Sabtu, 02 Maret 2024

kalimat syahadat ini hanya akan berguna apabila diikrarkan dalam keadaan ia mengilmui maknanya dan komitmen dengan kandungannya

Kalimat syahadat, jika diikrarkan oleh orang musyrik (atau non muslim) dikeadaan ia masih mempertahankan kesyirikannya, maka tidak sah syahadatnya. Ikrarnya sama seperti ia belum mengikrarkannya. Karena kalimat syahadat ini hanya akan berguna apabila diikrarkan dalam keadaan ia mengilmui maknanya dan komitmen dengan kandungannya. Allah berfirman :

{ ... إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ }[ سورة الزخرف : 86 ]

Ibnu Jarir mengatakan : akan tetapi yang akan mendapatkan syafaat hanyalah orang yang bersyahadat dalam keadaan mereka mengilmui hakikat syahadatnya. 

[ Abdurrahman bin Hasan ālu Syaikh Al Hambali, Majmu'atur Rasail 2/13 ] 
____
*) faidah Prof. Dr. Aiman Angqari.
Ustadz jabir

yg dipilih Ibnu Qudamah dalam Umdatul fiqh kitab jihad, kuda Arab mendapat 2 saham dan kuda non Arab 1 saham dalam pembagian ghanimah.

Kemulian Arab dibanding non arab selain Nabi kita dipilih Allah dari keturunanya, adalah juga kudanya lebih mulia dalam satu riwayat, dan ini yg dipilih Ibnu Qudamah dalam Umdatul fiqh kitab jihad, kuda Arab mendapat 2 saham dan kuda non Arab 1 saham dalam pembagian ghanimah.. Adapun penunggangnya sama saja 1 saham tidak dibedakan Arab maupun bukan Arab.

Mungkin larinya dan kecepatanya lebih powerfull ya kuda Arab ya mas Praditya Rahardja ?
Ustadz bagus wijanarko

Jumat, 01 Maret 2024

Lebih baik gak belajar agama dan gak tahu agama dari pada orang yang belajar kemudian tahu tapi ternyata belum bisa mengamalkan "Ini syubhat yang banyak tersebar di kalangan orang awam, sehingga banyak diantara mereka malas belajar agama karena takut

Pernah dengar gak ucapan sebagian orang begini..
" Lebih baik gak belajar agama dan gak tahu agama dari pada orang yang belajar kemudian tahu tapi ternyata belum bisa mengamalkan "

Ini syubhat yang banyak tersebar di kalangan orang awam, sehingga banyak diantara mereka malas belajar agama karena takut jika sudah tahu ilmunya maka wajib mengamalkan jika tidak mengamalkan sesuatu yang sudah dipelajari maka dosa besar bahkan lebih parah dari pada gak tahu sama sekali, jadi lebih baik tidak usah tahu sekalian.

Padahal para ulama mengatakan :
من تعلم وعمل بمقتضى ما علم أطاع الله تعالى طاعتين،
ومن لم يعلم ولم يعمل فقد عصى الله معصيتين،
ومن علم ولم يعمل بمقتضى علمه فقد أطاع الله تعالى طاعة وعصاه معصية.
Siapa yang belajar dan mengamalkan konsekuensi apa yang sudah ia pelajari maka ia telah mentaati Allah dengan dua ketaatan ( ketaatan menuntut ilmu dan ketaatan mengamalkan ilmu ),
Dan siapa saja yang mengetahui agama dan tidak juga beramal maka ia sudah bermaksia pada Allah dengan dua kemaksiatan ( kemaksiatan meninggalkan menuntut ilmu agama dan kemaksiatan tidak beramal ),
Dan siapa saja yang berilmu kemudian tidak mengamalkan konsekuensi ilmunya (yaitu beramal) maka ia telah mentaati Allah pada suatu ketaatan dan telah bermaksiat kepada Allah pada suatu kemaksiatan.

Jadi keadaan orang yang belajar agama tapi belum bisa mengamalkan agama secara menyeluruh itu lebih baik dari pada orang yang bodoh gak mau belajar kemudian juga malas tidak mau beramal, walaupun keadaan yang terbaik seorang muslim adalah berilmu dan beramal.
Ustadz ayahnya mualim 

Jika Anda bersimpuh pada kegelapan malam di hadapan Rajamu (Allah)Berperilakulah seperti anak kecilKarena anak kecil ketika meminta sesuatu pada ayahnya dan tidak diberi maka dia akan menangis

Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata

"إذا جلست في ظلام الليل بين يدي
 سيدك؛ فاستعمل أخلاق الأطفال، 
 فإن الطفل إذا طلب من أبيه شيئا 
 فلم يعطه بكى عليه!".
Jika Anda bersimpuh pada kegelapan malam di hadapan Rajamu (Allah)
Berperilakulah seperti anak kecil
Karena anak kecil ketika meminta sesuatu pada ayahnya dan tidak diberi maka dia akan menangis
📖: المدهش - (1 /219).
Ustadz nurhadi 

Syaikh Abdullah As-Sa'd (64 thn) hafizhahullah, salah satu ulama besar hadits sekaligus musnid yang punya banyak karya.

Kali ini saya ingin sedikit bercerita pengamalan luar biasa bersama Syaikh Abdullah As-Sa'd (64 thn) hafizhahullah, salah satu ulama besar hadits sekaligus musnid yang punya banyak karya. Alhamdulillah, Allah berikan kesempatan rihlah beberapa hari di Riyadh, ibukota Arab Saudi. Kesempatan jarang ini langsung saya gunakan untuk mengunjungi para ulama di sana, salah satunya Syaikh Abdullah As-Sa'd. 

Ketika datang ke masjidnya, syaikh dan murid-muridnya menyambut dengan sangat baik, bahkan syaikh sendiri langsung memberikan kitab karyanya. Karena saat itu masih siang, syaikh berkata bahwa sebaiknya majelis bersama beliau dimulai setelah shalat Isya. Oleh karenanya, syaikh pun memberikan saya kamar istirahat yang terletak di dalam masjid, dan juga menyuruh muridnya untuk mengantarkan saya makan. 

Saya pun istirahat dan tidur siang di tempat tersebut sampai Isya. Saat-saat tersebut saya melihat syaikh banyak sekali beribadah. Bahkan beliau yang datang pertama untuk adzan, sekaligus yang terakhir keluar karena saking panjangnya dzikir dan shalat sunnahnya. Selain itu, syaikh juga sangat ramah dan tidak banyak bicara kecuali yang bermanfaat. Saya juga tidak pernah melihat beliau memegang HP kecuali jika ada telefon. 

Berlanjut, shalat Isya pun selesai, lalu syaikh mengajak kami bersama beberapa penuntut ilmu ke rumahnya. Di rumahnya, kami pun dijamu langsung oleh beliau. Kemudian mendengar dari beliau pembacaan dan syarah Shahih Muslim sembari diiringi diskusi bersama hadirin. Terlihat kedalaman ilmu beliau dalam menjelaskan rijal hadits dan mengupas faidah dari matannya. 

Setelah selesai majelis dan beberapa muridnya sudah pulang, saya pun mendatangi beliau untuk mendengarkan hadits Musalsal bil Awwaliyyah dan Mahabbah. Syaikh pun membacakannya lalu mengijazahi kami ijazah 'ammah untuk seluruh riwayat dan karya tulis beliau. Karena sudah malam, syaikh pun memberi izin saya untuk menginap semalam. Keesokan harinya pun saya pulang. 

Syaikh Abdullah As-Sa'd sendiri meriwayatkan dari banyak ulama dan musnid besar, diantaranya :

1. Syaikh Hamud At-Tuwaijiri (w. 1993)
2. Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani (w. 1990)
3. Syaikh Abdullah Al-Ghumari (w. 1993)
4. Syaikh Isma'il Al-Anshari (w. 1997)
5. Syaikh Muhammad As-Somali (w. 2000)
Dll. 

(Bisa merujuk pada tsabatnya, Tsabt Nazhm Al-Aqd bi Tartib Asanid As-Sa'd)

Sungguh betapa jarang orang yang bisa menggabungkan antara ilmu dan amal, sekaligus mengabungkan antara riwayat dan dirayat.
Ustadz sultan abdillah 

Kita sekarang ini dimasa tersebarnya kejahilan dan minimnya ilmu, manusia bersemangat mempelajari ilmu - ilmu dan persoalan persoalan lain yang hanya berkaitan dengan keduniaan, kecuali yang Allah kehendaki lain

TENTANG NGAJI

Kita sekarang ini dimasa tersebarnya kejahilan dan minimnya ilmu, manusia bersemangat mempelajari ilmu - ilmu dan persoalan persoalan lain yang hanya berkaitan dengan keduniaan, kecuali yang Allah kehendaki lain. Akibatnya, ilmu mereka tentang Allah dan tentang Islam minim. Adapun memperdalam agama Allah atau mentadaburi syari'at dan tauhidNya, maka kebanyakan orang telah berpaling darinya, yang menyibukkan diri denganya dimasa ini hanya sedikit. Karenanya, anda mesti menyadari hal ini, mesti bersemangat untuk mempelajari, mentadaburi dan mendalami kitabullah dan sunnah rasulNya, sehingga anda berilmu tentang tauhid dan iman kepada Allah, berilmu tentang apa itu kesyirikan kepada Allah, dan anda menjadi orang yang berilmu agama.

Imam Ibnu Baz.
Ustadz jabir