Minggu, 02 Agustus 2020

Imam Abu Utsman Ash-Shobuni (Ulama Syafiiyyah)

#Aqidah Para Imam Dalam Menetapkan Sifat Nuzul (Turunnya Allah Ke Langit Dunia)

5. Imam Abu Utsman Ash-Shobuni (Ulama Syafiiyyah)

- Imam Abu Utsman As-Shobuni rahimahullah (wafat thn 449H) berkata:

" Ahli hadist menetapkan TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM, tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk, TANPA MENGGAMBARKAN, dan TANPA MENANYAKAN BAGAIMANANYA, mereka menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullahi shallahu alaihi wa sallam, dan mereka diam apa yang Rasulullah shallahu alaihi wa salam diam terhadapnya, mereka memberlakukan khobar yang sahih yang menyebutkan hal tersebut sebagaimana dzohirnya, dan menyerahkan ilmunya kepada Allah.."

Kitab Aqidatus Salaf Wa Ashabul Hadist (hal. 191)
Ustadz Rudi abu aisyah 

KEBATILAN MAZHAB TAKWIL (1)

KEBATILAN MAZHAB TAKWIL (1)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه إلى يوم القيامة، أما بعد:
Akhir-akhir ini kembali ahlul bid’ah memunculkan akidah sekte Jahmiyyah tentang sifat-sifat Allah Ta’ala, dengan nyata mereka mengingkari sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan didalam al qur’an dan hadits yang shohih, seperti ketinggian dzat Allah dan istiwa (tinggai) Allah diatas arasy. 
Yang demikian itu bukan sesuatu yang baru dalam akidah ahlul kalam dari sekte Mu’tazilah dan Asya’irah, akan tetapi hanya sekadar daur ulang sampa pemikiran sekte Jahmiyyah Mu’aththilah dengan kemasan kontemporer seolah-olah ilmiyah dan logis, sesungguhnya hal itu tiada lain kecuali hanya rekayasan dan kejahilan belaka, ia merupakan efek negatif dari sikap penentangan terhadap al qur’an dan sunah serta persepsi yang keliru tentang Allah.
Mereka mengklaim bahwa sifat -sifat tersebut bila ditetapkan sebagaimana dhohirnya maka akan melazimkan tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan sifat makhluk), sedang tasybih adalah kebatilan dan kekufuran, maka agar selamat dari tasybih, nas-nas sifat tersebutkan harus ditakwil, yaitu diselewengkan makna teksnya dari zhohirnya, itulah maksud takwil menurut ahlul kalam, seperti firman Allah :
(الرحمن على العرش استوى)   طه: 5
Menurut persepsi mereka, bila ayat tersebut ditetapkan sebagaimana zhohirnya, maka melazimkan menyerupakan Allah dengan makhlukNya, karena mereka memahami istawa sebagaimana seorang raja istawa (bersemayam/duduk) diatas singgasananya, dengan demikian berarti arasy lebih besar dari Allah, jika arasy jatuh tentu jatuh yang istiwa diatasnya dan persepsi-persepsi negatif lainnya yang mereka banyangkan tentang istiwa Allah. jelas ini adalah makna yang batil, maka agar selamat dari kebatilan tersebut, istiwa’ harus ditakwil dengan istaula yang berarti: menguasai, begitu logika mereka yang nyeleneh.
Perlu diketahui, bahwa pentakwilan nas-nas sifat pada hakikatnya bertujuan untuk menolak nas-nas tersebut dan makna/sifat yang terkandung didalamnya, akan tetapi mereka tidak mau berterus terang menyatakan hal itu, karena kekhawatiran terhadap kritikan ahlussunah yang akan memvonis mereka keluar dari islam bila dengan terang-terang menolak ayat al-quran dan hadits yang shohih, maka dengan cara yang sangat licik dan terselubung mereka menolaknya dengan istilah takwil yang hakikatnya adalah penyelewengan dan penyimpangan, begitu yang didoktrinkan oleh salah seorang tokoh utama Jahmiyyah yaitu Bisyr Al-Marriisy:
Imam Abu Sa’id Ad-Daarimi (wafat: 280 H) menyingkap kekejian makar dan niat  busuk mereka tersebut:
"وبلغنا أن بعض أصحاب المريسي قال له: كيف نصنع بهذه الأسانيد الجياد التي يحتجون بها علينا في رد مذاهبنا، مما لا يمكن التكذيب بها؟ مثل: سفيان4 عن منصور عن الزهري، والزهري عن سالم، وأيوب وابن عون3 عن ابن سيرين4، وعمرو بن دينار5 عن جابر، عن النبي صلى الله عليه وسلم وما أشبهها؟ فقال المريسي: لا تردوه فتفتضحوا، ولكن غالطوهم بالتأويل فتكونوا قد رددتموها بلطف؛ إذ لم يمكنكم ردها بعنف". [نقض الإمام أبي سعيد عثمان بن سعيد على المريسي الجهمي العنيد فيما افترى على الله عز وجل من التوحيد، مكتبة الرشد – الرياض، 2/867-868).]
"Telah sampai kepada kami bahwa sebagian murid-murid Al-Marrisy bertanya kepadanya: apa yang harus kami lakukan terhadap (hadis-hadis) yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bagus yang mereka (ahlussunnah) jadikan sebagai hujjah terhadap kami dalam membantah mazhab-mazhab (pemikiran-pemikiran) kami, yang tidak akan mungkin bisa didustakan? Seperti yang dirwayatkan Sufyan (Tsauari) dari Manshur (Bin Mu’tamir) dari Zuhri. Dan (Riwayat) Zuhri dari Salim (Bin Abdillah Bin Umar) dan Ayyub (Bin Abi Tamimah As-Sikhtiyaani) dan Ibnu ‘Aun dari Ibnu Sirin, dan Amru Bin Dinar dari Jabir dari Nabi Shalallahu’alahi wasallam dan yang semisalnya? : 
Maka Al-Marrisi menjawab: jangan kalian tolak (secara langsung) niscaya akan tersingkap (niat dan makar) kalian, akan tetapi kecohkan mereka dengan takwil, dengan demikan kalian telah menolaknya dengan halus, karena tidak akan mungkin kalian menolaknya dengan vulgar”.  
Demikian doktrin keji Bisyr Marrisy kepada murid-muridnya dan niat busuk mereka untuk merusak agama islam, yang menjelaskan akan kebencian mereka besar kepada ayat-ayat yang menetapkan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Allah, itulah pemikiran yang diwarisi oleh kaum Jahmiyyah dizaman sekarang ini yang berkedok Ahlusunnah wal jama’ah, sungguh ini adalah bentuk pembajakan istilah sunnah untuk menutupi bid’ah dan kesesatan mereka, Allah Musta’aan.
Dan hakikat takwil adalah ta’thil (pengingkaran terhadap sifat), jadi konsep pemikiran mereka dalam hal ini dibangun diatas tiga tahapan: (1) persepsi yang negatif (Tasybih) kemudian (2) sikap yang menyimpang yaituTakwil , kemudian (3) hasil yang batil yaitu Ta’thiil.
Pentakwilan nas-nas sifat merupakan akidah yang sangat batil, diantara hal yang menjelaskan kebatilannya tiga pertanyaan pemungkas yang menyingkap kesesatanya:
Pertama: Tanyakan kepada sekte Asya’irah yang menamakan diri mereka sebagai ahlussunah wal jama’ah (!): apakah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengetauhi bahwa makna yang benar tentang nas-nas sifat tersebut adalah apa yang kalian pahami/katakan, atau tidak ?
Jawabanya satu dari dua: iya atau tidak, jika mereka menjawab: bahwa Nabi tidak mengetahui pentakwilan istawa dengan istaula, sungguh mereka telah mengatakan perkataan yang sangat batil, karena telah mendustai sabda beliau shalallahu’alaihi wasallam: 
«إن أتقاكم وأعلمكم بالله أنا» البخاري رقم: 20
“Sesungguh yang paling bertaqwa dan yang paling berilmu diantara kalian tentang Allah adalah saya”. H.R Bukhari no. 20
Jika mereka menjawab: iya, yaitu bahwa beliau shalallahu’alaihi wasallam mengetahui bahwa makna yang benar tentang ayat tesebut adalah apa yang mereka pahami, yaitu takwil. Maka timbul pernyataan: kenapa beliau tidak menjelaskannya?
Kedua: Bukankah Nabi shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling fasih yang mampu menjelaskan kebenaran tentang makna dari ayat-ayat yang kalian pahami, atau tidak ?
Jika mereka menjawab: tidak, sungguh mereka telah mencela Allah dan mencela Rasul-Nya, mereka telah mencela Allah, karena kelaziman dari jawaban tersebut bahwa Allah mengutus seorang rasul yang tidak mampu menjelaskan kebenaran kepada umatnya, tentu maha suci Allah dari tuduhan yang keji dan batil ini.
Begitu juga mereka telah mencela Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, karena telah menuduh beliau sebagai orang yang pandir yang tidak memiliki kefasihan dan kemampuan dalam menjelaskan kebenaran, tentu Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang selamat dari sifat yang seperti itu, bahkan beliau adalah orang yang paling fasih dan yang paling mampu menjelaskan kebenaran tentang makna ayat-ayat sifat dan yang lainnya, akan tetapi kenapa tidak dinukilkan dari beliau pentakwilan sifat istawa dalam firman Allah (الرحمن على العرش استوى)  sebagaimana yang kaum Mu’tazilah dan Asya’irah takwilkan dengan makna (استولى) ?
Ketiga:  Bukankah Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah nabi yang paling bersungguh-sungguh memberikan hidayah kepada umatnya dan sangat menginginakn kebaikan bagi kaum mukminin, atau tidak ?
Jika mereka menjawab: tidak, sungguh mereka telah mengatakan kebatilan yang dahsyat dan telah mendustai firman Allah:
(لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم) التوبة: 128.
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (kebaikan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Maka tiada lain jawaban mereka kecuali pasti mengatakan: bahwa beliau adalah orang yang paling menginginkan kebaikan dan petunjuk bagi umatnya.
Jika halnya demikan: bahwa Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling berilmu tentang Allah, yang paling fasih yang mampu menjelaskan kebenaran dan paling besungguh-sungguh memberikan petunjuk dan sangat menginginkan kebaikan bagi kaum mukminin, nah yang menjadi pertanyaan: kenapa beliau shalallahu’alaihi wasallam tidak menjelaskan makna dari nas-nas sifat tersebut seperti yang ditakwilan oleh ahlu kalam dari kalangan Mu’tazilah, Asya’irah dan sekte-sekte yang lain yang mengadopsi pemikiran Jahmiyyah tersebut?
Itulah tiga pertanyaan pemungkas yang wajib dijawab oleh sekte Asya’irah dan orang-orang yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal jama’ah tetapi mengingkari dan mentakwil sifat-sifat Allah Ta’ala. 
Jika mereka tidak bisa menjawabnya dan mustahil mereka akan bisa menjawabnya dengan benar, maka jelaslah kebatilan dan kesesatan mazhab takwil dan akidah ta’thil yang mereka yakini dan perjuangkan, dan tiada selain kebenaran kecuali hanya kebatilan.
(قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين) البقرة: 111
“Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar."
(فماذا بعد الحق إلا الضلال، فأنى تصرفون) يونس: 32. 
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? 

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan
Jember: 10 Dzulhijjah 1441 H
 30 Juli 2020 M
Di tulis oleh ustadz Dr Muhammad nur Ihsan Ma hafidahullah pada halaman Facebook beliau 

Fir'aun mendustai Nabi Musa ‎عليه السلام

Fir'aun mendustai Nabi Musa عليه السلام

Allah ceritakan tentang fir'aun yang mendustai dakwah Nabi Musa tentang ketinggian Allah diatas arsy-Nya :

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ یَـٰهَـٰمَـٰنُ ٱبۡنِ لِی صَرۡحࣰا لَّعَلِّیۤ أَبۡلُغُ ٱلۡأَسۡبَـٰبَ

Dan Fir‘aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (36)

أَسۡبَـٰبَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰۤ إِلَـٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّی لَأَظُنُّهُۥ كَـٰذِبࣰاۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ زُیِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوۤءُ عَمَلِهِۦ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِیلِۚ وَمَا كَیۡدُ فِرۡعَوۡنَ إِلَّا فِی تَبَابࣲ

(yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir‘aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir‘aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (37)

Maka barangsiapa yang mengingkari ketinggian Allah diatas Arsy-Nya berarti Aqidahnya sama dengan Aqidah fir'aun.
Ustadz Soni abu Abdillah

Harun ar-Rasyid memiliki pasukan berjumlah 20.000 personil, hebatnya, tak seorang pun dari mereka mencatatkan namanya di Diwan Jundi* agar tidak ada seorang pun yang mengenali mereka kecuali Allah semata!

Luarbiasanya Keikhlasan

Harun ar-Rasyid memiliki pasukan berjumlah 20.000 personil, hebatnya, tak seorang pun dari mereka mencatatkan namanya di Diwan Jundi* agar tidak ada seorang pun yang mengenali mereka kecuali Allah semata!

Ada-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala.

======================================
Hal ini barangkali karena dekatnya mereka dengan ilmu dan ulama, termasuk ulama yang masyhur ikut berjihad masa awal Abbasiyah adalah Abdullah bin Mubarak yang biasa memakai semacam penutup muka, agar tidak diketahui identitas dirinya, maklum diketahui bahwa beliau adalah ulama tersohor di masanya. 

------------------------------------------------------------------
* Diwan Jundi berasal dari dua kata, Diwan yang berarti catatan, dalam konteks kekinian sering dianggap setara dengan kementerian yang berarti salah satu lembaga resmi negara. Adapun Jundi berarti tentara, sehingga Diwan Jundi ini seperti kementerian khusus yang mengatur administrasi ketentaraan; baik pendataan namanya, termasuk mengatur upah mereka.

Wallahua'lam.
Ustadz Ezzedin luthfi 

Sabtu, 01 Agustus 2020

ANTARA_TUDUHAN#DAN_PEMBUKTIAN

#ANTARA_TUDUHAN
#DAN_PEMBUKTIAN

🔰AL ALBANI TAKFIRI ??!

Ketika Syaikh Al Albani rahimahullah pertama kali datang ke negeri Yordan maka sebagian fuqaha/ulama negeri tersebut mengunjungi Syaikh.
kemudian diantara mereka berkata : wahai Syaikh Al Albani, engkau mudah memvonis kafir orang lain. 
maka Syaikh Al Albani menjawab : aku berlindung kepada Allah dari hal itu. 

kemudian Syaikh Al Albani bertanya balik kepada ulama tersebut (yang kemudian hari ia menjadi Mufti resmi kerajaan Yordania) : apa pendapatmu jika engkau mendengar seseorang shalat sunnah seraya berkata "aku shalat dua rakaat sunnah dzuhur ini untuk Rasulullah"?

Ia menjawab : orang tersebut kafir.

Syaikh Al Albani berkata : kalau aku tidak mengkafirkannya, karena orang ini jahil maka aku akan ajari dia.

📚As Salafiyyah An Naqiyyah, hal. 30-31, karya As Syaikh Al Muhaqqiq Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzahullah,.

SubhanaAllah... perhatikan ilmu dan kehati-hatian Syaikh Al Albani dalam bab takfir.

🌷🍀_________
Begitulah kira-kira gambaran para pembenci dakwah salafiyyah, sebagian mereka menuduh dan memfitnah bahwa dakwah salafiyyah adalah dakwah wahhabiyyah, bahwa dakwah salafiyyah ini radikal dan ekstrim, bahwa dakwah salafiyyah ini mudah mengkafirkan orang lain, bahwa dakwah salafiyyah ini khawarij, bahwa dakwah salafiyyah ini murjiah, bahwa dakwah salafiyyah ini anti NKRI, bahwa dakwah salafiyyah ini teroris, bahwa dakwah salafiyyah ini tidak peduli diluar jamaahnya.. dll.

tapi itu semua adalah tuduhan dusta yang tidak ada buktinya, padahal tuduhan-tuduhan dan fitnah tersebut kembali kepada yang menduduh itu sendiri.

Dakwah salafiyyah adalah dakwah yang bijak karena berada diatas manhaj salafus shalih. 
dan diantara prinsip dakwah mulia ini adalah: 
1. Menyerukan beribadah hanya kepada Allah
2. Menyerukan ittiba' kepada Rasul
3. Menyerukan ketaatan kepada pemimpin kaum muslimin dalam kebaikan
4. Melarang merendahkan pemimpin, mencela dan memberontaknya
5. Melarang turun ke jalan untuk aksi demo
6. Menyerukan persatuan dan pentingnya menjaga tanah air
7. Mengingatkan umat dan rakyat dari bahaya kelompok-kelompok radikal, yang membahayakan umat dan negeri
8. Mengajak umat untuk semangat dalam belajar agama dan berdakwah
9. Mengajak umat untuk peduli dan bergandeng tangan dalam membantu muslim lainnya, bahkan sesama rakyat
10. Berhati-hati dalam memvonis orang lain sebagai kafir.
11. Dakwah dengan rahmah dan hikmah. 

Puluhan tahun bahkan ratusan tahun dakwah salafiyyah selalu mendapatkan tuduhan keji dan fitnah jahat dari orang-orang kafir atau sebagian kaum muslimin yang belum memahami prinsip dan manhaj dakwah ini, tetapi dakwah ini semakin berkembang dan tersebar di seluruh dunia sampai pelosoknya karena dakwah ini sesuai dengan fitrah manusia. 

Kita hanya berkewajiban menyampaikan dakwah ini dan mendoakan orang-orang yang memusuhinya dengan doa :

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ 

"Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti".

Sehingga tidak ada penganiayaan fisik dan penculikan kepada orang yang memushuinya.

وفقني الله وإياكم في التمسك بالمنهج السلفي والاستقامة عليه،.
Ustadz Muhammad Alif lc 

Dikisahkan ketika putra sahabat yg mulia mendatangi bapaknya yakni 'Amr bin al 'Âsh yang sedang sakaratul maut

Dikisahkan ketika putra sahabat yg mulia mendatangi bapaknya yakni 'Amr bin al 'Âsh yang sedang sakaratul maut, putranya berkata: "andai aku bisa bertemu dengan seorang yang berakal cerdas ketika sakaratul maut, sehingga bisa mensifati kepadaku apa yg dirasakan dari rasa sakitnya, dan aku rasa engkaulah orang tersebut, wahai bapakku, ceritakanlah bagaimana rasa sakitnya sakaratul maut? 
Sahabat 'Amr bin al 'Âsh seraya berkata: "Wahai anakku, demi Allâh, badanku seakan-akan dihimpitkan (diremukkan), dan seakan-akan aku bernafas dari lubang jarum, dan seakan-akan dahan yang dipenuhi dengan duri dipukulkan dari ujung kaki sampai ujung kepalaku”.
Kemudian beliau bersya'ir:

ليتني كنت قبل ما قد بد لي # في تلال الجبال أرعى وعولا

Dari 'Amr bin Syurahbil dan hadits ini beliau marfu'kan: "Seandainya satu helai rambut mayit yang sedang merasakan sakitnya kematian diberikan kepada para penghuni langit dan bumi, maka mereka akan merasakan kematian juga"

(Al 'Irâqi mengomentari hadits tsb, bahwasannya hadits ini mursal tetapi sanadnya hasan)

[Kitâb Tadzkirah bi Ahwâlil Mautâ wa Umûril Âkhirah: 153-154]
Ustadz Hamzah Abdul Aziz 

JANGAN TIRU AKU Bag 2

JANGAN TIRU AKU Bag 2
__________________________

Muhammad bin Harun Al Balakhi berkata:
Wahai Malik aku dahulu waktu masih muda adalah orang yang paling banyak minum-minunan keras, suatu hari aku sedang berada dirumah pacarku, minum khomer hingga aku kacau dan hilang kesadaranku, aku pulang ke rumah sempoyongan, sedang ibuku sedang menyalakan tungku api pembuat roti yang telah berwarna putih tengahnya, saat melihatku sempoyongan mabuk, beliau menasehatiku, dengan berkata: Duh nak ini hari terakhir di bulan Sya'ban, dan malam pertama bulan Ramadhan, besok orang pada puasa, ehh kamu malah mabuk, tidakkah kamu malu sama Allah?! 
Kemudian aku tampar beliau, diapun berkata: Celaka kamu!

Akupun menjadi emosi karena perkataannya, dan mabukku membuat tak terbendung emosiku, kumasukkan ibuku ke dalam tungku api menyala. Di saat itu isteriku melihatku dan menyeretku kedalam kamar dan mengunciku dari luar, hingga malam hari aku tersadar dari mabukku, kugedor pintu kamar agar isteriku membukakan pintu, dia jawab dengan dengan membentakku dan ceracau umpatan kepadaku. 

Aku berkata: Apa ini?! Kenapa ini?! Aku tidak pernah mendapatimu seperti ini, 

Dijawab: Kau berhak tidak mendapat kasih sayang.

Aku berkata: Kenapa?!

Dijawab: Kau telah membunuh ibumu, kau lempar beliau ke dalam tungku hingga matang terbakar.

Setelah aku mendengar ucapannya, aku tak sabar hingga kucongkel pintu, dan aku keluar menuju tungku, dan kulihat ibuku sudah menjadi gosong seperti roti tamis gosong, maka aku segera berlari menuju pintu, kupatahkan tangan kananku dengan menggencetkannya ke daun pintu yang kudobrakkan dengan sekuat tenaga tangan kiriku, dan kuikatkan sisa tangan kanan ini menggantung dileherku, .

Saat itu aku punya uang 8000 dinar, semuanya aku sedekahkan sebelum matahari terbenam, ku bebaskan 26 budak wanita dan 23 budak laki-laki, kuwakafkan seluruh tanahku untuk sabilillah dan semenjak 40 tahun lalu aku puasa, shalat malam dan menunaikan ibadah haji setiap tahun, dan setiap tahun pula datang seorang ulama sepertimu memberitahukanku mimpinya mirip dengan mimpimu, bahwa aku adalah penghuni neraka.

Akupun menutupkan tanganku kewajahku dan berkata kepadanya: Wahai orang celaka, hampir saja kau bakar bumi ini dan seisinya dengan apimu.

Diapun mengangkat satu tangan kirinya ke atas langit, dan berkata: 
“يا فارج الهم وكاشف الغم مجيب دعوة المضطرين أعوذ برضاك من سخطك وبمعافاتك من عقوبتك لا تقطع رجائي ولا تخيب دعائي”.
WAHAI PEMBUKA KESEDIHAN, PENYINGKAP KEGUNDAHAN, PENERIMA DOA ORANG TERHIMPIT, AKU BERLINDUNG KEPADAMU DENGAN KERIDLAANMU DARI KEMARAHANMU, AKU BERLINDUNG DENGAN MAAFMU DARI HUKUMANMU, JANGAN KAU PUTUS HARAPANKU KEPADAMU, JANGAN KAU SIAKAN DOA-DOAKU.

Malik berkata: 
Akupun kembali ke rumahku, aku tidur, dan Aku bermimpi melihat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dimimpiku bersabda: 
Wahai Malik jangan kau jadikan manusia berputus asa dari rahmat kasih sayang Allah, jangan kau jadikan mereka putus asa dari maaf-Nya. Sesungguhnya Allah telah mempersaksikan di depan Al Mala Al a'la (penduduk langit) bahwa Allah telah menerima doanya, memaafkan dosanya, pergilah kepadanya besok, dan katakanlah: 
Bahwa Allah mengumpulkan orang yang pertama dan terakhir di hari kiamat dan memberi kemenangan putusan qishas untuk hewan yang patah tanduknya karena dipatahkan oleh hewan bertanduk lainnya, dan Allah akan kumpulkan kamu wahai Muhammad bin Harun dengan ibumu, dan memutuskan keputusan untuk ibumu, dan Allah perintahkan malaikat menyeretmu ke neraka, dengan rantai yang keras. Hingga kau merasakan rasa neraka tiga hari tiga malam sama seperti hari-hari dunia, kemudian aku beri hati ibumu rahmah kasih sayang, hingga beliau memelas kepadaku untuk menyelamatkanmu, maka aku serahkan keputusan kepadanya, dan kalian berdua masuk ke surga, karena aku telah mengancam bahwa tidaklah ada seorang dari hambaku meminum khomer, dan membunuh satu jiwa yang diharamkan, kecuali aku rasakan dia rasanya Api neraka .

Saat pagi hari segera aku bergegas menuju tempatnya, dan aku ceritakan mimpiku, maka aku lihat seakan kehidupannya kembali seperti batu terkena cipratan air.

Kemudian beliau meninggal, dan aku termasuk orang yang menyalatkannya.

Dari kitab AL BIRRU WASH SHILAH
KARYA IBNUL JAUZY.

“منقول بتصرف من كتاب البر والصلة – لابن الجوزي

YA ALLAH BERILAH HATI INI RASA CINTA KEPADA KEIMANAN, DAN HIASILAH HATI KAMI DENGANNYA,

BENCIKANLAH HATI INI SEGALA BENTUK KEKUFURAN, KEFUSUKAN DAN KEMAKSIATAN,

JADIKANLAH KAMI ORANG YANG CERDAS BERAKAL.
Ustadz berian muntaqo Fatkhuri lc Ma