Sabtu, 08 Agustus 2020

Apakah benar langit itu kiblatnya do’a sebagaimana kiblat bagi shalat?.

๐Ÿ”† Poin ketiga: ๐Ÿ”†

Apakah benar langit itu kiblatnya do’a sebagaimana kiblat bagi shalat?.

Orang yang menyimpang menolak dalil fitrah bahwa hati-hati manusia ketika bedo’a tertuju ke langit dengan berkata bahwa langit itu kiblatnya do’a sebagaimana ka’bah kiblat shalat.
 
Bantahan untuk pernyataan ini, sebagai berikut:

▶️ Pertama:
Seandainya langit itu merupakan kiblat bagi do’a niscaya menghadap ke langit ketika berdo’a hukumnya wajib, tentunya hal ini (menghadap ke langit ketika berdo’a) tidak ada keterangannya dari Rasulullah ๏ทบ, tidak juga dari Tabi’in (yang mengikuti mereka) dengan baik, justru telah datang keterangan dari Rasulullah ๏ทบ, bahwa beliau ๏ทบ menghadap ke kiblat ๐Ÿ•‹ (ka’bah) dalam banyak do’anya, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid Radiyallahu ‘anhu yang muttafaq ‘alaihi, bahwa beliau ๏ทบ keluar untuk meminta turun hujan, beliau menghadap ke kiblat ๐Ÿ•‹(ka’bah) dan berdo’a, dan sebagaimana dalam hadits Jabir Radiyallahu ‘anhu dalam shahih muslim ketika mensifati haji wada’, bahwa beliau menghadap ke kiblat ๐Ÿ•‹ kemudian berdo’a dengan do’a yang lama setiap berdiri di atas bukit shafa dan marwah, dan ketika berada di Arafah beliau (juga) menghadap kiblat ๐Ÿ•‹dan berdo’a, haditsnya panjang, dan lain-lain dari dalil-dalil selain yang disebutkan diatas.

▶️ Kedua:
Adanya larangan menghadap ke langit dan melihat langit ketika berdo’a, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„َูŠَู†ْุชَู‡ِูŠَู†َّ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ٌ ุนَู†ْ ุฑَูْุนِู‡ِู…ْ ุฃَุจْุตَุงุฑَู‡ُู…ْ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ุฏُّุนَุงุกِ ูِูŠْ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุฃَูˆْ ู„َุชُุฎْุทَูَู†َّ ุฃَุจْุตَุงุฑُู‡ُู…ُ

“Hendaknya kaum itu menghentikan mengangkat pandangan mereka ke langit ketika mereka shalat atau mata mereka akan disambar”.
Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Jabir bin Samurah Radiyallahu ‘anhu, dan dari hadits Abu Hurairah yang semakna dengannya.

▶️ Ketiga:
Rasulullah ๏ทบ telah memberikan motivasi agar berdo’a ketika sujud, tentunya keadaan orang yang sujud ia membelakangi langit sebagaimana telah maklum, Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhuma.

ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ุณُّุฌُูˆْุฏُ ูَุงุฌْุชَู‡ِุฏُูˆْุง ูِูŠْ ุงู„ุฏُّุนَุงุกِ ูَู‚َู…ِู†ٌ ุฃَู†ْ ูŠُุณْุชَุฌَุงุจَ ู„َูƒُู…ْ

“Adapun sujud maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a, yang demikian itu lebih pantas untuk dikabulkan”.
Dikeluarkan oleh Muslim.

▶️ Keempat:
Perkataan mereka bahwa langit merupakan kiblat do’a adalah perkataan yang muhdats yang tidak ada satupun dari kalangan salaf yang mengucapkannya.

Lihat ๐Ÿ“– Salamatul Khalaf fi Thariqatus Salaf_, karya Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al-Hajuriy, hal: 121.

Akhukum : Abu Ya'la Kurnaedi.
Ustadz abu ya'la kurnaedi lc hafidahullah

Jumat, 07 Agustus 2020

As-syaikh Nu'man bin 'Abdil kariim alwatr hafizhahullah merupakan salah satu ulama' besar di yaman, beliau murid senior dari Al-imam muqbil Al-wadi'iy rahimahullah

As-syaikh Nu'man bin 'Abdil kariim alwatr hafizhahullah merupakan salah satu ulama' besar di yaman, beliau murid senior dari Al-imam muqbil Al-wadi'iy  rahimahullah, dan beliau adalah PAKAR AQIDAH DAN TAUHID, Syekh muqbil berkata dalam biografinya 
ู†ุนู…ุงู† ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ูƒุฑูŠู… ุงู„ูˆุชุฑ : ู‚ุฏ ุฃุนุทุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ุจุตูŠุฑุฉ ููŠ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ 
"Nu'man bin 'abdil kariim al-watr : sungguh Allah telah memberikan kepadanya bashirah(pandangan hati) dalam ilmu tauhid. (Atau sebagaimana yg semakna ucapan beliau)

2 kitab Aqidah di bawah adalah karya Asy-syaikh nu'man bin 'abdil kariim Al watr hafizhahullah..
taukah antum sebab penulisan 2 kitab Aqidah di bawah ini??  Beliau bercerita bahwa sebab penulisan 2 kitab di bawah ini karna sesuatu yang sangat membuat Asy-syaikh terheran2 dgn apa yg beliau saksikan ketika berkunjung ke Indonesia dan malaysia,  ada apa dgn rakyat Indonesia dan malaysia??  Kata beliau org2 di Indonesia dan malaysia banyak yg ngaku2 bermazhab syafi'i tapi aqidahnya Asy-'Ariyy.. Sungguh sangat mengherankan, akhirnya beliau tatkala pulang dri Indonesia dan malaysia balik ke kampung halamannya di ba'dan yaman, beliaupun menulis 2 kitab aqidah di bawah..
Beliau menyelesaikan penulisan 2 kitab Aqidah ini dalam waktu 2 bulan, dan beliau langsung mengabari Al-ustadz dzulqarnain m sunusi hafizhahullah, bahwa beliau(syaikh nu'man)  baru saja selesai menulis kitab tentang aqidah Imam syafi'iy dan katanya ustadz dzul qarnain mau menerjemahkannya kedalam bhsa Indonesia.. 

~Kitab seblah kiri berisi 161halaman yg berjudul(artinya) : 'Aqidah imam syafi'iy sebagaimana yang Imam syafi'iy telah menulisnya dalam kitab2nya atau yg murid-muridnya meriwayatkan darinya. 
(Risalah ilmiyyah yg terbangun atas ucapan2 yg kuat dengan sanad2 yg sohih). 

~Kitab seblah kanan berisi 172 halaman yg berjudul(Artinya) : Usaha Imam syafi'iy dan murid2nya dan Imam2 mazhab syafi'iy dalam menolong 'Aqidah salafusshalih.

Alhamdulillah di kasi gratis kedua kitab tersebut oleh penulisnya ketika kami menziarahi nya. 

#sangat cocok di hadiahkan untuk pak idrus ramli dan bang abdussomad hadaahumallah.
https://www.facebook.com/100010391672821/posts/1174095566280155/
Ustadz abu abdil Fattaah Sufyaan 

kedewasaan seseorang sesuai dengan kadar perhatian nya terhadap akhirat

Kamis, 06 Agustus 2020

HAKIKAT DUNIA MENURUT MASRUQ BIN AJDA' (W. 63 H)

HAKIKAT DUNIA MENURUT MASRUQ BIN AJDA' (W. 63 H)

ุฑูˆู‰ ุญู…ุฒุฉ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนُุชْุจุฉ ุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ู‚ุงู„: ุจู„ุบู†ูŠ ุฃู†ّ ู…ุณุฑูˆู‚ ุจู† ุงู„ุฃุฌุฏุน ุฃุฎุฐ ุจูŠุฏ ุงุจู† ุฃุฎٍ ู„ู‡؛ ูุงุฑุชู‚ู‰ ุจู‡ ุนู„ู‰ ูƒُู†ุงุณุฉ ุจุงู„ูƒูˆูุฉ، ูู‚ุงู„: ุฃู„ุง ุฃุฑูŠูƒู… ุงู„ุฏู†ูŠุง؟ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏู†ูŠุง ุฃูƒู„ูˆู‡ุง ูุฃูู†ูˆู‡ุง، ู„ุจุณูˆู‡ุง ูุฃุจู„ูˆู‡ุง، ุฑูƒุจูˆู‡ุง ูุฃู†ุถูˆู‡ุง، ุณููƒูˆุง ููŠู‡ุง ุฏู…ุงุกู‡ู…، ูˆุงุณุชุญู„ّูˆุง ููŠู‡ุง ู…َุญุงุฑِู…َู‡ู…، ูˆู‚ุทุนูˆุง ููŠู‡ุง ุฃุฑุญุงู…ู‡ู…

Hamzah bin Abdillah bin Utbah bin Mas'ud mengatakan, 

"Sampai kepadaku khabar bahwa Masruq pernah menggandeng tangan keponakannya kemudian dia pun naik ke atas tempat pembuangan sampah di Kufah sambil mengatakan, 

"Maukah kalian aku perlihatkan kepada kalian hakikat dunia?

Inilah dunia...

Mereka memakannya sampai habis
Mereka memakainya sampai usang
Mereka menungganginya sampai lemah

Mereka rela menumpahkan darah mereka karena dunia
Mereka rela menghalalkan apa yang haram mereka karenanya
Mereka rela memutuskan tali rahim karena dunia'

(Hilyatul Auliya', 2/96)
Ustadz Wira bachrun 

KEBATILAN MAZHAB TAKWIL (2)

KEBATILAN MAZHAB TAKWIL (2)

Diantara perkara yang menjelaskan kebatilan mazhab takwil adalah bahwa konsep takwil tersebut dibangun diatas dua prinsip yang keliru dan rancu:

Pertama:
Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat sifat Allah dikategorikan kedalam teks yang zhohir yang mutli tafsir sehingga bisa ditakwil sebagaimana yang dimaklumi dalam ilmu “ushul fikih”, bukan digolongkan kedalam teks yang bersifat nash yang hanya mencakup satu makna saja, yaitu makna lafaz itu sendiri yang tidak bisa ditakwil karena tidak mencakup selain maknanya.
Kenyataannya -sebagaimana akidah ahlusunnah wal jama’ah- bahwa semua teks-teks al quran dan hadits tentang sifat-sifat Allah merupakan teks secara nash yang menunjukkan secara langsung kepada makna lafaz nas itu sendiri sebagaimana zhohirnya atau lafaznya yang disertai oleh qaraain (indikator-indikator) yang menjelaskan maksudnya.

Kedua: 
Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah dikategorikan kepada nas-nas mutasyabihat, karena mengandung tasybih, karenanya harus ditakwil (diselewengkan). Inilah sesungguhnya landasan utama kesesatan mereka yang menyebabkan mereka terjerumus kedalam berburuk sangka kepada Allah.

Jelas hal ini merupakan kebatilan yang nyata, karena hanya sekadar dakwaan/pernyataan belaka yang tidak dibangun diatas dalil, bahkan bertentangan dengan dali al quran dan sunah dari banyak sisi. Karena tidak mungkin kitab Al qur’an yang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk (ู‡ุฏู‰ ู„ู„ู†ุงุณ) , cahaya yang menerangkan seluruh kabaikan  (ู†ูˆุฑุง ู…ุจูŠู†ุง) dan karunia yang terbesar serta kabar gembira bagi kaum mukminin (ูˆุจุดุฑู‰ ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู†), yang merupakan kebenaran yang absolut, perkataan yang terbaik (ุฃุญุณู† ุงู„ุญุฏูŠุซ), bersamaan dengan hal itu semua bahwa manyoritas ayat-ayat tetang berkara yang paling utama dan agung yaitu mengenal Allah dengan sifat-sifatNya adalah perkara yang mutasyaabih, tidak diketahui maknanya secara nyata dan dimaklumi kebenaran yang terkandung didalamnya, masih samar-samar yang mengandung makna tasybih (menyerupai sifat makhluk), sedang tasybih sebagaimana yang dimaklumi adalah perkara yang batil bahkan merupakan kekufuran. 
Yang demikian tentu tidak akan mungkin dikatakan dan diyakini oleh orang-orang yang mengangungkan Allah dengan pengagungan yang sesungguhnya.
Oleh karenanya tidak sorangpun dari para shahabat radhiyallah ‘anhum yang mengatakan dan memahami bahwa nas-nas sifat merupakan ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung tasybih dan tidak diketahui maknanya.
Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan: 
"ูˆู„ู… ูŠุนุฑู ุนู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ู‚ุท ุฃู† ุงู„ู…ุชุดุงุจู‡ุงุช ุขูŠุงุช ุงู„ุตูุงุช، ุจู„ ุงู„ู…ู†ู‚ูˆู„ ุนู†ู‡ู… ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฎู„ุงู ุฐู„ูƒ، ููƒูŠู ุชูƒูˆู† ุขูŠุงุช ุงู„ุตูุงุช ู…ุชุดุงุจู‡ุฉ ุนู†ุฏู‡ู… ูˆู‡ู… ู„ุง ูŠุชู†ุงุฒุนูˆู† ููŠ ุดูŠุก ู…ู†ู‡ุง، ูˆุขูŠุงุช ุงู„ุฃุญูƒุงู… ู‡ูŠ ุงู„ู…ุญูƒู…ุฉ ูˆู‚ุฏ ูˆู‚ุน ุจูŠู†ู‡ู… ุงู„ู†ุฒุงุน ููŠ ุจุนุถู‡ุง؟". (ุงู„ุตูˆุงุนู‚ ุงู„ู…ุฑุณู„ุฉ ููŠ ุงู„ุฑุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู‡ู…ูŠุฉ ูˆุงู„ู…ุนุทู„ุฉ، ุฏุงุฑ ุงู„ุนุงุตู…ุฉ، 2/212-213). 
“Tidak diketahui dari seorang shahabatpun yang mengatakan bahwa mutasyabihat adalah ayat-ayat sifat, bahkan yang dinukilkan dari mereka menunjukan hal yang menyelisihi hal itu, bagaimana mungkin ayat-ayat sifat termasuk kepada mutasyabihat menurut mereka sedang mereka tidak berbeda pendapat tentang hal itu sedikitpun, kemudian ayat-ayat hukum merupakan nas-nas yang muhkamat sementara telah terjadi perbedaan dikalangan mereka dalam sebagian ayat (hukum) !?”. (Ash-Shawaa’iq Al-Mursalah fii ar-raddi ‘ala Al Jammiyyah wal Mu’aththilah, cet. Dar al-asihmah, 2/213-214).

Oleh karena itu tiada lain persepsi tasybih yang batil atau kufur tersebut kecuali muncul dari logika ahlul kalam yang telah dirusak oleh teori-teori kaum filsafat dan muncul hati mereka yang telah dinodai oleh syubuhat-syubuhat sekte Jahmiyah Mu’aththilah.

Jadi persepsi tasybih tidak mungkin muncul dari kalamullah , bagaimana mungkin muncul makna tasybih dari nash-nash sifat tersebut sedang Allah Ta’ala yang mengetahui tentang diriNya sendiri yang langsung menisbatkan sifat-sifat tersebut kepada diriNya, sebagaimana Allah sifati dzatNya dengan istiwa diatas arasy, memiliki dua tangan dan wajah, Allah mensifati diriNya dengan kecintaan (mahabbah) dan kemarahan (gadhaf) dan sifat-sifat yang lain yang terdapat dalam al quran dan hadits. Terlebih lagi bila nas-nas tersebut dibaca dengan seksama dan dicermati dengan baik akan dipahami bahwa semuanya menunjukan kepada kaagungaan, kebesaran dan kemulian Allah Ta’ala yang tidak satupun dari makhluk yang menyerupainya, yang tidak akan mungkin terbesit dalam hati orang-orang yang beriman yang mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sesungguhnya bahwa nas-nas tersebut mengandung/ menunjukan kepada tasybih.
Allah berfirman: 
( ู„ูŠุณ ูƒู…ุซู„ู‡ ุดูŠุก ูˆู‡ูˆ ุงู„ุณู…ูŠุน ุงู„ุจุตูŠุฑ) ุงู„ุดูˆุฑู‰ 11
“Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat”.
Allah berfirman: 
(ูˆู„ู… ูŠูƒู† ู„ู‡ ูƒููˆุง ุฃุญุฏ) ุงู„ุฅุฎู„ุงุต 4
“Dan tiada satupun tandingan (yang menyerupai)Nya”.

Bagaimana mungkin dipahami dari sifat istiwa Allah diatas arasy makna tasybih, sedang arasy tersebut tegak dan dipikul oleh delapan para malaikat dengan izin Allah Ta’ala.
Bangaimana mungkin dipahami dari sifat tangan Allah makna tasybih, sedang Allah telah menyebutkan sifat tangan tersebut bahwa bumi semuanya berada dalam genggaman satu tangan Allah dan semua langit digulung oleh tangan kanan Allah pada hari kiamat, sebagaimana firman Allah:
(ูˆู…ุง ู‚ุฏุฑูˆุง ุงู„ู„ู‡ ุญู‚ ู‚ุฏุฑู‡ ูˆุงู„ุฃุฑุถ ุฌู…ูŠุนุง ู‚ุจุถุชู‡ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูˆุงู„ุณู…ูˆุงุช ู…ุทูˆูŠุงุช ุจูŠู…ูŠู†ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุนู…ุง ูŠุดุฑูƒูˆู†) ุงู„ุฒู…ุฑ: 67
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”.

Dimanakah letaknya tasybih bersama keagungan dan kebesaran Allah yang maha dahsyat ini? Silahkan dijawab oleh kaum Jahmiyyah dari sekte Mu’tazilah dan Asya’irah!.

Contoh yang lain, bagaimana mungkin dipahami dari sifat wajah Allah makna tasybih, sedang cahaya wajah tersebut jika disingkap oleh Allah Ta’ala sungguh akan membakar semua yang ada dari makhlukNya, sebagaiamana dalam hadis yang shohih:
" ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ู„ุง ูŠู†ุงู…، ูˆู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู‡ ุฃู† ูŠู†ุงู…، ูŠุฎูุถ ุงู„ู‚ุณุท ูˆูŠุฑูุนู‡، ูŠุฑูุน ุฅู„ูŠู‡ ุนู…ู„ ุงู„ู„ูŠู„ ู‚ุจู„ ุนู…ู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ، ูˆุนู…ู„ ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ู‚ุจู„ ุนู…ู„ ุงู„ู„ูŠู„، ุญุฌุงุจู‡ ุงู„ู†ูˆุฑ -ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ: ุงู„ู†ุงุฑ- ู„ูˆ ูƒุดูู‡ ู„ุฃุญุฑู‚ุช ุณุจุญุงุช ูˆุฌู‡ู‡ ู…ุง ุงู†ุชู‡ู‰ ุฅู„ูŠู‡ ุจุตุฑู‡ ู…ู† ุฎู„ู‚ู‡" ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…: 179.
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak tidur dan tidak pantas bagiNya untuk tidur, Dia menurunkan neraca timbangan (amalan dan rejeki) dan mengangkatnya, diangkat kepadaNya amalan siang hari sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam, tabirnya adalah cahaya -dalam riwayat lain: api-, jika disinggkap oleh Allah sungguh cahaya wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang diliputi oleh pandanganNya”. H.R Muslim no. 179.

Dimanakah letaknya tasybih bersama kebesaran dan keagungan sifat wajah Allah yang mulia ini?

Oleh karenanya, tatkala Ahlussunnah wal jama’ah yang mengikuti akidah salafus sholeh menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan zhohir nas-nas al quran dan hadits, mereka menetapkannya sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah, tidak terlintas dalam benak pikiran mareka dan tidak terbesit dalam hati mereka sedikitpun persepsi negatif dan makna tasybih, karena mereka meyakini bahwa mentasybih sifat Allah dengan sifat makhluk adalah bentuk kekufuran yang nyata.

Imam Nu’aim Bin Hammad -guru Imam Bukhari- (wafat: 228 H) rahimahullah:  
«ู…ู† ุดุจู‡ ุงู„ู„ู‡ ุจุดูŠุก ู…ู† ุฎู„ู‚ู‡ ูู‚ุฏ ูƒูุฑ، ูˆู…ู† ุฃู†ูƒุฑ ู…ุง ูˆุตู ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ู†ูุณู‡ ูู‚ุฏ ูƒูุฑ، ูู„ูŠุณ ู…ุง ูˆุตู ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ู†ูุณู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ุชุดุจูŠู‡»
“Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan sesuatu dari makhlukNya sungguh ia telah kafir, dan barangsiapa yang mengingkari sifat Allah sungguh ia telah kafir, tidak ada sifat yang Allah tetapkan bagi-Nya dan ditetapkan rasul bagi diri Allah tasybih (penyerupaan)”. 
(Diriwayatkan oleh imam Al-Laalaka’i dalam kitab: “Syarh ushuul i’tiqaad ahlissunnah wal jama’ah” (3/587) no. 936 dan Imam Dzahabi dalam kitab: “Al-Uluw lil ‘aliyyi Al-Gaffar” no. 464. Syaikh Al-bani mengatakan: "ู‡ุฐุง
 ุฅุณู†ุงุฏ ุตุญูŠุญ، ุฑุฌุงู„ู‡ ุซู‚ุงุช ู…ุนุฑูˆููˆู†".)

Imam Ishaq Bin Ibrahim Ibnu Rahawaih (wafat: 238 H) mengatakan: 
«ู…ู† ูˆุตู ุงู„ู„ู‡ ูุดุจู‡ ุตูุงุชู‡ ุจุตูุงุช ุฃุญุฏ ู…ู† ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ูู‡ูˆ ูƒุงูุฑ ุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุธูŠู…، ู„ุฃู†ู‡ ูˆุตู ุจุตูุงุชู‡، ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุงุณุชุณู„ุงู… ู„ุฃู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ู…ุง ุณู†َّ ุงู„ุฑุณูˆู„» 
“Barangsiapa yang menyifati Allah, lalu menyerupakan sifatNya dengan sifat salah seorang dari makhlukNya maka ia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung, karena Allah telah menyebutkan sifat-sifatNya, tiada lain kecuali hanya berserah diri kepada perintah Allah dan tuntunan rasul”. (Lihat: Imam Al-Laalaka’i, “Syarh ushuul i’tiqaad ahlissunnah wal jama’ah” (3/588) no. 937 ).

Dengan demikian jelaslah kebatilan dan kekejian tuduah tajsim (mujassimah) kepada ahlussunnah wal jama’ah yang mengikuti akidah salafus sholeh.
Wallahu A’alam.

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan
Jember: 11 Dzulhijjah 1441 H
 01 Agustus 2020 M
Di share oleh Dr Muhammad nur Ihsan lc Ma di halaman Facebook beliau hafidahullah 

KEBATILAN MAZHAB TAKWIL (1)

KEBATILAN MAZHAB TAKWIL (1)

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆู…ู† ุงุชุจุน ู‡ุฏุงู‡ ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ، ุฃู…ุง ุจุนุฏ:
Akhir-akhir ini kembali ahlul bid’ah memunculkan akidah sekte Jahmiyyah tentang sifat-sifat Allah Ta’ala, dengan nyata mereka mengingkari sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan didalam al qur’an dan hadits yang shohih, seperti ketinggian dzat Allah dan istiwa (tinggai) Allah diatas arasy. 
Yang demikian itu bukan sesuatu yang baru dalam akidah ahlul kalam dari sekte Mu’tazilah dan Asya’irah, akan tetapi hanya sekadar daur ulang sampa pemikiran sekte Jahmiyyah Mu’aththilah dengan kemasan kontemporer seolah-olah ilmiyah dan logis, sesungguhnya hal itu tiada lain kecuali hanya rekayasan dan kejahilan belaka, ia merupakan efek negatif dari sikap penentangan terhadap al qur’an dan sunah serta persepsi yang keliru tentang Allah.
Mereka mengklaim bahwa sifat -sifat tersebut bila ditetapkan sebagaimana dhohirnya maka akan melazimkan tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan sifat makhluk), sedang tasybih adalah kebatilan dan kekufuran, maka agar selamat dari tasybih, nas-nas sifat tersebutkan harus ditakwil, yaitu diselewengkan makna teksnya dari zhohirnya, itulah maksud takwil menurut ahlul kalam, seperti firman Allah :
(ุงู„ุฑุญู…ู† ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฑุด ุงุณุชูˆู‰)   ุทู‡: 5
Menurut persepsi mereka, bila ayat tersebut ditetapkan sebagaimana zhohirnya, maka melazimkan menyerupakan Allah dengan makhlukNya, karena mereka memahami istawa sebagaimana seorang raja istawa (bersemayam/duduk) diatas singgasananya, dengan demikian berarti arasy lebih besar dari Allah, jika arasy jatuh tentu jatuh yang istiwa diatasnya dan persepsi-persepsi negatif lainnya yang mereka banyangkan tentang istiwa Allah. jelas ini adalah makna yang batil, maka agar selamat dari kebatilan tersebut, istiwa’ harus ditakwil dengan istaula yang berarti: menguasai, begitu logika mereka yang nyeleneh.
Perlu diketahui, bahwa pentakwilan nas-nas sifat pada hakikatnya bertujuan untuk menolak nas-nas tersebut dan makna/sifat yang terkandung didalamnya, akan tetapi mereka tidak mau berterus terang menyatakan hal itu, karena kekhawatiran terhadap kritikan ahlussunah yang akan memvonis mereka keluar dari islam bila dengan terang-terang menolak ayat al-quran dan hadits yang shohih, maka dengan cara yang sangat licik dan terselubung mereka menolaknya dengan istilah takwil yang hakikatnya adalah penyelewengan dan penyimpangan, begitu yang didoktrinkan oleh salah seorang tokoh utama Jahmiyyah yaitu Bisyr Al-Marriisy:
Imam Abu Sa’id Ad-Daarimi (wafat: 280 H) menyingkap kekejian makar dan niat  busuk mereka tersebut:
"ูˆุจู„ุบู†ุง ุฃู† ุจุนุถ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู…ุฑูŠุณูŠ ู‚ุงู„ ู„ู‡: ูƒูŠู ู†ุตู†ุน ุจู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุณุงู†ูŠุฏ ุงู„ุฌูŠุงุฏ ุงู„ุชูŠ ูŠุญุชุฌูˆู† ุจู‡ุง ุนู„ูŠู†ุง ููŠ ุฑุฏ ู…ุฐุงู‡ุจู†ุง، ู…ู…ุง ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุงู„ุชูƒุฐูŠุจ ุจู‡ุง؟ ู…ุซู„: ุณููŠุงู†4 ุนู† ู…ู†ุตูˆุฑ ุนู† ุงู„ุฒู‡ุฑูŠ، ูˆุงู„ุฒู‡ุฑูŠ ุนู† ุณุงู„ู…، ูˆุฃูŠูˆุจ ูˆุงุจู† ุนูˆู†3 ุนู† ุงุจู† ุณูŠุฑูŠู†4، ูˆุนู…ุฑูˆ ุจู† ุฏูŠู†ุงุฑ5 ุนู† ุฌุงุจุฑ، ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ู‡ุง؟ ูู‚ุงู„ ุงู„ู…ุฑูŠุณูŠ: ู„ุง ุชุฑุฏูˆู‡ ูุชูุชุถุญูˆุง، ูˆู„ูƒู† ุบุงู„ุทูˆู‡ู… ุจุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ูุชูƒูˆู†ูˆุง ู‚ุฏ ุฑุฏุฏุชู…ูˆู‡ุง ุจู„ุทู؛ ุฅุฐ ู„ู… ูŠู…ูƒู†ูƒู… ุฑุฏู‡ุง ุจุนู†ู". [ู†ู‚ุถ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุนุซู…ุงู† ุจู† ุณุนูŠุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฑูŠุณูŠ ุงู„ุฌู‡ู…ูŠ ุงู„ุนู†ูŠุฏ ููŠู…ุง ุงูุชุฑู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ู…ู† ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ، ู…ูƒุชุจุฉ ุงู„ุฑุดุฏ – ุงู„ุฑูŠุงุถ، 2/867-868).]
"Telah sampai kepada kami bahwa sebagian murid-murid Al-Marrisy bertanya kepadanya: apa yang harus kami lakukan terhadap (hadis-hadis) yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bagus yang mereka (ahlussunnah) jadikan sebagai hujjah terhadap kami dalam membantah mazhab-mazhab (pemikiran-pemikiran) kami, yang tidak akan mungkin bisa didustakan? Seperti yang dirwayatkan Sufyan (Tsauari) dari Manshur (Bin Mu’tamir) dari Zuhri. Dan (Riwayat) Zuhri dari Salim (Bin Abdillah Bin Umar) dan Ayyub (Bin Abi Tamimah As-Sikhtiyaani) dan Ibnu ‘Aun dari Ibnu Sirin, dan Amru Bin Dinar dari Jabir dari Nabi Shalallahu’alahi wasallam dan yang semisalnya? : 
Maka Al-Marrisi menjawab: jangan kalian tolak (secara langsung) niscaya akan tersingkap (niat dan makar) kalian, akan tetapi kecohkan mereka dengan takwil, dengan demikan kalian telah menolaknya dengan halus, karena tidak akan mungkin kalian menolaknya dengan vulgar”.  
Demikian doktrin keji Bisyr Marrisy kepada murid-muridnya dan niat busuk mereka untuk merusak agama islam, yang menjelaskan akan kebencian mereka besar kepada ayat-ayat yang menetapkan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Allah, itulah pemikiran yang diwarisi oleh kaum Jahmiyyah dizaman sekarang ini yang berkedok Ahlusunnah wal jama’ah, sungguh ini adalah bentuk pembajakan istilah sunnah untuk menutupi bid’ah dan kesesatan mereka, Allah Musta’aan.
Dan hakikat takwil adalah ta’thil (pengingkaran terhadap sifat), jadi konsep pemikiran mereka dalam hal ini dibangun diatas tiga tahapan: (1) persepsi yang negatif (Tasybih) kemudian (2) sikap yang menyimpang yaituTakwil , kemudian (3) hasil yang batil yaitu Ta’thiil.
Pentakwilan nas-nas sifat merupakan akidah yang sangat batil, diantara hal yang menjelaskan kebatilannya tiga pertanyaan pemungkas yang menyingkap kesesatanya:
Pertama: Tanyakan kepada sekte Asya’irah yang menamakan diri mereka sebagai ahlussunah wal jama’ah (!): apakah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengetauhi bahwa makna yang benar tentang nas-nas sifat tersebut adalah apa yang kalian pahami/katakan, atau tidak ?
Jawabanya satu dari dua: iya atau tidak, jika mereka menjawab: bahwa Nabi tidak mengetahui pentakwilan istawa dengan istaula, sungguh mereka telah mengatakan perkataan yang sangat batil, karena telah mendustai sabda beliau shalallahu’alaihi wasallam: 
«ุฅู† ุฃุชู‚ุงูƒู… ูˆุฃุนู„ู…ูƒู… ุจุงู„ู„ู‡ ุฃู†ุง» ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฑู‚ู…: 20
“Sesungguh yang paling bertaqwa dan yang paling berilmu diantara kalian tentang Allah adalah saya”. H.R Bukhari no. 20
Jika mereka menjawab: iya, yaitu bahwa beliau shalallahu’alaihi wasallam mengetahui bahwa makna yang benar tentang ayat tesebut adalah apa yang mereka pahami, yaitu takwil. Maka timbul pernyataan: kenapa beliau tidak menjelaskannya?
Kedua: Bukankah Nabi shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling fasih yang mampu menjelaskan kebenaran tentang makna dari ayat-ayat yang kalian pahami, atau tidak ?
Jika mereka menjawab: tidak, sungguh mereka telah mencela Allah dan mencela Rasul-Nya, mereka telah mencela Allah, karena kelaziman dari jawaban tersebut bahwa Allah mengutus seorang rasul yang tidak mampu menjelaskan kebenaran kepada umatnya, tentu maha suci Allah dari tuduhan yang keji dan batil ini.
Begitu juga mereka telah mencela Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, karena telah menuduh beliau sebagai orang yang pandir yang tidak memiliki kefasihan dan kemampuan dalam menjelaskan kebenaran, tentu Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang selamat dari sifat yang seperti itu, bahkan beliau adalah orang yang paling fasih dan yang paling mampu menjelaskan kebenaran tentang makna ayat-ayat sifat dan yang lainnya, akan tetapi kenapa tidak dinukilkan dari beliau pentakwilan sifat istawa dalam firman Allah (ุงู„ุฑุญู…ู† ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฑุด ุงุณุชูˆู‰)  sebagaimana yang kaum Mu’tazilah dan Asya’irah takwilkan dengan makna (ุงุณุชูˆู„ู‰) ?
Ketiga:  Bukankah Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah nabi yang paling bersungguh-sungguh memberikan hidayah kepada umatnya dan sangat menginginakn kebaikan bagi kaum mukminin, atau tidak ?
Jika mereka menjawab: tidak, sungguh mereka telah mengatakan kebatilan yang dahsyat dan telah mendustai firman Allah:
(ู„ู‚ุฏ ุฌุงุกูƒู… ุฑุณูˆู„ ู…ู† ุฃู†ูุณูƒู… ุนุฒูŠุฒ ุนู„ูŠู‡ ู…ุง ุนู†ุชู… ุญุฑูŠุต ุนู„ูŠูƒู… ุจุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ุฑุคูˆู ุฑุญูŠู…) ุงู„ุชูˆุจุฉ: 128.
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (kebaikan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Maka tiada lain jawaban mereka kecuali pasti mengatakan: bahwa beliau adalah orang yang paling menginginkan kebaikan dan petunjuk bagi umatnya.
Jika halnya demikan: bahwa Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling berilmu tentang Allah, yang paling fasih yang mampu menjelaskan kebenaran dan paling besungguh-sungguh memberikan petunjuk dan sangat menginginkan kebaikan bagi kaum mukminin, nah yang menjadi pertanyaan: kenapa beliau shalallahu’alaihi wasallam tidak menjelaskan makna dari nas-nas sifat tersebut seperti yang ditakwilan oleh ahlu kalam dari kalangan Mu’tazilah, Asya’irah dan sekte-sekte yang lain yang mengadopsi pemikiran Jahmiyyah tersebut?
Itulah tiga pertanyaan pemungkas yang wajib dijawab oleh sekte Asya’irah dan orang-orang yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal jama’ah tetapi mengingkari dan mentakwil sifat-sifat Allah Ta’ala. 
Jika mereka tidak bisa menjawabnya dan mustahil mereka akan bisa menjawabnya dengan benar, maka jelaslah kebatilan dan kesesatan mazhab takwil dan akidah ta’thil yang mereka yakini dan perjuangkan, dan tiada selain kebenaran kecuali hanya kebatilan.
(ู‚ู„ ู‡ุงุชูˆุง ุจุฑู‡ุงู†ูƒู… ุฅู† ูƒู†ุชู… ุตุงุฏู‚ูŠู†) ุงู„ุจู‚ุฑุฉ: 111
“Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar."
(ูู…ุงุฐุง ุจุนุฏ ุงู„ุญู‚ ุฅู„ุง ุงู„ุถู„ุงู„، ูุฃู†ู‰ ุชุตุฑููˆู†) ูŠูˆู†ุณ: 32. 
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? 

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan
Jember: 10 Dzulhijjah 1441 H
 30 Juli 2020 M
Di share oleh Dr Muhammad nur Ihsan lc Ma 

Tiga sekte menyimpang dalam al Asma was Shifat

Tiga sekte menyimpang dalam al Asma was Shifat 

Dalam menyikapi nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala secara umum ada 3 sekte yang menyimpang :

1. Jahmiyah
Para pengikut Jahm bin Shafwan dan yang mengikuti jalannya. Mereka tidak mau menetapkan nama ataupun sifat bagi Allah. 

Artinya mereka mengatakan Allah tidak punya nama-nama dan tidak punya sifat-sifat, Allah tidak mendengar, tidak melihat, tidak berfirman, tidak mengampuni, tidak marah, tidak ridha, tidak di dalam alam, tidak di luar alam, tidak di atas, tidak di bawah, dst.

2. Mu'tazilah 
Para pengikut Washil bin 'Atha, yang dulunya merupakan murid dari Al Hasan Al Bashri rahimahullah. Kemudian menentang gurunya dan i'tizal (keluar) dari majelisnya Al Hasan. 

Ia dan para pengikutnya menetapkan nama bagi Allah, namun tidak menetapkan sifat. Jadi mereka mengatakan: nama Allah itu Ar Rahman, namun Allah tidak punya sifat rahmah (pengasih), nama Allah itu As Sami' namun Allah tidak punya sifat as sam'u (mendengar), dst.

3. Asya'irah
Mereka mengklaim mengikuti madzhab Abul Hasan Al Asy'ari. Yang Abul Hasan Al Asy'ari sendiri awalnya terjerumus pada paham Mu'tazilah, kemudian bertaubat dan membantah Mu'tazilah. Namun lalu menetapkan pemahaman Asya'irah ini. Tapi di akhir hidupnya beliau bertaubat dan kembali kepada akidah salaf dalam memahami al asma' was shifat.

Asya'irah menetapkan sebagian sifat dan menolak sifat-sifat Allah yang lainnya. Sebagian sifat yang mereka tetapkan pun landasannya adalah akal. Artinya, menurut akal, suatu dzat itu disebut "Tuhan" jika memiliki sifat A, B, C, D, dst. 

[Diringkas dari Al Madkhal ila Dirasatil Aqidah Al Islamiyyah, hal. 33. Karya Syaikh Prof. Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar, dengan sedikit penambahan].

Adapun Ahlussunnah wal Jama'ah menetapkan semua nama dan sifat Allah yang ditetapkan oleh Allah sendiri dalam Al Qur'an dan ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dalam hadits-hadits yang shahih, apa adanya, sesuai makna zahirnya, tanpa takyif (mendeskripsikan detail-detail sifat) dan tanpa tamtsil (menyerupakan dan menyamakan sifat Allah dengan makhluk).

Semoga Allah memberi taufik.

Join channel telegram @fawaid_kangaswad