Selasa, 01 Juli 2025

HAKEKAT AKHLAK YANG BAIK MENURUT PARA ULAMA

*HAKEKAT AKHLAK YANG BAIK MENURUT PARA ULAMA*

Hasan Al-Bashri berkata : "Akhlak yang baik adalah wajah yang berseri-seri, bersungguh-sungguh dalam memberikan bantuan, dan tidak mengganggu orang lain.”

Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Akhlak yang baik ada pada tiga hal: menjauhi hal-hal yang diharamkan, mencari hal-hal yang halal, dan bermurah hati atau melebihkan pemberian kepada keluarga”

Ada juga ulama lain berpendapat, “Akhlak yang baik ialah dekat dengan manusia, dan merasa asing terhadap urusan yang ada di antara mereka.”

Yang lain berkata, “Akhlak yang mulia yaitu, menahan diri dari mengganggu, dan kesabaran seorang mukmin."

Berkata ulama yang lain : "Akhlak yang mulia adalah kau tidak memiliki tujuan ataupun maksud (dalam hal apapun) kecuali hanya karena Allah ta'ala"

Dan para ulama menyimpulkan tentang tanda seseorang yang berakhlak mulia, yaitu : “Banyak merasa malu, sedikit mengganggu, banyak memperbaiki kesalahan, jujur tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit mencampuri urusan orang lain, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridho, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak tergesa-gesa, tidak iri, tidak kikir, tidak dengki, berwajah ceria, mencintai dan membenci orang karena Allah, ridho dan murka karena-Nya.”

Wallahu a'lam.

*(Minhajul Muslim, karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairiy, hal. 188, cetakan Dar Alamiyyah Mesir)*

 Anton Abdillah 

Boleh disebarluaskan tanpa mengurangi isi tulisan.
Barakallahu fiikum.

TIGA PENDAPAT

TIGA PENDAPAT :

1. Haram dipotong sama sekali
2. Haram cukur habis, dan membiarkan tanpa memotong SUNNAH, memotong sedikit MAKRUH. 
3. Jika sudah lebih dari segenggam BID'AH jika tidak dipotong bagian bawah genggaman. 

YANG PALING dekat dengan kebenaran adalah asal tidak dipotong habis atau terlalu banyak yang dipotong. 

Potong habis atau terlalu banyak yang dipotong ini MAKSIAT dan BUKAN DOSA BESAR... 

Aneh saja kalau sampai menjadi pembeda dan ciri khas ahlussunnah dengan selainnya. 

قال الشيخ صالح ال الشيخ حفظه الله. 
المقصود من ذلك أنَّ العلماء لهم في ذلك أقوال:
القول الأول ما ذكرته لك من المفتى به عند علمائنا وهو أن الإعفاء بأنَّهُ يتركها على حالها، طبعاً إلا في حالة التشويه وهذه حالات نادرة.
والقول الثاني أنَّ الحلق يحرم وأنَّ تركها على حالها مستحب، والأخذ منها مكروه؛ يعني تَرَكَ فيه الأفضل.
والقول الثالث هو أنَّ الزيادة على القبضة لا يجوز؛ بل بدعة وهو قول الشيخ ناصر الدين الألباني، وهو قول ليس له حظ من الدليل.

راجعة إلى كلمة (إعفاء) ما حدّه في اللغة؟ الأقرب من حيث النّظر وفعل الصحابة أنّ الإعفاء ما له حد؛ لكن المأمور به أن لا يكون المرء مشابهاً للذين يحلقونها أو يَقُصُّونَهَا شديداً؛ لأنَّ النووي رحمه الله ذكر خصال إثنا عشرة أو عشر خصال في اللحية مذمومة، ومنها أشياء يُوَافَقُ عليها ومنها الأخذ منها شديداً وهذا من فعل المجوس ومنها حلقها، وهو من المعاصي لكن ليست كبيرة، حلق اللحية ليس من الكبائر.
وهذا من الشريط 28 من شرح الطحاوية.

Gambar : salah seorang ulama salafi paling kokoh dalam karya - karya aqidah di zaman ini
Ustadz fadhel ahmad 

Jadilah kalian mata air ilmu, pelita-pelita hikmah, lentera-lentera malam, penyegar hati yg dahaga, penghuni rumah-rumah (yang banyak ibadahnya, menjauhi popularitas), sederhana dalam berpakaian, dikenal oleh penduduk langit dan tersembunyi dari penduduk bumi

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada murid2nya dari kalangan tabiin:

كُونُوا يَنَابِيعَ العِلْمِ، مَصَابِيحَ الحِكْمَةِ، سُرُجَ اللَّيْلِ، جُدَدَ القُلُوبِ، أَحْلَاسَ البُيُوتِ، خُلْقَانَ الثِّيَابِ، تُعْرَفُونَ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ، وَتَخْفَوْنَ عَلَى أَهْلِ الأَرْضِ

‘Jadilah kalian mata air ilmu, pelita-pelita hikmah, lentera-lentera malam, penyegar hati yg dahaga, penghuni rumah-rumah (yang banyak ibadahnya, menjauhi popularitas), sederhana dalam berpakaian, dikenal oleh penduduk langit dan tersembunyi dari penduduk bumi.’” Syaikhul Islam risalah fil amri bil ijtima wal i’tilaf hal. 7.

Faidah daurah syar’iyyah 
Syaikh Fathi al-Mushuli hafizhahullah
Ustadz Dr fadlan fahamsyah

Istiqomah Menghadiri Majelis Ilmu Sampai Wafat

Istiqomah Menghadiri Majelis Ilmu Sampai Wafat

Sebagian kebiasaan orang-orang awam pada masa salaf dahulu "Mereka duduk di majelis-majelis ilmu sepanjang hidup mereka."

Duduk di majelis ilmu dan belajar kepada para ulama adalah "manhaj fil hayah" kebutuhan hidup, kebiasaan yang wajib ada pada setiap orang seperti halnya makan dan minum. 

Engkau akan terus makan dan minum sampai mati, maka demikian pula dengan ilmu; engkau akan terus duduk di majelis para ulama sampai engkau meninggal dunia.

Maka janganlah seseorang berkata, “Aku sudah belajar, aku tidak butuh lagi dengan ilmu.” 

Dan ilmu yang paling utama untuk selalu diingatkan kepada seseorang adalah ilmu tauhid.
__
Selesai kutipan "Faidah dari Syaikh asraf al kinani hafidzahullah"

Artinya Istiqomah menghadiri, mendatangi majelis ilmu sampai kita diwafatkan oleh Allah. 

Ini ujian bagi setiap orang. 
Setiap amal itu tergantung akhirnya. 

Apa dia bisa tetap istiqomah menghadiri majelis ilmu, terus belajar sampai wafat? 

Ataukah tidak, malah berbalik arah. Allahul musta'an. 

Semua tergantung hidayah taufik dari Allah. Semua tergantung niat yang ikhlas dan tulus karena Allah. 

Ambillah ibrah dan pelajaran dari kehidupan Guru kita, Orang tua kita al-Fadhil Syaikh Yazid bin Abdul Qadir Jawwas rahimahullah rahmatan wa si'ah yang istiqomah mendakwahkan Tauhidullah "Mentauhidkan Allah" sampai akhir hayat beliau. 

Bayangkan betapa banyak ujian, cobaan dan tantangan yang beliau rahimahullah hadapi dalam dakwah puluhan tahun. 

Kira-kira apa resep istiqomah? 

Inilah resepnya. 

Diriwayatkan bahwa ketika Imam Malik selesai menyusun kitab Al-Muwaṭṭaʼ, ada yang bertanya kepadanya: 

"Apa manfaat dari penyusunan kitabmu ini?"

Maka beliau menjawab: 

ما كان لله يبقى

"Apa yang diniatkan karena Allah pasti akan (langgeng).'”

Hal ini disebutkan oleh Imam as-Suyuthi dalam kitab Tadrīb ar-Rāwī.

Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah pasti akan istiqomah. 

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata:

وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).

Dan resep lainnya yang kami dengar langsung dari Ustazuna Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafidzahullah wa ra'ahu agar kita istiqomah adalah dekat ulama-ulama Robbani. Ya, berdekat-dekat dengan ahli ilmu.

Jangan jauh-jauh dari ahli ilmu, mendekat dengan guru-guru kita, belajar, bertanya, ambil faidah sebanyak-banyaknya baik dari sisi keilmuan maupun akhlak kesehariannya. 

Kita tidak hanya mengambil ilmunya, tapi juga mengambil contoh teladan akhlak guru kita.
. 
Meskipun tidak mengikuti dauroh langsung tetap bisa mengambil faidah melalui livestreaming. 

Selasa, 1 Juli 2025
. 
Andre Satya Winatra
Kota Tanjungpinang Kepri

🌐 Telegram:
https://t.me/catatanAndreSatyaWinatra

🌐 Saluran WhatsApp:
https://whatsapp.com/channel/0029VawEBXA5K3zVFQBwds0i
https://www.facebook.com/share/v/1DFDGj4MuB/

Mencukur jenggot hukum makruh menurut madzhab Syafi'i

Mencukur jenggot hukum makruh menurut madzhab Syafi'i

وقال الشافعية بكراهية حلقها، فقد ذكر النووي أن العلماء ذكروا عشر خصال مكروهة في اللحية، بعضها أشد من بعض، منها حلقها إلا إذا نبت للمرأة لحية، فيستحب لها حلقها

(Fikih Islam wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili)

Ustadz muhammad fajri

Diantara Do’a Yang Baik Dibaca Sebelum Mendaki Gunung

Diantara Do’a Yang Baik Dibaca Sebelum Mendaki Gunung

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيْقِ وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ فِيْ سَبِيْلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ لَدِيْغًا 

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kematian karena jatuh dari tempat yang tinggi, tertimpa reruntuhan, tenggelam, dan terbakar. Dan aku berlindung kepada-Mu dari bujukan setan saat sakaratul maut, kematian saat lari dari perang di jalan-Mu, serta mati karena sengatan binatang melata." (Hadits Riwayat An-Nasa'i) 

Catatan : 

Do’a ini bersifat umum, boleh dibaca kapan pun dibutuhkan, tidak harus saat mendaki gunung. Saat pergi liburan ke pantai misalnya, atau berenang di kolam atau sungai, atau dibaca di waktu-waktu kita memang sedang berdo’a secara umum. Demikian wallahu a’lam semoga bermanfaat.
Ustadz hamdani zahid 

Aku melihat nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam mimpi, dari kanannya ada seorang lelaki, dan dari kirinya ada seorang lelaki, dan beliau bersabda: 'Jika engkau telah dipalingkan, maka teladanilah dua orang lelaki ini yaitu Abû Bakar dan 'Umar

Umar bin 'Abdil 'Azîz rahimahullâh berkata:

"Aku melihat nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam mimpi, dari kanannya ada seorang lelaki, dan dari kirinya ada seorang lelaki, dan beliau bersabda: 'Jika engkau telah dipalingkan, maka teladanilah dua orang lelaki ini yaitu Abû Bakar dan 'Umar'."

[Ushûl Al-I'tiqâd karya Al-Lalakâiy hal 621]

Kekeliruan, kritik, dan saran terkait terjemahan sampaikan pada penerjemah

FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah