Kamis, 20 Februari 2020

Cara instan menjadi WALI.

Cara instan menjadi WALI.

Wali kok kerjanya terbang dan berjalan di atas air, kapan shalatnya?

lalu bagaimana dong kalau mau jadi wali?

Simak dulu kisah berikut:

Suatu hari Yunus As Shadafy berkata kepada Imam As Syafii: guru saya Al Laits berkata; Bila aku menyaksikan pengumbar hawa nafsu bisa berjalan di atas air, niscaya aku tidak dapat membenarkan amaliyahnya, sampai aku kaji amaliyahnya berdasarkan Al Qurán dan As Sunnah.

Imam Syafii menimpali dengan berkata: Al Laits kurang greget, andai aku melihat orang yang bisa terbang di udara, niscaya aku tidak dapat membenarkan amaliyahnya, sampai aku kaji amaliyahnya berdasarkan Al Qurán dan As Sunnah. (Siyar Aálam An Nubala'1-/23 & Tafsir Ibnu Katsir 1/112)

Ada seseorang yang bercerita kepasa seorang wali yang dikenal dengan julukan Al Murtaísy; perihal seseorang yang bisa berjalan di atas air, maka beliau menjawab:
 عندي أن من مكنه الله من مخالفة هواه فهو أعظم من المشي على الماء 
Menurutku, orang yang Allah beri kemampuan untuk menundukkan hawa nafsunya lebih  agung dibanding orang yang berjalan di atas air. (Siyar Aálam An Nubala' 15/231) 

ِAnda penasaran siapakah waliyullah yang sebenarnya?

SImak jawabannya padaq ayat ayat berikut:
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ {63} لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 
 Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.  Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Yunus 62-64)

Jadi, jangan percaya kalau ada wali, tapi malas shalat berjamaah, ngomongnya nglantur, kalaupun shalat, tapia tidak berwudhu, aurat saja tidak ditutup, apalagi sampai level orang yang penampilan dan perilakunya saja tak ubahnya dengan orang gila.

Wali tuh kerjanya ngaji Al Qurán, berdakwah, menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, rajin ibadah, bukan malah sehari harinya nyusuri sungai, di tempat tempat yang ängker" atau tempat tempat maksiat.

eh mau cepat jadi wali? gampang sobat, daftarkan saja anak anda di STDI Imam Syafii- Jember, segera anda menjadi WALI (wali mahasiswa/i)
http://pmb.stdiis.ac.id/

Semoga mencerahkan.
Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri MA 

Rabu, 19 Februari 2020

Metode Kajian HukumDalam hal ini kita ambil isbal&kesombongan sbg objek pembelajaran

Metode Kajian Hukum

Dalam hal ini kita ambil isbal&kesombongan sbg objek pembelajaran:

Isbal & kesombongan adalah dua objek hukum yg berbeda.

Sombong hukumnya haram baik sbg amalan hati, ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan

Adapun isbal maka dia adalah amal anggota badan yg mungkin diiringi kesombongan, mungkin juga terlepas dari kesombongan.

Dalam kondisi isbal dg kesombongan hukumnya jelas haram krn terancam dg neraka.

Dalam kondisi isbal "tanpa" kesombongan apakah mubah?

Ada dalil yg sifatnya muthlak yg melarang isbal, krn sifatnya larangan maka hukumnya berkutat antara makruh & haram dan tdk bisa dikatakan mubah.

Diantara konsekuensi makruh adalah boleh dilakukan namun tercela.

Karenanya isbal tanpa kesombongan (andai itu ada) maka hukum minimalnya adalah makruh dan lebih utama ditinggalkan, tdk bisa dikatakan mubah (istiwaau hukmit tark & fi'il)

Jihatul karahah minimal ada 3 :
- "menyepelekan" petunjuk
- meninggalkan perintah Nabi "non wajib" scr kontinyu
- merasa diri aman dari kesombongan/perkara haram

Sangat mungkin intensitas karahahnya bertambah shg sampai ke derajat haram.

Metode sederhana/yg semisal ini  berlaku juga untuk permasalahan yg semisal.

Wallahu a'lam.
Ustadz Noor Ikhsan Silviantoro Lc 

godaan terberat seorang thalibul ilm

Diantara cobaan terberat seorang pembelajar bukan kelaparan. Lapar itu hal biasa, bahkan saking asiknya belajar atau mengulang pelajaran, banyak diantara pelajar yang malas makan.

Terus apa dong?

Masuk ke toko buku !

Iya, pelajar mana yang tidak tergiur melihat buku dengan kualitas cetakan yang bagus. Buku dengan bahan kertas yang halus. Buku dari penerbit ternama dan terpercaya. Walau harganya semakin melambung, tetap saja seorang pelajar akan selalu memikirkan bagaimana meminang buku idamannya....

Oh toko buku.....

Bisakah tidak kau pamerkan buku-buku yang jelita itu...
Bisakah kau turunkan maharmu.....
Agar aku dapat meminang bukumu yang indah dan terawat itu...
Semauku .....
Sewaktu-waktu...
Kan kupinang dua, tiga atau empat sekaligus dengan lembaran biru....
Hingga dapat kubuka, kubelai dan kubaca di kamarku....
Abu razin Taufiq 
Thalib ilmi darul hadist Yaman  

Selasa, 18 Februari 2020

kesetiaan antara suami istri

Dikatakan bahwa seorang istri diketahui (kesetiaannya) ketika suaminya jatuh miskin, dan (kesetiaan) seorang suami diketahui saat istrinya jatuh sakit.

Atawhid dot com

PAHAMI BAIK-BAIK TIGA KAEDAH INI

PAHAMI BAIK-BAIK TIGA KAEDAH INI

Saat pembahasan faedah ayat dari *Surat Ali Imran ayat ke-119*,

{ *هَا أَنتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ* وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ} [آل عمران : 119]

(yang artinya), " *Beginilah kamu (orang-orang beriman), kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya*. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati." _(Surat Ali Imran: 119)_

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dalam kitab tafsir beliau untuk Surat Ali Imran menjelaskan faedah penting pada faedah ayat yang ketiga, yaitu bahwa *umat Islam beriman kepada semua kitab suci yang Allah Ta'ala turunkan*, berdasarkan firman-Nya,

{ *وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ* }

(yang artinya), "kamu (orang-orang beriman) beriman kepada kitab-kitab semuanya"

Adapun *orang-orang Yahudi mereka kafir (tidak beriman) kepada kitab Injil dan merekapun kafir terhadap Al-Qur'an*. Dan *orang-orang Nasrani mereka kafir terhadap Al-Qur'an*. Maka oleh karena itulah *mereka semua termasuk orang-orang kafir*.

Lalu Syaikh Shalih al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala membawakan *3 kaedah penting* yang selayaknya setiap muslim untuk mengetahui dan memahaminya dengan benar, yaitu:

1. " *مَنْ كَفَرَ بِكِتَابَ مِمَّا أَنْزَلَهُ اللّٰهُ فَهُوَ كَافِرٌ بِجَمِيْعِ الْكُتُبِ*

2. " *مَنْ كَفَرَ بِبَعْضِ الرَّسُلِ دُوْن بَعْضٍ فَقَدْ كَفَرَ بِالْجَمِيْعِ* "

3. " *مَنْ كَفَرَ بِبَعْضِ الشَّرِيْعَةِ فَقَدْ كَفَرَ بِالشَّريْعَةِ كُلِّهَا* "

Kaedah pertama yaitu,
" مَنْ كَفَرَ بِكِتَابَ مِمَّا أَنْزَلَهُ اللّٰهُ فَهُوَ كَافِرٌ بِجَمِيْعِ الْكُتُبِ "

(artinya) *Barangsiapa yang kafir (tidak beriman) kepada satu kitab suci yang telah Allah turunkan, maka ia telah kafir telah semua kitab Allah*

Kaedah ini berlaku sebagaimana pembahasan pada Surat Ali Imran ayat 119 di atas, yaitu kafirnya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mau beriman kepada kitab-kitab suci yang Allah turunkan.

Lalu kaedah kedua,
" مَنْ كَفَرَ بِبَعْضِ الرَّسُلِ دُوْن بَعْضٍ فَقَدْ كَفَرَ بِالْجَمِيْعِ "

(artinya) *Barangsiapa yang kafir (tidak beriman) kepada sebagian rasul dari sebagian yang lain, maka ia telah kafir terhadap semua rasul*.

Dan kaedah yang ketiga,
" مَنْ كَفَرَ بِبَعْضِ الشَّرِيْعَةِ فَقَدْ كَفَرَ بِالشَّريْعَةِ كُلِّهَا "

(artinya) *Barangsiapa yang kafir (tidak beriman) kepada sebagian syariat maka ia telah kafir kepada semua bagian syariat seluruhnya*.

Kemudian Ustadz Aris Munandar, M.PI. hafizhahullahu ta'ala memberikan keterangan tambahan untuk kaedah ketiga ini. Perlu dibedakan antara *tidak beriman/tidak menerima* syariat atau aturan agama dengan *melanggar* syariat atau aturan agama. 

Untuk kasus pertama yaitu tidak beriman atau tidak menerima syariat agama, meski hanya 1 bagian syariat saja, maka ia telah kafir terhadap seluruh bagian syariat.

Sedangkan untuk kasus kedua, yaitu melanggar syariat agama, dalam keadaan ia masih menerima atau meyakini benarnya syariat tersebut, maka untuk orang seperti ini hukumnya adalah ia sebagai pelaku maksiat, artinya tidak sampai kafir terhadap seluruh syariat.

Lalu Ustadz Aris Munandar, M.PI. hafizhahullahu ta'ala membawakan kisah *di zaman pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu*. Saat itu ada sebagian orang yang mereka shalat, berpuasa dan ibadah-ibadah lainnya, namun mereka mengingkari syariat zakat. Maka orang-orang tersebut tetap diperangi oleh Abu Bakar beserta para sahabat radhiallahu 'anhum karena *mereka menolak syariat zakat sehingga sama saja mereka kafir terhadap seluruh bagian dari syariat*.

Maka apabila saat ini ada seeorang yang mengingkari syariat wajibnya jilbab, atau haramnya zina, atau meyakini wajibnya dahulukan menggunakan hukum manusia dibandingkan hukum syariat pada suatu bidang, baik bidang pemerintahan, sosial, ekonomi dan lainnya, maka *orang tersebut telah kafir terhadap syariat ini seluruhnya*.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala menutup faedah ayat ini dengan menjelaskan bahwa *karena syariat ini seluruhnya adalah satu kesatuan*. Allah Ta'ala berfirman,

{ثُمَّ أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ *أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ* ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ} [البقرة : 85]

(yang artinya), "Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. *Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?* Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." _(Surat Al-Baqarah: 85)_
[dari aplikasi Al-Qur'an Aayaat]

_(faedah kajian rutin Tafsir Surat Ali Imran karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala bersama Ustadz Aris Munandar, M.PI. hafizhahullahu ta'ala tiap hari Ahad ba'da Maghrib - 'Isya di Masjid Baiturrahman, Tegalmojo, Yogyakarta)_

*Disusun pada Selasa malam, 25 Jumadal Akhirah 1441 H*
Ditulis oleh Al akh Abdurahman Triadi putro

rumah sakit dan rumah Allah

#RUMAH_SAKIT_مُستَشفَى
#RUMAH_ALLAH_مَسجِد

🔰Berkata As Syaikh Al Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah :

إِذَا رَأَيتَ النّاسَ يَتَزَاحَمُونَ عَلَى أَبْوابِ المُسْتَشْفَيَاتِ وَلَكِنَّهُمْ فِي غَفْلَةٍ عَنْ أَبْوابِ المَساجِدِ فَاعْلَمْ أَنَّ الوَضْعَ لَيْسَ بِالْحَسَنِ، لِأَنَّ تَكالَبَ النّاسِ وَحِرْصَهُمْ عَلَى شِفاءِ الأَمْرَاضِ البَدَنيَّةِ دُونَ الأَمْرَاضِ القَلْبيَّةِ : دَليلٌ عَلَى أَنَّ هُنَاكَ انْتِكاسًا وَالعِيَاذُ بِاللَّهِ

"Jika engkau melihat manusia berjubel memadati pintu-pintu rumah sakit tetapi mereka melupakan pintu-pintu masjid maka ketahuilah bahwa kondisi mereka tidak baik. karena antusias manusia untuk kesembuhan penyakit badan lebih semangat dari kesembuhan penyakit hati ini menunjukkan ada yang tidak beres (terbalik). hanya kepada Allah kita berlindung",.

📚Fathu dzil jalali wal ikram 3/273.

Penyakit adalah ujian dan cobaan dari Allah, maka wajib bersabar dan berharap kesembuhan kepada Allah, serta berharap pahala dan ampunan atas penyakit yang menimpa.

Padahal As Syafi yaitu yang maha menyembuhkan segala penyakit adalah Allah.
sebagaimana dalam doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam :

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

"Ya Allah Rabb manusia, Dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit". (HR. Bukhari no. 5742)

maka prinsip seorang muslim ketika sakit adalah :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

"dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) Yang menyembuhkan aku". (Qs. As Syuara' : 80)

Berdoa kepada Allah harus diutamakan kemudian berusaha mencari obat untuk penyakit, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah azza wajalla". (HR. Muslim no. 2204).

Semoga Allah menyembuhkan penyakit-penyakit kita dan penyakit kaum muslimin semuanya,. 

📝----------
elQibty,.

Senin, 17 Februari 2020

Ibn Taimiyyah

Ibn Taimiyyah (lagi)

Jika ada yang bilang bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah contoh murid salah asuhan, maka ia telah menghina ratusan syaikh, para hufazh dan imam-imam terkemuka dari guru-guru Syaikhul Islam. Juga telah menghina Ayah beliau dan Kakek beliau karena dianggap gagal mendidiknya, padahal oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi bapak Ibnu Taimiyyah digelari “Imam” sementara kakeknya dengan “Syaikhul Islam”. Beliau dari keluarga ulama bos !!. 

Diantara guru Syaikhul Islam yang paling bertanggung jawab mendidik beliau menjadi seorang salafi justru seorang Syafi’i. Dialah al-Imam Qadhi al-Qudhat Syarifuddin Abul Abbas Ahmad bin Ahmad bin Ni’mah bin Ahmad an-Nablusi al-Maqdisi (w. 694 H), seorang pemuka Mazhab Syafi’i di zamannya. Walaupun beliau Syafi’iyah tapi sangat kuat berpegang dengan mazhab salaf dalam aqidah. Syaikh Abul Abbas inilah yang memberi izin Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah untuk berfatwa, dan dia bangga telah memberi izin tersebut.

Ibnu Qadhi Syuhbah (w. 851 H) menyatakan: “Berkata Ibnu Katsir: “Berakhir kepadanya (Qadhi Abul Abbas) kepemimpinan Madzhab Syafi’i sepeninggal asy-Syaikh Tajuddin. Beliau memberikan izin kepada banyak ulama untuk berfatwa. Di antara ulama yang mendapatkan izin tersebut adalah Ibnu Taimiyah dan beliau merasa bangga karena telah memberikan izin tersebut.”.

Syaikh Abul Abbas beraqidah salafi, sebagaimana aqidahnya Imam Ahmad bin Hanbal. Imam adz-Dzahabi  (w. 748 H) berkata, “Beliau sangat kuat agamanya, bagus aqidahnya, Salafi mazhabnya. Telah bercerita kepada kami asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah bahwa beliau (Syaikh Abul Abbas) berkata tiga hari sebelum kematiannya: “Saksikanlah bahwa aku berada di atas aqidah Ahmad bin Hanbal.”.

Diantara guru Syaikhul Islam dari kalangan Ahli Hadits bermazhab Hanbali adalah al-Imam Ali bin Ahmad bin Abdul Wahid bin Ahmad yang lebih dikenal dengan Ibn al-Bukhori (w. 690 H), seorang musnid dunya di zamannya. Berkata adz-Dzahabi, “Beliau Syaikhul Imam, yang shalih, wara, panjang umurnya, ‘alim, musnid al-Alim, Fakhruddin Abul Hasan ibn al-Allamah Syamsyuddin Abul Abbas al-Maqdisi, ash-Shalihi, al-Hanbali”.

Beliau ini adalah muridnya al-Hafizh Dhiya al-Maqdisi al-Hanbali, Imam al-Muwafiq Ibn Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali, al-Hafizh Ibn Jauzi dan jamaah para imam ahli hadits bersanad tinggi. Ibnu Taimiyyah sangat bangga dengan gurunya ini, sehingga beliau berkata: “Hati ini tenang ketika ada Ibn al-Bukhori antara saya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam dalam hadits”. Kepada beliau ini, Syaikhul Islam mengambil banyak riwayat diantaranya Kitab al-Arsy karangan Ibnu Abi Syaibah. 

Dalam Urusan sanad, Syaikhul Islam memang termasuk perhatian. Sanad beliau kepada Musnad Ahmad (sekarang dicetak sampai 45 jilid) dengan cara qira'ah dari tiga orang Syaikh yang bersanad 'aliy seperti : Syamsuddin Abu Muhammad Abdullah ibn ‘Atho al-Hanafi, Ibnu ‘Allan, dan Abul Abbas ibn Syaiban. Beliau juga membaca Tarikh Baghdad karya Imam al-Khathib (sekarang dicetak kurang lebih 16 jilid) kepada tiga orang guru yaitu : Ibnul Mujawiri, Muslim bin ‘Allan, dan Imaduddin Ibn ash-Shani’i. Dan lain-lainnya banyak kalau mau rajin mengumpulkan info semacam ini.

Kapan-kapan harus ditulis khusus dalam sebuah buku.
Ustadz rikrik Aulia Rahman