Kamis, 02 April 2026

Selama penguasa tersebut tidak kafir (keluar dari Islam), maka wajib untuk mendengar dan taat kepadanya dalam hal-hal yang makruf (baik).

0.00 هذا يقول شيخنا لا شك اننا نعيش في غربه شديده وهذه

0.08 الغربه تشتد اذا كان في مثل بلاد لا يوجد فيها علماء والحاكم

0.18 في نعم والحاكم مسلم والدوله لا تحكم بالشريعه ونرى البيعه والسمع والطاعه

0.25 للحاكم ويوجد اناس ينسبون الى السنه ينبزوننا بطائفه اهل البيعه اذا كان هذا

0.35 الحاكم لم يكفر فانهم يجب السمع والطاعه له في المعروف

0.42 واذا نبزوكم بانكم جماعه البيع لا ي ضركم انتم متبعون

0.49 لا مبتدعون فالنبي صلى الله عليه وسلم قد قال من مات وليس في عنقه بيعه مات ميته
0.49 لا مبتدعون فالنبي صلى الله عليه وسلم قد قال من مات وليس في عنقه بيعه مات ميته

0.57 جاهليه فخلوكم انتم مع البيعه وهو هذا يخرج عن البيعه ويموت ميته تشبه ميته اهل الجاهليه

1.06 وكفاهم بهذا ولا يضرك ايها الاخ السائل واذا اردت ان تسلم من الكلام هذا محال ما

1.15 يمكن المرء من ضد ولو حاول العزله في راس الجبل

1.23 ما يخلو لابد وان يتكلم في فلا يضرك ايها

1.29 الاخ السائل ان يقال فيك ما قيل

"Penanya berkata: Wahai Syaikh kami, tidak diragukan lagi bahwa kita hidup di masa keterasingan (*ghurbah*) yang sangat hebat. Keterasingan ini semakin terasa jika berada di negeri yang tidak ada ulamanya, sementara penguasanya adalah seorang muslim namun negara tersebut tidak menerapkan syariat secara penuh. Kami berpandangan bahwa tetap ada kewajiban baiat, mendengar, dan taat kepada penguasa tersebut. Namun, ada orang-orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah justru menggelari kami dengan sebutan 'Kelompok Ahli Baiat' (sebagai ejekan).
**Jawaban Syaikh:**
Selama penguasa tersebut tidak kafir (keluar dari Islam), maka wajib untuk mendengar dan taat kepadanya dalam hal-hal yang makruf (baik).
Jika mereka mengejek kalian sebagai 'Kelompok Baiat', maka hal itu tidaklah membahayakan kalian. Kalian adalah pengikut sunnah (*muttabi’un*), bukan pembuat bid'ah (*mubtadi’un*). Nabi \small \text{صلى الله عليه وسلم} telah bersabda:
> *'Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.'*
Maka tetaplah kalian berada dalam baiat tersebut. Justru orang yang mengejek itulah yang keluar dari baiat, dan ia terancam mati dengan kematian yang menyerupai kematian ahli jahiliyah. Cukuplah hal itu bagi mereka (sebagai peringatan).
Janganlah hal itu menyakitimu wahai penanya. Jika engkau ingin selamat dari lisan manusia, itu adalah hal yang mustahil. Seseorang tidak akan bisa lepas dari penentang, meskipun ia mencoba mengasingkan diri di puncak gunung sekalipun; ia tetap tidak akan selamat dari pembicaraan orang. Maka janganlah bersedih wahai penanya atas apa yang mereka katakan tentangmu."
### **Poin-Poin Penting Ringkasan:**
 * **Prinsip Ketaatan:** Selama pemimpin itu muslim, kewajiban mendengar dan taat dalam kebaikan tetap berlaku meskipun negara tidak menerapkan syariat secara penuh.
 * **Legalitas Baiat:** Memiliki komitmen baiat kepada pemimpin muslim adalah perintah syariat untuk menghindari "mati jahiliyah".
 * **Keteguhan Hati:** Label negatif atau ejekan dari orang lain tidak seharusnya menggoyahkan seseorang yang berada di atas jalan yang benar (Sunnah).
 * **Realitas Sosial:** Mengharap ridha atau keselamatan dari lisan manusia adalah hal yang mustahil dilakukan.
https://youtu.be/Ug1Su-vX7xE?si=YlUXWPOoFjPs9v9E
Syaikh muhammad bin hadi al madkholi

Potret perbedaan di kalangan syeikh syeikh saudi arabia, monggo bagi yang bisa mampu menyimak, disimak agar melek fakta di lapangan dan dada anda menjadi lebar.

Potret perbedaan di kalangan syeikh syeikh saudi arabia, monggo bagi yang bisa mampu menyimak, disimak agar melek fakta dinlapangan dan dada anda menjadi lebar.

https://youtu.be/zDTDmis9h44?si=OQyXLtL4V9CjijgL

https://youtu.be/Ug1Su-vX7xE?si=2h0A71r2-k-tmUM5

https://youtu.be/jYsyq_jc8rw?si=LH0okXDxP4EnEKxL
Ini yang ulama Yaman juga ustadz

هل يستحق حكام المسلمون البيعة ؟

نص الإجابة:
هذا نحيله إلى حكام المسلمين ؛ نقول لهم إن كانوا عملاء لأمريكا - وهم أعلم بأنفسهم - فلا تصح لهم البيعة ، وإن لم يكونوا عملاء لأمريكا وكانوا يطبقون الشريعة الإسلامية فتصح لهم البيعة 

https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=535
Ust fadhel ahmad 

baiat kepada para penguasa kaum muslimin

Ini yang ulama Yaman juga ustadz

هل يستحق حكام المسلمون البيعة ؟

نص الإجابة:
هذا نحيله إلى حكام المسلمين ؛ نقول لهم إن كانوا عملاء لأمريكا - وهم أعلم بأنفسهم - فلا تصح لهم البيعة ، وإن لم يكونوا عملاء لأمريكا وكانوا يطبقون الشريعة الإسلامية فتصح لهم البيعة 

https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=535
Ust fadhel ahmad 


> "Tentang sahnya baiat kepada para penguasa kaum muslimin, ini saya serahkan kepada para penguasa kaum muslimin. Kami katakan kepada mereka, jika mereka adalah agen Amerika dan loyal dengan diri mereka sendiri (kepada Amerika), maka baiat kepada mereka tidak sah. Dan jika mereka bukan agen Amerika dan mereka menerapkan syariat Islam, maka baiat kepada mereka adalah sah. Jawabannya sudah memadai, wahai saudara-saudara? Ya? [Audiens menjawab: 'Meskipun mereka dipaksa?'] Tidak, tidak, jika dipaksa maka sah, jika dipaksa maka sah. Ya."
### Terjemahan Poin Utama
Berdasarkan rekaman tersebut, berikut adalah poin-poin hukum yang disampaikan:
 * **Syarat Ketidakabsahan Baiat:** Baiat dianggap tidak sah apabila penguasa tersebut terbukti menjadi agen kepentingan asing (dalam hal ini disebutkan Amerika) dan menunjukkan loyalitas kepada mereka.
 * **Syarat Keabsahan Baiat:** Baiat dianggap sah apabila penguasa bukan merupakan agen asing dan berkomitmen untuk menerapkan syariat Islam.
 * **Kondisi Pemaksaan:** Dalam sesi tanya jawab di akhir rekaman, dijelaskan bahwa jika seorang penguasa berkuasa melalui paksaan (misal: kudeta atau kekuatan), baiat tersebut tetap dianggap sah.


Rabu, 01 April 2026

Seni Melatih Nalar : Metode Unik Imam Abu Hanifah dalam Mengajar Fiqih

Seni Melatih Nalar : Metode Unik Imam Abu Hanifah dalam Mengajar Fiqih

​Dan di antara metode beliau (Abu Hanifah) dalam mengajar fiqih adalah: Bahwa ketika sedang mengkaji suatu masalah bersama murid-muridnya, beliau akan melontarkan sebuah kemungkinan pendapat, lalu beliau mendukungnya dengan argumen sekuat tenaga dari berbagai sisi. Kemudian beliau bertanya kepada murid-muridnya: 
Apakah kalian punya argumen untuk menyanggahnya?

​Jika beliau mendapati mereka semua setuju dan menerima pendapat tersebut, beliau sendiri yang kemudian mulai mematahkan pendapat pertamanya tadi, hingga para pendengar yakin akan kebenaran pendapatnya yang kedua. Lalu beliau bertanya lagi tentang pandangan mereka terhadap pendapat yang baru ini.

​Jika beliau melihat mereka tidak punya sanggahan lagi, beliau akan mengambil sudut pandang ketiga, sehingga semuanya beralih ke pendapat ketiga tersebut. Pada akhirnya, beliau akan menetapkan hukum pada salah satu pendapat yang dinilai paling benar dengan dalil-dalil yang kuat. Inilah metode pengajaran fiqih yang menjadi ciri khas istimewa Abu Hanifah dan para sahabat (murid) beliau.

​Ibnu Hajar al-Makki asy-Syafi'i berkata: Sebagian imam berkata: Tidak ada seorang pun di antara para imam Islam ternama yang memiliki murid-murid sekaliber murid Abu Hanifah. Para ulama maupun masyarakat umum tidak mendapatkan manfaat sebesar yang mereka peroleh melalui beliau dan para muridnya dalam hal penjelasan hadis-hadis yang samar (musytabihah), masalah-masalah yang digali hukumnya (mustanbathah), kasus-kasus kontemporer (nawazil), hukum peradilan, serta ketetapan hukum syariat.
Ibn nashrullah 

NAMA-NAMA ITU MEMBANTAH MEREKA: BUKTI CINTA DAN KESETIAAN ALI KEPADA PARA SAHABAT

NAMA-NAMA ITU MEMBANTAH MEREKA: BUKTI CINTA DAN KESETIAAN ALI KEPADA PARA SAHABAT

Salah satu propaganda besar dalam ajaran Rafidhah adalah menanamkan keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memendam permusuhan terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Dari sinilah kemudian dibangun narasi panjang tentang “perampasan hak”, “pengkhianatan”, dan permusuhan turun-temurun antara Ahlul Bait dengan para sahabat utama Nabi ﷺ. Namun anehnya, propaganda sebesar ini justru dipatahkan oleh fakta yang sangat sederhana, sangat manusiawi, dan sangat sulit dibantah: Ali dan keturunannya justru menamai anak-anak mereka dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman, bahkan nama-nama mulia lain dari kalangan sahabat.

Ini bukan perkara sepele. Nama dalam tradisi Arab bukan sekadar pembeda identitas. Ia adalah simbol cinta, penghormatan, harapan, dan keterikatan batin. Seseorang memilih nama bagi anaknya dari nama-nama yang ia sukai. Ia tidak menjadikan nama musuhnya sebagai panggilan sayang di rumahnya. Ia tidak mengulang-ulang nama orang yang dibencinya pada keturunannya, kecuali bila nama itu memang hidup di hatinya sebagai nama yang mulia. Karena itu, fakta penamaan ini menjadi bukti yang sangat telak. Jika benar Ali membenci Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagaimana tuduhan Rafidhah, maka mengapa nama-nama itu justru hadir pada anak-anak beliau dan pada keturunannya?

Allah memuji para sahabat Nabi ﷺ secara umum dalam banyak ayat. Di antaranya firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini bukan pujian kecil. Ia adalah tazkiyah rabbaniyyah bagi para sahabat utama. Abu Bakar, Umar, dan Utsman termasuk barisan terdepan dalam ayat tersebut. Maka keyakinan yang membangun agama di atas caci maki kepada mereka sesungguhnya sedang berbenturan langsung dengan nash Al-Qur’an.

Allah juga berfirman tentang para sahabat yang berbaiat di bawah pohon:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”
(QS. Al-Fath: 18)

Dan Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)

Perhatikan kalimat رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ. Allah menggambarkan hubungan para sahabat dengan Nabi ﷺ dan di antara mereka sendiri sebagai hubungan kasih sayang, bukan hubungan dendam abadi seperti yang dipropagandakan oleh Rafidhah.

Adapun secara khusus, Rasulullah ﷺ memerintahkan umat ini untuk berpegang kepada sunnah beliau dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin. Beliau bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي

“Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Hadits ini sangat penting. Nabi ﷺ bukan hanya memuji mereka, tetapi memerintahkan umat untuk mengikuti jejak mereka. Lalu bagaimana mungkin orang yang diperintahkan Nabi untuk diikuti justru disebut musuh Nabi?

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda tentang Abu Bakar dan Umar:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.”
(HR. At-Tirmidzi, Ahmad)

Tentang Utsman, Nabi ﷺ juga memberikan keutamaan yang sangat besar. Di antaranya sabda beliau ketika Utsman mendapat ujian besar:

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”
(HR. At-Tirmidzi)

Dan Nabi ﷺ menikahkan dua putri beliau dengan Utsman, yaitu Ruqayyah lalu Ummu Kultsum. Gelar Dzun Nurain yang melekat pada Utsman bukan gelar kosong. Itu sendiri sudah menjadi bukti kedekatan luar biasa antara Nabi ﷺ dan Utsman. Mustahil seorang ayah, apalagi Rasulullah ﷺ, menikahkan dua putrinya secara bergantian kepada orang yang ia pandang berkhianat terhadap agama.

Sekarang mari kembali kepada Ali radhiyallahu ‘anhu. Dalam sumber-sumber sejarah Ahlus Sunnah disebutkan bahwa Ali memiliki anak-anak yang bernama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Hal ini disebutkan dalam karya-karya nasab dan tarikh, seperti Tabaqat Ibn Sa’d, Ansab al-Ashraf karya Al-Baladzuri, Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir, dan karya-karya lain yang mencatat keturunan Ali. Bahkan dalam sejumlah riwayat disebutkan pula adanya penamaan serupa pada sebagian keturunan beliau.

Di sinilah akal sehat mulai berbicara. Apakah Ali menamai anak-anaknya dengan nama orang-orang yang ia anggap perampas agama? Apakah Hasan dan Husain serta keturunan Ahlul Bait akan mengabadikan nama-nama itu bila memang yang diwariskan adalah kebencian? Tidak mungkin. Justru fakta ini menunjukkan bahwa nama-nama tersebut dihormati, dicintai, dan dianggap mulia.

Sebagian orang Rafidhah mencoba lari dari fakta ini dengan mengatakan bahwa nama-nama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah nama umum, sehingga penamaan itu tidak menunjukkan apa-apa. Jawaban atas syubhat ini sederhana. Benar, sebagian nama itu memang dikenal di masyarakat Arab. Tetapi ketika nama-nama tersebut muncul berulang dalam lingkungan keluarga Ali, lalu disejajarkan dengan nama-nama sahabat utama lainnya, dan dibaca bersama keseluruhan hubungan Ali dengan para khalifah, maka sangat jelas bahwa ini bukan kebetulan kosong. Ini adalah bagian dari realitas sejarah yang utuh: tidak ada permusuhan ideologis sebagaimana yang dibayangkan Rafidhah.

Lebih dari itu, Ali sendiri tidak memperlakukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman seperti musuh. Beliau hidup bersama mereka, bermusyawarah dengan mereka, membantu urusan kaum muslimin pada masa mereka, bahkan tidak pernah membangun agama kebencian terhadap mereka. Seandainya memang mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya, tentu Ali adalah orang pertama yang paling berani menyatakannya secara terbuka. Ali bukan orang lemah. Ali adalah singa Allah. Jika perkara ini benar sebagaimana yang diklaim Rafidhah, mustahil Ali akan diam, membiarkan umat tersesat, lalu malah menamai anak-anaknya dengan nama para “musuh” tersebut. Itu tuduhan yang justru merendahkan Ali sendiri.

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi dalam Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah menegaskan manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah sahabat:

وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَا نُفْرِطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ، وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ

“Kami mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kami tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan kami juga tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka.”

Inilah jalan yang lurus. Bukan jalan Rafidhah yang mengaku mencintai Ahlul Bait tetapi dengan cara mencaci sahabat. Ahlus Sunnah mencintai Ali, Fatimah, Hasan, Husain, sekaligus mencintai Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Karena semuanya adalah tokoh-tokoh mulia dalam agama ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkali-kali menjelaskan dalam Minhaj as-Sunnah bahwa kebohongan terbesar Rafidhah adalah membangun pertentangan mutlak antara Ahlul Bait dan para sahabat. Padahal sejarah yang sahih menunjukkan adanya saling menghormati, kerja sama, hubungan pernikahan, dan keterikatan nasab. Maka siapa pun yang ingin adil harus membaca sejarah dengan timbangan ilmu, bukan dengan dendam sektarian.

Bukti penamaan anak ini, bila digabung dengan fakta-fakta lain, menjadi sangat kuat. Nabi ﷺ menikahi Aisyah putri Abu Bakar dan Hafshah putri Umar. Nabi ﷺ menikahkan dua putrinya kepada Utsman. Ali menikahi Fatimah, putri Nabi ﷺ. Semua ini menunjukkan jaringan hubungan iman, keluarga, dan kepercayaan yang sangat erat. Lalu datang Rafidhah berabad-abad kemudian membawa dongeng permusuhan total, seolah mereka lebih tahu isi hati Ali daripada fakta sejarah yang begitu terang. Ini bukan ilmu, tetapi manipulasi.

Maka benarlah bahwa fakta penamaan anak-anak Ali dan keturunannya merupakan salah satu hujjah yang kuat untuk mematahkan keyakinan batil Rafidhah. Sebab nama-nama itu berbicara lebih jujur daripada propaganda. Nama-nama itu menjadi saksi bahwa yang ada bukan permusuhan, tetapi cinta dan kesetiaan. Bukan dendam turun-temurun, tetapi penghormatan yang hidup dalam keluarga Ahlul Bait sendiri.

Karena itu, setiap muslim hendaknya waspada. Cinta kepada Ahlul Bait adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah. Tetapi cinta itu tidak boleh dibajak untuk membenci para sahabat. Siapa yang menjadikan agama sebagai proyek caci maki kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka ia telah menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, dan jalan para ulama Ahlus Sunnah. Adapun Ali dan keturunannya yang mulia, justru jejak mereka sendiri membantah kebatilan itu. Nama-nama yang mereka pilih untuk anak-anak mereka telah menjadi saksi sejarah: yang ada adalah cinta dan kesetiaan, bukan kebencian dan permusuhan.

Wallahu a'lam.
ustadz abul abbas aminullah 

Kisah Unik dalam Mazhab Maliki

Kisah Unik dalam Mazhab Maliki

Ada seorang wanita yang meninggal dunia, sementara janin di dalam perutnya masih bergerak. Lalu kasus ini ditanyakan kepada dua ulama besar Malikiyah : Asyhab dan Ibnu al-Qasim.

Asyhab berfatwa agar perut jenazah tersebut dibelah untuk mengeluarkan janin. Sedangkan Ibnu al-Qasim berfatwa tidak dilakukan pembelahan, yakni janin tersebut dibiarkan terkubur bersama ibunya.

Akhirnya, masyarakat mengamalkan fatwa Asyhab. Janin itu pun berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup. Ia kemudian tumbuh menjadi seorang ulama yang mengajarkan ilmu, dan ia selalu mengikuti pendapat Asyhab serta meninggalkan pendapat Ibnu al-Qasim. 😅

​📚 Al-Fawakih ad-Dawani Syarh Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani (1/303)
___

من طرائف المالكية
​ماتت امرأة وجنينها يضطرب في بطنها فسُئل عنها أشهب وابن القاسم؟ فأفتى أشهب بالبقر (بقر البطن واخراج الجنين)، وأفتى ابن القاسم بعدمه "أي دفنه وهو في بطن أمه".. فعملوا بكلام أشهب.. فخرج الجنين حيا وصار عالما يُعلم العلم ويتبع قول أشهب ويدع قول ابن القاسم..

​[الفواكه الدواني شرح رسالة ابن أبي زيد القيرواني 303/1]
Ibn nashrullah

RUMAH TAHFIZH ALQUR’AN “AN-NUUR

*Kajian Rutin RTQ An-Nur Jogja* 

Bersama Ust. Abu Abdillah Purwoko hafidzahullah 

Setiap Sabtu, ( Bahasa Arab )
Ba'da Maghrib - 20.00 WIB
Kitab Mukhtarot Kaidah Nahwu dan Sharaf 

Setiap Selasa, ( Aqidah )
Pukul 20.00 - 21.00 WIB
Kitab Al-Bidayah Fil Aqidah

Setiap Kamis, ( Fiqih )
Pukul 20.00 - 21.00 WIB
Kitab Bidayatul Mutafaqih

Informasi dan Konfirmasi Kehadiran :
 +62821-1629-811
 +62857-4701-4184

💛 *RUMAH TAHFIZH ALQUR’AN “AN-NUUR”* 
 *MASIH MENERIMA SANTRI BARU (MUKIM DAN NONMUKIM)*
*GRATIS/FREE (FULL BEASISWA)* 

*Daftar Santri :* 
Wa.me//+6285747014184

*Lokasi Rumah Tahfidz An-Nuur :* 
Ngadimulyo WB I/159 RT014 RW003 Pakuncen Wirobrajan Yogyakarta
Gmap: 
https://maps.app.goo.gl/pPqqmfKXWgGbsz7Y7