Minggu, 02 Agustus 2026

Mengapa NU membenci Wahabi

https://www.facebook.com/share/p/17XxKbbrZa/
Mengapa NU membenci Wahabi

Saya hidup di lingkungan NU dan mesantren di pesantren NU, ada hal yang saya tarik kesimpulan bahwa NU memiliki DNA membenci Wahabi. Bahkan bisa diambil kesimpulan, NU didirikan untuk memusuhi Wahabi.

Sebagai seorang pelajar yang terpelajar, saya tentu tidak puas. Mengapa kita digiring untuk membenci Wahabi. Jika banyak kasus, NU melakukan tindakan dengan tujuan untuk membungkam kajian Sunnah, maka sebenarnya tidak heran, karena DNA NU dari dulu memang ditujukan untuk membungkam Wahabi.

Maka sebagai pelajar atau santri, saya butuh mempelajari mendalam siapa itu Wahabi. Yang paling akurat, saya harus belajar dari kitab Muhammad bin Abdul Wahhab, Maka saya pelajari beberapa kitab beliau: 
1. Tsalatsatul Ushul 
2. Dinul Islam
3. Makna lailahailallah 
4. Kasyfu Syubhat
5. Makna Thogut
6. Pembatal Keislaman/ Nawaqidul Islam
7. Kitab Tauhid 
8. Al-Qawaidul Arbaah

Saya tidak jumpai beliau menyelisihi pokok-pokok Islam. Saya belajar Islam ini lebih dr 35 tahun, saya belajar ilmu alat, belajar Al-Qur'an dan hadis, fikih dan Ushul fiqh, belajar ulumul Qur'an dan ulumul hadis, dan saya belajar akidah salaf. Beberapa akidah salaf saya hafal, syarhus Sunnah al-muzani, akidah qutaibah bin Sa'id dan al-haiyyah Ibnu abu Dawud, tiga kitab akidah ini saya hafal, dan saya ulang rutin. Saya jujur saja tak menemukan kekeliruan fatal dari buku Muhammad bin Abdul Wahhab.

Maka, saya merasa tidak ada masalah dengan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, bahkan itu sesuai Qur'an dan Sunnah. Maka saya pun lihat sejarah, tentang tokoh yang pernah disebut sebagai Wahabi. Ternyata semuanya merujuk kepada kesimpulan sama: mereka semua berusaha menegakkan Sunnah. Siapa pun dia, mau Muhammadiyah, persis, Al-Irsyad, semuanya akan di vonis sebagai Wahabi.

Maka, jika dipelajari, tokoh semisal KH Ahmad Dahlan, Imam Bonjol, Buya Hamka, Muhammad Natsir, semuanya pernah disebut sebagai Wahabi.

Saya akan berikan sedikit keyakinan salaf, secara singkat, yang sesuai Qur'an dan Sunnah, kebetulan tidak sesuai dengan tradisi NU, sehingga disematkan sebagai Wahabi:
1. Mengimani sifat uluw yaitu Allah tinggi di atas Arsy, dzat-Nya
2. Mengimani seluruh sifat Allah termasuk sifat dzat. Maka Allah memiliki tangan, memiliki tangan kanan, memiliki wajah, dengan keyakinan bahwa Allah tidak sama dengan makhluk.
3. Mengimani Allah dilihat di hari kiamat, wajah Allah di lihat di surga dengan mata telanjang
4. Mengimani Al-Qur'an adalah Kalamullah, dengan huruf dan suara.
5. Mengimani adzab kubur, nikmat kubur
6. Mengimani bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat 
7. Mengimani bahwa penduduk neraka ada yang dikeluarkan untuk dimasukkan ke surga
8. Mengimani syafaat 
9. Mengimani takdir 
10. Mengimani bahwa tauhid rububiyyah tidak cukup untuk keimanan.
11. Mengimani bahwa pokok ajaran nabi, pokok dakwah nabi adalah lailaha illallah, yaitu tauhid uluhiyyah.
12. Mengimani bahwa Islam ini ketika ada hal yang membuat orang masuk Islam, maka ada hal juga yang membuat mereka keluar dari Islam.
13. Meyakini kewajiban mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah 
14. Berkeyakinan bahwa ucapan rasul harus didahulukan dari pendapat seluruh manusia, siapa pun dia.
15. Dst

Sebagai pembelajar, saya tidak akan puas untuk menerima ucapan-ucapan umpatan tanpa hujjah. Karena itu saya pun tidak hanya mau mendengar dari kyai NU, saya dengar dari ustadz Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Salafi.

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar pengajian ditutup. Baru saja ada ancaman untuk membakar kantor Muhammadiyah. Maka, saya rasa ini karena kita ini tidak membiasakan untuk menelusuri fakta secara menyeluruh. Kita terlalu merasa diri ini benar, orang lain salah, jika tak sesuai dengan yang saya yakini, saya akan basmi.

Tidak boleh begitu. Kita ini harus menempatkan diri sebagai seorang pencari hidayah. Buka diri, ambil ilmu. Pelajari baik baik. Bangun keikhlasan. Terbuka terhadap pengajaran. Jika misalnya, kita ini santri NU, sebagai dr kecil saya santri NU, umur SD kelas 2 udah belajar Sharaf Kailani, safinatun Najah, sulam Taufik, jurumiyyah, Imrithy, yaqulu, al-fiyyah, tijan Daruri, kifayatul awam, taqrib. 

Kita harus uji ilmu kita itu dengan Qur'an dan hadits. Jangan jangan memang ada kekeliruan pada kita. Boleh jadi Muhammadiyah, persis, Al-Irsyad, salafi benar. Jika ada perbedaan pandangan, dialog. Jangan ingin menghancurkan, menghabisi. Kayak kita mau perang saja.

Boleh bangun argumentasi. Tapi, semangat mencari hidayah. Kalau menggunakan istilah ilmu hadist, jika sanad itu mutawwatir, maka pasti benar. Kenapa kita ingin membatasi satu jalur ilmu, hanya dari NU, yang membuat jalur sanad kita Ahad. Boleh punya jalur sanad Ahad? Boleh asal Shahih. Bagaimana jika tak Shahih? Kita akan beragama dengan jalan keliru.

Daripada membangun stigma negatif. Lebih baik kita perluas wawasan, dan perbanyak sanad. Lalu cari kesepakatan. Jika tak sepakat, mana sanad yang sahih. Mana pemahaman yang lurus.

#salafi 
#Nahdhotululama 
#nahdlatululama 
#muhammadiyah 
#alirsyad 
#persis 
#persatuanislam 
#islam 
#jangkauanluas

diskusi dengan kyai

https://www.facebook.com/share/p/1L9w6AYtBA/
Tadi diskusi dengan kyai, yang mungkin dianggap paling berilmu saat ini di sini, dan termasuk dihormati ketua MUI desa ini. Kalau bahsul Masail tingkat kecamatan, dari desa yang bicara biasanya hanya 4 orang termasuk beliau dan saya. Beliau sebagai seorang lulusan pesantren ilmu Kalam, seperti guru saya dulu, meminta penjelasan tentang qiyamuhu binafsihi di pandangan ahlul hadits. Dan setelah itu beliau meminta jawaban, dimana Allah? Saya berikan jawabannya berikut ini:

Kyai: Coba saya ingin tahu menurut anda yang ahlul quran dan hadits maksud qiamuhu binafsihi Alloh itu gmana?

Mamat Rohimat: Istilah yang ada di dalam Al-Qur'an dan hadis adalah al-qayyum, sebagai istilah lebih tepat dibandingkan qiyamuhu binafsihi ahlul kalam. Al-qayyum adalah Asmaul Husna. Maka al-qayyum, itu diartikan sebagai Allah yang maha berdiri sendiri, seluruh makhluk itu bisa tegak berdiri karena Allah menjadikan mereka berdiri. Tapi Allah itu berdiri dengan sendirinya. Itu inti dari al-qayymum. Jadi memahami Asmaul Husna itu, ada keterkaitan dengan makna lafadznya. Dan itu dimaklumi dalam kaidah Asmaul Husna, karena nama Asmaul Husna itu Musytaq, sehingga seluruh Asmaul Husna mengandung makna, dan mengandung sifat.

Makna al-qayyum, bisa dilihat juga di dalam tafsir, seperti tafsir ayat kursiy. Di dalam tafsir al-bagawi: disebutkan bacaan lain dari Umar dan Ibnu Mas'ud: al-qayyaam. Al-qamah membacanya: al-qayyim. Semuanya disebutkan satu makna yaitu yang mendirikan terhadap segala sesuatu. Jadi yang saya tulis sebelumnya, sesuai dg tafsir tersebut
Kyai: Allah di mana?

Mamat Rohimat: Bahasan ini terkait dengan bahasan sifat dan nama Allah: العلي. Jawaban Allah dimana, bisa dibaca di kitab ini, penjelasan tentang sifat uluw di dalam satu kitab yang dikumpulkan oleh imam ad-dzahabi, ralat, bukan imam al-baihaqi
Kyai: Jawab saja
Kyai: Jawab saja intinya
Mamat Rohimat: Dari pendahuluan telah jelas menjelaskan sifat ketinggian Allah, Allah di atas Arsy. Ini keyakinan ahlul hadits, sebagaimana disebutkan oleh imam al-muzani sebagai kesepakatan ulama terdahulu. Dan imam qutaibah bin Sa'id, juga. Menukilkan kesepakatan para imam, dan beliau dengan tegas menyebutkan sifat Allah di atas langit yang 7 dengan kalimat:
 ويعرف الله في السماء السابعة على عرشه كما قال: الرحمن على العرش استوى
Ahlul hadis sama dalam hal ini semuanya sepakat. Bisa dibaca di banyak pembahasan kitab ahlul hadits

Dan bisa dilihat juga di dalam tafsir Qur'an
Perlu disebutkan di dalam tafsir? Saya tuliskan dr tafsir. Tapi intinya sama. Krn itu akidah yang disepakati ulama

Kyai: Alloh itu di langit ke 7 , ada jirimya seperti manusia?
Mamat Rohimat: Haha. Inilah sebab kekeliruan ahlul Kalam, dia membayangkan Allah seperti makhluk. Tapi berbeda dg ahlul hadits, menetapkan semua sifat, tapi tidak menyerupakan dg makhluk, tidak pula men-takyif, karena ayat:

ليس كمثله شيء وهو السميع البصير 
Ayat ini yang banyak dijadikan hujjah ahlul Kalam tapi keliru dalam penafsiran ayat. Ini ayat penting untuk dibahas mendalam. 
Saya ada rangkuman bahasan ini dr beberapa kitab tafsir
ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
١. ابن القيم
 ابن الحداد:
ابو احمد بن الحسين الشافعي المعروف ابن الحداد: إثبات
 من غير تشبيه ونفي من غير تعطيل قال الله ليس كمثله شيء وهو السميع البصير.
والعِبارَةُ الجامِعَةُ في المُتَشابِهِ مِن آياتِ الصِّفاتِ أنْ يُقالَ: آمَنتُ بِما قالَ اللَّهُ تَعالى عَلى ما أرادَهُ وآمَنتُ بِما قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وسَلَّمَ عَلى ما أرادَهُ، فَهَذا اعْتِقادُنا الَّذِي نَتَمَسَّكُ بِهِ ونَنْتَهِي إلَيْهِ ونَسْألُ اللَّهَ تَعالى أنْ يُحْيِيَنا عَلَيْهِ ويُمِيتَنا عَلَيْهِ، ويَجْعَلَهُ وسِيلَتَنا يَوْمَ الوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيْهِ إنَّهُ جَوادٌ كَرِيمٌ والحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العالَمِينَ
(قالَ الخَلّالُ): وأخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ عِيسى أنَّ حَنْبَلًا حَدَّثَهم قالَ: سَألْتُ أبا عَبْدِ اللَّهِ عَنِ الأحادِيثِ الَّتِي تُرْوى أنَّ اللَّهَ سُبْحانَهُ يَنْزِلُ إلى سَماءِ الدُّنْيا، وأنَّ اللَّهَ يُرى، وأنَّ اللَّهَ يَضَعُ قَدَمَهُ وما أشْبَهَ هَذِهِ الأحادِيثَ، فَقالَ أبُو عَبْدِ اللَّهِ: نُؤْمِنُ بِها، ونُصَدِّقُ بِها. . .، ولا نَرُدُّ مِنها شَيْئًا، ونَعْلَمُ أنَّ ما جاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وسَلَّمَ حَقٌّ إذا كانَتْ بِأسانِيدَ صِحاحٍ ولا نَرُدُّ عَلى اللَّهِ قَوْلَهُ ولا يُوصَفُ بِأكْثَرَ مِمّا وصَفَ بِهِ نَفْسَهُ بِلا حَدٍّ ولا غايَةٍ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وهو السَّمِيعُ البَصِيرُ﴾ [الشورى: ١١]
(وَقالَ حَنْبَلٌ) في مَوْضِعٍ آخَرَ عَنْ أحْمَدَ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ في ذاتِهِ كَما وصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، قَدْ أجْمَلَ اللَّهُ تَبارَكَ وتَعالى الصِّفَةَ لِنَفْسِهِ فَحَدَّ لِنَفْسِهِ صِفَةً لَيْسَ يُشَبِهُهُ شَيْءٌ، وصِفاتُهُ غَيْرُ مَحْدُودَةٍ ولا مَعْلُومَةٍ إلّا بِما وصَفَ بِهِ نَفْسَهُ. قالَ تَعالى: ﴿وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ﴾ [الشورى: ١١]

٢. ابن جرير الطبري:
ليس هو كشيء
وأدخل المثل في الكلام توكيدًا للكلام إذا اختلف اللفظ به وبالكاف، وهما بمعنى واحد، كما قيل:
ما إن نديت بشيء أنت تكرهه(١) فأدخل على"ما" وهي حرف جحد"إن" وهي أيضًا حرف جحد، لاختلاف اللفظ بهما، وإن اتفق معناهما توكيدا للكلام، وكما قال أوس بن حجر:
وَقَتْلَى كمِثْلِ جذُوعِ النَّخيلْ ... تَغَشَّاهُمُ مُسْبِلٌ مُنْهَمِرْ(٢)
ومعنى ذلك: كجذوع النخيل، وكما قال الآخر:
سَعْدُ بْنُ زيد إذَا أبْصَرْتَ فَضْلَهُمُ ... ما إن كمِثْلِهِمِ فِي النَّاسِ مِنْ أحَدٍ

ليس مثل شيء 

وتكون الكاف هي المدخلة في الكلام، كقول الراجز:
* وَصَالِياتٍ كَكَما يُؤْثَفَيْنِ(٤) فأدخل على الكاف كافا توكيدا للتشبيه، وكما قال الآخر:
تَنْفِي الغَيادِيقُ عَلى الطَّرِيقِ ... قَلَّصَ عَنْ كَبَيْضَةٍ فِي نِيقِ(٥)
فأدخل الكاف مع"عن"، وقد بيَّنا هذا في موضع غير هذا المكان بشرح هو أبلغ من هذا الشرح، فلذلك تجوّزنا في البيان عنه في هذا الموضع.

٣. البغوي:
ليس هو كشيء

"مِثْلُ" صِلَةٌ، أَيْ: لَيْسَ هُوَ كَشَيْءٍ، فَأَدْخَلَ الْمِثْلَ لِلتَّوْكِيدِ، كَقَوْلِهِ: "فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ" [البقرة: ١٣٧]

ليس مثله شيء
الْكَافُ صِلَةٌ، مَجَازُهُ: لَيْسَ مِثْلَهُ شَيْءٌ. 
ليس له نظير:قاله ابن عباس 
٤. القرطبي:
ليس مثله شيء
ليس كهو شيء (قاله ثعلب)
﴿فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا﴾(٤) [البقرة: ١٣٧]. وَفِي حَرْفِ ابْنِ مَسْعُودٍ "فَإِنْ آمَنُوا بِمَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا"
وَالَّذِي يَعْتَقِدُ فِي هَذَا الْبَابِ أَنَّ اللَّهَ جَلَّ اسْمُهُ فِي عَظَمَتِهِ وَكِبْرِيَائِهِ وَمَلَكُوتِهِ وَحُسْنَى أَسْمَائِهِ وَعَلِيِّ صِفَاتِهِ، لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ وَلَا يُشْبَّهُ بِهِ، وَإِنَّمَا جَاءَ مِمَّا أَطْلَقَهُ الشَّرْعُ عَلَى الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ، فَلَا تَشَابُهَ بَيْنَهُمَا فِي الْمَعْنَى الحقيقي، إذ صفات القديم عز وجل بِخِلَافِ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِ، إِذْ صِفَاتُهُمْ لَا تَنْفَكُّ عَنِ الْأَغْرَاضِ وَالْأَعْرَاضِ، وَهُوَ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنْ ذَلِكَ، بَلْ لَمْ يَزَلْ بِأَسْمَائِهِ وَبِصِفَاتِهِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ فِي (الْكِتَابِ الْأَسْنَى فِي شَرْحِ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى (، وَكَفَى فِي هَذَا قَوْلُهُ الْحَقُّ: "لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ". وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُحَقِّقِينَ: التَّوْحِيدُ إِثْبَاتُ ذَاتٍ غَيْرِ مُشْبِهَةٍ لِلذَّوَاتِ وَلَا مُعَطَّلَةٍ مِنَ الصِّفَاتِ. وَزَادَ الْوَاسِطِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بَيَانًا فَقَالَ: لَيْسَ كَذَاتِهِ ذَاتٌ، وَلَا كَاسْمِهِ اسْمٌ، وَلَا كَفِعْلِهِ فِعْلٌ، وَلَا كَصِفَتِهِ صِفَةٌ إِلَّا مِنْ جِهَةِ مُوَافَقَةِ اللَّفْظِ، وَجَلَّتِ الذَّاتُ الْقَدِيمَةُ أَنْ يَكُونَ لَهَا صِفَةٌ حَدِيثَةٌ، كَمَا اسْتَحَالَ أَنْ يَكُونَ لِلذَّاتِ الْمُحْدَثَةِ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ. وَهَذَا كُلُّهُ مَذْهَبُ أَهْلِ الْحَقِّ والسنة والجماعة. رضي الله عنهم!

٥. ابن كثير:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ أَيْ: لَيْسَ كَخَالِقِ الْأَزْوَاجِ كُلِّهَا شَيْءٌ؛ لِأَنَّهُ الْفَرْدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ، ﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

٦. الموردي
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ فِيهِ وجْهانِ:
أحَدُهُما: لَيْسَ كَمِثْلِ الرَّجُلِ والمَرْأةِ شَيْءٌ، قالَهُ ابْنُ عَبّاسٍ، والضَّحّاكُ.
ليس مثله شيء 
الثّانِي: لَيْسَ كَمِثْلِ اللَّهِ شَيْءٌ وفِيهِ وجْهانِ: أحَدُهُما: لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْءٌ والكافُ زائِدَةٌ لِلتَّوْكِيدِ، قالَ الشّاعِرُ
سَعْدُ بْنُ زَيْدٍ إذا أبْصَرْتَ فَضْلَهم ما إنَّ كَمِثْلِهِمْ في النّاسِ مِن أحَدٍ
ليس كهو شيء 
الثّانِي: لَيْسَ شَيْءٌ(ليس كهو شيء قاله ثعلب كما في السمعاني والقرطبي)، والمِثْلُ زائِدٌ لِلتَّوْكِيدِ، قالَهُ ثَعْلَبٌ

٧. ابن الجوزي
ليس كهو شيء 
قَوْلُهُ تَعالى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾ قالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ: أيْ: لَيْسَ كَهو شَيْءٌ، 
والعَرَبُ تُقِيمُ المَثَلَ مَقامَ النَّفْسِ، فَتَقُولُ: مِثْلِي لا يُقالُ لَهُ هَذا، أيْ: أنا لا يُقالُ لِي هَذا، 
ليس مثله شيء 
وقالَ الزَّجّاجُ: الكافُ مُؤَكِّدَةٌ، والمَعْنى: لَيْسَ مِثْلَهُ شَيْءٌ
٨. السمعاني م ٤٨٩ ه
ليس كهو شيء: قاله ثعلب
ليس مثله شيء: وَزعم كثير من النَّحْوِيين أَن الْكَاف هَاهُنَا زَائِدَة، وَمَعْنَاهُ: لَيْسَ مثله شَيْء
وَزعم بَعضهم: أَن لُغَة تهَامَة أَنهم يَقُولُونَ: أَنا كمثلك أَو أَنْت كمثلي أَي: أَنْت مثلي وَأَنا مثلك
وَقَالَ أهل الْمعَانِي: وَلَا يَسْتَقِيم قَول من يَقُول: لَيْسَ كمثله شَيْء أى: لَيْسَ كمثله مثل؛ لِأَن فِي هَذَا (إِثْبَات) الْمثل، وَالله تَعَالَى لَا يُوصف بِالْمثلِ، جلّ وَتَعَالَى عَن ذَلِك.

٩. الثعالبي
وقوله تعالى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ الكاف مؤكِّدة للتشبيه، فنفي التشبيه أوكَدُ مَا يكُونُ وذلك أَنّك تقول: زيدٌ كعمرو، وزيْدٌ مِثْلُ عمرو، فإذا أردتَ المبالغة التامَّة قلتَ:
زيدٌ كَمِثْلِ عَمْرٍو، وجرتِ الآية في هذا الموضع على عُرْفِ كلامِ العَرَبِ، وعلى هذا المعنى شواهِدُ كثيرة
ليس كهو شيء
وذهب الطَّبَرِيُّ(١) وغيره إلى أَنَّ المعنى: ليس كهو شيء
 (خطأ: قاله الطبري : ليس هو كشيء ، ليس مثل شيء ، ولكن قاله ثعلب مثل ذلك أي ليس كهو شيء)
 ١٠ السمرقندي ٣٧٤ ه
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ في القدرة
ليس مثله شيء:
وقال أهل اللغة: هذا الكاف مؤكدة. أي: ليس مثله شيء
ليس هو كشيء:
ويقال: المثل صلة في الكلام. يعني: ليس هو كشيء،
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ يعني: هو السميع لمقالتهم، البصير بهم وبأعمالهم.
 ومعنى الآية لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ لأنه الخالق، العالم بكل شيء، والقادر على ما يشاء، الْحَيُّ الْقَيُّومُ [البقرة: 255] وهذه المعاني بعيدة من غيره
 ١١. الثعلبي
 
 ليس كهو شيء
 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ المثل صلة ومجازه: ليس كهو شيء، فأدخل المثل توكيدا للكلام، كقوله: فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ ما آمَنْتُمْ بِهِ(١) وفي حرف ابن مسعود، فإن آمنوا بما آمنتم به وقال أوس بن حجر:
وقتلى كمثل جذوع النخيل ... يغشاهم مطر منهمر(٢)
أي كجذوع، وقال [آخر](٣) سعد بن زيد:
إذا أبصرت فضلهم ... كمثلهم في النّاس من أحد(٤)
وقال آخر:
ليس كمثل الفتى زهير ... خلق يوازيه في الفضائل(٥)
وقيل: (الكاف) صلة مجازه: ليس مثله، كقول الراجز:
وصاليات ككما [يؤثفين]
فأدخل على الكاف كافا تأكيدا للتشبيه، وقال آخر:
[تنفي الغياديق على الطريق ... قلص عن كبيضة في نيق](٦)
فأدخل الكاف مع عن.

١. ليس هو كشيء
قاله الطبري ، البغوي، السمرقندي، الثعلبي

٢. ليس مثل شيء
قاله الطبري

٣. ليس مثله شيء

قاله البغوي
القرطبي
الموردي
ابن الجوزي (أخذ من الزجاز)
السمعاني (أخذ من أكثر النحويين)
السمرقندي (أخذ من أهل اللغة)

٤. ليس كهو شيء

قاله القرطبي (نقل من الثعلبي)
الموردي (نقل من الثعلبي ، لكن خطأ في لفظه: ليس شيء)
ابن الجوزي (نقل من قتيبة)
السمعاني (نقل من الثعلبي)
الثعالبي(نقل من الطبري ولكن خطأ ، بل قاله الثعلبي)
الثعلبي

Ini kaidah penetapan nama dan sifat Allah, silakan simak. Diambil dr beberapa kitab tafsir

Kyai: Katanya 
ليس كمثله شيء
Tapi mengatakan Allah ada di Langit ke 7???, 
Apakah itu bukan termasuk berpendapat ada mitsu bagi Allah?

Mamat Rohimat: Nggak.
Penetapan Allah di atas Arsy, itu penetapan sifat sesuai Al-Qur'an
Adapun ليس كمثله شيء، bisa dibaca penjelasan di Atas maknanya:

ليس هو كشيء

Bisa juga:

ليس مثل شيء

Bisa juga:

ليس مثله شيء
Bisa juga:

ليس كهو شيء
Jika diartikan bebas:
1. tidaklah Allah itu seperti sesuatu (apapun)
2. Tidaklah (Allah) itu semisal sesuatu (apapun)
3. Tidaklah semisal Allah itu sesuatu (apapun)
4. Tidaklah seperti Allah, sesuatu (apapun)

Baik, sekarang kita harus tahu penggunaan mistl di dalam bahasa arab:

1. Di dalam tajwid, ada penggunaan mistl di dalam idgham mutamatsilan.
Apa inti penggunaan tersebut, coba simak ucapan ini kata kitab tuhfatul Athfal:

ان في الصفات والمخارج اتفق﷼حرفان فامثلان فيهما أحق
Begitu kan penggunaan dalam idgham, atau kata az-zamzami dg lafad beda:

في كلمة او كلمتين ان دخل﷼ حرف بمثل وهو الادغام يقال
Coba perhatikan dalam tajwid, mistl itu, disebut semisal kalau sama dalam makhraj, dan sama dalam sifat. Artinya persis sama sekali. Maka itu pasti hurufnya sama, satu huruf, misalkan ba dengan ba, kaf dengan kaf, tidak ada perbedaan sama sekali sedikit pun

Sekarang begini, menggunakan pemahaman kalimat mistl di dalam tajwid, artinya Allah itu tidak sama persis sama sekali dg makhluk, tidak semistl

Allah di atas Arsy beristiwa, itu tidak sama persis dg makhluk sama sekali. Knp? Kita tinjau dr beberapa sudut:
1. Tinjauan dr sisi Arsy
Allah itu di atas arsy, tidak ada makluk yang istiwa di atas Arsy. Maka itu sudah perbedaan.

Kita ini makhluk di atas bumi, Allah di atas Arsy, maka itu tidak semistl 

2. Skrg kita tinjau dr sisi, Allah tidak butuh terhadap Arsy (hubungan dengan al-qayyum), tapi kita butuh terhadap bumi untuk pijakan.
Maka itu pun tidak semistl, antara kita yang di atas bumi karena butuh pijakan, dengan Allah yang tidak butuh.

Bahasa lainnya, jika bumi runtuh, maka kita runtuh. Tapi Allah tidak semisal seperti itu, jika Arsy hancur, Allah tidak hancur.

Maka kata Ibnu raslan ar-ramli:

احدثه لا لاحتياجه الالاه﷼ ولو اراد تركه لما ابتداه

Allah tidak butuh terhadap makhluk, itu hubungan dengan al-qayyum, as-shamad, tapi kita itu bergantung kepada Allah, makhluk bergantung kepada Allah. Maka itu artinya tidak semistl

3. Tinjauan ke-3:
Allah itu yang menegakkan Arsy, Allah menciptakan arsy.maka ketika Allah di atas Arsy, itu tidak diartikan Allah butuh terhadap Arsy. Tapi ada hikmah di balik perbuatan Allah. Apa hikmahnya?

Yang saya pahami, Arsy makhluk yang paling besar dan paling tinggi, Allah itu lebih tinggi dari Arsy, dan Allah juga disifati Akbar, lebih besar. Maka itu pengumuman terhadap makhluk, yang kebanyakan manusia dan jin, suka merasa paling tinggi, paling besar, dan bahkan takabbur terhadap Allah, tak mau tunduk, tak mau patuh. Hai manusia dan jin, Arsy yang paling tinggi dan paling besar saja, Allah di atas Arsy, dan Allah lebih besar, siapa kamu?

Adapun kita di bumi, bumi ini Allah yang ciptakan. Bumi ini yang itu hanya satu titik kecil dibandingkan langit apalagi Arsy, kita manusia yang kena khitab syar'i, semuanya masih sanggup dipikul bumi. Kita lebih kecil dr bumi. Dan semua manusia mati pun, semuanya ditelan bumi, bumi masih sanggup. Maka bagaimana bisa menganggap Allah semisal dengan makhluk? Itu kesalahpahaman

Itu lagi-lagi, karena salah pahami tentang ayat:
ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

Semisal itu pula penggunaan mistl dalam tajwid, begitu pula dalam fikih, yang itu disebutkan asalnya dari hadis, dan dalam ilmu hadis.

Ketika bab riba itu, disebut riba, kalau emas dengan emas ditukar tidak semistl, artinya misalkan 1 kg dengan 1 ons. Beda dikit saja riba. Beda gram aja membuat tidak semistl. Seperti itulah penggunaan dalam fikih, dipahami para ulama

Dlm ilmu hadis, ketika ulama meringkas hadis, ada beberapa riwayat, tapi lafadz sama persis, biasanya disebut dengan mistlahu. Itu artinya satu lafadz, sama persis. Tapi, ketika satu makna, beda lafadz, maka ulama menggunakan kata: nahwahu

Beda artinya penggunaan kata mitsl di sisi ulama, dan itu yang digunakan dalam Al-Qur'an.

Sekarang kita tinjau, kenapa Asy'ariah keliru memahami ayat itu untuk menafikan sifat Dzat Allah. Di tijan Daruri ada kalimat begini:

Kata di tijan Daruri: 

wajib di hak Allah taala, sifat mukhalafatu lilhawaditsi.dan maknanya adalah sesungguhnya Allah itu tidaklah mumatsil dengan hawadits (makhluk). Sampai situ benar. Tapi perhatikan setelahnya,ini yang keliru

Maka tidaklah bagi Allah itu tangan, tidak pula mata, tidak pula telinga, dan tidak pula dari selain itu, dari sifat sifat hawadits (makhluk)

 Ini letak kekeliruannya. Satu ayat yang dia salah pahami, lalu menghajar semua sifat Allah. Dinafikan semuanya, karena dianggap sifat makhluk

Pembahasan sifat tangan Allah, itu ada di Nash khusus. Menurut kaidah ilmu tafsir, itu juga kaidah di Ushul fiqh, kalau ada Nash khusus dan Nash umum, maka yang umum diarahkan kepada yang khusus. Artinya Nash khusus harus dikedepankan
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
{ وَقَالَتِ ٱلۡیَهُودُ یَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَیۡدِیهِمۡ وَلُعِنُوا۟ بِمَا قَالُوا۟ۘ بَلۡ یَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ یُنفِقُ كَیۡفَ یَشَاۤءُۚ وَلَیَزِیدَنَّ كَثِیرࣰا مِّنۡهُم مَّاۤ أُنزِلَ إِلَیۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡیَـٰنࣰا وَكُفۡرࣰاۚ وَأَلۡقَیۡنَا بَیۡنَهُمُ ٱلۡعَدَ ٰ⁠وَةَ وَٱلۡبَغۡضَاۤءَ إِلَىٰ یَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِۚ كُلَّمَاۤ أَوۡقَدُوا۟ نَارࣰا لِّلۡحَرۡبِ أَطۡفَأَهَا ٱللَّهُۚ وَیَسۡعَوۡنَ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَسَادࣰاۚ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِینَ }
[Surah Al-Māʾidah: 64]

Tafsir Lebih mendalam, bisa dicek dalam tafsir. Tapi secara singkat dulu. Yahudi itu berkata: tangan Allah itu maglulah (terbelenggu). Itu ucapan jelek yahudi untuk mengejek Allah. Apakah dipetik yahudi mengatakan Allah tak punya tangan? Tidak seperti itu, tidak penafian secara mutlak. Tapi penyebutan sifat tangan Allah yang tak sesuai

Perhatikan bagaimana jawaban Allah terhadap Yahudi: tangan yahudi itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat disebabkan ucapan mereka. Bahkan "kedua tangan Allah" itu mabsuth atau terhampar

Perhatikan jawaban Allah, apakah Allah marah karena disebut punya tangan? Tidak. Tapi Allah marah karena disifati dengan sifat keliru atas tangannya. Sekaligus menyebutkan kedua tangan Allah, berarti Allah punya 2 tangan, dan sekaligus memberikan sifat atas tangan Allah.

Itu paham kan, perhatikan kalimat:
بل يداه

Itu kalau dalam bahasan lafadz pada kaidah fikih, setelah huruf بل itu yang rajikh. Dan يداه maklum kan itu artinya 2 tangan Allah, asalnya يدان artinya dua tangan Allah, begitu rafa' dr isim tastniah karena mubtada. Dibuang nun nya karena idhafat, mau di idhafatkan dg dhamir ه، itu seperti ucapan Imrithy
من المضاف اسقط التنويا﷼ او نونه كاهلكم اهلونا

Maka penetapan sifat tangan, untuk Allah wajib ditetapkan. Itu Nash khusus. Dan itu tidak berselisih dg ayat tadi, ليس كمثله شيء

Jadi sederhana begini pemahaman benarnya: Allah memiliki 2 tangan, tidak sama persis dengan mahluk atau tidak semistl dg makhluk

Sederhana itu, ahlul Kalam dr awal sampai akhir keliru. Sesederhana ini membuat saya mendalami masalah ini lebih dr 25 tahun, karena ini masalah akidah, sampai berkesimpulan, Asy'ariah keliru, yang benar ahlul hadits

Sekarang kita lihat tinjauan ulama tafsir tentang ayat:

Kata imam al-bagawi di dalam tafsirnya: dan tangan Allah, itu sifat dari sifat-sifat Allah seperti mendengar, melihat dan wajah. Allah berfirman: terhadap Apa (Adam) yang kami ciptakan dengan kedua tanganku. Nabi Muhammad bersabda: itulah kedua tangan Allah itu kanan. Allah lebih mengetahui terhadap sifat-sifatnya, dan atas hamba itu kewajiban padanya adalah iman dan berserah diri. Berkata para ulama salaf dari ahlus Sunnah dalam sifat-sifat seperti ini:
امروها كما جاءت بلا كيف

Artinya biarkan saja, (jangan dipalingkan maknanya, baca sesuai lafadznya dan maknai secara dhohirnya) sebagaimana datangnya (ayat-ayat tersebut), tanpa mempertanyakan bagaimana sifat tersebut

Ucapan salaf ini sederhana, tapi itu membuat masalah rumit yang mana ahlul Kalam keliru dr awal sampai akhir, dg kaidah ini selesai masalah. Dan agama ini terasa jadi mudah, plong. Saya ambil faidah ini terasa seakan mudah, padahal melalui proses panjang

Tapi imam al-bagawi, menegaskan kaidah disisi ahlul hadits, sekaligus bantah ahlul Kalam,bahwa penetapan sifat tangan, wajah sama dengan penetapan sifat mendengar dan melihat. Wajib diimani

Kaidah ini sejalan kan dg ayat ini, di akhir ayat kan disebut:
وهو السميع البصير 

Itu kaidah baku di para ulama, tentang ayat ayat sifat, wajib ditetapkan, semuanya, walaupun terkesan serupa dengan makhluk, berlaku untuk seluruh sifat. Dan ini membantah golongan yang menolak sifat, yang pertama kalinya Jahmiyyah, yang menyedihkan termasuk diikuti Asy'ariah.

Dan kalimat sebelumnya:

ليس كمثله شيء 

Itu membantah golongan yang menyerupakan atau menyamakan Allah dengan makhluk, dari golongan mumatsilah atau musyabbihah

#nahdatululama 
#Nahdhotululama 
#muhammadiyah 
#persatuanislam 
#alirsyad 
#salafi 

#jangkauanluas

KISAH SYAIKH BIN BAZ DAN SELEMBAR CEK

KISAH SYAIKH BIN BAZ DAN SELEMBAR CEK

Ada kisah menarik yang diceritakan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan dalam bukunya yang menceritakan biografi Syaikh bin Baz -rahimahullah- yang berjudul: "Al-Imam Ibnu Baz; Durus wa Mawaqif wa 'Ibar":

Syaikh bin Baz pernah memberi cek senilai 2.000 riyal (sekitar 9,6 jt rupiah) kepada seorang miskin. Orang miskin tersebut kemudian menambahkan satu angka nol sehingga menjadi tertulis 20.000 riyal (96 juta rupiah) tapi ia lupa mengubah angka terbilangnya. Tentu saja pihak bank menolak cek tersebut dan mengembalikannya. Si miskin tadi kemudian membawa kembali cek itu ke kantor Syaikh dan pekerja di sana melaporkan ke Syaikh bin Baz perihal pemalsuan cek tersebut. Lalu apa kata Syaikh? Syaikh bin Baz berkata: "Kasihan orang itu. Mungkin dia sedang butuh uang. Tulis lagi cek yang baru untuknya senilai 20.000 riyal karena mungkin memang segitu kebutuhannya."

Masyaallah betapa mulianya akhlak Syaikh bin Baz. Beliau memang terkenal seorang yang lembut dan berakhlak mulia. Ya Allah kumpulkanlah kami kelak di akhirat bersama para ulama. Walau amal dan akhlak kami sangat jauh di bawahnya, namun kami berharap setiap orang dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.
Ustadz al mizzi

Menikah Itu Seperti Mengarungi Lautan.

Menikah Itu Seperti Mengarungi Lautan. 

Al Imam Sufyan At Tsauri -rahimahullah- mengatakan: 
من تزوج فقد ركب البحر 

“Barang siapa menikah, maka sungguh ia telah mengarungi lautan.” ¹

Beliau -rahimahullah- merumpamakan pernikahan seperti mengarungi lautan; karena memang yang namanya lautan tidak tetap pada satu keadaan, terkadang ombaknya tenang, terkadang keras, bahkan terkadang terjadi tsunami yang sangat dahsyat. Maka hendaknya dia mempersiapkan mentalnya dan banyak banyak bersabar. Dan jangan lupa selalu memohon pertolongan kepada Allah dalam segala urusannya terutama urusan rumah tangganya. 
_________
Tadzkirotus saamik, hal. 36
Ustadz prengga warisman

المباهلة في العلم

.           المباهلة في العلم
باهل النبيﷺ وابن عباس وجمع من السلف من التابعين وأئمة الدين في مسائل من العلم.
فهي مشروعة ومدارها على ثلاثة أمور:
❶- أن تكون في مسألة شرعية عليها قوام الدين ونصرته، ومراد المتباهلين إظهار شريعة الله لا الانتصار للنفس.
❷- أن تكون المباهلة من أهل العلم، فلا يقوم بها الجهال فهم يستعظمون كل مسألة، ويجعلونها من أصول الدين. 
❸- ويكون مقامها مقام تعظيم لله، وإجلال له، وخوف منه، وسكينة ووجل، لا مقام جدال ولغط، وضحك وهطل!
● وأصل المباهلة تكون في مسائل الدين، ومن الدين "باب الأحكام" ومنه "الحكم على الأشخاص" فهو باب عظيم لنصرة دين الله، والذب عنه.
ومن ذلك ما نقل الفاسي في "العقد الثمين" (٢/ ١٩٨) والسخاوي في "الجواهر والدرر" (٣/ ١٠٠٢) من مباهلة ابن حجر العسقلاني لبعض المتعصبين لابن عربي عام ٧٩٧هـ وقال له:  اللهم إن كان ابن عربي على ضلال، فالعَنِّي بلعنتك، فقال ذلك، وقال ابن حجر: اللهم إن كان ابن عربي على هدى فالعنِّي بلعنتك، فهلك المتعصب لابن عربي.
.        ⁞❁⁞ • • • • ⁞❁⁞ • • • ⁞❁⁞
● وما جرى من "مباهلة" بين بعض المنتسبين للسنة ومذهب السلف في الحكم على بعض الرجال، لي عند هذه الواقعة تنبيهات:
❖ الأول: أنه ما كان ينبغي لهم الخلاف في ذلك، والاشتغال به عما هو أوجب من دين الله تعالى، ولا إشاعة مثل هذه المباهلات عبر وسائل التواصل ويطلع عليها الجهال وأهل الضلال.
❖ الثاني: أن الحكم على أعيان الأشخاص بـ"التكفير" والحكم بردته أمرٌ شديد لا يجوز لأحد الإقدام عليه إلا ببينة شرعية قطعية يقينية تبيح الدم والمال وتحقق الحكم.
ومن مضى وفات ممن نقل عنه بعض ما يستنكر من المكفرات لا يجوز لمتأخرٍ الحكم عليه بالتكفير ما لم يكن له في ذلك سلف كما بينته في كتابي "الانفلات العلمي".
❖ الثالث: أن الواجب على طالب العلم أن يلزم غرز العلماء، ويلحق بركبهم، ويمسك بركابهم، ويتكلم حيث تكلموا، ويسكت حيث سكتوا، فيسعه ما وسع السلف ومن مضى من أهل العلم تكلما وسكوتا، وإقداما وإحجاما.
❖ الرابع: أن إنكار "التكفير" والمباهلة فيه لا يبيح لمن يزعم انتسابه للسنة والسلفية أن يصادم عقيدة أهل السنة، فيمجد أهل البدع، ويعظمهم، ويغض الطرف عن ضلالاتهم.
فما كان يضر هؤلاء المباهلين لو قالوا: «فلان مبتدعٌ يستفاد من صحيح علومه».
أما أن يغالطوا المنقول عن السلف وأهل العلم مما فيه ذم أهل الرأي والجهمية وغلاة المتصوفة، وذم طرائقهم وعقائدهم، ثم يكابرون بصرف النظر عن الثابت في مؤلفات أولئك من البدع المضلة، فهذا كله من "ردود الأفعال" المشينة.
فكان يكفيهم أن يقروا بانحرافاتهم العقدية، ثم هم في سعة في الاستفادة منهم، والترحم عليهم إذا شاءوا.
❖ الخامس -وبه أختم-: أن تعطيل الدعوة السلفية، وإشعال نار الفرقة بين أهلها، من وراء "الحكم على الأشخاص" باب فتنة إذا كُسر لا يكاد يغلق، ولن ينتهي الأمر عند الحكم على الثلاثة ولا الثلاثين ولا الثلاثمائة!
وهذا يفتح باب التسلسل البدعي، والفرقة والاختلاف.
فأولئك يغالون في التكفير، والآخرون يغالون ويغالطون في الاعتذار لمن صرح السلف وأهل العلم بتكفيره أو تبديعه، بل ربما كان من أولئك من عاد يصحح دين المشركين والمبتدعين ويعتذر لهم.
فيجب إغلاق هذا الباب، وتركه للعلماء الأكابر.
✧ ويراجع ما كتبته في رسالة "الانفلات العلمي" فإني أُراه بالغ الأهمية، والله الموفق.

✍️ بدر بن علي بن طامي العتيبي
Mubahalah dalam Perkara Ilmu
Nabi ﷺ, Ibn Abbas, serta sekumpulan ulama salaf daripada kalangan tabi'in dan imam-imam agama pernah melakukan mubahalah dalam beberapa masalah ilmu.
Mubahalah itu disyariatkan, dan pelaksanaannya berasaskan kepada tiga perkara:
1. Hendaklah ia dilakukan dalam isu syarak yang menjadi tonggak agama dan mempertahankannya. Tujuan kedua-dua pihak yang bermubahalah mestilah untuk menzahirkan syariat Allah, bukan untuk memenangkan diri sendiri.
2. Hendaklah mubahalah dilakukan oleh ahli ilmu. Orang-orang jahil tidak boleh melakukannya, kerana mereka sering membesar-besarkan setiap isu dan menganggap semua perkara sebagai termasuk dalam usul (asas) agama.
3. Mubahalah hendaklah dilakukan dalam suasana yang dipenuhi pengagungan kepada Allah, memuliakan-Nya, rasa takut kepada-Nya, penuh ketenangan dan rasa gerun, bukan dalam suasana pertengkaran, kekecohan, gelak ketawa dan sikap melampau.
Asal hukum mubahalah adalah dalam perkara-perkara agama. Dan daripada perkara agama ialah bab hukum-hakam, termasuk juga menghukum individu-individu tertentu, kerana ia merupakan satu bidang yang besar dalam mempertahankan agama Allah dan membelanya.
Antara contohnya ialah apa yang dinukilkan oleh al-Fasi dalam al-'Aqd ath-Thamin (2/198) dan as-Sakhawi dalam al-Jawahir wa ad-Durar (3/1002) mengenai mubahalah Ibn Hajar al-'Asqalani dengan salah seorang yang terlalu fanatik terhadap Ibn 'Arabi pada tahun 797 Hijrah.
Orang itu berkata:
"Ya Allah, jika Ibn 'Arabi berada di atas kesesatan, maka laknatilah aku dengan laknat-Mu."
Lalu dia mengucapkannya.
Kemudian Ibn Hajar berkata:
"Ya Allah, jika Ibn 'Arabi berada di atas petunjuk, maka laknatilah aku dengan laknat-Mu."
Maka orang yang fanatik kepada Ibn 'Arabi itu akhirnya meninggal dunia.
❁ • • • ❁ • • • ❁
Adapun apa yang berlaku berupa mubahalah antara sebahagian orang yang menisbahkan diri kepada Ahlus Sunnah dan manhaj salaf mengenai hukum terhadap beberapa individu, maka saya mempunyai beberapa peringatan berhubung peristiwa tersebut:
Peringatan Pertama
Sepatutnya mereka tidak berselisih dalam perkara itu dan tidak menyibukkan diri dengannya sehingga mengabaikan perkara-perkara yang lebih wajib daripada urusan agama Allah. Mereka juga tidak sepatutnya menyebarkan mubahalah seperti ini melalui media sosial sehingga dilihat oleh orang-orang jahil dan ahli kesesatan.
Peringatan Kedua
Menghukum individu tertentu sebagai kafir dan menjatuhkan hukum murtad terhadapnya merupakan perkara yang amat berat. Tidak harus bagi sesiapa pun melakukannya melainkan berdasarkan dalil syarie yang benar-benar pasti dan meyakinkan, yang membolehkan darah dan hartanya dihukum menurut syariat serta benar-benar menetapkan hukum tersebut.
Sesiapa yang telah meninggal dunia, yang dinukilkan daripadanya beberapa perkara yang dianggap sebagai kekufuran, maka tidak harus bagi orang yang datang kemudian menghukumnya sebagai kafir selagi dia tidak mempunyai sandaran daripada ulama terdahulu dalam perkara itu, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab saya "al-Infilat al-'Ilmi" (Keterlanjuran dalam Ilmu).
Peringatan Ketiga
Wajib bagi penuntut ilmu untuk tetap bersama para ulama, mengikuti jejak mereka, berpegang teguh kepada bimbingan mereka; berbicara apabila mereka berbicara, dan diam apabila mereka diam.
Cukuplah baginya apa yang telah mencukupi para salaf dan ulama terdahulu, sama ada dalam perkara mereka berbicara atau berdiam diri, bertindak ataupun menahan diri.
Peringatan Keempat
Mengingkari amalan takfir (mengkafirkan seseorang) dan mubahalah mengenainya tidak menghalalkan bagi sesiapa yang mendakwa dirinya berpegang kepada Sunnah dan manhaj Salaf untuk menyanggahi akidah Ahlus Sunnah, lalu memuji-muji ahli bid'ah, membesarkan mereka, serta menutup mata terhadap kesesatan mereka.
Tidaklah menjadi mudarat kepada mereka yang bermubahalah itu jika mereka berkata:
"Si fulan ialah seorang ahli bid'ah, namun ilmu-ilmunya yang benar boleh diambil manfaat daripadanya."
Adapun jika mereka menafikan atau memutarbelitkan apa yang dinukilkan daripada para salaf dan ulama mengenai celaan terhadap golongan ahli ra'yi, Jahmiyyah dan golongan sufi yang melampau, serta celaan terhadap manhaj dan akidah mereka, kemudian mereka tetap berkeras dengan mengabaikan apa yang memang terbukti dalam karya-karya tokoh-tokoh tersebut berupa bid'ah yang menyesatkan, maka semua itu hanyalah reaksi balas yang tercela.
Memadailah bagi mereka untuk mengakui penyimpangan akidah tokoh-tokoh tersebut. Selepas itu, mereka masih mempunyai ruang untuk mengambil manfaat daripada ilmu mereka dan mendoakan rahmat kepada mereka jika mereka mahu.
Peringatan Kelima (dan yang terakhir)
Melumpuhkan dakwah Salafiyyah serta menyalakan api perpecahan dalam kalangan pendukungnya melalui isu menghukum individu merupakan pintu fitnah yang apabila dibuka, hampir mustahil untuk ditutup kembali.
Ia tidak akan berhenti setakat menghukum tiga orang, tiga puluh orang, bahkan tiga ratus orang.
Keadaan ini akan membuka pintu kepada rentetan bid'ah, perpecahan dan perselisihan.
Sebahagian pihak akan melampau dalam takfir, manakala sebahagian yang lain pula akan melampau dalam memberi alasan dan mempertahankan orang-orang yang telah dinyatakan oleh para salaf dan ulama sebagai kafir atau ahli bid'ah.
Bahkan mungkin ada dalam kalangan mereka yang akhirnya menganggap agama orang-orang musyrik dan ahli bid'ah sebagai benar, lalu memberikan alasan untuk membela mereka.
Oleh itu, pintu ini wajib ditutup dan urusan ini hendaklah diserahkan kepada para ulama besar.
Disarankan agar merujuk kepada risalah yang saya tulis bertajuk "al-Infilat al-'Ilmi", kerana saya memandangnya sebagai sebuah risalah yang sangat penting. Semoga Allah memberikan taufik.
Ditulis oleh: Badr bin Ali bin Tami al-'Utaybi
https://www.facebook.com/share/p/1Dc8x3LmWP/

Kezaliman Besar

📚 Kezaliman Besar

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Termasuk tindak kezaliman dan kebodohan paling besar, engkau minta orang lain mengagungkan dan memuliakan dirimu, sementara hatimu hampa dari mengagungkan Allah dan memuliakan-Nya." (al-Fawa-id, 1/272)

🇮🇩 Channel Telegram:
https://t.me/sulhandotnet
🌎 Website:
https://www.sulhan.net/

Pengingkaran secara terang-terangan (terhadap penguasa) diperbolehkan demi kemaslahatan


@MAAHERALQAHTANY
Perkataan Mustafa Al-Adawi:
> **"Pengingkaran secara terang-terangan (terhadap penguasa) diperbolehkan demi kemaslahatan"**
Adalah persis seperti **perkataan Khawarij**—semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.
Bahkan tindakan tersebut merupakan kemungkaran, bid'ah, dan kesesatan. Larangan terhadap hal tersebut termasuk di antara prinsip-prinsip syariat yang telah tetap (*at-thawabit asy-syar'iyyah*).
Mustafa Al-Adawi dalam hal ini mengekor kepada **Ferkous Al-Jazairi**, yang telah membuat-buat kebid'ahan ini dalam hal mengingkari penguasa secara terang-terangan.
Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda:
> **"Barangsiapa yang ingin menasihati seseorang yang memiliki kekuasaan (pemerintah/penguasa), maka janganlah ia menyampaikannya secara terang-terangan."**