Selasa, 02 Januari 2024

Muliakanlah orang yang mengajarkanmu ilmu dan beradablah kepadanya

Muliakanlah orang yang mengajarkanmu ilmu dan beradablah kepadanya

Seorang penuntut ilmu seharusnya dia berakhlak baik kepada gurunya dan memuji Allah, karena Allah telah memudahkannya mendapatkan orang yang mengajarkan apa yg tidak ia ketahui, menghidupkan hatinya, memberikan nasehat dan membimbing dia di atas kebaikan

Memuliakan orang yang berilmu (guru) termasuk perkara yang dianjurkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه

"Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua di antara kami, dan tidak pula menyayangi yang muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak bagi ulama kami"

Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata :

وينبغي أن ينظر معلمه بعين الإحترام ويعتقد كمال أهليته ورجحانه على اكثر طبقته فهو أقرب إلى إنتفاعه به ورسوخ ما سمعه منه في ذهنه

"Selayaknya seorang murid memandang gurunya dengan pandangan penghormatan dan hendaknya dia menyakini sempurnanya keahlian gurunya dibandingkan kebanyakan manusia sejawatnya, karena hal tersebut lebih membuat dia untuk bisa mengambil manfaat dari gurunya dan menguatkan apa yang dia dengar dari gurunya dalam ingatannya"

Wahai saudaraku, lihat pundahulu kita bagaimana mereka menjaga akhlak dan adab kepada gurunya

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata :

تواضعوا لمن تعلمون منه

"Tawadhu'lah kalian terhadap orang yang mengajari kalian".

Rabi' bin Sulaiman berkata :

والله ما اجترأت أن أشرب الماء والشافعي ينظر إلي هيبة له

"Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Imam asy-Syafi'iy melihat kepadaku karena kewibawaanya yang ia miliki"

Abdurahman bin Harmalah berkata :

ما كان إنسان يجترئ على سعيد بن المسيب يسأله عن شيء حتى يستأذنه كما يستأذن الأمير

"Tidaklah manusia berani bertanya kepada Sa'id bin Musayyib tentang suatu perkara sampai dia meminta izin kepadanya, seperti meminta izin kepada seorang pemimpin"

Sebagian salaf apabila pergi belajar kepada syaikhnya mereka berdoa :

اللهم استر عيب شيخي عني، ولا تذهب بركة علمه مني.

"Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku".

Subhanallah !
itulah para salaf, maka dimanakah kita di hadapan mereka?

Sudahkah kita memuliakan guru-guru kita ?

Sudahkah kita menghormatinya ?

Sudahkah kita mendoakanya ?

Ingat diantara sebab berkahnya ilmu seseorang adalah beradab kepada gurunya....
Mudah mudahan ilmu yang telah kita pelajari bisa bermanfaat di dunia dan akhirat.....

Copas
Ustadz abu yahya tomy

Senin, 01 Januari 2024

Penisbatan Kitab Radd ‘ala Jahmiyyah pada Imam Ahmad Merupakan Kepalsuan ?

Penisbatan Kitab Radd ‘ala Jahmiyyah pada Imam Ahmad Merupakan Kepalsuan ?

Oleh : Ustadz Muhammad Ode Wahyu Abu Usaid

Pengikut kelompok asya’irah mengklaim bahwa kitab yang dibuat oleh Imam Ahmad dalam rangka membantah kelompok jahmiyyah dan orang-orang zindiq yang berjudul ‘Ar-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah wa Al-Jahmiyyah’ merupakan satu kepalsuan yang dinisbatkan kepadanya.

Mereka berhujjah dengan perkataan Imam Adz-Dzahabi rahimahullah :

وَلاَ كَالرَّدِّ عَلَى الجَهْمِيَّةِ المَوْضُوْعِ عَلَى أَبِي عَبْدِ اللهِ ، فَإِنَّ الرَّجُلَ كَانَ تَقيّاً وَرِعاً، لاَ يَتَفَوَّهُ بِمِثلِ ذَلِكَ.

“Dan tidak pula seperti kitab Ar-Raddu ‘ala Al-Jahmiyyah yang palsu atas nama Abu 'Abdillah (Imam Ahmad). Sebab, beliau adalah seorang yang bertakwa dan seorang yang wara’. Beliau tidak mengucapkan kalimat seperti itu.” 
(Siyar A’lam An-Nubala, jilid 11, hal. 287)

Seolah mendapat angin segar, para pengikut kelompok asya’irah kemudian menyebarkan klaim mereka bahwa kitab bantahan pada kelompok jahmiyyah itu adalah palsu. Wajar, mereka berharap kitab itu adalah satu kepalsuan atas nama Imam Ahmad rahimahullah. Sebab Imam Ahmad rahimahullah yang dikenal sebagai imam ahlussunnah membongkar kesesatan kelompok jahmiyyah yang juga diyakini oleh para kelompok Asy’ari.

Hujjah mereka dengan menggunakan perkataan Imam Adz-Dzahabi rahimahullah ini sangat lemah. Sebab, penisbatan kitab tersebut kepada Imam Ahmad rahimahullah berdasarkan sanad yang tersambung kepada beliau. Dan itu tertulis dalam kitab-kitab para ulama madzhab hambali.

Contohnya, apa yang ditulis olah Imam Abu Ya’la Al-Hambali rahimahullah dalam Thabaqat Hanabilah, ketika menyebutkan Khadhir bin Mutsanna Al-Kindi, beliau berkata :

نقل عن عبد اللَّه بْن إمامنا أَحْمَد رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أشياء منها الرد عَلَى الجهمية

“Beliau telah menukil dari 'Abdullah bin Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu beberapa hal, diantaranya adalah Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah.” 
(Thabaqat Al-Hanabilah, jilid 1, hal.47-48, Daar Al-Ma’rifah-Beirut)

Jika merujuk pada kitab Al-'Arsy yang ditulis Imam Adz-Dzahabi rahimahullah beliau telah mengakui bahwa kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyah adalah karya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah yang dikumpulkan dan diriwayatkan oleh anaknya. Ketika menjadikan perkataan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah sebagai hujjah bahwa Allah 'Azza wajalla berada di atas 'Arsy secara hakikat, beliau berkata :

وقال الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله في كتاب الرد على الجهمية مما جمعه ورواه عبد الله  ابنه عنه

“Dan telah berkata Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah yang dikumpulkan dan diriwayatkan oleh anaknya yang bernama 'Abdullah darinya.” 
(Al-'Arsy, tahqiq Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi, jilid 2, hal. 1, Adhwaa As-Salaf-Riyadh, cet. 1, 1420 H)

Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi hafizahahullah seorang ketua badan Riset Ilmiah Universitas Islam Madinah berkata : 
“Penisbatan kitab Al-'Arsy pada Imam Adz-Dzahabi rahimahullah sangatlah jelas, dan hal itu dapat dipastikan dengen beberapa kenyataan:

Pertama, dalam semua naskah manuskrip yang kami jadikan sebagai sandarannya semuanya menyebut secara tegas bahwa kitab tersebut ditulis oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah.

Dua, penyebutan secara tegas dari sejumlah ahli sejarah dalam kitab-kitab mereka seperti Al-Minhal Ash-Shafi, Raunaq Al-Fazh karya Sabth bin Hajr rahimahullah, Syadzaratu Adz-Dzahab karya Ibnu ‘Imad rahimahullah, Kasyfu Azh-Zhunun karya Haji Khalifah rahimahullah, Hidayatu Al-Arifin karya Al-Baghdadi rahimahullah dan beberapa ulama sejarah lainnya.

Tiga, pernyataan secara tegas dari ulama yang menukil kitab tersebut dan mengambil faidah darinya dan yang menisbatkannya pada Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, seperti yang dilakukan oleh Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam Ijtima’ Juyusy Al-Islamiyah dan Imam As-Safarini rahimahullah dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah.

Empat, periwayatan hadits dan atsar yang dilakukan oleh penulis bersambung dari guru-gurunya yang sangat terkenal ia mengambil dari mereka.

Lima, beberapa komentar yang sama dalam kitab Al-'Uluw dan kitab Arba'in fi Shifati Rabb Al-‘Alamin terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan sifat Fauqiyah Allah. Hal ini karena penulisnya sama. 
(Al-'Arsy, tahqiq Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi, jilid 1, hal. 348-349, Adhwaa As-Salaf-Riyadh, cet. 1, 1420 H)

Jadi, tidak tepat menolak penisbatan kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyyah dengan menggunakan perkataan Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di atas. Hal itu karena dua alasan :

Pertama, Imam Adz-Dzahabi rahimahullah tidak menjelaskan alasan yang berkaitan dengan data dan sanad periwayatan buku, justru malah cenderung pada alasan yang bersifat perasaan dan prasangka yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan isi dan sanad kitab. 

Kedua, beliau telah mengakui kitab itu dinisbatkan pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitab Al-'Arsy yang beliau tulis. Ini membatalkan apa yang beliau sebut pada kitab Siyar A’lam An-Nubala.

Para pengikut kelompok asy’ari juga berhujjah dengan lemahnya jalur sanad penisbatan kitab tersebut. Kata mereka, periwayatan kitab tersebut melalui jalur Khadir bin Mutsanna Al-Kindi rahimahullah yakni seorang yang majhul.

Menjawab pernyataan tersebut, Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata :

أَحَدُهَا: أَنَّ الْخَضِرَ هَذَا قَدْ عَرَفَهُ الْخَلَّالُ وَرَوَى عَنْهُ كَمَا رَوَى كَلَامَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَصْحَابِهِ وَأَصْحَابِ أَصْحَابِهِ وَلَا يَضُرُّ جَهَالَةُ غَيْرِهِ لَهُ. الثَّانِي: أَنَّ الْخَلَّالَ قَدْ قَالَ كَتَبْتُهُ مِنْ خَطِّ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ وَكَتَبَهُ عَبْدُ اللَّهِ مِنْ خَطِّ أَبِيهِ، وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْخَلَّالَ إِنَّمَا رَوَاهُ عَنِ الْخَضِرِ لِأَنَّهُ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ مُتَّصِلَ السَّنَدِ عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ النَّقْلِ وَضَمَّ ذَلِكَ إِلَى الْوِجَادَةِ، وَالْخَضِرُ كَانَ صَغِيرًا حِينَ سَمِعَهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ وَلَمْ يَكُنْ مِنَ الْمُعَمَّرِينَ الْمَشْهُورِينَ بِالْعِلْمِ وَلَا هُوَ مِنَ الشُّيُوخِ وَقَدْ رَوَى الْخَلَّالُ عَنْهُ غَيْرَ هَذَا فِي جَامِعِهِ

“Pertama, Khadhir rahimahullah adalah seorang yang telah dikenal oleh Al-Khallal rahimahullah dan beliau meriwayatkan darinya perkataan Imam Abu 'Abdillah Ahmad bin Hambal rahimahullah dan dari sahabat-sahabatnya serta dari sahabat dari sahabatnya. Sehingga, ketidaktahuan orang lain terhadap beliau tidak berpengaruh pada validitas riwayat itu, karena telah dikenal oleh Al-Khallal. Kedua, Al-Khallal rahimahullah telah berkata bahwa ia telah menulis kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah itu berdasarkan apa yang telah ditulis oleh 'Abdullah bin Imam Ahmad  rahimahummallah dan 'Abdullah menulis kitab itu berdasarkan tulisan tangan dari bapaknya yaitu Imam Ahmad. Olehnya, Al-Khallal rahimahullah meriwayatkan dari Khadhir karena beliau menyukai agar sanadnya bersambung sebagaimana cara pada ahli naql (ahli hadits), yaitu dengan metode wijadah. Ketika mendengarkannya dari 'Abdullah, Khadhir masih kecil dan belum dikenal begitupula dengan ilmunya. Namun Al-Khallal rahimahullah (telah mengenalnya) dan beliau meriwayatkan dari beliau beberapa hal selain kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah ini dalam Jami’nya.” 
(Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah, hal. 148, Ibda’ Li Al-I’lam wa An-Nasyr-Kairo, cet. 2, 1441 H)

Yang menguatkan benarnya penisbatan kitab ini pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah adalah apa yang disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dalam Thabaqatnya, beliau berkata : 
“Aku membaca pada kitab Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin Shalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal; Telah menceritakan kepadaku pamanku yaitu Zuhair bin Shalih, ia berkata : 

“Ayahku, Shalih bin Ahmad telah membacakan kepadaku, kitab ini ditulis oleh ayahku (Imam Ahmad) dalam majelisnya (dalam nukilan Al-Hafizh Ibnu Qayyim tertulis “محبسه” yang bermakna dalam penjara) membantah orang-orang yang berhujjah dengan menggunakan zhahir Al-Qur’an dan meninggalkan apa yang ditafsirkan oleh Rasululullah  shallallahu ‘alaihi wasallam.” 
(Thabaqat Al-Hanabilah, jilid 1, hal. 65, Daar Al-Ma’rifah-Beirut)

Perkataan Imam Abu Ya’la rahimahullah ini juga dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah yang mempertegas penisbatan kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyyah tersebut pada Imam Ahmad. (Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah, hal. 149, Ibda’ li Al-I’lam wa An-Nasyr-Kairo, cet. 2, 1441 H)

Di kalangan ulama madzhab Hambali tidak ada yang menafikan kitab ini penisbatannya kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Justru yang menafikannya adalah orang-orang yang berpemahaman sama dengan kelompok jahmiyyah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

الرَّدِّ عَلَى الزَّنَادِقَةِ وَالْجَهْمِيَّة فِيمَا شَكَّتْ فِيهِ مِنْ مُتَشَابِهِ الْقُرْآنِ وَتَأَوَّلَتْهُ عَلَى غَيْرِ تَأْوِيلِهِ " مِمَّا كَتَبَهُ فِي حَبْسِهِ - وَقَدْ ذَكَرَهُ الْخَلَّالُ فِي " كِتَابِ السُّنَّةِ " وَالْقَاضِي أَبُو يَعْلَى؛ وَأَبُو الْفَضْلِ التَّمِيمِيُّ؛ وَأَبُو الْوَفَاءِ ابْنُ عَقِيلٍ؛ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ أَحْمَد وَلَمْ يَنْفِهِ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَنْهُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ

“Kitab Radd ‘ala Al-Jahmiyyah yang ditulis oleh beliau ketika berada dalam penjara, telah disebutkan oleh Al-Khallal rahimahullah dalam kitabnya As-Sunnah, juga oleh Imam Al-Qadhi Abu Ya’la, Abu Al-Fadhl At-Tamimi, Abu Al-Wafa Ibnu ‘Aqil dan selain dari mereka dari kalangan ulama madzhab Hambali. Tidak ada seorangpun yang menafikan bahwa kitab itu adalah karya beliau, alhamdulillah.” 
(Majmu’at Al-Fatawa, Tahqiq Farid 'Abdul 'Aziz Al-Jundi dan Asyraf Jalaluddin Asy-Syarqawi, jilid 10, hal. 253, Daar Al-Hadits-Kairo, 1435 H)

Imam As-Safarini rahimahullah berkata :

وَقَدْ ذَكَرَ كِتَابَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ هَذَا أَئِمَّةُ الْمَذْهَبِ، قَالَ الْخَلَّالُ: كَتَبْتُ هَذَا الْكِتَابَ مِنْ خَطِّ عَبْدِ اللَّهِ، وَكَتَبَهُ عَبْدُ اللَّهِ مِنْ خَطِّ أَبِيهِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَاحْتَجَّ الْقَاضِي أَبُو يَعْلَى فِي كِتَابِهِ " إِبْطَالِ التَّأْوِيلِ " بِمَا نَقَلَهُ مِنْهُ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ. وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي كِتَابِهِ بَعْضَ مَا فِيهِ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ، وَنَقَلَ مِنْهُ أَصْحَابُهُ قَدِيمًا وَحَدِيثًا، وَنَقَلَ مِنْهُ الْإِمَامُ الْحَافِظُ الْبَيْهَقِيُّ، وَعَزَاهُ إِلَى الْإِمَامِ أَحْمَدَ، وَصَحَّحَ هَذَا الْكِتَابَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ، وَاعْتَمَدَهُ الْإِمَامُ الْمُحَقِّقُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي جُلِّ تَآلِيفِهِ، وَصَحَّحَهُ فِي كِتَابِهِ " الْجُيُوشِ الْإِسْلَامِيَّةِ "، وَقَالَ: لَمْ يُسْمَعْ مِنْ أَحَدٍ مِنْ مُتَقَدِّمِي أَصْحَابِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَلَا مُتَأَخِّرِيهِمْ طَعْنٌ فِيهِ

“Para imam madzhab telah menyebutkan kitab Imam Ahmad. Imam Al-Khallal rahimahullah berkata, “Aku telah menulis kitab ini berdasarkan tulisan tangan 'Abdullah. Dan 'Abdullah rahimahullah menulisnya berdasarkan tulisan tangan Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu. Imam Abu Ya’la berhujjah dengannya dalam kitab Ibthaal At-Ta’wil berdasarkan apa yang ia nukil dari kitab itu dari Imam Ahmad rahimahullah. Ibnu Aqil juga menyebutkan sebagiannya dalam kitabnya dari Imam Ahmad rahimahullah lalu dinukil oleh ulama madzhab dari kalangan terdahulu hingga sekarang. Dinukil pula oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah lalu menisbatkannya pada Imam Ahmad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga membenarkan kitab ini dari Imam Ahmad. Imam muhaqqiq Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjadikannya sebagai hujjah dalam kitabnya ‘Juyusy Al-Islamiyah” dan beliau berkata, “Belum pernah didengar seorangpun dari ulama madzhab Hambali kalangan awal dan kalangan belakangan yang mencela apa yang ada di dalamnya.” 
(Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah, Tahqiq Khalid bin Muhammad bin Zhahir Al-Qahthani dan Ismail bin Ghishab Al-Adawi, jilid 1, hal. 281-282, Daar At-Tauhid li An-Nasyr-Riyadh, cet. 1, 1437 H) 

Tidak saja ulama madzhab Hambali yang mengakui kitab tersebut penisbatannya kepada Imam Ahmad rahimahullah, tapi juga ulama-ulama besar lintas madzhab yang memiliki perhatian besar dan ketelitian yang tinggi terhadap kitab-kitab ulama. Diantaranya adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah dan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalani rahimahullah berkata :

أَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ أَنَّهُ لَمْ يَزَلْ يَتَكَلَّمْ إِذَا شَاءَ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَحْمَدُ فِي كِتَابِ الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ

“Sesungguhnya kalam Allah ''Azza wajalla bukanlah makhluk. Allah 'Azza wajalla senantiasa berkalam, jika ia berkehendak. Imam Ahmad rahimahullah telah menyebutkan hal ini dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah.” 
(Fathu Al-Bari Syarh Shahih Bukhari, jilid 13, hal. 608, Daar As-Salam-Riyadh, cet. 1, 1421 H)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

اخْتَلَفَ الْمُفَسِّرُونَ فِي مِقْدَارِ هَذِهِ السِّتَّةِ الْأَيَّامِ عَلَى قَوْلَيْنِ.فَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّهَا كَأَيَّامِنَا هَذِهِ.وَعَنِ ابْنِ عبَّاس، وَمُجَاهِدٍ وَالضَّحَّاكِ، وَكَعْبِ الْأَحْبَارِ: أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ مِنْهَا كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ. رَوَاهُنَّ ابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَاخْتَارَ هَذَا الْقَوْلَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي كِتَابِهِ الَّذِي ردَّ فِيهِ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ

“Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai kadar 6 hari ini pada dua pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hari-hari itu seperti hari-hari kita. Sedangkan pendapat dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu, Mujahid rahimahullah, Adh-Dhahhak rahimahullah, dan Ka’ab Al-Ahbar rahimahullah, bahwa setiap hari tersebut sama dengan seribu tahun dalam hitungan manusia. Ibnu Jarir rahimahullah dan Ibnu Abi Hatim rahimahullah meriwayatkannya, serta dipilih oleh Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana beliau sebutkan dalam bukunya yang menjadi bantahan terhadap kelompok jahmiyyah.” 
(Al-Bidayah wa An-Nihayah, tahqiq Muhammad Samih 'Umar, jilid 1, hal. 18, Ibda’ li Al-I’lam wa An-Nasyr-Kairo, cet. 20, 1442 H)

Jadi, penisbatan kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah adalah benar pada Imam Ahmad rahimahullah. Adapun orang-orang yang menyebarkan kepalsuan penisbatan itu besar kemungkinan adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sama dengan kelompok jahmiyyah seperti kelompok Asya’irah mutaakhkhirin. 

Allahu a’lam

Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata:

Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata:

di-share kepadaku lewat WA, semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada yang mengirimkannya ...

“Jika tak kau bunuh pun, sudah pasti ia mati.”

Tatkala Ibrahim (bin Muhammad ‘Ali) Pasha telah membunuh Syaikh Sulaiman bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, ia pun ingin membangkitkan amarah Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, ayah dari Syaikh Sulaiman yang dibunuhnya itu ... 

Ibrahim Pasha berkata kepada Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, “Kami telah membunuh Sulaiman, anakmu!”

Maka Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab menjawab dengan sepenuh keyakinan, keikhlasan, dan keimanan, “Jika tak kau bunuh pun, sudah pasti ia mati.”

Syaikh al-Bassam –rahimahullah- berkata mengomentari kisah tersebut, “Kalimat tulus yang keluar dari mukmin pemberani ini mencapai sasaran yang tak tercapai oleh panah yang tajam, sehingga Ibrahim Pasha pun mengulang-ulang kalimat itu dengan lisannya seraya terus merenungkannya.”

Berkata Syaikh al-Bassam:
Aku membaca pada sebagian babad Mesir bahwa tatkala Ibrahim Pasha kembali ke Kairo setelah memerangi Dir’iyah, para ulama dan guru-guru al-Azhar datang menemuinya untuk mengucapkan selamat kepadanya. Akan tetapi, Ibrahim Pasha sama sekali tak berpaling kepada mereka dan tidak juga menghiraukan mereka. Dan ketika ia ditanya tentang sikapnya terhadap para ulama dan guru-guru al-Azhar itu, ia menjawab, “Para ulama yang hakiki itu ada di sahara Nejd.” Ia mengatakan itu setelah melihat langsung keyakinan para ulama Nejd, ketulusan mereka, dan peneladanan mereka terhadap ahwal para salaf yang awal.”

Sumber: ‘Ulama’ Najd Khilal Tsamaniyah Qurun, juz 1 halaman 177 ...

-ibn tato-

#dakwah_ulama_nejd
#tauhid
#manhaj_salaf

Dalam shalat berjamaah, apakah imam wajib berada di posisi depan? Ada tiga madzhab......

Dalam shalat berjamaah, apakah imam wajib berada di posisi depan? Ada tiga madzhab...... 

Dan salah satu _wajh_ dalam hanabilah, yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak wajib dalam kondisi ramai.... 

Dan pendapat ini yang pernah disampaikan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Qosim setelah shalat isya, sebelum tarawih di masjid nabawi, saat Masjid Nabawi sangat penuh di tanggal 27 Ramadhan kemaren..... Wallahu a'lam

Sumber kitab al-i'timam bi imam al-harom
Ustadz ahbib sholih

Kitab Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 37 jilid cetakan dar qasim (cetakan yang mu'tamad)

Bismillah kitab ready stok...

Pemesanan :
wa.me/6282181249725
Andre Satya Winatra
#Maktabah_Riyadhus_Shalihin 
#Menyediakan_Kitab_Arab_dan_buku_terjemahan
#Pusat_Informasi_Haji_dan_Umroh
#Dilarang_Copas_Tulisan_Tanpa_Izin

• كتاب : مجموعة الفتاوى شيخ الاسلام ابن تيمية

• تأليف : تقي الدين أحمد بن تيمية الحراني

• تحقيق : الشيخ عبدالرحمن بن قاسم الحنبلى النجدى 

𝗦𝗽𝗲𝘀𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 : 37 Jilid || Kertas putih || 18.835 Halaman || Diterbitkan Dar Qasim KSA

• Review Kitab 
https://youtu.be/IaYI5jjVmWE

• Kitab Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 37 jilid cetakan dar qasim (cetakan yang mu'tamad). 

• Pertama kali dikumpulkan oleh Syaikh Abdurrahman Qosim al-Hanbali an-Najdi Kemudian setelah itu dilanjutkan oleh anaknya, Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim an Najdi -rahimahumullah-. 

• Pengumpulan Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
menghabiskan waktu selama 40 tahun. Baik didalam mengumpulkan manuskrip, menyusun sampai mencetaknya. Awal mula mengumpulkan manuskripnya pada tahun 1340 H sampai 1380 H.

• Seluruh apa yang ada didalam Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah tulisan beliau tanpa ada keraguan. Keshahihan nisbat fatwa dan tulisan beliau dapat dipastikan diantaranya melalui ijazah & riwayat. Tulisan dan fatwa fatwa beliau diriwayatkan secara tasalsul /bersambung kepada kita. Diantara yang meriwayatkan tulisan dan fatwa fatwa Ibnu Taimiyyah adalah adz Dzahabi, Ibnu Hajar, Zakariyya al Anshari, Muhammad bin Abdul Wahhab, dan Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh. Yang membimbing Syaikh Muhammad bin Abdurrahman dalam mengumpulkan fatwa Syaikhul Islam adalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Tatkala syaikh Muhammad bin Abdurrahman memiliki kendala, maka beliau bertanya kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh.

• Seluruh manuskrip fatwa dan tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sekarang berada dirumah Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad bin Abdurrahman al Qasim.

• Jumlah hadits yang dijelaskan dan dicantumkan oleh Syaikhul Islam dalam kumpulan fatwa beliau mencapai 7000 hadits. 

• Kisah penulisan kitab ini bisa dibaca selegkapnya di https://www.alquranpedia.org/2020/06/kitab-majmu-fatawa-ibnu-taimiyyah.html?m=1 atau https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=675260843043581&id=100016790144202&mibextid=Nif5oz

Penyesalan Ahlul KalamImam Asy Syaukani (w. 1250 H) rahimahullah berkata :

Penyesalan Ahlul Kalam

Imam Asy Syaukani (w. 1250 H) rahimahullah berkata : 
“Aku melahap kitab-kitab karangan para ahli filsafat/kalam yang bermacam-macam dengan harapan pulang dapat ilmu yang bermanfaat dan dapat keuntungan. Ternyata aku tidak mendapatkan apa-apa dari semua itu, selain kekecewaan dan kebingungan. Hal itulah yang menjadikan aku cinta (kembali) kepada madzhab salaf, setelah dulunya aku pernah ada di salaf, tetapi saat itu aku ingin tambah memahami dan menguasai (dengan belajar filsafat). Maka pada saat itu aku katakan: hasil akhir dari penelitianku dari pandanganku setelah lama merenung, adalah berdiri di antara persimpangan jalan yang bimbang, tidaklah ilmu orang yang belum bertemu selain kebimbangan, padahal sebelumnya aku telah melalui di tengah-tengahnya. Dan tidaklah aku puas sebelum menyelaminya.”
(At-Tuhaf fii Madzahib As-Salaf)

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah berkata :

إنني قد سلكت الطريقة النقشبنديــة ، وعرفت الخفي والأخفى من لطائفها وأسرارها ، وخضت بحر التصوف ورأيت ما استقر باطنه من الدرر ، وما تقذف أمواجه من الجيف ، ثم انتهيت إلى مذهــــب السلــــف الصالحين ، وعلمت أن كل ما خالفه فهو ضلال مبين

“Sesungguhnya saya telah menempuh tarekat An-Naqsyabandiyyah dan saya telah mengenali yang tersembunyi dan yang paling tersembunyi dari misteri-misteri dan rahasia-rahasianya. Saya telah mengarungi lautan tasawuf dan telah meneropong intan-intan di dalamnya yang masih kokoh dan buih-buihnya yang terlempar ombak. Namun pada akhirnya petualangan itu berakhir pada madzhab salafush shalih dan tahulah aku bahwa setiap yang bertentangan dengannya adalah kesesatan yang nyata.”
(Majalah Al-Manar. Edisi Rajab. Tahun 1326 H)

Imam Ath-Thahawi rahimahullah ta'ala :

فَيَتَذَبْذَبُ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ، وَالتَّصْدِيقِ وَالتَّكْذِيبِ، وَالْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ، مُوَسْوِسًا تَائِهًا، شَاكًّا زَائِغًا، لَا مُؤْمِنًا مُصَدِّقًا، وَلَا جَاحِدًا مُكَذِّبً.

"Maka bagi (ahli kalam) merasa bimbang berada di antara kekufuran dan keimanan, pembenaran dan kedustaan, serta menerima atau ingkar, di mana ia merasa gelisah dengan kesesatannya, keraguan dan penyimpangannya. Ia bukan seorang mukmin yang jujur bukan pula orang yang ingkar yang pendusta."
(Syarh At-Thahawy Ibnu Abil 'Izz, 1/242)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata :
"Ilmu kalam disebut demikian karena mereka terlalu banyak kalam (bicara) dan terlalu banyak argumen. Padahal perkara yang dibahas sederhana saja. Namun anda dapati mereka membahas satu masalah akidah kemudian menulisnya berlembar-lembar tanpa ujung dan tanpa faedah. Mereka membahas muqaddimah dan konsekuensi yang panjang lebar, yang andaikan itu tidak ada, tentu akan lebih baik dan lebih berkah. Oleh karena itu kebanyakan ulama kalam yang mencapai puncak ilmu kalam, justru mereka menyesal. 
(Ta'liq 'ala Muqaddimah Al Majmu', hal. 74)

SYAMATAH

SYAMATAH 

Senang dengan kesesatan orang lain itu disebut syamatah (الشماتة). Dan syamatah adalah akhlak tercela.

Ats Tsa'alibi mengatakan:

لا تُظهِرِ الشَّماتةَ بأخيك فيُعافيَه اللَّهُ ويبتليَك

"Jangan engkau tampakkan rasa senang atas musibah yang menimpa saudaramu. Karena bisa jadi setelah itu Allah selamatkan dia, lalu Allah timpakan kepadamu" (At Tamtsil wal Muhadharah, 433).

Ibrahim An Nakha'i mengatakan:

إنِّي لأرى الشَّيءَ أكرَهُه، فما يمنعني أن أتكَلَّمَ فيه إلَّا مخافةُ أن أُبتلى بمِثلِه

"Aku pernah melihat sesuatu yang tidak aku sukai, dan tidak ada yang menghalangi aku untuk membicarakannya kecuali perasaan khawatirku bahwa hal tersebut akan menimpaku" (Syu'abul Iman, 6353).