Jumat, 04 April 2025

Salah satu persoalan kunci dalam permasalahan Akidah dan Sifat-sifat Allah Ta'ala adalah persoalan fiil,

Salah satu persoalan kunci dalam permasalahan Akidah dan Sifat-sifat Allah Ta'ala adalah persoalan fiil,

antara lain mengenai pembedaan antara fiil (perbuatan) dengan maful (objek) dan mengenai penyandangan fiil oleh failnya (pelakunya).

Ini dibahas dalam kaitannya dengan fiil Allah Ta'ala maupun fiil hamba.

Karenanya, beberapa imam di era Salaf sudah menegaskan pendirian Ahlussunnah mengenai hal ini, yang juga selaras dengan rasio dan akal sehat. Maka setiap pemelajar Akidah yang serius perlu bi'aunillah mendalami persoalan ini secara matang.

Di antara kalangan Mutakallimin yg punya keselarasan dengan Salaf dan Ahlussunnah dalam dua perkara di atas adalah aliran yang kemudian disebut sebagai "Maturidiyyah".

Abul Fath Alauddin As-Samarqandi RH, misalnya, menegaskan (sebagaimana pada screenshots terlampir ini) bahwa:

1. Pengadaan (perbuatan mencipta) itu tidaklah sama dengan yang diadakan (ciptaan);

2. Perbuatan mengadakan ciptaan itu adalah sifat yang disandang oleh Sang Pencipta SWT;

3. Hamba juga punya perbuatannya sendiri yang betul-betul merupakan perbuatan sadarnya dan dilakukan olehnya.

Untuk 2 poin pertama, Abul Fath As-Samarqandi antara lain berargumentasi bahwa keberadaan makhluk itu tidak cukup hanya bersandar secara simpel pada dzat Tuhan ataupun pada sifat qudrah dan iradah saja, melainkan mesti ada sifat lain yang mengaktualkan keberadaan ciptaan (yaitu sifat berupa penciptaan atau perbuatan mengadakan).

Abul Fath juga menegaskan bahwa penciptaan atau perbuatan mengadakan itu pastilah disandang oleh Sang Pencipta, sebab bila tidak maka jadinya sifat tersebut disandang oleh pihak lain atau malah tidak punya penyandang sama sekali dan keduanya tentu absurd.

Untuk poin ke-3, Abul Fath antara lain berargumentasi bahwa perbuatan hamba tersebut memang disandarkan secara hakiki ke si hamba, si hamba betul-betul melakukannya secara sadar dan bukan sekadar menyandangnya, serta si hamba pula yang kemudian dinilai berdasarkan perbuatan sadar itu dan menanggung akibatnya, walaupun pencipta dari perbuatan itu tetaplah Allah Ta'ala.

Dalam poin ke-3 tersebut Abul Fath sejalan dengan pendirian Hanabilah secara umum, dan dalam poin 1-2 di atas sejalan dengan pendirian para muhaqqiq Hanabilah (semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) maupun tokoh-tokoh terkenal Hanabilah belakangan (semisal As-Saffarini RH)

terlepas persoalan apakah sifat mencipta dan perbuatan mengadakan itu hanya ada satu saja ataukah banyak, dan satu per satunya didahului oleh kehendak ataukah tidak.

Wamâ taufîqunâ illâ billâh.

Ustadz babanya aisyah/
Ustadz nidlol mas'ud 

Kamis, 03 April 2025

Tanda Allah Ingin Kebaikan bagi Hamba

📒 Tanda Allah Ingin Kebaikan bagi Hamba

Muhammad bin al-Husain rahimahullah mengatakan, "Tanda sosok hamba yang Allah inginkan baginya kebaikan yaitu ia meniti jalan ini; kitabullah (Alquran), dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta petunjuk para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik." (asy-Syari'ah karya al-Ajurriy, 1/300)

🇮🇩🇸🇦 ICC DAMMAM KSA
Channel Telegram: https://t.me/iccdammamksa

𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐥-𝐐𝐮𝐫`𝐚𝐧 𝐯𝐢𝐚 𝐦𝐮𝐬𝐡𝐚𝐟

📖 𝐁𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐥-𝐐𝐮𝐫`𝐚𝐧 𝐯𝐢𝐚 𝐦𝐮𝐬𝐡𝐚𝐟

𝙽𝚊𝚜𝚎𝚑𝚊𝚝 𝚂𝚢𝚊𝚒𝚔𝚑 𝚂𝚞𝚕𝚊𝚒𝚖𝚊𝚗 𝚊𝚛-𝚁𝚞𝚑𝚊𝚒𝚕𝚒 𝚑𝚊𝚏𝚒𝚣𝚑𝚊𝚑𝚞𝚕𝚕𝚊𝚑

" Berusahalah untuk membaca Al-Qur'an langsung dari mushaf, dan jangan merasa cukup hanya dengan mengandalkan hafalan atau membaca dari ponsel.

Dalam sebuah hadis disebutkan: "Barang siapa yang merasa bahagia mencintai Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia membaca langsung dari mushaf."(Dihasankan oleh al-Albany rahimahullah).

Para ulama salaf pun selalu berusaha membaca Al-Qur'an langsung dari mushaf."
ustadz adi faizal

Arti Istiwa menurut Salafus Shaleh ada 4 [Al Irtifa', Al Uluw, Al Istiqrar, As Shu'ud],

#ALLAH_BERISTIWA

Arti Istiwa menurut Salafus Shaleh ada 4 [Al Irtifa', Al Uluw, Al Istiqrar, As Shu'ud], yang semua itu menunjukkan Allah tinggi di atas semua makhluqNya,.
Ustadz alif el qibty
https://www.facebook.com/share/v/15GBRYkGhK/

Luangkanlah hatimu untuk mencemaskan apa yang diperintahkan kepadamu, dan jangan sibukkan ia dengan apa yang telah dijamin untukmu

قال ابن القيم رحمه الله: فَرِّغ خاطِرَك للهَمِّ بما أُمِرتَ به ولا تَشغَله بما ضُمِنَ لك؛ فإن الرِّزق والأَجَل قَرينان مَضمُونان، فما دام الأَجلُ باقِيًا كان الرِّزقُ آتِيًا، وإذا سَدَّ عليك بحِكمَتِه طَريقًا مِن طُرقِه فتَح لك برَحمتِه طَريقًا أَنفَع لك مِنه.
 
الفوائد لابن القيم: (ص: 57)

"Luangkanlah hatimu untuk mencemaskan apa yang diperintahkan kepadamu, dan jangan sibukkan ia dengan apa yang telah dijamin untukmu; karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin. Selama ajal masih ada, rezeki pasti akan datang. Jika Allah menutup salah satu jalan rezeki dengan hikmah-Nya, maka Dia akan membukakan untukmu jalan lain dengan rahmat-Nya yang lebih bermanfaat bagimu dari jalan yang tertutup itu."

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Al-Fawāid (hal. 57)
Ustadz noor akhmad setiawa