Minggu, 05 Maret 2023

PERSIAPAN SETAHUN KEMATIAN

PERSIAPAN SETAHUN KEMATIAN

Alhamdulillah sudah sampe dikampung halaman tadi sebelum Jumatan, cukup dikagetkan karena persiapan setahun kematian mbah sudah mulai hari ini, padahal acaranya masih Ahad malam, saya kira persiapannya masih ahad pagi.

Umat memang perlu terus menerus diedukasi tentang ketidak-tepatan perkara ini disebut sebagai Bidah Hasanah, minimal dimulai dari diri kita sendiri, yakni memutus tradisi keliru ini dari thabaqat kita. Karena kekeliruan perkara ini sudah diperingatkan oleh para ulama, misalnya (sbg contoh), Kadi Abu Bakr Ath-Thurthusi al-Maliki (w. 520 H), setelah menukil kalam Imam Asy-Syafii, ia berkata:

فأما المأتم، فممنوعة بإجماع العلماء، والمأتم هو الاجتماع على المصيبة، وهو بدعة منكرة، لم ينقل فيه شيء، وكذا ما بعده من الاجتماع في الثاني والثالث والرابع والسابع والشهر والسنة، فهو طامة
“Adapun acara ma’tam, maka itu dilarang berdasarkan ijmak ulama. Ma’tam adalah acara berkumpul atas musibah. Ia adalah bidah yang diingkari dan tidak ada penukilan dalam hal ini sedikit pun (dikalangan ulama Salaf Ahlusunah). Demikian pula acara ma’tam pada hari kedua, ketiga, keempat, ketujuh, sebulan, SETAHUN dari kematian. Itu adalah bencana.” [Al-Hawadis wal-Bida’: 130]

Ini baru dari segi “berkumpul pada acara kematian” saja sudah dibidahkan, adapun jamuan makanan dari keluarga mayit kepada orang² yang berkumpul itu juga dibidahkan. Misalnya (sbg contoh), sebagaimana yang diterangkan oleh Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (w. 676 H):

قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح أهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال ”كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة” رواه احمد بن حنبل وابن ماجه باسناد صحيح
“Berkata penulis kitab asy-Syamil dan lainnya: ‘Adapun perbuatan keluarga mayit membuat jamuan makanan dan mengumpulkan manusia atasnya, maka tidak pernah dinukil sedikit pun dari ulama Salaf. Acara tersebut adalah bidah yang tidak dianjurkan.’ Demikian ucapan penulis Asy-Syamil dan ini berdalilkan pada hadis Jarir bin Abdullah RA bahwa ia berkata: ‘Kami (para sahabat Nabi SAW) menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat jamuan makan setelah penguburannya termasuk perbuatan meratap mayit (yang tercela).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad sahih).” [Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab: 5/290]

Saya tahu bahwa dalam ritual Tahlilan yang dilakukan oleh kaum Aswaja “taat” itu ada amalan yang masyru', seperti mendoakan almarhum/ah. Tetapi mengumpulkan (mengundang) orang² dalam satu majelis, untuk membaca zikir dan sebagian Al-Quran (untuk dihadiahkan pahalanya) serta berdoa bersama², membuat berkat dan/ jamuan makan untuk para undangan, maka ini adalah bidah idhafiah, yakni menambah² dalam syariat dari segi cara, bentuk, kaifiat, dll. 

Salam Persahabatan,
Alfan Edogawa

Zakat fitrah perempuan yang masih dalam masa 'iddah?

Zakat fitrah perempuan yang masih dalam masa 'iddah? 

Jika perempuan ditalak oleh suaminya dengan talak raj'iy (talak 1 atau 2), selama masa iddahnya belum berakhir maka zakat fitrahnya tetap ditanggung oleh suaminya tsb. Begitu juga perempuan yang ditalak ba'in (talak 3) tetapi dalam kondisi hamil, jika ia belum melahirkan zakat fitrahnya tetap ditanggung oleh mantan suaminya tsb. Disebutkan oleh syaikh ba'isyan dalam Busyral karim. Wallahua'lam

@desrirandi

Tidak ada senjata syaithon bagi manusia semisal ketakutan pada kemiskinan, jika ini terjadi, maka manusia akan lemah dalam berbicara kebenaran dan suudzon pada Allah.

Sufyan Atssauri berkata:

Tidak ada senjata syaithon bagi manusia semisal ketakutan pada kemiskinan, jika ini terjadi, maka manusia akan lemah dalam berbicara kebenaran dan suudzon pada Allah..

Smg Allah hindarkan kita darinya....
Ustadz bagus

Sungguh ajib bagi seorang yang mengetahui shahabatnya yang mencintainya dan suka menasehatinya dan tidak di ketahuinya kecuali kebaikannya selama (lima puluh tahun)

Sungguh ajib bagi seorang yang mengetahui shahabatnya yang mencintainya dan suka menasehatinya dan tidak di ketahuinya kecuali kebaikannya selama (lima puluh tahun) kemudian datang seorang yang tidak di kenal nya dan mengabarkan tentang kejelekan nya lalu ia pun menerima dari kabar nya dan menjatuhkan orang yang telah dikenal nya.
Ustadz nurcholis 

Sabtu, 04 Maret 2023

TRILOGI TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH: AR-RUBUUBIYYAH, AL-ULUUHIYYAH, DAN AL-ASMAA' WA ASH-SHIFAAT

TRILOGI TAUHID DALAM MUHAMMADIYAH: AR-RUBUUBIYYAH, AL-ULUUHIYYAH, DAN AL-ASMAA' WA ASH-SHIFAAT

Di Dalam Buletin Dakwah Yang Dikeluarkan Oleh Majelis Tabligh Pimpinan  Pusat Muhammadiyah, Yaitu Buletin Berkala Tuntunan Islam, Yakni Di Dalam Rubrik Aqidah, Dijelaskan Padanya Tentang Tauhid:

"...Definisi Tauhid

Kata “tauhid” di dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata kerja wahhada-yuwahhidu-tawhidan, yang arti harfiyahnya: menyatukan, mengesakan, atau mengakui bahwa sesuatu itu satu. Dengan demikian, secara bahasa, tauhidullah berarti menyatukan Allah,  mengesakan Allah atau mengakui bahwa Allah itu satu. Sedangkan secara istilah, tauhidullah bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, serta tidak menyekutukan-Nya dengan apapun baik dalam hal rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, maupun asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya....

....Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-Hadits Nabi,  Para Ulama’ Al-Muwahhidin (Ahli Tauhid) pada umumnya membagi tauhidullah menjadi 3 macam, yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ Wa Shifat...."

[Lihat Berkala Tuntunan Islam: Membimbing Dan Mencerahkan Oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Edisi Ke-09, Tahun 2012, Halaman 17 Dan Halaman 19; Narasumber Tulisan: Ustadz Drs. Zaini Munir Fadhali, M.Ag.; Download Disini http://tabligh.muhammadiyah.or.id/download-berkala-tuntunan-islam-488.html ].

"...Tauhid Rububiyyah

Rububiyah adalah kata yang dinisbatkan kepada salah satu nama Allah SWT, yaitu rabb. Rabb mempunyai beberapa arti, antara lain: al-murabbi (pemelihara), an-nashir (penolong), al malik (pemilik), al-mushlih (yang mem perbaiki), as-sayyid (tuan) dan al-wali (pemimpin)

Dalam terminologi syariat Islam, istilah tauhid rububiyah berarti "Meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Pengendali alam raya, dengan takdir-Nya Allah menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan sunnah sunnah-Nya"..."

[Lihat Berkala Tuntunan Islam: Membimbing Dan Mencerahkan Oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Edisi Ke-09, Tahun 2012, Halaman 19; Narasumber Tulisan: Ustadz Drs. Zaini Munir Fadhali, M.Ag.].

"...Tauhid Uluhiyah

Kata uluhiyah diambil dari akar kata ilah yang berarti: yang disembah dan yang ditaati. Kata ilah digunakan untuk menyebut sesembahan baik yang hak maupun yang batil. Untuk sesembahan yang haq,...

...Tetapi kemudian pemakaian kata ilah lebih dominan digunakan untuk menyebut sesembahan yang hak sehingga makna nya berubah menjadi: Zat yang disembah sebagai bukti kecintaan, pengagungan dan pengakuan atas kebesaran-Nya. Dengan demikian, kata ilah mengandung dua makna: ibadah dan ketaatan.

Pengertian tauhid uluhiyah dalam terminologi syariat Islam sebenarnya tidak keluar dari kedua makna tersebut. Maka definisinya adalah: "Mengesakan Allah dalam beribadah dan ketaatan" Atau, mengesakan Allah dalam perbuatan seperti shalat, puasa, zakat, haji, nazar, menyembelih sembelihan, rasa takut, rasa harap dan cinta. Maksudnya semua itu dilakukan: yaitu bahwa kita melaksana kan perintah dan meninggalkan larangan Nya sebagai bukti ketaatan dan semata mata untuk mencari ridha Allah SWT...."

[Lihat Berkala Tuntunan Islam: Membimbing Dan Mencerahkan Oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Edisi Ke-09, Tahun 2012, Halaman 22; Narasumber Tulisan: Ustadz Drs. Zaini Munir Fadhali, M.Ag.].

"...Tauhid Asma' wa Sifaat

Kalimat asma' adalah bentuk jama' dari kalimat ism yang berati nama. Asma Allah berarti nama-nama Allah. Sedang kan kalimat sifaat bentuk jamak dari kata sifat yang berarti sifat. Kalimat sifat dalam bahasa Arab berbeda dengan kalimat sifat dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab kalimat sifaat mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sehingga sifaat bagi benda dalam bahasa Arab mencakup sifat benda itu sendiri, seperti besar kecilnya, tinggi rendahnya, warnanya, keelokannya, dan lain-lain. Juga mencakup apa yang dilakukannya, apa saja yang dimilikinya, keadaan, gerakan, dan informasi lainnya yang ada pada benda tersebut. Dengan demikian, kalimat sifat Allah mencakup perbuatanNya, kekuasaanNya, apa saja yang ada pada Dzat Allah, dan segala hal tentang Allah...

...Mengesakan Allah dalam hal nama nama dan sifat-sifatNya menuntut seseorang Muslim meyakini secara mantap bahwa Allah menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat kekurangan, dan bahwa Dia berbeda dengan seluruh makhluk-Nya. Caranya adalah dengan: Itsbatun yakni menetap kan (mengakui) nama-nama dan sifat-sifat Allah yang menunjukkan ke-Maha Sempurna-an Allah yang Dia sandangkan untuk Dirinya atau disandangkan oleh Rasulullah SAW; dan nafyun yakni meniadakan atau menolak nama-nama dan sifat-sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan Allah dengan tidak melakukan tahrif (pengubahan) lafazh atau maknanya, tidak ta'thil (pengabaian) yakni menyangkal seluruh atau sebagian nama dari sifat itu, tidak takyif (pengadaptasian) dengan menentukan esensi dan kondisinya, dan tidak tasybih (penyerupaan) dengan sifat-sifat makhluk...."

[Lihat Berkala Tuntunan Islam: Membimbing Dan Mencerahkan Oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Edisi Ke-10, Tahun 2012, Halaman 19 Hingga 20; Narasumber Tulisan: Ustadz Drs. Zaini Munir Fadhali, M.Ag.; Silahkan Unduh Disini http://tabligh.muhammadiyah.or.id/download-berkala-tuntunan-islam-545.html ].

Demikianlah, Konsep Trilogi Tauhid: Ar-Rubuubiyyah, Al-Uluuhiyyah, Dan Al-Asmaa' Wa Ash-Shifaat, Diterangkan Dalam Media Dakwah Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akan Tetapi, Tentu Harus Diingat, Yang Jadi Pegangan (Al-Mu'tamaad) Dalam Muhammadiyah Hanyalah Putusan/Fatwa Yang Bersumber Dari Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kita Tidak Cukup Hanya Berpegang Kepada Materi Dakwah Majelis Tabligh Muhammadiyah, Akan Tetapi Harus Merujuk Kepada Putusan-Putusan Tarjih Dan Fatwa-Fatwa Tarjih Dari Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 

Dalam Putusan-Putusan Tarjih Dan Fatwa-Fatwa Tarjih, Trilogi Tauhid Memang Ada Diajarkan Dan Ada Dijelaskan, Dengan Penjelasan Yang Terpisah-Pisah (Tidak Fokus Di Satu Tempat Pembahasan). 

Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Menyinggung Tentang Trilogi Tauhid Beberapa Kali Dalam Putusan/Fatwa Tarjih.

(1) Tauhid Ar-Rubuubiyyah.

Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berkata Dalam Putusan:

"Allah swt menciptakan manusia dan mendatangkan kepadanya para Rasul untuk memelihara kesatuan umat di muka bumi ini. Prinsip Tauhid dalam hal kesatuan ummat ini dapat dinyatakan sebagai bagian dari Tauhid Rububiyyah, yang dengannya Allah memelihara alam semesta termasuk manusia, dan menunjuk manusia menjadi khalifah untuk menegakkan keharmonisan, keseimbangan dan keadilan di muka bumi."

[Lihat Buku Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 3, Bab Fikih Kebencanaan, Halaman 638].

(2) Tauhid Al-Uluuhiyyah.

Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berkata Dalam Putusan:

"Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan. Tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Yang Esa tentang Uluhiyyah-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya."

[Lihat Buku Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 1, Bab Iman Kepada Allah, Halaman 14].

Kemudian, Aplikasi/Tathbiq/Penerapan Dari Tauhid Al-Uluuhiyyah Ini, Muhammadiyah Menghasilkan Beberapa Putusan/Fatwa Tarjih, Yaitu:

(a) Termasuk Syirik Adalah Mendatangi Kuburan Nabi Atau Orang Shalih Untuk Menjadikannya Wasilah (Perantara) Dalam Do'a Kepada Allah. 

•Lihat Buku Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 1, Kitab Jenazah, Pasal Ziarah Kubur, Halaman 235
•Lihat https://fatwatarjih.or.id/hukum-dan-tuntunan-ziarah-kubur/
•Ulasan Selengkapnya Bisa Dibaca Di Sini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1585877968414284&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

(b) Termasuk Kesyirikan Adalah BerIstighatsah (Meminta Bantuan) Kepada Orang Yang Telah Mati Dari Kalangan Nabi Maupun Orang Shalih, Contohnya Bacaan Do'a Nadi Ali Kabir. 

•Lihat Buku Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama, Jilid 2, Halaman 176 Sampai Halaman 178
•Lihat https://suaramuhammadiyah.id/2020/03/03/mengamalkan-doa-nadi-ali-kabir/
•Ulasan Selengkapnya Bisa Dibaca Disini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1587515408250540&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

(c) Termasuk Kesyirikan Adalah Menganggap Orang Yang Sudah Mati (Baik Nabi Ataupun Orang Shalih) Sebagai Sebab Yang Dipercayai Karenanyalah Terlepas Segala Kesulitan Dan Terpenuhi Segala Kebutuhan, Contohnya Bacaan Shalawat Nariyah. 

•Lihat https://suaramuhammadiyah.id/2019/08/28/shalawat-nariyah/amp/
•Ulasan Selengkapnya Dapat Dibaca Disini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1589796568022424&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

(d) Lihat Juga Postingan-Postingan Berikut Ini:

•Tauhid Buya Hamka: Termasuk Kesyirikan Adalah BerIstighatsah (Memohon Bantuan) Atau BerTawassul (Menjadikannya Perantara Dalam Berdo'a) Kepada Kuburan-Kuburan Baik Nabi Ataupun Orang Shalih.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1588219761513438&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Al-Uluuhiyyah Menurut Kiyai Haji Bey Arifin: Hanya Kepada Allah Lah Kita Menyembah, Memuja, Minta Tolong, Dan Beribadah, Tanpa Berbuat Syirik Sama Sekali, Baik Dengan Kuburan, Nabi, Malaikat, Ataupun Ulama. 
https://www.facebook.com/1749713045/posts/10203685297810191/?sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Buya Yunahar Ilyas: Termasuk Syirik Akbar Yang Tersembunyi Adalah Menjadikan Kuburan (Baik Nabi Ataupun Orang Shalih) Sebagai Perantara Do'a Kepada Allah. 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1588766191458795&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Ulama Muhammadiyah Adalah Penerjemah Pertama Kali Yang Mengalih-Bahasakan Kitab At-Tauhid Allaziy Huwa Haqqullahi 'Alal 'Abiid Karangan Syaikh Muhammad Bin 'Abdul Wahhab (Yang Padat Pembahasannya Tentang Tauhid Al-Uluuhiyyah) Ke Dalam Bahasa Indonesia. 
https://www.facebook.com/1749713045/posts/10207397274327284/?sfnsn=wiwspmo

•Ulama Muhammadiyah Adalah Pensyarah Pertama Kali Yang Menulis Buku Mensyarah Kitab At-Tauhid Alladziy Huwa Haqqullahi 'Alal 'Abiid Karangan Syaikh Muhammad Bin 'Abdul Wahhab (Yang Padat Pembahasannya Tentang Tauhid Al-Uluuhiyyah) Ke Dalam Bahasa Indonesia. 
https://www.facebook.com/1749713045/posts/10205921160385358/?sfnsn=wiwspmo

(3) Tauhid Al-Asmaa' Wa Ash-Shifaat. 

Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berkata Dalam Fatwa:

"Oleh karenanya untuk mendudukkan permasalahan ini, terlebih dahulu pemahaman yang mesti dibangun sebelumnya adalah pemahaman tentang konsep tauhid yang membicarakan tentang sifat Allah dan nama-nama-Nya (Tauhid al-Asma' wa al-Shifat). Dalam konsep Tauhid al-Asma' wa al-Shifat, Allah tidak diserupai oleh seorang pun dari makhluk-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Syura ayat 11."

[Lihat Majalah Suara Muhammadiyah, Edisi Nomor 7, Tahun 2013, Atau Lihat Artikel https://fatwatarjih.or.id/perbedaan-antara-tuhan-dan-makhluk/ Termuat Dalam Fatwa Tarjih.or.id].

Kemudian, Aplikasi/Tathbiq/Penerapan Dari Tauhid Al-Asmaa' Wa Ash-Shifaat Ini, Muhammadiyah Menghasilkan Beberapa Putusan/Fatwa Tarjih, Yaitu:

(a) Allah Bersemayam Di Atas 'Arsy-Nya Tanpa Perlu Ditanyakan "Bagaimana?".

•Lihat Buku Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama, Jilid 7, Bab 7, Halaman 160
•Lihat https://fatwatarjih.or.id/apakah-allah-bersemayam-di-atas-arsy/
•Lihat https://muhammadiyah.or.id/benarkah-allah-ada-di-atas-arsy/
•Ulasan Selengkapnya Dapat Dibaca Disini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1591141237887957&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

(b) Menerima Sifat-Sifat Allah Apa Adanya Sesuai Al-Qur'an Dan As-Sunnah Tanpa Menyerupakannya Dengan Sifat-Sifat Makhluk, Contohnya Tangan Allah Dan Wajah Allah. 

•Lihat Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 1, Kitab Iman, Pasal Iman Kepada Allah, Halaman 14
•Lihat https://fatwatarjih.or.id/perbedaan-antara-tuhan-dan-makhluk/
•Lihat https://fatwatarjih.or.id/maksud-al-kainat-dan-al-ikhtiar-dalam-hpt-muhammadiyah/
•Ulasan Selengkapnya Dapat Dibaca Di Sini https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1590450251290389&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

(c) Lihat Juga Postingan-Postingan Berikut Ini:

•Memahami Ta'wil Dalam Putusan Tarjih: Benarkah Asumsi Bahwa Salafiyyah Menolak Ta'wil Secara Keseluruhan? (Tulisan Ini Adalah Sanggahan Kepada Orang Yang Mengklaim Bahwa Muhammadiyah Itu Beraqidah Asy'ariyyah). 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1591816361153778&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Buya Hamka: Madzhab Salaf Adalah Menerima Sifat-Sifat Allah Apa Adanya Sesuai Qur'an Dan Sunnah Dengan Tanpa Menyerupakannya Dengan Sifat-Sifat Makhluk. 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1592656677736413&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Al-Asmaa' Wa Ash-Shifaat Menurut Kiyai Haji Bey Arifin: Allah Hanya Dikenali Melalui  Keterangan Al-Qur'an Dan As-Sunnah Apa Adanya, Tanpa Ta'wil (Tahrif) Dan Tanpa Ta'thil Serta Tanpa Takyif Dan Tanpa Tamtsil.
https://www.facebook.com/1749713045/posts/10203707445883879/?sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Buya Yunahar Ilyas: Allah Bersemayam Di Atas 'Arsy Dan Mempunyai Sifat-Sifat Lainnya Sebagaimana Yang Ditetapkan Dalam Al-Qur'an Dan As-Sunnah.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1593374117664669&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Kesaksian Kiyai Syafiq Mughni: Teologi (Aqidah) Ibnu Taimiyah Merupakan Teologi (Aqidah) Islam Yang Paling Moderat/Wasathiyyah/Pertengahan.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1594103320925082&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Ustadz Fathurrahman Kamal: Rumusan Kaum Salaf Dalam Memahami Sifat-Sifat Allah Adalah Menetapkannya Apa Adanya. 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1594814190853995&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Ustadz Syamsul Hidayat: Manhaj Salaf Dalam Menetapkan Sifat-Sifat Allah Adalah Menerimanya Dan Menetapkannya Apa Adanya.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1595603637441717&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Tauhid Ustadz Anhar Anshari: Pemahaman Salaf Dalam Memahami Sifat-Sifat Allah Adalah Menerimanya Tanpa Membagaimanakannya. 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1596585930676821&id=100009762878097&sfnsn=wiwspmo

•Ulama Muhammadiyah Adalah Penerjemah Pertama Kali Yang Mengalih-Bahasakan Kitab Al-'Aqiidah Al-Wasithiyyah Karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Yang Padat Pembahasannya Tentang Tauhid Al-Asmaa' Wa Ash-Shifaat) Ke Dalam Bahasa Indonesia. 
https://www.facebook.com/1749713045/posts/10204802365416183/?sfnsn=wiwspmo
Al akh Raihan ramadhan

Muhammad Yasin Al-Fadani: Menggelari Syaikhul Islam Hanya Pada 4 Ulama (?).

Muhammad Yasin Al-Fadani: Menggelari Syaikhul Islam Hanya Pada 4 Ulama (?).

Dalam Manuskrip Ijazah 17 halaman yang ditulis dengan tangan beliau sendiri sebagai 'hadiah' untuk Syaikh Dr. Ibrahim Nur Saif hafidzahullah, Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani rahimahullah, seorang ahli hadis & musnid yang akrab dengan kuniyah Abul-Faidh itu menyebutkan sanadnya sendiri untuk Al-Kutub As-Sittah (Shahih Bukhari-Muslim, Jami' Tirmidzi, Sunan Abu Daud-Nasai-Ibnu Majah), Al-Masanid Al-Arba'ah (Musnad Ahmad-Syafi'i-Abu Hanifah-Muwaththa` Malik), serta sanad Empat Mazhab (Syafi'iyah-Hanabilah-Malikiyah-Hanafiyah).

Tentunya, sanad yang berisikan puluhan bahkan ratusan ulama islam dari berbagi negeri & lintas zaman ini berisikan nama-nama ulama besar islam. Anehnya, untuk kalangan ulama dari zaman pertengahan hingga sekarang, Al-Fadani hanya menyabetkan gelar "Syaikhul Islam" hanya pada 4 ulama. Lebih aneh lagi, dari 4 ulama ini, 3 di antaranya tergolong ulama besar Hanabilah, dan satunya ulama besar Syafi'iyah. 

Siapakah mereka ?

1- Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Taimiyah. Al-Fadani juga menambahkan gelar padanya dengan "Imam Mujtahid."

2-Syaikhul Islam Zakarya Al-Anshari. Ulama terbesar Syafi'iyah awal abad 10, sekaligus Mujaddid pada abad tersebut.

3-Syaikhul Islam Muhammad bin AbdulWahhab. Al-Fadani juga menambahkan padanya gelar "'Allamah."

4- Syaikhul Islam Syamsuddin Ibnu Qudamah (gurunya Ibnu Taimiyah).
Ustadz maulana

TAUHID KIYAI HAJI DJARNAWI HADIKUSUMO: MEMOHON SYAFA'AT KEPADA ORANG MATI DI KUBURAN DAN MENJADIKAN MEREKA WASILAH (PERANTARA) DALAM DO'A KEPADA ALLAH, MERUPAKAN TINDAKAN KESYIRIKAN DAN PELAKUNYA MENJADI MUSYRIK

TAUHID KIYAI HAJI DJARNAWI HADIKUSUMO: MEMOHON SYAFA'AT KEPADA ORANG MATI DI KUBURAN DAN MENJADIKAN MEREKA WASILAH (PERANTARA) DALAM DO'A KEPADA ALLAH, MERUPAKAN TINDAKAN KESYIRIKAN DAN PELAKUNYA MENJADI MUSYRIK

Kiyai Haji Djarnawi Hadikusumo (Putra Ki Bagus Hadikusumo Dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tempoe Doeloe) -Rahimahullah- Berkata:

"...Pada ummat Islam, bid'ah i'tiqad ini melahirkan amalan yang kelihatannya seperti agama Islam tetapi sebenarnya mengandung unsur kepercayaan yang keluar dari tauhid. Di antara bid'ah i'tiqad dan amalannya itu adalah sebagai berikut: ....

....Mengambil wasilah (perantara) orang yang telah mati untuk mendo'a kepada Allah, Mereka menziarahi kuburan para wali dan ulama besar dan memohon kepada Allah agar do'a (permohonan) orang yang berziarah kuburnya itu dikabulkan. Ada yang memohon dapat jodoh, anak, rezeki, pangkat, keselamatan dunia dan akhirat, dan sebagainya. Mereka percaya bahwa dengan syafa'at (pertolongan) arwah para wali dan ulama itu, permohonan atau do'a mereka tentu dikabulkan Allah, karena wali dan ulama itu kekasih-Nya.

Maka pada hari-hari tertentu, ramailah kuburan keramat itu diziarahi orang siang dan malam, masing-masing membawa permohonannya sendiri-sendiri. Mereka berjongkok di sekeliling kuburan itu, memanggil nama yang telah dikubur serta menyampaikan permohonannya seakan-akan berbicara dengan orang yang masih hidup. Dengan begitu mereka mengharapkan dan percaya bahwa arwah kekasih-kekasih Allah dapat memberikan pertolongan atau syafa'at, baik yang terdiri dari anugrah di dunia maupun keselamatan pada hari Kiyamat. Akhirnya pada orang-orang yang tidak mengerti timbul kesalahan faham, yaitu kepercayaan bahwa benar-benar kuburan dan arwah itulah yang mengabulkan permohonan dan yang patut dimohoni pertolongan. Demikianlah jadinya, kepercayaan tentang wasilah dan syafa'at dapat menjadikan kemusyrikan yang berlawanan dengan tauhid. Dan kemusyrikan inilah, disamping taqlid, telah membelenggu akal dan kecerdasan manusia, menghambat kemajuan bangsa dan masyarakat.

Wasilah artinya perantara, yaitu sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada maksud, seperti belajar adalah wasilah untuk menjadi pandai, bekerja untuk mendapat rezeki, ber'amal untuk mendapat pahala, beribadat untuk mendekatkan diri kepada Allah, ta'at kepada Allah dan Allah ridla kepada kita. Juga termasuk wasilah pertolongan seseorang untuk memohon bagi kita. Umpama kita hendak memohon pekerjaan kepada sesuatu kantor, akan lebih diharap berhasil jika minta tolong kepada seseorang yang dikenal baik atau disayangi oleh kepala kantor itu, untuk menyampaikan permohonan kita itu. Kepala kantor itu menerima permohonan kita karena dibantu oleh orang yang disayangi itu, tetapi juga karena kita dianggap cakap dan baik. Jika kita tidak cakap dan buruk nama, tentu kepala kantor itu tidak mau menerima kita. Dengan demikian berarti bahwa gunanya wasilah semacam ini hanya untuk lebih memudahkan dan menyegerakan dikabulkannya sesuatu permohonan yang memang pada dasarnya dapat dikabulkan.

Tanpa wasilah, permohonan itu dikabulkan juga, tetapi setelah melalui pertimbangan yang teliti dan proses yang lama. Jadi gunanya wasilah manusia adalah untuk mendapat prioritas dan fasilitas atau penyegeraan dan kemudahan.

Pertolongan orang yang kita jadikan wasilah hingga permohonan kita terkabul, itulah yang dinamakan syafa'at. Yang dinamakan syafa'at para nabi dan para wali, ialah doa mereka kepada Allah hingga permohonan kita di kabulkan. Tetapi hanya orang yang masih hidup sajalah yang dapat mendo'akan kita. Para Nabi dan Wali atau siapa saja yang sudah mati tidak dapat berbuat apa-apa bagi dirinya, apalagi bagi kita.

Dengan demikian kita tidak layak, tidak dapat dan tidak ada gunanya memohon syafa'at kepada orang yang sudah mati meskipun dia nabi atau wali, dan ini bid'ah i'tiqad yang lekas menjadi syirk. Dinamakan bid'ah, karena tidak berdasar Al-Quran dan Sunnah. Menurut Quran dan Sunnah, mencari wasilah dan syafa'at hanya diizinkan kepada orang yang masih hidup.

Kata "syafa'at" dapat berarti: "pertolongan dengan daya gaib" dan dapat pula diartikan do'a. Pengertian pertama itulah yang menjadikan musyrik, dan pengertian kedua itulah yang dikehendaki dan diizinkan dalam ajaran Islam. Yaitu: seseorang yang dikasihi Allah mendo'akan kepada Allah untuk kita. Mereka yang dikasihi Allah ialah: para Nabi dan Rasul (sudah wafat semua sekarang ini) para orang mukmin yang taat dan tunduk selalu kepada Allah serta senantiasa menyediakan diri untuk mengabdi kepada Allah, mereka ini ada yang terdiri dari alim ulama, kiyahi, guru, orang pelajar, dan juga orang mukmin biasa yang tidak menduduki tempat yang tinggi dalam masyarakat. Allah memilih kekasih-Nya bukan tergantung pada ilmu dan martabat kemasyarakatan, tetapi berdasar atas taqwa dan pengabdian seseorang kepada-Nya.

Benar sekali bahwa ilmu agama yang tinggi dan mendalam terutama dalam ilmu ushuluddin, dapat menjadikan orang alim dan ma'rifat kepada Allah dengan jelas, yang menghasilkan taqwa serta ta'at mengabdi kepada-Nya dengan mengalahkan kesenangan dunia. Termaterilah dalam kalbunya kecintaan kepada Allah dan Allah cinta kepadanya, maka jadilah ia wall Allah atau kekasih Allah, manusia yang dapat memberi syafa'at selagi masih hidup, dan hanya kepada orang baik....."

[Lihat Buku Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Bid'ah Khurafat, Halaman 45 Sampai Halaman 48].

"....Kesimpulan

1. Wasilah yang harus, kita capai itu, ialah perantara untuk mendekatkan diri pada Allah, yaitu beribadat dengan khusyu' dan ta'at kepada-Nya. 

2. Dinamakan juga wasilah, ialah do'a orang lain kepada Allah untuk keselamatan atau terkabulnya permohonan kita.

3. Syafa'at artinya do'a yang dikabulkan Allah. Syafa'at itu terletak dalam kekuasaan Allah belaka. Para Rasul, Nabi, orang Shalih: mereka sekedar mendo'a memohon syafa'at itu.

4. Allah hanya mengizinkan syafa'at itu kepada hamba-Nya yang taat.

5. Mencari wasilah dan syafa'at kepada orang yang telah mati atau kuburan adalah laku kemusyrikan, orangnya menjadi musyrik."

[Lihat Buku Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Bid'ah Khurafat, Halaman 52 Sampai Halaman 53].

CATATAN TAMBAHAN:

Kiyai Haji Djarnawi Hadikusumo, Dalam Buku Beliau Berjudul: "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Serta Bid'ah Dan Khurafat" Dengan Buku Berjudul: "Kitab Tauhid", Dari Kedua Buku Tersebut, Nampak Bahwa Beliau Dalam Aqidah Adalah Condong Kepada Madzhab Asy'ariy Dan Madzhab Maaturidiy. 

Akan Tetapi, Dalam Buku Yang Sama Juga: "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Serta Bid'ah Dan Khurafat", Sebagaimana Yang Telah Terjelaskan Di Atas, Beliau (Kiyai Haji Djarnawi Hadikusumo) Adalah Merupakan Yang Menentang Keras Quburiyyun (Para Pengagung/Pemuja Kuburan), Menganggap Do'a/Istighotsah Kepada Mayat Sebagai Syirik/Kemusyrikan Begitu Pula Meminta Syafaat Kepada Kuburan Dan Menjadikannya Wasilah (Perantara) Do'a Sama Saja Pula Merupakan Tindakan Syirik/Kemusyrikan, Menolak/Menentang Keras Berbagai Kreasi/Inovasi Yang Tidak Ada Dasarnya Dalam Beribadah Sehingga Beliau -Dalam Buku Tersebut- Membid'ahkan Beberapa Amalan Seperti Tahlilan Di Kuburan, Selamatan Kematian, Merutinkan Dzikir/Do'a Berjama'ah Setiap Selesai Shalat, Dan Banyak Amalan Lainnya. 

Kemudian Dalam Buku "Aliran Pembaruan Dalam Islam: Dari Jamaluddin Al-Afghani Hingga Kiyai Haji Ahmad Dahlan", Beliau Memuji Dakwah Wahhabi Dan Syaikh Muhammad Bin 'Abdul Wahhab Sebagai Gerakan Yang Gigih Dan Berteguh Hati Dalam Memberantas Kesyirikan, Bid'ah, Khurafat, Dan Berbagai Kesesatan Berupa Pemujaan Terhadap Kuburan-Kuburan. 

Dengan Demikian, Kendatipun Beliau Kita Sebut Seorang Asy'ariy (Ataupun Maaturidiy), Maka Tetap Beliau Bukanlah Seorang Quburiy, Bukan Pula Seorang Penganut Salah Satu Tarekat Dari Tarekat-Tarekat Shufi Yang Ada, Dan Bukan Penentang Dakwah Wahhabi Bahkan Malah Memujinya, Itu Perkara Penting Yang Perlu Diingat.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid06niNcDr1YCZLBvHYLWPfNSJ7VPmKASCrgwDe19MFwymrxavagG85VPi7qVzm3o3Rl&id=100009762878097&mibextid=Nif5oz
Al akh Raihan ramadhan