduanya.

Namun apabila dilemparkan kepadanya sepotong tulang maka dia akan menghampirinya.

Demikian pula kondisi orang-orang bodoh diantara kalian yang tidak mengenali kebenaran".

Hilyatul Awliya' wa Thobaqotul Ashfiya'  2/360

👉🏻 Join Sosial Media YNF

Website : nidaulfithrah.com
Facebook : nidaulfithrah
Telegram : @nidaulfithrah
Instagram : @nidaulfithrah

Form Join Donasi Kegiatan YNF
https://goo.gl/forms/CxBUPR2DT98fh6KZ2
 
💳 Bank Syariah Mandiri 
norek 7036976009  
an. Yayasan Nidaul Fithrah  📱Konfirmasi : 081 331 232 795 
Barakallahu fikum

BETAPA BERBAHAYANYA JIKA KEWIBAWAAN PENGUASA DIJATUHKAN

BETAPA BERBAHAYANYA JIKA KEWIBAWAAN PENGUASA DIJATUHKAN

Al 'Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahulloh berkata :
''Apabila wibawa penguasa sudah jatuh maka negri akan mengalami kerusakan. Dan berbagai kekacauan, fitnah, kejelekan dan kerusakan akan menimpanya.''

(Sumber Majmu' Al Fatawa wa Rasa-il  2/43)
ust Enggar suprantara 

Siapa yang menafkahi orang tua?

Siapa yang menafkahi orang tua?

Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Nafkah ibu tetap menjadi kewajiban bagi ayah sampai kapan pun selama ayah masih mampu. Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) wajib menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An Nisaa': 34).

Nafkah dari ayah kepada ibu, sesuai kemampuan ayah. Allah ta'ala juga berfirman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).

Selama ayah masih mampu, maka tidak ada yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayah-ibu.

Lalu jika ayah dan ibu miskin, tidak mampu, tidak punya penghasilan, maka siapa yang wajib memberi nafkah?

Jawabnya, yang wajib adalah ahli waris yang terdekat posisinya dalam urutan waris. Allah ta'ala berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ

"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian" (QS. Al Baqarah: 233).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di menjelaskan ayat "dan ahli waris pun berkewajiban demikian", beliau berkata :

فدل على وجوب نفقة الأقارب المعسرين, على القريب الوارث الموسر

"Ayat ini menunjukkan kerabat yang berkemampuan WAJIB menafkahi kerabat yang kurang mampu" (Tafsir As Sa'di).

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu'anhu, Nahi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

ابْدَأْ بنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فإنْ فَضَلَ شيءٌ فَلأَهْلِكَ، فإنْ فَضَلَ عن أَهْلِكَ شيءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فإنْ فَضَلَ عن ذِي قَرَابَتِكَ شيءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا

"Mulailah dari dirimu sendiri, berilah nafkah pada dirimu. Jika ada kelebihan, maka berilah nafkah pada keluargamu. Jika sudah menafkahi keluargamu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah kerabatmu. Jika sudah menafkahi kerabatmu dan masih ada kelebihan, maka nafkahilah yang terdekat dan seterusnya" (HR. Muslim no. 997).

Pengelompokkan ahli waris dibagi 2 sisi :

1. Jihhah (arah), urutannya:
a. bunuwwah (anak, dan terus ke bawah)
b. ubuwwah (ayah, dan terus ke atas)
c. ukhuwah (saudara, dan terus ke samping)
d. umuwwah (ibu, dan terus ke atas)

2. Darajah, yaitu level kedekatan jalur. Misal, posisi "anak" lebih dekat kepada ayah-ibu dari pada "cucu". 

Ketika ada 2 jenis ahli waris yang jihhah-nya sama, maka dilihat dari sisi darajah.

Maka yang paling wajib menafkahi bapak-ibu ketika mereka miskin adalah kelompok bunuwwah, yaitu yang pertama, dari kalangan anak-anaknya. Anak-anak yang paling wajib adalah anak-anak laki-laki, jika tidak ada maka anak-anak perempuan.

Jika anak-anak tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cucu. Jika cucu tidak ada atau tidak ada yang mampu, maka dari kalangan cicit. Dan seterusnya.

Jika anak, cucu, cicit tidak ada atau tidak ada yang mampu maka dari kalangan ubuwwah (ayah dari ayah-ibu, dan terus ke atas).

Jika dari kalangan ubuwwah tidak ada maka dari kalangan ukhuwwah (para saudara dari ayah-ibu). Dan seterusnya.

Wallahu a'lam.

**

Join channel telegram @fawaid_kangaswad