Rabu, 03 Maret 2021

keutamaan ‎mendoakan ‎saudara ‎semuslim

Keutamaan Mendoakan Saudara Semuslim

Merupakan salah satu bentuk jujurnya  keimanan seseorang

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الدعاء بظهر الغيب يدل دلالة واضحة على صدق الايمان

لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال :

(لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه)

“Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya menunjukkan jujurnya keimanan seseorang. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah sempurna keimanan kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 6: 54)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)

Abul Hasan Al-Mufarakfuri rahimahullah berkata,

دعاء الملائكة مستجاب

“Doa para malaikat itu mustajab.” (Mura’atul Mafatih, 5: 309)

و صلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Baarakallahu fiikum Wajazaakumullahu

Jaya Andari 
Di Madinah

Selasa, 02 Maret 2021

bumi itu bulat

barangsiapa yg Allah menghendaki kebaikan untuknya maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya

Faedah Hadits :

1. Penetapan adanya sifat “Iradah” (Kuasa) bagi Allah yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya;

2. Penjelasan bahwa salah satu cara Allah menghendaki kebaikan kepada salah satu hamba-Nya adalah dengan memberikan cobaan kepadanya agar dia kembali dan ingat kepada Allah, dan Allah akan memberikan pahala dan kemuliaan jika hamba tersebut bersabar;

3. Cobaan dan ujian yang dialami seorang merupakan tanda kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Maka hendaknya dia menghadapinya dengan kesabaran dan selalu berperasangka baik kepada Allah;

4. Banyaknya kebaikan dalam cobaan dan ujian yang Allah berikan kepada hamba, di antaranya: sebagai pengingat dari kelalaian, penghapus dosa, penambah derajat di sisi Allah, penambah pahala kesabaran, pengingat akan banyaknya nikmat dan anugerah, pendorong untuk bertaubat dan berdoa kepada Allah dan pendorong untuk bersyukur atas segala nikmat dan sebagainya);

5. Isyarat bahwa segala ketetapan Allah itu tidak kosong dari hikmah dan semua perbuatan-Nya itu selalu membawa kebaikan bagi hamba sekalipun dalam bentuk sesuatu yang tidak disukai oleh hamba.

Wallahu a'lam.

Oleh Ustadz Mahful Safarudin, Lc.
Tulisan ini dimuat juga di https://www.pesantrenalirsyad.org/cobaan-dan-ujian-adalah-sebuah-pertanda-baik-seri-40-hadits-tentang-musibah-dan-cobaan-3-40/
Di share oleh ust Hamdani zahid 

Bersabar atas rasa sakit dan ketidak nyamanan ketika haid adalah ibadah. Haid adalah perkara yang Allah takdirkan untuk para wanita, dan akan bernilai ibadah jika dihadapi dengan sabar."

"Bersabar atas rasa sakit dan ketidak nyamanan ketika haid adalah ibadah. Haid adalah perkara yang Allah takdirkan untuk para wanita, dan akan bernilai ibadah jika dihadapi dengan sabar."

(Fathul Bari : 2/78)
Ust Hamdani zahid 

PENTINGNYA MEMINTA TAUFIQ DAN HIDAYAH DALAM MENUNTUT ILMU.

PENTINGNYA MEMINTA TAUFIQ DAN HIDAYAH DALAM MENUNTUT ILMU. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah - rahimahullah - berkata : 

وقد يكون الرجل من أذكياء الناس وأحدّهم نظرًا، ويعميه الله عن أظهر الأشياء، وقد يكون من أبلد الناس وأضعفهم نظرًا ويهديه الله لما اختلف فيه من الحق بإذنه، فلا حول ولا قوة إلا بالله، فمن اتكل على نظره واستدلاله، أو عقله ومعرفته خُذِل.

"Boleh jadi seseorang dianggap paling cerdas diantara teman-temannya dan paling tajam daya nalarnya, namun ia dibutakan (tidak diberi pemahaman) terhadap sebuah perkara/permasalahan yang sangat sederhana. 

Dan boleh jadi seseorang dianggap paling bodoh diantara teman-temannya, dan paling lemah daya nalarnya, namun Allah memberinya hidayah/petunjuk terhadap permasalahan yang diperselisihkan oleh banyak orang. 

Sungguh, tidak ada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah semata. 

Maka barang siapa yang hanya bersandar pada kecerdasan dan akalnya (tanpa meminta taufiq dari Allah), ia pasti akan dihinakan." 

(Dar'u Ta'aarudhi Al-Aql wa An-Naql : 9/34
Ust Hamdani zahid 

SAYA INGIN BELAJAR ADAB MENGKRITIK DARI SYAIKH BIN BAZ ‎رحمه الله ‏SEMOGA MENJADI TAMBAHAN ILMU

SAYA INGIN BELAJAR ADAB MENGKRITIK DARI SYAIKH BIN BAZ رحمه الله SEMOGA MENJADI TAMBAHAN ILMU

Teringat di sela-sela membaca ulasan seputar hukum takbir secara berjamaah di hari ied pada beberapa web fatwa, ada penyuguhan fatwa menarik yang dibawakan oleh fadhilatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله. 

Sebelumnya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam tema ini ulama berbeda pendapat, kubu pertama mengatakan takbir berjamaah itu boleh dan masyru', seperti pendapat yang dipilih oleh Majelis Ifta di Kerajaan Yordania, juga yang dipilih oleh markaz fatwa islamweb yang berada di bawah kementrian waqaf Qatar. 

Di sisi sebaliknya lembaga fatwa yang lain berpendapat bahwa dzikir jamaah hukumnya terlarang, hal tersebut adalah perkara bid'ah dalam agama, ini yang dipilih oleh al-Lajnah al-Daimah mui-nya saudi Arabia, termasuk pendapat pribadi dari Syaikh Utsaimin, Syaikh al-Albani, Syaikh Hamud al-Tuwaijiry, dan Syaikh Bin Baz رحمهم الله.. 

Pada kesempatan ini saya tidak hendak membicarakan fatwa yang lebih kuat atau yang lebih rajih adalah pendapat yang mana, namun ada sisi lain yang ingin kita lihat lebih jauh untuk diambil ibrohnya. 

Adapun hal yang menarik bagi saya adalah apa yang diutarakan oleh Syaikh Bin Baz dalam fatwa beliau, hal tersebut saya dapati ketika beliau membantah salah seorang ulama yang membolehkan takbir ied secara berjamaah, dalam ungkapan itu Beliau sampaikan: 

فقد اطلعت على ما نشره فضيلة الأخ الشيخ : أحمد بن محمد جمال - وفقه الله لما فيه رضاه - في بعض الصحف المحلية من استغرابه لمنع التكبير الجماعي في المساجد قبل صلاة العيد لاعتباره بدعة يجب منعها , وقد حاول الشيخ أحمد في مقاله المذكور أن يدلل على أن التكبير الجماعي ليس بدعة وأنه لا يجوز منعه..... 

"Saya telah menelaah uraian yang disebarkan oleh saudara Syaikh Ahmad Muhammad Jamal -semoga Allah memberi beliau taufiq pada apa yang Allah ridhoi- di beberapa koran lokal tentang herannya beliau atas upaya pelarangan melakukan takbir secara jamaah di masjid-masjid sebelum pelaksanaan solat ied karena hal tersebut terhitung sebagai amalan bid'ah yang memang wajib untuk dilarang, Syaikh Ahmad berusaha menjelaskan dan berdalil dalam makalahnya bahwa takbir secara berjamaah bukanlah suatu kebidahan yang boleh untuk dilarang.... " (Majmu' Fatawa Ibnu Baz juz: 20 hal: 13) 

Dari kutipan fatwa beliau di atas,  bisa kita petik beberapa pelajaran tatkala beliau mengkritik, diantaranya: 

1⃣. Beliau tetap menyebutkan person yang sedang beliau bantah & kritik dengan panggilan الأخ (Saudara), padahal jelas pandangan beliau dalam hal ini mengatakan bahwa takbir jamaah adalah sebuah kebidahan, dan ini sangat bertentangan dengan pandangan Syaikh Ahmad Muhammad Jamal, namun walaupun demikian tidaklah lantas beliau memposisikan orang yang beliau kritik seperti layaknya musuh yang pantas untuk dijatuhkan derajat dan martabatnya, tetap beliau jaga hubungan persaudaraan seiman ini, karena Nabi bersabda: 

الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya". (H.R Muslim). 

2⃣. Beliau masih menyematkan julukan Syaikh (الشيخ) kepada orang yang beliau bantah, dan panggilan Syaikh dalam urf di Arab biasanya ditujukan kepada orang yang memiliki kedudukan dan pengaruh, entah karena kekuasaannya, harta atau karena ilmunya, ini menunjukkan bahwa beliau masih menghormati dan memuliakan person yang beliau bantah, dan mendudukkannya pada kedudukan yang menjadi haknya, bukan malah justru merendahkan obyek yang dibantah, atau bahkan melabelinya dengan julukan-julukan yang tidak sepatutnya. 

3⃣. Di sela-sela Syaikh Bin Baz membantah Syaikh Ahmad Muhammad Jamal, beliau masih menyematkan doa kepada orang yang beliau bantah, beliau mendoakan "وفقه الله لما فيه رضاه (semoga Allah memberinya taufiq pada apa yang Allah ridhoi), potongan doa ini seakan mempertunjukkan kepada kita bahwa tujuan inti beliau membantah itu adalah benar-benar agar supaya pihak yang berseberangan mendapat petunjuk dan taufiq dari Allah, dan agar bisa kembali kepada jalan yang benar. 
Sungguh ini nasihat tersirat yang perlu kita pahami, bahwa selalu ikhlaskan niat ketika kita membantah itu tujuannya adalah agar yang bersangkutan mendapat petunjuk, bukan justru menjadikan pihak yang kita koreksi malah semakin jauh dari kebenaran, masalah semakin runyam dan semakin lari dari Al-Haq.

🍀 Kesimpulan yang bisa saya pahami dari uslub dan metode kritik Syaikh Bin Baz kepada lawannya adalah bahwa:  Fokus saja pada inti permasalahan yang dibantah,  tidak perlu melebar pada perkara yang tidak perlu, jelaskan mana kekeliruan dan kebatilannya, sampaikan yang benar seperti apa, kemudian tetaplah posisikan dia sebagai saudara kita (jika benar2 masih muslim),  dudukkan dia pada kedudukan yang memang haknya, dan jangan lupa mendoakan kebaikan kepada lawan yang kita kritik, karena tujuan kritik itu agar yang bersangkutan kembali kepada kebenaran, bukan hanya sekedar menampakkan kesalahannya saja. 

Mungkin itu saja,  semoga saya pribadi bisa meneladani beliau, wallahu a'lam
Ust setia Setiawan 
https://www.facebook.com/1719921258/posts/10208003421919602/

3 SIKAP AHLUSSUNNAH JIKA ADA KEBIJAKAN PEMIMPIN YANG MAKSIAT*

3 SIKAP AHLUSSUNNAH JIKA ADA KEBIJAKAN PEMIMPIN YANG MAKSIAT*

1. Tidak mentaati kebijakan yang maksiat tersebut, karena Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila diperintah untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat kepadanya." (HR. Muslim)

2. Tidak melengserkannya dan tidak mencegah untuk mentaatinya dalam kebaikan. 
Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: "Adapun melengserkan pemimpin kaum muslimin dan memerangi mereka, maka itu diharamkan menurut ijma' kaum muslimin, meskipun pemimpin tersebut adalah orang-orang fasik dan zhalim. Dan telah banyak hadits-hadits yang semakna dengan apa yang aku sebutkan. Dan Ahlussunnah sepakat bahwa pemimpin tidak boleh dikudeta karena kefasikannya." (Syarah Shahih Muslim 12/228 oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu).

3. Harus dinasihati (oleh para ulama) dengan rahasia (bukan dikritik di medsos) sesuai ketentuan-ketentuan syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin (kaum muslimin) maka jangan di hadapan umum**. Namun hendaknya dia berduaan dengannya. Jika nasihatnya diterima (maka Alhamdulillah) dan jika tidak diterima maka dia telah melaksanakan kewajibannya. (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani)

-----------------------------------
[*] Al-Ihkam Fi Sabri Ahwal Al-Hukkam hal. 60 oleh Syaikh Dr. Ibrahim Bin 'Amir Ar-Ruhaili hafizhahullahu.

[**] Namun ada orang-orang yang aneh bin nyeleneh serta terbalik akalnya. Yang jelas haditsnya dan shahih tentang larangan menasihati pemimpin di hadapan umum, dia sering langgar (seperti ketika sang oknum memposting kritikan seorang tokoh masyarakat terhadap pemerintah di medsos dan para pembeonya pun summum bukmun 'umyun). Namun yang tidak ada larangannya dalam syariat untuk menasihati/membantah di hadapan umum terhadap penyimpangan yang sudah tersebar dari selain pemimpin kaum muslimin -bahkan para ulama sejak dahulu kala telah mencontohkannya- dipermasalahkan dan dinyinyirin. 

- Syaikh Shalih As-Suhaimi hafizhahullahu berkata: "Para ulama salaf telah menjelaskan tentang pemahaman ahlul bid'ah yang terbalik hingga mereka tidak bisa membedakan mana sunnah mana bid'ah. Bahkan mereka menganggap sunnah sebagai bid'ah dan bid'ah sebagai sunnah. Dan itulah keadaan ahlul bid'ah yang ada di tengah-tengah kaum muslimin, sampai jika ada orang yang menasihati mereka, maka merekapun ribut dan (beramai-ramai) mengingkarinya serta menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang keji dan memberinya gelar-gelar yang jelek (tidak berakhlak, terlalu keras, terlalu ekstrim, suka tahdzir, virus tahdzir, dll). Mereka juga menuduh yang (membantahnya) membawa ajaran/agama/manhaj baru. Memang benar, itu baru bagi yang sudah terbiasa dengan bid'ah yang telah mereka anggap seperti ajaran agama."
(Tanbihu Ulil Abshar Ila Kamali Ad-Din Wa Ma Fi Al-Bida' Min Al-Akhthar hal. 172-173 oleh Syaikh Shalih As-Suhaimi hafizhahullahu)