Rabu, 31 Mei 2023

Selasa, 30 Mei 2023

Diantara syarat mutlak dalam beramar ma'ruf dan nahi Munkar adalah ilmu. Hal ini mencakup ilmu tentang:

 Diantara syarat mutlak dalam beramar ma'ruf dan nahi Munkar adalah ilmu. Hal ini mencakup ilmu tentang:

1. Perkara yg ma'ruf dan perkara yg Munkar yg akan di sampaikan. Sehingga tidak salah dalam menempatkannya. Jangan sampai sesuatu yg ma'ruf secara syariat di katakan Munkar dan yg Munkar di katakan ma'ruf.
2. Dampak yg akan terjadi. Sehingga jika kemunkaran itu di ingkari tidak menimbulkan kemunkaran yg lebih besar.
3. Obyek (mad'u)nya. Sehingga dapat meletakkan uslub (gaya) bahasa yg pantas yg sesuai pada tempatnya.
Ketiga perkara ini semua telah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Utk no 1, tentunya beliau orang yg paling tahu tentang hal itu.
Utk no 2, beliau telah di larang untuk mencaci maki sesembahan orang² kafir, yg dengannya mereka nantinya akan mencaci maki Allah tanpa ilmu.
Utk no 3, beliau membedakan gaya bahasa kepada para a'roby dan orang² yg baru masuk Islam dengan sebagian sahabat yg sudah lama masuk Islam dan sudah banyak memiliki ilmu. Contohnya ucapan beliau kepada Mu'adz bin Jabal yg salah dalam tindakannya ketika mengimami kaumnya. Begitu juga kepada Usamah bin Zaid yg salah dalam tindakannya ketika membunuh musuh yg mengucapkan kalimat tauhid, dan yg lainnya.
Jadi, sebelum beramar ma'ruf nahi Munkar, hendaknya kita mengilmui terlebih dahulu ketiga perkara di atas. Agar kita tidak salah dalam bertindak.
Semoga bermanfaat..
Wallahu waliyut taufiq
ustadz abu yahya tomi
Semua tanggapa

Peduli atas Kekurangan Diri

 Peduli atas Kekurangan Diri

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,
من أعظم المصائب للرجل أن يعلم من نفسه تقصيرا و لا يبالي و لا يحزن عليه
"Termasuk musibah paling besar yang menimpa seseorang adalah, ia tahu adanya kekurangan pada dirinya namun ia tidak peduli dan tidak pula sedih karenanya".
Al-Baihaqi, dalam Syu'abul Iman, hlm. 867
ustadz elfuady

Ikutilah dalil di manapun, walopun menyelisihi madzhabmu dan pendapatmu - Syekh Ibn Utsaimin , syarh umdatul ahkam 2/ 248-

 

ustadz abu sa,dy

Ikutilah dalil di manapun, walopun menyelisihi madzhabmu dan pendapatmu - Syekh Ibn Utsaimin , syarh umdatul ahkam 2/ 248-

ustadz abu sa,dy

Di antara lafazh jarh (celaan) "Kecil rasa malu nya".

 Di antara lafazh jarh (celaan)

"Kecil rasa malu nya".
Para nuqqod mensifatkan dengan kalimat ini kepada rowi yg sengaja memalsukan (hadits). Terlebih² apabila kepalsuannya tersingkap. Dan mereka (para nuqqod) juga mensifatkan dengan sifat tersebut kepada mereka (para rowi) yg sangat buruk yg mencela sahabat dan yg mengajak kepada kebatilan.
-----------------------
Ana katakan: ini merupakan ucapan yg lembut namun menusuk..maka berhati-hatilah jika kalimat ini di sematkan kepada kita dari kalangan ahli ilmu yg tsiqat. Segeralah beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari kesalahan kita..
ustadz abu yahya tomi


BERDAKWAH, NAMUN TIDAK MENDAKWAHKAN TAUHID

 BERDAKWAH, NAMUN TIDAK MENDAKWAHKAN TAUHID

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ditanya, “Fadhilatus syaikh, bagaimana pandangan anda mengenai sebagian da’i yang tidak mendakwahkan tauhid. Namun mereka hanya mendakwahkan akhlak mulia dalam mayoritas ceramah dan khutbah mereka”.
Beliau menjawab:
“Dakwah yang demikian tidaklah bermanfaat sama sekali. Ini sebagaimana badan yang tidak ada kepalanya, maka ia menjadi mayit. Badan jika tidak ada kepalanya, maka bagian badan lainnya tidak bermanfaat. Dakwah yang tidak mendakwahkan tauhid, itu semisal dengan badan yang tidak ada kepalanya. Melelahkan namun tidak ada faidahnya.
Kalau ada orang yang baik akhlaknya, suka bersedekah, mengerjakan shalat, namun ia berbuat kesyirikan, tidak akan diterima semua amalannya. Karena yang membuat amalan menjadi sah adalah tauhid. Dan yang membatalkan amalan-amalan ialah syirik. Maka wajib kita memberikan perhatian pada dakwah tauhid ini.
Berdakwah tanpa dakwah tauhid, sama saja tidak berdakwah. Bahkan berdakwah tanpa dakwah tauhid, tidak adanya lebih baik daripada adanya. Karena ini memperdaya manusia, orang-orang mengira dakwah demikianlah yang benar.
Tidak ada Rasul yang tidak memulai dakwahnya dengan tauhid. Silakan anda perhatikan dakwah para Rasul, dari yang terdahulu hingga yang terakhir yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, mereka demikian (mendakwahkan tauhid)”.
***
Join channel TG @fawaid_kangaswad dan @silsilahsahihah
Follow twitter @kangaswad
Subscribe channel youtube.com/yulianpurnama

Kekuatan Seseorang Da’i

 Kekuatan Seseorang Da’i

📝 Syaikh Dr. Utsman al-Khamis حفظه الله menyebutkan ada 5 perkara yang harus dimiliki oleh setiap da’i agar dakwahnya sukses:
1. Keikhlashan الإخلاص
2. Kekuatan القوة
3. Ilmu العلم
4. Kelemah Lembutan الرفق
5. Kesabaran الصبر
📝 Imam adz-Dzahabi رحمه الله berkata,
يحتاج من يدعو إلى الله تبارك وتعالى إلى إخلاص وقوّة
“Orang yang mengajak manusia kepada Allah membutuhkan keikhlasan dan kekuatan”
📝 Orang yang kuat tanpa keikhlasan akan terhina
Orang yang ikhlas tanpa kekuatan akan melemah
📝 Adapun hal terbesar yang memberikanmu kekuatan dan keberanian dalam berdakwah kepada Allah adalah BERIMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
📝 Beriman kepada qadha dan qadhar, ketika engkau yakin bahwa tidak ada sesuatu adapun yang terjadi pada kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan, apakah setelah itu engkau masih takut terhadap seseorang ?? Maka engkau tidak akan takut kepada siapa pun, tidak ada seorang pun yang bisa menyakitiku. Ingatlah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas,
اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’”(HR. at-Tirmidzi)
📝 Jika seseorang memahami hadits di atas, maka urusannya akan sederhana. Maka tidak ada yang bisa membahayakanmu; keluargamu, tetanggamu, masyaraktmu, bahkan manusia seluruhnya !!
📝 Seluruh perkara di tangan Allah, ENGKAU TIDAK MEMILIKI APA-APA.
📝 Ingatlah kisah Sa’ib bin Jubair رحمه الله murid Ibnu Abbas رضي الله عنه, tatkala ia ditangkapi oleh al-Hajjaj bin Yusuf dan ingin membunuhnya. Lalu al-Hajjaj berkata, “Siapa engkau?”
Sa’id bin Jubair pun menjawab, “Aku Sa’id bin Jubair.”
Hajjaj mengatakan, “Bukan, akan tetapi engkau adalah Syaqiy bin Kusair” (namanya dirubah dan dibalik oleh Hajjaj dengan tujuan merendahkan)
Maka Sa’id membantah, “Aku tetap seperti yang dinamakan oleh ayahku.”
Hajjaj pun melanjutkan, “Aku akan membunuhmu.”
Sa’id menjawab, “Berbuatlah sesukamu !”
Hajjaj kembali berkata, “Pilihlah dengan cara apa engkau akan dibunuh !”
Sa’id menjawab, “Engkau saja yang tentukan, sungguh dibelakang ada qishash !”
Maka Hajjaj dengan emosi berkata, “Aku akan mengirimimu ke Neraka Jahannam.”
Sa’id menimpali, “Sekiranya neraka di tanganmu, maka aku pasti akan menjadikanmu sebagai Tuhan yang disembah. Engkau tidak punya apa-apa.”
Maka akhirnya al-Hajjaj pun memerintahkan agar Sa’id bin Jubair رحمه الله dibunuh.
Lihatlah Sa’id bin Jubair yang ia tahu akan dibunuh oleh Hajjaj, tidak gentar dan takut, kuat dan berani.
📝 Kita pun tau kisah Nuh ‘alaihissalam, lihatlah bagaimana dia menantang kaumnya
وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِى وَتَذْكِيرِى بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوٓا۟ أَمْرَكُمْ وَشُرَكَآءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ ٱقْضُوٓا۟ إِلَىَّ وَلَا تُنظِرُونِ
Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. Yunus: 71)
Maka sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa mukjizat Nuh adalah at-Tahaddi (tatkala Nuh menantang kaumnya), sebagaimana pada ayat di atas. Tawakkal yang besar dan percayanya Nuh kepada Allah dengan penuh keyakinan. Apakah yang terjadi ?? Allah membinasakan mereka dan Allah menyelamatkan Nuh dan yang bersamanya.
📝 Apabila manusia beriman dengan qadha dan qadar, semua perkara di tangan Allah, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi, dan tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan maka dia tidak akan takut dengan siapa pun dan tidak akan berharap kepada siapa pun.
📝Ingatlah firman Allah,
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. al-Hadid: 23)
📝 Maka seorang mukmin jika mendapat hal yang menggembirakan dia akan akan mengatakan,
الحمد لله الذي بنعمته تتمّ الصالحات
“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan”
Adapun jika ditimpa keburukan maka dia mengatakan,
الحمد لله على كلّ حال
“Segala puji bagi Allah dalam seluruh keadaan”
Demikianlah urusannya menjadi mudah.
Akhukum Noviyardi Amarullah
Rabu, 11-11-1444 H / 31-5-2023