Senin, 18 Oktober 2021

Kesombongan Yang Besar, Tapi Dibungkus Agama

📖 Kesombongan Yang Besar, Tapi Dibungkus Agama

Kita sadari atau tidak, kesombongan banyak ditampakkan oleh sebagian orang kepada kita. Tapi karena dibungkus agama, ia tidak terlihat sebagai kesombongan, dan mudah menyebar di tengah² masyarakat, wallahul musta'an.

Dan berikut ini adalah sebagian contohnya:

1. Mengaku shalat jumatnya di depan Kabah, padahal tinggalnya di negara kita.

2. Mengaku bertemu Nabi shallallahu alaihi wasallam saat sadar.

3. Mengaku bertemu atau bersalaman dengan Nabi Khadhir (biasanya disebut khidir).

4. Mengaku dikasih pesan atau hadits istimewa oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. 

5. Mengaku selalu diawasi dan diperhatikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. 

6. Mengaku didatangi atau diziarahi oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mirip dengan ini, mengaku acaranya dihadiri Nabi shallallahu alaihi wasallam. 

7. Mengaku dibawa naik ke Sidrotul Muntaha dan bertemu Allah.

8. Mengaku sudah sampai derajat wali, atau derajat yakin, atau derajat hakikat.

9. Mengaku gurunya sudah sampai derajat wali, sehingga dia adalah muridnya wali.

10. Mengatakan semua yang mengikutinya pasti masuk surga.

11. Mengaku yang menyelisinya pasti celaka.

12. Mengaku nanti bisa menggandeng seseorang masuk surga.

13. Mengaku mendapatkan ilham atau bisikan dari Allah.

14. Mengatakan malaikat mungkar nakir tidak sempat menanyai gurunya yang sudah meninggal, karena banyaknya peziarahnya.

15. Mengatakan ulama arab tidak ada yang seperti gurunya.

Dan masih banyak lagi yg lainnya. Sungguh kesombongan yang terlihat oleh orang awam, karena dibungkus oleh agama.

Padahal kesombongan sangatlah dimurkai oleh Allah, sampai² Nabi kita shallallahu alaihi wasallam menyabdakan: "Tidak masuk surga, orang yg di hatinya ada kesombongan, meski hanya sekecil dzarrah (semut merah yg sangat kecil)".

Saudaraku seiman, waspadalah terhadap kesombongan, semoga Allah jauhkan kita semua darinya, amin.

Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa ad-Dariny, M.A. hafizhahullahu

Jisim aradh jauhar dan lainnya adalah istilah impor yg masuk ke tengah tengah kaum muslimin. Para ahli kalam tidak sepakat definisi tetapnya

Jisim aradh jauhar dan lainnya adalah istilah impor yg masuk ke tengah tengah kaum muslimin. Para ahli kalam tidak sepakat definisi tetapnya. Contoh kata jisim, imam al asyari menyebutkan 12 pendapat tentang definisinya, belum lagi istilah lainnya
Sebagai gambaran jisim adalah sesuatu yg kita lihat dan kita rasakan seperti manusia bumi binatang dan lainnya. Sedangkan aradh adalah sifat dari benda benda tersebut seperti hitam putih dsb. Ini bukanlah definisi ilmiah, karena mereka tidak sepakat dalam satu definisi
Untuk mengetahui pendapat yg berkenaan dengan hal ini silakan baca al maqalat 2/1-58 talbis al jahmiyah 12/47, 54, 100 al milal 3/18-19 
Syarhu iqtiqad ahli sunnah imam al alalikai  (mahdzab syafii)

Minggu, 17 Oktober 2021

Hukum Menceritakan Keburukan Ahli Bid’ah

Hukum Menceritakan Keburukan Ahli Bid’ah

Pada asalnya menceritakan keburukan ahli bid’ah dalam rangka memberikan peringatan kepada orang lain agar waspada terhadap bid’ah dan keburukan mereka itu diperbolehkan dalam syari’at Islam, jika terpenuhi 3 (tiga) syarat :
1. Pertama : Orang yang menceritakan tersebut harus berilmu dan dia ikhlas dalam melakukan nya.

2. Kedua : Pelaku bid’ah yang diceritakan keburukan nya adalah orang yang menampakkan bid’ah nya secara terang – terangan. Adapun jika pelaku bid’ah tersebut menyembunyikan bid’ah nya, maka tidak boleh menceritakan keburukan nya.

3. Ketiga : Pelaku bid’ah yang diceritakan nya tersebut masih hidup dan belum meninggal dunia. 
Jika dia telah meninggal dunia, maka tidak boleh menceritakan keburukan nya, kecuali jika dia memiliki buku (kitab) yang mengokohkan bid’ah nya dan para pengikutnya menyebarluaskannya setelah ia wafat.

(Risalah kami, Permata Yang Berharga Dari Aqidah Islam. Kami rangkum dari Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ karya Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily)
Ustadz ibnu firdaus 

HUKUM TAAT KEPADA MAKHLUK DALAM PERKARA YANG DILARANG

🖇 *HUKUM TAAT KEPADA MAKHLUK DALAM PERKARA YANG DILARANG*

🎙 Fatawa As-Syaikh Al-Allamah Al-muhaddits Muqbil Ibn Hadi Al-Wadi'iy rahimahullahu ta'ala

Pertanyaan :

Apa hukumnya seseorang yang diperintah oleh ayahnya untuk membelikan sesuatu yang di benci atau bahkan haram seperti rokok atau tato atau qot (tanaman memabukkan) apakah harus di taati atau tidak ?

Jawaban :

"Janganlah engkau mentaatinya, karena ketaatan itu hanya pada kebaikan, bahkan wajib atas mu untuk menasehati orang tuamu, dan berlemah lembut atasnya, dan berbeda antara penuntut ilmu yang belajar dengan orang 'awam (yang tidak belajar), yaitu jika lebih tua dari umurnya saya mengharapkan darinya untuk lebih berfikir dewasa dan berfikir jernih karena penuntut ilmu itu cerdas dan juga menerapkan ilmunya, dan menerapkan akhlak yang mulia, maka engkau berbuat baik padanya seraya mengatakan : "ini perkara yang saya tidak sependapat, dan saya menasehatimu untuk menjauhinya dan meninggalkannya, dan Allah lah tuhan yang maha pemberi pertolongan." 

📚 Kitab Qom'u al ma'anid : 2/217
==================
Sumber :

📲 Kampung Fuyusy Ikhwan ٣
https://chat.whatsapp.com/F5baIomAsiPDlkIkAI3Gn7

📲 Kampung Fuyusy Akhwat ١
https://chat.whatsapp.com/CrCeyPeDPuYBzY85Q9weEL

📲 Facebook
facebook.com/KampungFuyusy

📲 Instagram
instagram.com/kampungfuyusy

```Semoga bermanfaat dan silahkan dibagikan dengan tanpa merubah isi teks dan tetap menyertakan sumber.```


Kampung Fuyusy - Yaman

Lebih baik yang jadi musuh-musuhku pada hari kiamat adalah ahli bid'ah daripada yg jadi musuhku adalah Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam karena aku meninggalkan pembelaan terhadap Sunnah beliau.

Lebih baik yang jadi musuh-musuhku pada hari kiamat adalah ahli bid'ah daripada yg jadi musuhku adalah Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam karena aku meninggalkan pembelaan terhadap Sunnah beliau.

(Ibnu Ma'in, Ilmu Syamikh, 388)

Bahagia Dengan Menuntut Ilmu

[QUTHÛF AL-'ULAMA]

Bahagia Dengan Menuntut Ilmu

Syaikh Shâlih bin 'Abdillah bin Hamad al-'Ushaimiy berkata, 

طلب العلم عبادة، والزيادة فيه خير زيادة؛ لما يثمر من سعادة في الدنيا والآخرة؛ فإن كل خير في الدنيا والآخرة فهو ثمرة من ثمار العلم، وكل شر في الدنيا والآخرة فهو طلع من طلع الجهل.

"Menuntut ilmu adalah ibadah, dan menambahnya adalah sebaik-baik tambahan karena ia membuahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya setiap kebaikan di dunia dan akhirat itu buah dari bebuahnya ilmu, serta setiap keburukan di dunia dan akhirat adalah mayang dari memayangnya kebodohan."
📚 [Muhadharah Humûmi Thâlibil 'Ilmi]

Semoga bermanfaat... 

✍🏻 Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar

DAHULU MASUK SURGA BELUM TENTU LEBIH UTAMA

DAHULU MASUK SURGA BELUM TENTU LEBIH UTAMA

• Kaum fakir lebih dahulu masuk surga daripada orang kaya karena ringannya hisab mereka

• Lantas ketika dihisab dan ternyata kebaikan si kaya lebih besar daripada si fakir maka derajatnya di surga lebih tinggi walaupun masuk surganya belakangan

• Sebagaimana 70.000 yang masuk surga tanpa hisab diantara mereka Ukasyah bin Muhshon, tetapi bisa jadi yang masuk surga dengan hisab lebih utama
______
Faidah dari kitab : Taqrib Fatawa wa Rasail Syaikhul Islam, Jilid 1 hal 826

Karya : Syaikh Dr. Ahmad Ath-Thoyyar -hafidzahullah-